SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Karakteristik Semiotika “Geguritan” Siswa Kelas VIII SMPN 3 Batu

Anggra Hajar Yubriantoro

Abstrak


ABSTRAK

 

Yubriantoro, Anggra Hajar. 2012. Karakteristik Semiotika “Geguritan” Siswa Kelas VIII SMPN 3 Batu. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd, dan (II) Dr. Kusubakti Andajani, S.Pd, M.Pd.

 

Kata Kunci: geguritan siswa SMP, ikon, indeks, simbol

Geguritan merupakan salah satu jenis sastra Jawa yang mulai terabaikan dewasa ini. Pelestarian geguritan diperlukan agar warisan budaya Jawa ini tidak punah.  Bukti kepedulian pemerintah terhadap eksistensi geguritan diwujudkan melalui keberadaan muatan lokal bahasa Jawa di SMP. Salah satu kompetensi dasar bahasa Jawa adalah menulis geguritan. Menulis geguritan merupakan keterampilan yang bersifat produktif. Menulis geguritan sama halnya dengan menelurkan geguritan, yang berarti juga menjaga eksistensi geguritan. Dalam geguritan siswa terdapat tanda yang dapat diteliti dengan kajian semiotika Charles Sanders Peirce.  Semiotika Charles Sander Peirce membagi tanda menurut hubungan representamen (tanda) dengan objeknya (petanda) menjadi: ikon, indeks, dan simbol. Maka fokus penelitian ini adalah ikon, indeks, dan simbol dalam geguritan siswa.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan tekstual. Data dalam penelitian ini adalah paparan verbal  geguritan yang ditulis oleh siswa. Sumber data dalam penelitian ini adalah 30 geguritan karya siswa kelas VIII-C SMPN 3 Batu.

Perincian hasil penelitiannya sebagai berikut. Pertama, dari 30 geguritan  sejumlah 45 kutipan merupakan ikon. Ikon-ikon tersebut tersebar di beberapa baris pada masing-masing geguritan siswa. Ikon tersebut terdiri atas: (1) ikon imagis, perwujudan representamen berupa citraan/bukan citraan serta perwujudan objek berupa objek realitas dan objek abstrak; (2) ikon diagramatis, perwujudan representamen berupa isomorfisme serta perwujudan objek berupa objek realitas dan objek abstrak; dan (3) ikon metaforis, perwujudan representamen berupa majas serta perwujudan objek berupa objek realitas dan objek abstrak.

Kedua, dari 30 geguritan sejumlah 40 kutipan merupakan indeks. Indeks-indeks tersebut tersebar di beberapa baris pada masing-masing geguritan siswa. Indeks tersebut terdiri atas: (1) indeks spasial, fungsi representamen sebagai indikator objek berupa tempat nyata dan tempat fiktif; (2) indeks temporal, dengan waktu kehadiran: representamen hadir lebih awal dibanding objeknya dan representamen hadir lebih akhir dibanding objeknya; (3) indeks personal, dengan fungsi representamen sebagai indikator kata ganti orang pertama (tunggal dan jamak), kata ganti orang kedua tunggal, dan kata ganti Ketuhanan.

Ketiga, dari 30 geguritan hanya 4 kutipan yang merupakan simbol sosial. Simbol merupakan jenis tanda yang paling jarang ditemukan dalam geguritan siswa  karena hakekatnya siswa lebih memahami tanda yang bersifat ikonik dibanding tanda yang bersifat simbolis.