SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2011

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PARAGRAF ARGUMENTASI DENGAN MENGGUNAKAN STRATEGI BRAINSTORMING

Noveria Anggraeni Fiaji

Abstrak


Noveria Anggraeni Fiaji

Universitas Negeri Malang

E-mail: nouvha_sukag_medan@yahoo.co.id

 

 

ABSTRAK: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui 1) peningkatkan kemampuan menulis argumentasi dengan  menggunakan strategi brainstoarming pada siswa kelas X SMA pada aspek isi, 2) peningkatkan kemampuan menulis argumentasi dengan  menggunakan strategi brainstoarming pada siswa kelas X SMA pada aspek kebahasaan, dan 3) peningkatkan kemampuan menulis argumentasi dengan  menggunakan strategi brainstoarming pada siswa kelas X SMA pada aspek argumen. Data dikumpulkan dengan observasi, wawancara, analisis data. Hasil penelitian adalah: pada setiap siklus tampak ada peningkatan hasil belajar kemampuan menulis paragraf argumentasi pada aspek isi pada siklus I sebesar 55% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 80%, pada aspek kebahasaan siklus I sebesar 25% dan siklus II meningkat menjadi 65%, dan pada spek argumen pada siklus I sebesar 65%, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 100%. Dari keseluruhan hasil peningkatan menulis paragraf argumentasi, dapat dilihat bahwasannya kemampuan siswa dalam menulis paragraf argumentasi saat pretest sebanyak 70%, atau 14 siswa masih belum mencapai SKM, sedangkan sisanya sebanyak 30% atau sebanyak 4 siswa telah mencapai SKM. Pada siklus I, meningkat sedikit, sebanyak 40% atau 8 siswa telah mencapai SKM yang telah ditentukan, sedngkan sisanya sebanyak 60% atau 12 siswa, masih belum mencapai SKM  yang ditentukan. Terakhir, pada siklus II sebanyak 100% atau sebanyak 20 siswa telah mencapai SKM yang ditentukan, ini pertanda bahwasannya peningkatan kemampuan menulis paragraf argumentasi dengan strategi brainstorming dikatakan berhasil.

 

Kata Kunci: kemampuan menulis, paragraf argumentasi, brainstorming.

 

 

Bersumber dari pentingnya menulis pada tingkat SMA berdasar standar isi Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tahun 2006, keterampilan menulis telah diajarkan mulai jenjang SD/ MI sampai jenjang SMA/ MA. Pada jenjang SMA/ MA, kompetensi dasar menulis, khusnya menulis karangan argumentasi diajarkan pada siswa SMA kelas X Semester 2, yakni pada Standar Kompetensi Mengungkapkan informasi melalui  penulisan paragraf dan teks pidato, Kompetensi Dasar Menulis gagasan untuk mendukung suatu pendapat dalam bentuk paragraf argumentatif. Dalam dunia Ilmu Pengetahuan, argumentasi itu tidak lain daripada usaha untuk mengajukan bukti-bukti atau menentukan kemungkinan-kemungkinan untuk menyatakan sikap atau pendapat mengenai suatu hal Keraf (2001:3). Pembelajaran menulis karangan Argumentasi ini termasuk dalam kegiatan pembelajaran kontekstual. Dikatakan demikian, karena apa yang dipelajari siswa dialami langsung dalam kehidupan mereka. Dalam pembelajara kontekstual, siswa belajar dengan memproses pengetahuan baru sesuai dengan kerangka berpikirnya dan mampu mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata. Nurhadi (2004:6) menyatakan pikiran secara alamiah mencari makna konteks sesuai dengan situasi nyata lingkungan seseorang dan itu dapat terjadi melalui pencarian hubungan yang masuk akal dan bermanfaat. Materi pelajaran akan lebih berarti jika siswa mempelajari materi pelajaran dengan konteks kehidupan mereka.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti pada saat melaksanakan PPL di MAN 2 Batu, diketahui bahwa Siswa Kelas X-A  masih mengalami  kesulitan dalam pembelajaran menulis, khusunya menulis argumentasi, tulisan argumentasi mereka masih banyak mengalami kelemahan dari segi isi, bahasa, serta khususnya pada argumen yang mereka berikan, sedangkan pemberian argumen, ide atau pendapat sangat dibutuhkan dalam menulis paragraf argumentasi. Sehingga dari situlah nilai rata-rata kelas pada saat menulis paragraf argumentasi belum mencapai standar ketuntasan minimal yang ditetapkan, yakni 72. Nilai rata-rata kelas hanya mencapai 61.

 

METODE

            Jenis penelitian yang dipakai pada tindakan ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini dibagi menjadi lima tahap kegiatan. Kelima tahap tersebut adalah (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan, (4) pengamatan, dan (5) refleksi. Penelitian ini dilaksanakan di MAN 2 Batu, Jalan Ptimura No. 25 Telp (0341) 592185 Kota Batu 65315. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X MAN2 Batu Tahun ajaran 2010/ 2011. Dan yang diambil adalah kelas XA. Jumlah siswa kelas XA sebanyak 20 siswa terdiri dari 5 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Rata-rata kemampuan siswa pada kelas ini mempunyai kemampuan yang relatif sama. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Februari dan Maret selama dua siklus. Siklus pertama dilaksanakan pada minggu pertama dan minggu kedua bulan Maret, sedangkan siklus yang kedua dilaksanakan pada minggu ketiga dan keempat bulan Maret. Data dalam penelitian ini terdiri dari data Verbal, dan dibagi menjadi data awal (pratindakan) atau data studi pendahuluan, data pelaksanaan tindakan, dan data hasil pelaksanaan tindakan. Data Verbal di dalam data awal adalah data hasil wawancara dan hasil karangan argumentasi siswa sebelum diberikan tindakan, yang digunakan untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah sebagai dasar menyusun rencana tindakan. Data verbal di dalam data pelaksanaan tindakan adalah data rekaman aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran menulis argumentasi dengan menggunakan strategi brainstorming berupa catatan hasil lapangan. Data verbal di dalam data hasil tindakan adalah hasil karya siswa yang berupa karangan argumentasi dengan menggunakan strategi brainstorming, setelah dilaksanakannya tindakan siklus I dan II. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data verbal dan non verbal, teknik verbal adalah teknik observasi dan wawancara langsung kepada sumber data primer, sedangkan data non verbal berupa teknik dokumentasi berupa pendokumentasian kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Pada proses penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis data dengan menyeleksi data, mengoreksi data, dan penskoran data.

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kemampuan siswa dalam menulis karangan argumentasi diukur dari pencapaian nilai siswa berdasarkan standar keberhasilan yang telah ditetapkan. Siswa dikatakan berhasil atau mampu menulis karangan argumentasi apabila rata-rata nilai yang diperoleh siswa dapat mencapai standar keberhasilan yang ditetapkan. Siswa dianggap mencapai standar ketuntasan minimal apabila mendapat nilai 72.

Peningkatan Kemampuan Menulis Argumentasi Pada Aspek Isi

            Pada aspek isi melibatkan aspek yang mengcu pada aspek kelengkapan isi karangan, dan aspek kepaduan isi karangan. Pada siklus I keseluruhan aspek isi karangan siswa mencapai 20% tentu saja hasil kemampuan ini masih jauh dari standar keberhasilan menulis paragraf argumentasi sesuai dengan patokan nilai yang telah ditentukan, akhirnya diadakan siklus II guna meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis paragraf argumentasi tentunya dengan melakukan perbaikan-perbaikan, dan ternyata pada siklus II ini kemampuan siswa dalam menulis paragraf argumentasi dilihat dari aspek isi meningkat menjadi 80%.

Aspek Kelengkapan Karangan

            Karangan argumentasi yang lengkap terdiri dari lima unsur yaitu pernyataan (claim), data (ground), pembenaran (warrant), penunjang (support), dan kualifikasi (qualifier). Kemampuan menulis karangan argumentasi siswa kelas X MAN 2 Batu pada aspek kelengkapan karangan pada siklus I sangat baik. Pada siklus I siswa tidak mengalami kesulitan dalam menentukan kelengkapan karangan. Rata-rata kemampuan siswa pada aspek ini 80%. Siswa yang mencapai kelengkapan karangan sebanyak

Aspek Kepaduan Antar Kalimat

            Basuki (1997:97) menyatakan bahwa komponen-komponen pembentuk karangan yang dimaksud meliputi: judul, gagasan, organisasi gagasan (kesatuan,kepaduan, kelogisan), penggunaan struktur, pemilihan diksi, tanda baca, dan ejaan. Salah satu aspek di atas akan dibahas dalam aspek kepaduan antar kalimat ini.

            Pada siklus I rata-rata kemampuan siswa pada aspek kepaduan antar kalimat mencapai 20% . Siswa yang mencapai kepaduan antarr kalimat sebanyak 80% Pada siklus II.

Peningkatan Kemampuan Menulis Argumentasi Pada Aspek Kebahasaan

Pada aspek kebahasaan melibatkan aspek yang mengacu pada aspek kosa kata, tata bahasa, ejaan dan tanda baca. Pada siklus I keseluruhan aspek kebahsaan dalam karangan siswa mencapai 25% tentu saja hasil kemampuan ini masih jauh dari standar keberhasilan menulis paragraf argumentasi sesuai dengan patokan nilai yang telah ditentukan, akhirnya diadakan siklus II guna meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis paragraf argumentasi tentunya dengan melakukan perbaikan-perbaikan, dan ternyata pada siklus II ini kemampuan siswa dalam menulis paragraf argumentasi dilihat dari aspek kebahasaan meningkat menjadi 65%.

Aspek Kosa Kata

            Seperti pendapat Keraf (1990:24) bahwa pilihan kata atau diksi mencakup gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Dari paparan di atas jelas bahwa penggunaan kosa kata sangat berpengaruh terhadap konsumen yang akan mengonsumsi cerita ciptaan kita.

            Siswa MAN 2 Batu sebagian besar memiliki jumlah kosa kata yang minim. Hal tersebut menyebabkan penggunaan kosa kata yang terus berulang dari kalimat satu ke kalimat selanjutnya. Rata-rata kemampuan siswa pada aspek kosa kata hanya mencapai 25% dan tergolong kurang sekali. Pada siklus I hanya ada lima siswa yang mendapat kualifikasi baik (B). Nilai minimal yang diperoleh siswa pada siklus II aspek penggunaan kosa kata meningkat menjadi 50 % Sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, dapat diketahui bahwa kemampuan siswa pada aspek penggunaan kosa kata semakin meningkat pada tiap siklusnya. Jadi rata-rata kemampuan siswa pada aspek penggunaan kosa kata mengalami peningkatan sebanyak 25%

Aspek Tata Bahasa

            Dalam sebuah karangan harus menggunakan struktur kalimat yang baik dan benar. Fungsi struktur kalimat dalam sebuah karangan sangat menentukan kualitas karangan itu sendiri. Banyak penulis yang lemah pada aspek ini termasuk siswa Kelas X MAN 2 Batu. Rata-rata kemampuan siswa pada siklus I sangat rendah yaitu hanya 10%. Pada siklus I hanya dua siswa yang mampu menulis dengan struktur kalimat yang baik dan benar.

            Pada siklus II rata-rata kemampuan siswa pada aspek kalimat meningkat menjadi 35%  Siswa yang mampu menulis dengan baik dan benar sebanyak 7 siswa. Sesuai dengan hasil yang telah dilakukan oleh peneliti, dapat  diketahui bahwa kemampuan siswa pada aspek struktur kalimat semakin meningkat pada tiap siklusnya. Jadi, rata-rata kemampuan siswa pada aspek struktur kalimat mengalami peningkatan sebanyak 25%

Aspek Ejaan dan Tanda Baca

            Penggunaan ejaan tidak jauh beda dengan penggunaan kosa kata dalam sebuah karangan. Sesuai dengan pendapat Keraf (1990:21) dalam kegiatan komunikasi, kata-kata dijalin-satukan dalam suatu konstruksi yang lebih besar berdasarkan kaidah-kaidah sintaksis yang ada dalam suatu bahasa. Kaidah penggunaan ejaan bahasa  Indonesia yang benar terdapat dalam buku ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan.

            Pada siklus I, sepuluh siswa yang mampu menulis pada aspek ejaan dan tanda baca yang benar. Pada siklus I kemampuan siswa pada aspek ejaan dan tanda baca tidak jauh berbeda dengan aspek kosa kata dan struktur kalimat yaitu 50%. Siswa yang mampu menulis dan memperhatikan ejaan dan tanda baca sebanyak 10 siswa. 5 Siswa lainnya masih mengalami kesalahan pada penulisan ejaan dan tanda baca.

            Pada siklus II rata-rata kemampuan siswa pada aspek ejaan dan tanda baca meningkat menjadi 100%. Siswa yang mendapatkan kualifikasi baik pada siklus II sebanyak 20 siswa. Sesuai dengan hasil penilaian yang telah dilakukan oleh peneliti, dapat diketahui bahwa kemampuan siswa pada aspek ini semakin meningkat pada setiap siklusnya. Jadi, rata-rata kemampuan siswa pada aspek ejaan dan tanda baca mengalami peningkatan sebanyak 50%

 

Peningkatan Kemampuan Menulis Argumentasi Pada Aspek Argumen dengan menggunakan Strategi Brainstoarming.

            Kesesuaian argumen dalam karangan argumentasi sangat diperlukan. Pada hakikatnya karangan argumentasi berisi ide-ide yang dapat memperkuat pernyataan. Ide-ide dapat berupa pendapat ataupun fakta. Menurut Keraf (2007:103) tulisan argumentasi harus mengandung kebenaran untuk mengubah sikap dan keyakinan orang mengenai topik yang diargumentasikan. Salah satu cara supaya sebuah tulisan argumentasi mengandung kebenaran adalah memberikan ide-ide yang relevan dan sesuai dengan apa yang dibahas dalam tulisan. Strategi brainstorming biasanya diindonesiakan dengan Meramu Pendapat. Teknik meramu pendapat merupakan perpaduan antara teknik Tanya jawab dengan teknik diskusi, Bassenang (1988:107). Sedangkan brainstorming disamping membangkitkan motivasi dan minat siswa, strategi pembelajaran ini juga sangat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi. Hal ini sependapat dengan Bassenang (1988:107) Teknik ini dapat membangkitkan pikiran yang kreatif, dapat merangsang partisipasi siswa, dapat memancing timbulnya pendapat-pendapat baru, dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dalam kelompok. Selain itu, Roestiyah (1985:17) juga mengungkapkan bahwasannya brainstorming dapat pula diartikan sebagai cara untuk mendapatkan banyak ide dari sekelompok manusia dalam waktu yang sangat singkat. Tujuan penggunaan teknik ini ialah untuk menguras habis, apa yang dipikirkan para siswa dalam menanggappi masalah yang dilontarkan guru ke kelas tersebut.

Pada siklus I, enam siswa yang mampu menulis argumen yang baik dan benar. Pada siklus I 65% siswa mampu menulis argumen yaitu sebanyak enam siswa, dan empat belas yang lain masih kurang dalam penulisan argumen.

            Pada siklus II rata-rata kemampuan siswa pada aspek argumen meningkat menjadi 100%. Siswa yang mendapatkan kualifikasi baik pada siklus II sebanyak 20 siswa. Sesuai dengan hasil penilaian yang telah dilakukan oleh peneliti, dapat diketahui bahwa kemampuan siswa pada aspek ini semakin meningkat pada setiap siklusnya. Jadi, rata-rata kemampuan siswa pada aspek argumen mengalami peningkatan sebanyak 35%.

Dari keseluruhan hasil peningkatan menulis paragraf argumentasi, dapat dilihat bahwasannya kemampuan siswa dalam menulis paragraf argumentasi saat pretest sebanyak 70%, atau 14 siswa masih belum mencapai SKM, sedangkan sisanya sebanyak 30% atau sebanyak 4 siswa telah mencapai SKM. Pada siklus I, meningkat sedikit, sebanyak 40% atau 8 siswa telah mencapai SKM yang telah ditentukan, sedngkan sisanya sebanyak 60% atau 12 siswa, masih belum mencapai SKM  yang ditentukan. Terakhir, pada siklus II sebanyak 100% atau sebanyak 20 siswa telah mencapai SKM yang ditentukan, ini pertanda bahwasannya peningkatan kemampuan menulis paragraf argumentasi dengan strategi brainstorming dikatakan berhasil.

 

 

 

 

PENUTUP

Kesimpulan

            Berdasarkan hasil analisis data yang telah dipaparkan pada BAB IV dan dibahas pada Bab V. dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan strategi brainstorming, dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan argumentasi siswa kelas X MAN 2 Batu. Setelah diberi tindakan dengan menggunakan strategi brainstorming pada siklus I, rata-rata kemampuan siswa dalam menulis karangan argumentasi pada aspek isi mengalami peningkatan sebesar 10% dari tahap pretest yang hanya mencapai 45% sehingga pada siklus I kemampuan siswa pada aspek isi mencapai 55%. Sedangkan pada siklus II, rata-rata kemampuan siswa dalam menulis karangan argumentasi pada aspek isi mengalami peningkatan sebesar 25% dari siklus I yang hanya mencapai 55% sehingga pada siklus I kemampuan siswa pada aspek isi mencapai 80%.

            Setelah diberi tindakan dengan menggunakan strategi brainstorming pada siklus I, rata-rata kemampuan siswa dalam menulis karangan argumentasi pada aspek kebahasaan mengalami peningkatan sebesar 20% dari tahap pretest yang hanya mencapai 5% sehingga pada siklus I kemampuan siswa pada aspek kebahasaan mencapai 25%. Sedangkan pada siklus II, rata-rata kemampuan siswa dalam menulis karangan argumentasi pada aspek kebahasaan mengalami peningkatan sebesar 40% dari siklus I yang hanya mencapai 25% sehingga pada siklus I kemampuan siswa pada aspek kebahasaan mencapai 65%.

Sedangkan pada aspek argumen setelah diberi tindakan dengan menggunakan strategi brainstorming pada siklus I, rata-rata kemampuan siswa dalam menulis karangan argumentasi mengalami peningkatan sebesar 50% dari tahap pretes yang hanya mencapai 15% sehingga pada siklus I kemampuan siswa pada aspek argumen mencapai 65%. Sedangkan pada siklus II, rata-rata kemampuan siswa dalam menulis karangan argumentasi pada aspek argumen mengalami peningkatan sebesar 35% dari siklus I yang hanya mencapai 55% sehingga pada siklus I kemampuan siswa pada aspek argumen mencapai 100%.

Dari keseluruhan hasil peningkatan menulis paragraf argumentasi, dapat dilihat bahwasannya kemampuan siswa dalam menulis paragraf argumentasi saat pretest sebanyak 70%, atau 14 siswa masih belum mencapai SKM, sedangkan sisanya sebanyak 30% atau sebanyak 4 siswa telah mencapai SKM. Pada siklus I, meningkat sedikit, sebanyak 40% atau 8 siswa telah mencapai SKM yang telah ditentukan, sedngkan sisanya sebanyak 60% atau 12 siswa, masih belum mencapai SKM  yang ditentukan. Terakhir, pada siklus II sebanyak 100% atau sebanyak 20 siswa telah mencapai SKM yang ditentukan, ini pertanda bahwasannya peningkatan kemampuan menulis paragraf argumentasi dengan strategi brainstorming dikatakan berhasil.

SARAN

            Berdasarkan hasil penelitian, maka saran ini ditujukan kepada guru Bahasa Indonesia, siswa dan peneliti selanjutnya. Saran tersebut diuraikan sebagai berikut.

1)      Guru mata pelajaran bahasa Indonesia

Guru bahasa Indonesia disarankan untuk menggunakan langkah-langkah pembelajaran yang mampu mengaktifkan siswa untuk melaksanakan aktifitas belajar dan menciptakan pemahamannya sendiri terhadap kompetensi yang akan dicapai, sebagaimana langkah-langkah pembelajaran menulis argumentasi dengan menggunakan strategi brainstorming. Berdasarkan studi pendahuluan, ditemukan bahwa guru bahasa Indonesia hanya menggunakan metode presentasi dan langsung memberikan tugas menulis kepada siswa sehingga kemampuan siswa dalam menulis argumentasi masih belum maksimal. Dlam proses pembelajaran menulis sebaiknya guru membimbing siswa melakukan tahapan-tahapan dalam menghasilkan sebuah karangan, sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah dilaksanakan siswa dalam menulis paragraf argumentasi dengan menggunakan strategi brainstorming.

2)      Siswa

Untuk menunjang kemampuan menulis karangan argumentasi sebaiknya siswa membiasakan diri untuk membaca. Dengan kebiasaan membaca siswa akan memperoleh banyak pengetahuan dan informasiyang dapat dijadikan sebagai bahan untuk menulis karangan argumentasi. Selain itu dengan terbiasa membaca maka siswa akan memiliki perbendaharaan kata yang banyak.

Melalui pembelajaran menulis diharapkan siswa dapat berlatih menggunakan kalimat yang efektif sesuai dengan tata bahasa yang telah ditentukan dalam ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD).

3)      Bagi peneliti lanjutan

Kepada peneliti yang akan melakukan penelitian lanjutan, disarankan untuk menggunakan strategi brainstoarming untuk meningkatkan kemampuan siswa pada keterampilan menulis yang lain.

 

DAFTAR RUJUKAN

Ahmadi, Mukhsin. 1988. Materi Dasar Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: DepdikbudAkhadiah, Sabarti dkk. 1988. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV. Yrama

Bassenang. 1990. Pengantar Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Jakarta: Inonesia Intermasa

BSNP. 2006. Standar isi (Keputusan Menteri No. 22, 23, 24 Tahun 2006) Badan Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: BSNP

Darmawan, Suryamita Harindrari. 2004. Beta versus VHS and The Acceptance of Electronic Brainstorming Technology. MIS Quarterly Vol.28 No. 1, 2004

Dawud, dkk. 2004. Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA kelas X. Jakarta: Erlangga

Dawud, dkk. 2004. Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Erlangga Gunawan, dkk. 1997. Belajar Mengarang: Dari Narasi hingga Argumentasi untuk SMU dan Umum. Jakarta: Erlangga.

Hasnun, Anwar.2006. Pedoman menulis untuk siswa SMP dan SMA. Yogyakarta: Andi

Keraf, Gorys. 2003. Argumentasi dan Narasi. Ende Flores: Nusa Indah

Keraf, Gorys. 2001. Komposisi Sebuah pengantar Kemahiran Berbahasa. Ende Flores: Nusa Indah.

Keraf, Gorys. 1988. Diksi dan Gaya bahasa. Jakarta: PT. Gramedia

Dimyati& Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Natawidjaja, P. Suparman. 1986. Teras Komposisi. Jakarta: Indonesia Intermasa

NK, Roestiyah. 1985. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara

Nurchasanah & Widodo. 1993. Keterampilan Menulis dan Pengajarannya. Malang: IKIP Malang.