SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM, 2007

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pelaksanaan Asesmen Otentik dalam Pembelajaran Sastra kelas X di SMA Negeri 11 Malang

Imrotin Imrotin

Abstrak


Selama ini, asesmen dalam pembelajaran sastra masih terbatas pada bentuk-bentuk tes, seperti tes objektif pada ulangan harian maupun ulangan semester. Aspek-aspek yang dinilai pun masih dalam taraf pengetahuan siswa saja. Asesmen dalam pembelajaran sastra hendaknya menekankan pada sisi apresiasi siswa terhadap karya sastra. Oleh karena itu, perlu dikembangkan bentuk-bentuk asesmen yang tepat sasaran dengan memperhatikan tingkatan apresiasi siswa.

Salah satu asesmen yang dapat dikembangkan adalah asesmen otentik. Asesmen otentik merupakan prosedur untuk mengukur keterampilan siswa secara nyata dan menyeluruh terhadap setiap aspek pribadi siswa. Asesmen otentik dilaksanakan dengan menggunakan berbagai teknik dan metode disesuaikan dengan kompetensi yang diajarkan. Dilaksanakannya asesmen otentik pada pembelajaran sastra diharapkan mampu mengubah dan/ atau melengkapi instrumen asesmen yang cenderung tes tertulis. 

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan asesmen otentik pada pembelajaran sastra kelas X di SMA Negeri 11 Malang. Lebih lanjut penelitian ini berusaha mendeskripsikan (1) wujud asesmen otentik; (2) aspek yang dinilai dengan asesmen otentik; (3) langkah-langkah pelaksanaan asesmen otentik; dan (4) kendala pelaksanaan asesmen otentik pembelajaran sastra.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan peneliti sebagai instrumen utama. Adapun jenis penelitian yang dipilih adalah deskriptif. Dipilihnya rancangan penelitian ini didasarkan atas pertimbangan bahwa (1) penelitian dilakukan dengan latar alamiah, yakni peristiwa pembelajaran; (2) menggunakan manusia sebagai instrumen utama; dan (3) penelitian ini lebih memperhatikan proses daripada hasil.

Hasil penelitian diuraikan sebagai berikut. Pertama, wujud asesmen otentik yang digunakan dalam pembelajaran sastra kelas X di SMA Negeri 11 Malang terdiri atas tes, portofolio, performansi, produk, dan observasi. Asesmen berwujud tes uraian digunakan dalam pembelajaran mendengarkan, sedangkan tes objektif digunakan dalam ulangan harian. Asesmen berupa portofolio diwujudkan dalam bentuk buku tugas dan antologi puisi. Buku tugas berisi kumpulan karya pribadi siswa yang sifatnya tertulis, sedangkan antologi puisi merupakan kumpulan puisi yang ditulis siswa. Performansi digunakan sebagai wujud asesmen dalam kompetensi berbicara, yakni membahas dan mendiskusikan puisi remaja. Asesmen berwujud produk digunakan dalam kompetensi yang menuntut siswa menghasilkan produk berupa tulisan, yakni menulis sinopsis cerita rakyat yang diperdengarkan, menulis puisi berdasar cerpen, serta membaca dan menganalisis cerpen. Asesmen berwujud observasi digunakan guru untuk beberapa kompetensi, yakni (1) membahas dan mendiskusikan puisi remaja; (2) membaca dan menganalisis cerita pendek; dan (3) mengubah karya sastra moderen dalam bentuk lain. Kedua, aspek yang dinilai dengan asesmen otentik disesuaikan dengan kompetensi yang diajarkan. Pada kompetensi mendengarkan cerita rakyat aspek kesastraan yang dinilai meliputi respons reseptif dan respons ekspresif. Aspek yang dinilai dengan asesmen otentik pada kompetensi membahas dan mendiskusikan puisi remaja serta mengungkapkan puisi remaja meliputi aspek respons reseptif, ekspresif, dan partisipasi. Kompetensi membaca dan menganalisis cerita pendek menggunakan asesmen otentik untuk menilai aspek respons reseptif dan partisipasi. Kompetensi mengubah karya sastra moderen dalam bentuk lain, aspek yang dinilai meliputi aspek respons reseptif, ekspresif, dan partisipasi. Pelaksanaan ulangan harian digunakan untuk menilai aspek pengetahuan dan respons reseptif. Ketiga, langkah pelaksanaan asesmen otentik juga disesuaikan dengan kompetensi yang diajarkan dan wujud asesmen yang digunakan. Keempat, kendala yang dihadapi guru dalam pelaksanaan asesmen otentik pembelajaran sastra ada yang bersifat internal ataupun eksternal. Kendala internal adalah kurangnya kemampuan guru dalam melaksanakan asesmen otentik. Adapun kendala yang bersifat eksternal meliputi (1) keterbatasan fasilitas sekolah dan (2) kebijakan sekolah dan Diknas yang mengikat.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran berikut diajukan penulis kepada pihak sekolah, guru pengajar sastra, dan peneliti selanjutnya. Kepada pihak sekolah diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas fasilitas sekolah dan memberi keleluasaan pada guru untuk menentukan asesmen yang tepat. Guru pengajar sastra hendaknya lebih kreatif dan mengembangkan asesmen otentik secara berkelanjutan. Sedangkan bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengujicobakan model-model asesmen yang tepat, khususnya untuk pembelajaran sastra.

Teks Penuh: DOC