SKRIPSI Jurusan Sastra Arab - Fakultas Sastra UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

NILAI-NILAI KARAKTER DALAM KITAB “MUKHTASAR FI AL-SIRAH AL-NABAWIYYAH” KARYA SYEKH ALWI AL-MALIKI

Suroyyah Himmatu

Abstrak


NILAI-NILAI KARAKTER DALAM KITAB “MUKHTASAR FI AL-SIRAH AL-NABAWIYYAH” KARYA SYEKH ALWI AL-MALIKI

Pembimbing: (1) Dra. Nur Anisah Ridwan, M.Pd, (2) Dr. Lilik Nur Kholidah, M.Pd.I. Program Studi Pendidikan Bahasa Arab. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Jl. Semarang No.5 Kota Malang

Email: tsuroyyahimma@gmail.com

 

Abstrak:

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan nilai-nilai karakter Nabi Muhammad Shallahu alaihi wasallam dalam karya sastra dalam bentuk prosa dan puisi  dalam kitab “Mukhtasar fi al-sirah al-Nabawiyyah” karya syekh Alwi al-Maliki. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data diperoleh dari  kitab  “Mukhtasar fi Al-Sirah al-Nabawiyyah”  karya Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki dan buku refrensi pendukung tema. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai karakter yang ada pada kitab “Mukhtasar fi al-Sirah al-Nabawiyyah” ditemukan 28 nilai karakter dalam prosa, dan empat nilai karakter dalam puisi. Nilai-nilai karakter yang diperoleh dari hasil penelitian yaitu, jujur, sabar, tanggung jawab, peduli sosial, cinta damai, pemaaf, religius  dan toleransi.

 

Kata Kunci: Nilai karakter, karya sastra, kitab “Mukhtasar fi al-Sirah al-Nabawiyyah”

Turun dan rusaknya moral anak bangsa disebabkan oleh rendahnya penerapan  pendidikan karakter yang sudah diajarkan di bangku sekolah. Kasus-kasus yang terjadi di masyarkat seperti pencurian, pelanggaran lalu lintas, korupsi, seks bebas, dan tawuran pelajar marak terjadi pada era ini. Dengan adanya beberapa kasus yang terjadi di masyarakat, penerapan konsep pendidikan dan nilai-nilanya sangat perlu untuk diterapkan.

Pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada masyarakat yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai karakter baik terhadap Allah Subhanallahu wata’ala, diri sendiri, sesama lingkungan maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia yang lebih baik.

Contoh kasus dari turunnya moral pada dewasa ini yang marak terjadi yaitu pergaulan bebas. Pergaulan bebas merupakan  suatu interaksi individu  atau suatu kelompok masyarakat yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, akibatnya dapat merusak citra pribadi atau lingkungan. Akibat yang ditimbulkan dari pergaulan bebas yaitu, penggunaan obat-obatan terlarang, miras, perkelahian, pencurian, dan seks bebas.  

Pada dasarnya pendidikan karater bagi umat Islam sudah tercermin dalam akhlak Nabi Muhammad. Sebagaimana  ditegaskan dalam al- Qur’an surat al- Qolam  ayat 4: وَإِنّكَ لَعَلىَ خُلُقٍ عَظِيْم (Dan sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur) dan sebuah Hadits riwayat Imam Baihaqi yang berbunyi: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ (Sesungguhnya aku (Nabi Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Pendidikan karakter juga terdapat dalam sebuah karya sastra berbentuk prosa dan puisi berupa kitab “Mukhtasor fi al-Sirah al-Nabawiyyah” selanjutnya disingkat dengan MAN. Kitab MAN  merupakan penjelas dari kitab Maulid ad- Diba’i karya  Syaikh Imam Wajihuddin ad- Diba’i  ditulis pada zaman keemasan  Islam yang dipimpin oleh Dinasti Abbasiyah abad ke-10 Hijriyah. Pada zaman  Dinasti Abasiyyah  ini, perkembangan bidang kesastraan mengalami kemajuan yang sangat pesat (Umam:2012). Kitab MAN  di syarahi oleh Sayyid Muhammad Alwi al Maliki dari Mekkah, pada tahun  1397 H.

Pengertian karya sastra tidak hanya fokus untuk  hiburan semata. Akan tetapi, karya sastra juga bisa sebagai pendidikan karakter bangsa. Karya sastra  sebagai produk budaya memiliki potensi dalam mengembangkan  nilai- nilai etika, norma, pendidikan, dan pengajaran di dalamnya. Fungsi dari karya sastra yang dikemukakan oleh Horace yaitu  dulce et utile yang berarti menghibur dan mendidik (Dian, 2011:5).

Penelitian skripsi terdahulu pernah dilakukan oleh Inas Nur (2015)  dengan hasil penelitiannya yaitu,  nilai pendidikan akhlak yang terkandung dalam kitab ar-Rahiq al-Makhtum  berupa,  nilai pendidikan akhlak terhadap Allah  (beriman, dan ikhlas), nilai pendidikan akhlak terhadap sesama manusia (sabar, pema’af, dan adil), nilai pendidikan akhlak terhadap  lingkungan (memelihara semua ciptaan Allah, dan tidak merusaknya).

Penelitian skripsi serupa juga dilakukan oleh  Zeni Mufida (2013)  dengan hasil penelitian berupa nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam  kitab Ta’limul muta’alim dan Ayyuhal walad antara lain: religious, disiplin, kerja keras, demokratis, bersahabat, mandiri,  gemar membaca, dan jujur. 

 Berdasarkan penelitian terdahulu yang membedakan dengan penelitian sekarang yaitu  peneliti meneliti mengenai nilai-nilai karakter Nabi Muhammad  Shallalahu alaihi wasallam  yang ada pada kitab MAN yang sangat berguna untuk masyarakat terutama pemuda. Sehingga para pemuda dan masyarakat bisa mengimplementasikan apa yang telah dipelajari dan didapatkan dari cuplikan puisi dan prosa ini. Seperti halnya dalam cuplikan prosa, yang dijelaskan bahwa akhlak Nabi sungguh penyayang, penyantun, bahkan dianalogikan laksana al-Quran.  Ketika Sai’d bin Hisyam bertanya kepada putri Nabi Muhammad mengenai akhlak Rasulullah. قَالَتْ عَائِشةَ رضي اللّه عَنْهَا عَنْ خُلُقِ النَّبِيّ صَلّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلَّم. فَقَلت: كَانَ خُلُقُهُ القرآن . رواه مسلم (Aisyah radhiyaallahu anha  berkata tentang akhlak Nabi. Akhlak Nabi laksana al-Quran (H.R Muslim: 45)

 

METODE

Jenis metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif . data dalam penelitian ini adalah kitab  Mukhtasor fii Assiroh an-Nabawiyyah karya Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki dan buku refrensi pendukung tema.                Adapun data dalam penelitian ini adalah prosa dan puisi dari kitab kitab Mukhtasar  fi al-Sirah al-Nabawiyyah karya Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki. Penelitian ini penulis berperan sebagai instrumen penelitian dalam merancang, menganalisis, mengumpulkan, dan menyimpulkan data yang diperlukan selama penelitian. Maka peneliti menggunakan instrument kepustakaan/ dokumentasi dari sumber-sumber yang berhubungan dengan tema dalam media kepustakaan atau pengumpulan sumber dari buku ataupun internet.

Untuk memastikan data itu valid, peneliti mengelompokkan secara garis besar langkah analisis data. Langkah-langkah analisis data dapat dikelompokkan empat tahap,  yaitu:

(1) Pengumpulan data dengan mencari sumber (bahan) yang berhubungan dengan tema kajian sebanyak mungkin sesuai dengan sumber yang akan dirujuk. Mungkin bisa dari segi, kelengkapan isi dari bacaan, kejelasan makna. Kemudian memilih hal-hal pokok, merangkum dan memfokuskan pada hal penting. Kemudian mencocokkan dengan tema, dan memberikan kode.

(2) Reduksi data dilakukan dengan mengelompokkan data yang sudah didapatkan dan memilah data-data yang sudah terkumpul. Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran lebih jelas dan memudahkan untuk penyajian data. Setelah penulis menemukan banyak bahan (sumber) dan sudah dipilah, maka langsung dikelompokkan berdasarkan pokok tema yang dicari. Setelah itu penulis mereduksi data dan mengetahui jelas pengklasifikasiannya untuk mempermudah pada tahap selanjutnya.

(3) Penyajian data yang sudah dipilah- pilah langsung disajikan untuk dianalisis sesuai kebutuhan penulis. Data disajikan dalam bentuk uraian., Penulis menganalisis dari semua data yang telah dipilah dan di reduksi dan membuat tabel penglasifikasian dengan detail bahan yang sudah di dapatkan.

(4) Penarikan kesimpulan disajikan dalam bentuk deskripsi dari bahan yang sudah didapat dari pengumpulan data dengan pedoman pada kajian penelitian

 

HASIL DAN PEMBAHSAN

Pada bab ini dipaparkan mengenai hasil pembahasan analisis  yang terbagi menjadi (1) nila-nilai karakter dalam  prosa pada kitab “Mukhtasar fi  al -Sirah al- Nabawiyyah karya Sayyid Alwi al-Maliki dan (2) nilai-nilai karakter dalam  puisi pada kitab “Mukhtasar fi  al Sirah al- Nabawiyyah karya Sayyid Alwi al-Maliki.

 

Nilai Pendidikan Karakter dalam kitab “Mukhtasor fi  as Siroh an Nabawiyyah”

Nilai pendidikan karakter merupakan unsur terpenting manusia dalam kehidupan sosial. Karena dalam kehidupan, manusia satu dengan yang lainnya saling membutuhkan. Jumlah nilai karakter yang diperoleh berdasarkan data temuan yang ada yaitu  macam.

 

1. Jujur

Indikator nilai jujur adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. Berikut paparan  pembahasan yang mengandung nilai jujur berdasarkan indikator berikut:

Nabi Muhammad adalah orang yang terkenal dengan kejujurannya dalam ucapan maupun perbuatan. Meskipun apa yang diucapkan Nabi Muhammad terasa pahit dan mengandung resiko yang sangat tinggi bagi dirinya. Sehingga Nabi Muhammad mendapat gelar al-Amin, yang artinya dapat dipercaya. Berikut ini nilai karakter Nabi Muhammad dalam kitab MAN:

يَقُول الحَقَّ وَلَوْ كَان مُرّا. ولا يُضْمِرُ لِمُسْلِمٍ غِشّاً ولاَ ضُرّاً ) مالكي، ١٣٩٧:٤٥)

Nabi Muhammad selalu mengatakan kebenaran walaupun terasa pahit, tidak pernah  menyimpan rahasia hati, menipu serta membahayakan orang-orang Islam.

Sifat kejujuran Nabi Muhammad sudah terlihat sejak kecil, ketika Nabi mulai berdagang dan menjualkan barang dagangan Khadijah. Ketika berdagang, Nabi Muhammad mengatakan dengan sebenarnya. Apabila kondisi barang itu baik, maka Nabi mengatakannya kepada pembeli dengan definisi barang kualitas yang baik. Begitupun juga ketika kondisi barang itu terdapat cacat atau rusak, maka Nabi mengatakan sejujurnya kondisi kurang bagus dagangan itu. Orang yang membeli barang dagangan Nabi Muhammad merasa puas dan tidak rugi ketika membeli barang dagangan itu.

Penjelasan sifat kejujuran Nabi Muhammad  juga terdapat dalam kitab Khulasoh Nurul Yaqin (1: 10) yaitu sebagai berikut:

وَقَدْ اِخْتَارَتْهُ لِهَذَا العمَلِ لأَنَّهَا سَمِعَتْ بِصِدْقِهِ وَ أَمَانَتِهِ وَأَخْلاَقِهِ الشَّرِيْف

Artinya: Khadijah memilih Nabi Muhammad untuk pekerjaannya itu, karena Khadijah pernah mendengar tentang kejujuran, sifat amanah, dan akhlak-akhlak Nabi Muhammad yang mulia.

 

-لاَ يَحُوْلُ في سُؤَالٍ وَلاَ جَوابٍ. وَلاَ يَجُوْلُ لِسَانُه إلاّ فيْ صَوَابٍ

Nabi Muhammad tidak pernah berpaling dari pertanyaan dan jawaban. Lisan Nabi Muhammad tidak pernah bergerak, kecuali dalam kebenaran.

-وكَانَ لَهُ فِيْ كُلِّ مَقَامٍ عِنْدَهُ مَقَالٌ. وَلِكُلِّ كَمَالٍ مِنْهُ كَمَالٌ.

Bagi Nabi Muhammad setiap tempat mempunyai perkataan yang tepat, setiap kalimatnya mengandung kesempurnaan.

-مَنْ نَظَرَ فِيْ وَجْهِهِ عَلِمَ أَنَّهُ لَيْسَ بِوَجْهٍ كَذَّابِ.

Siapapun yang melihat wajah Nabi Muhammad mengetahui  bahwa Nabi bukanlah seorang penipu.

 

- وَكَانَ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ بِغَمَّازٍ وَلاَ عَيَّابٍ

Nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam bukan seorang pengumpat dan pencela.

Menurut Shafiyyurrahman (2017:852), dalam sebuah kisah yang diceritakan oleh Hindun bin Abu Halah menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang berbicara hanya seperlunya saja, lebih banyak diam, memulai dan mengakhiri perkataan  dengan seluruh bagian mulutnya tidak dengan ujungnya saja.

 

2.Tanggung Jawab

Sikap tanggung jawab merupakan sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa (Daryantoo, 2013:71). Dalam kitab Mukhtasor fi as-Siroh an-Nabawiyyah ditemukan sikap tanggung jawab yang terdapat dalam diri Rasulullah pada kalimat:       

-وَإذَا ضُيِّعَ حَقُّ اللّهِ لَمْ يَقُمْ أَحَدٌ لِغَضَبِهِ  (مالكي، ٥ ٤: ١٣٩٧)

Apabila hak Allah diabaikan, tidak ada seorangpun yang sanggup   menghadapi kemarahannya (Nabi Muhammad).

Nabi Muhammad beranggung  jawab atas hukum-hukum yang muncul karena adanya sebuah fatwa maupun peristiwa yang terjadi, kebijakan atas pertikaian atau konflik, dan jawaban atas pertanyaan para sahabat. Nabi Muhammad laksana guru bangsa yang terus-menerus turut berperan mengatasi persoalan yang dihadapi masyarakat.  Tidak hanya orang muslim yang  sering meminta Nabi Muhammad sebagai penengah atas konflik yang terjadi, orang non-muslimpun meminta Nabi Muhammad untuk memutuskan hukum -an bagi pezina muhsan di kalangan Yahudi. Orang-orang Yahudi berkumpul di Bayt al-Midras untuk membicarakan hukuman bagi pezina. Para rahib Yahudi berselisih pendapat dan belum menemukan sebuah keputusan. Nabi Muhammad diundang untuk memberikan sebuah keputusan atas hukum bagi seorang pezina muhsan.

 

3. Sabar

Menurut KBBI, sikap sabar merupakan keadaan menahan dan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, dan tidak lekas putus asa).  Sifat sabar Nabi Muhammad diolok-olok oleh pamannya sendiri Abu Lahab dengan mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah pembohong, dan melontarkan kata kutukan kepada Nabi Muhammad. Seperti yang disebutkan dalam al-Quran surah al-Lahab:

تَبَّتْ يَدَا اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّ )١( مَا اَغْنٰى عَنْهُ مَالُه وَمَا كَسَبَ) ٢( سَيَصْلٰى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ ) ٣( وَّامْرَاَتُهحَمَّالَةَ الْحَطَبِ )٤( فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ)٥)

Artinya: Celakalah ke dua tangan Abu Lahab, benar-benar celaka. Tidaklah berguna baginya hartanya (Abu Lahab) dan apa yang Abu Lahab usahakan. Kelak Abu Lahab akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula) istri Abu Lahab pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di leher istri Abu Lahab ada tali dari sabut yang dipintal.Dalam kitab Mukhtasor fi as-Siroh an-Nabawiyyah ditemukan sikap sabar yang terdapat dalam diri Rasulullah pada kalimat: 

وَإِنْ خُوْصِم يَصْمُتْ وَلاَ يُجَاوِب               

Jika dihina, Nabi Muhammad hanya diam dan tidak menjawab.

 

Dalam kitab “Khulasoh Nurul Yaqin” tertulis:

وَكَانَ صَلَّ اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَابِلُهُمْ بِالحِلْمِ وَالصَّبْرِ وَاللُّطْفِ وَالعَفْوِ

Artinya: Nabi Muhammad menghadapi mereka (orang yang menyakitinya) dengan tidak lekas marah,sabar, dan memaafkan.

وَشَرَحُوْهُ بِسِكِّيْنِ الإِحْسَانِ، وَنَزَعُوْا مِنْهُ حَظَّ الشَّيْطَانِ، وَمَلَؤُوْهُ بِلْحِلْمِ وَالْيَقِيْنِ وَالرِّضْوَانِ

Mereka (3 orang Malaikat) melapangkan hati (Nabi Muhammad) dengan pisau kebajikan. Membuang tempat setan bersemayam, dan mengisinya (hati) dengan kesabran, ilmu pengetahuan, keyakinan, dan keridhaan.

Dalam kitab “Maulid ad-Diba’i diceritakan bahwa ”Malaikat melapangkan dan membersihkan hati Nabi Muhammad ketika masih kecil. Dalam hadits Ibnu Katsir dikatakan bahwa Malaikat membersihkan hati Nabi Muhammad ketika masih kecil. Pada saat itu, Nabi Muhammad sedang bermain dengan anak-anak kecil lainya di suatu tempat yang jauh dari tempat tinggal Nabi Muhammad”.

 

4. Peduli Sosial

Peduli sosial merupakan sifat yang selalu ingin memberi bantuan kepada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Sifat peduli sosial dijabarkan menjadi 2 yaitu kasih sayang dan pemurah.  Secara harfiah kasih sayang merupakan bentuk respon kejiwaan terhadap pengaruh dari luar sehingga menimbulkan kemauan untuk peduli, empati, bahkan sedih dan marah  (Mendy).  Arti kata pemurah dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang suka memberi, orang yang murah hati, dan tidak pelit. Sifat kasih sayang Rasulullah terhadap kaum Anshar dan kaum Muhajirin diberikan hak yang sama. Kaum Anshar dan Muhajirin menjadi tiang pembangunan kebesaran dan keagungan agama Islam.

Dalam kitab Mukhtasor fi as-Siroh an-Nabawiyyah ditemukan sifat  peduli sosial yang t berbentuk kasih sayang  terdapat dalam diri Rasulullah pada kalimat:

-لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ (مالكي٬ ١: ١٣٩٧)

Sungguh telah datang kepadamu, utusan dari golonganmu. Sangat berat bagi Nabi Muhammad apa yang menimpa kalian. Nabi Muhammad menjaga (umat dari kemurkaan Allah dan Neraka). Sifat Nabi Muhammad penuh kasih sayang.

- وَكَانَ صَلّى اللّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ المُرْسَلَة. وَكَانَ يَرْقُفُ بِاليَتِيْمِ وَالاَرْمَلَة

Nabi Muhammad adalah orang yang paling pemurah dibanding dengan tiupan angin yang berhembus. Nabi Muhammad memiliki rasa kasih sayang terhadap anak yatim dan janda.

Sikap kasih sayang Nabi Muhammad terhadap kaum Anshar dan kaum Muhajirin diberikan hak yang sama. Kaum Anshar dan Muhajirin menjadi tiang pembangunan kebesaran dan keagungan agama Islam.

-يَنْصَحُ لِلْإِنْسَانِ

Gemar memberikan nasihat untuk manusia.

-آمَنَ بِهِ الضَّبُّ وَسَلَّمَتْ عَلَيْهِ الأَشْجَارُ وَخَاطَبَتْهُ الأَحْجَارُ. وَحَنَّ إِلَيْهِ الجِذْعُ حَنِيْنَ حَزِيْنٍ نَاذِبٍ.

Biawak beriman kepada Nabi Muhammad. Pepohonan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad. Bebatuan berbicara kepada Nabi Muhammad. Batang pohon kurma meratap sedih, bagaikan rintihan duka.

Dijelaskan dalam sebuah syarah kitab “al-Ahadits al-Muntaqot fi Fadhoili Rasulillah Shallahu Alaihi wa Sallam” karya Imam al-Hafid Abdulloh bin Muhammad bin As-Shiddiq al-Ghamari al-Hasani, di dalam kita al-hadits menjelaskan mengenai cerita pelepah kurma merintih kepada Nabi Muhammad. Nabi Muhammad memberikan sebuah pilihan kepada pelepah kurma, apakah pelepah kurma akan tetap menangis sampai hari kiamat, ataukah dikubur oleh Nabi Muhammad dan kelak akan berkumpul bersama Nabi Muhammad di akhirat. Akhirnya, pelepah kurma itu terdiam dan berhenti menangis merintih ketika dipeluk Nabi Muhammad (Santri, 2017:1).

- وَيَفْسَحُ فِيْ الإِحْسَانِ

Dan terhadap manusia (Nabi Muhammad) gemar berbuat baik.

Nabi Muhammad selalu menanyakan kepada para sahabat apa yang terjadi di antara umatnya (manusia). Nabi Muhammad selalu memberikan nasihat untuk para sahabatnya, menyuruh sahabat untuk mengatakan yang benar adannya dan yang salah sekalipun (Shafiyyurrahman, 2017:345).

- وَوَاصِفُكَ عَاجِزٌ عَنْ حَصْرِ مَا حَوَيْتَ مِنْ خِصَالِ وَالْكَرَام وَالْجُوْدِ

Dan orang yang mengabarkan sifatmu (Nabi Muhammad) merasa tak akan sanggup melukiskan perilakumu (Nabi Muhammad) yang mulia dan pemurah.

Nabi Muhammad adalah orang yang pemurah hati dan dermawan. Nabi Muhammad memberikan apa pun dan tidak takut menjadi miskin. Ibnu Abbas berkata, “Nabi Muhammad adalah orang yang paling murah hati (Shafiyyurrahman, 2017:850).

 

5. Cinta Damai

Dalam kitab Mukhtasor fi as-Siroh an-Nabawiyyah ditemukan sikap lemah lembut yang terdapat dalam diri Rasulullah pada kalimat:

-وَإِذَا كَلّم النّاس فَكَأَنَّما يَجْنُوْنَ من كَلاَمهِ أحْلى ثَمَرٍ

Apabila berbicara dengan manusia seolah-olah mereka memetik buah yang  manis.

Pembicaraan Nabi Muhammad tak pernah kosong dan berlebihan, tapi selalu penuh makna dan nasihat. Lisan Nabi Muhammad tidak pernah digunakan untuk menggunjing orang. Nabi Muhammad berbicara sesuai dengan kadar pemahaman dan pengetahuan setiap orang yang diajak bicara (Utsman, 2013:62)

-وَإِذَا تَكَلَّمَ فَكَأَنَّمَا الدُّرُّ يَسْقُطُ مِنْ ذَالِكَ الكَلاَمِ

Ketika Nabi Muhammad berbicara bagaikan mutiara yang gugur dari isi pembicaraan itu. (Nabi Muhammad).

Banyak hal dari Nabi Muhammad yang dapat menjadi contoh dari kelembutan sikap dalam berdakwah. Diantaranya adalah kisah seorang Arab Badui, yang datang dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّه عَنْه قَالَ: قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَر (رواه مسلم)

 

6. Pemaaf

Menurut KBBI, pengertian dari pemaaf yaitu orang yang rela memberi maaf (memaafkan). Dalam kitab Mukhtasor fi as-Siroh an-Nabawiyyah ditemukan sikap pemaaf yang terdapat dalam diri Rasulullah pada kalimat:

إِنْ اُوْذيَ يَعْفُ وَلا يُعَاقِبُ-

Bila disakiti, Nabi Muhammad  mengampuni dan tidak membalas dendam

- وشيمتُه الغفران 

Tabi’atnya (Nabi Muhammad) adalah pema’af.

-وَيَعْفُوْ عَنِ الذَّنْبِ إِذَا كَان فِيْ حَقِّهِ وَسَبَبِهِ

Pemaaf kesalahan, jika memang menjadi haknya (Manusia).

Sifat pemaaf dapat di temukan pada diri Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Nabi Muhammad  telah memaafkan Hindun, yang telah menyatakan ke Islamanya setelah penaklukkan kota Makkah. Hindun adalah orang yang telah memakan paman hati Nabi Muhammad yaitu Hamzah, kejadian itu terjadi pada waktu perang Uhud (15 Syawwal 3 Hijriyah).

 

7. Religius

Religius merupakan sikap dan perilaku yang patuh  dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan orang lain.

Dalam kitab Mukhtasor fi as-Siroh an-Nabawiyyah ditemukan sikap selalu mengingat Allah yang terdapat dalam diri Rasulullah pada kalimat:

-قَلْبُهُ لاَيَغْفُلُ وَلاَ يَنَامُ وَلَكِنْ لِلْخِدْمَةِ عَلَي الدَّوَام مُرَاقِبِ

Nabi Muhammad hatinnya tidak pernah lalai dan tidak tidur, akan            tetapi senantiasa berkhidmah dan senantiasa ingat kepada Allah.

Nabi Muhammad ketika duduk ataupun berdiri selalu berdzikir kepada Allah, tidak membatasi berbagai tempat dan memilih tempat yang khusus bagi Nabi sendiri.

Menurut KBBI, pengertian dari syukur yaitu ucapan rasa terima kasih kepada Allah SWT. Dalam kitab Mukhtasor fi as-Siroh an-Nabawiyyah ditemukan sikap syukur yang terdapat dalam diri Rasulullah pada kalimat:

يَدَاهُ تَظْهَرُ بَرَكَتُهُمَا فِي المطَاعِمِ وَالمَشَارب-

Ke dua tangan Nabi Muhammad menampakkan keberkahan pada makanan dan minuman.

Ummu Ma’bad hanya mempunyai seekor domba yang sudah tidak mampu untuk mencari makan dan kondisi domba sudah sangat lemah. Lalu Nabi Muhammad meminta izin kepada Ummu Ma’bad untuk memerah susu kambing Ummu. Nabi Muhhamad memerah puting domba dengan tangan lalu membaca basmalah dan berdoa. Seketika itu, mengembanglah puting domba dan mengalirlah air susu yang sangat banyak lalu di masukkan kedalam bejana yang sangat besar. (Shafiyyurrahman, 2017:321).

-قَدَّمَاهُ قَبَّلَهُمَا الْبَعِيْرُ فَأَزَلاَّ مَا اسْتَكَاهُ مِنَ المِحَنِ وَالنَّوَائِبِ

 

Ke dua telapak kaki Nabi Muhammad dicium oleh unta ketika sakit, hingga rasa sakit yang di derita unta hilang

 

8. Toleransi

Menurut KBBI, pengertian  menghargai yaitu menghormati orang. Dalam kitab Mukhtasor fi as-Siroh an-Nabawiyyah ditemukan sikap menghargai yang terdapat dalam diri Rasulullah pada kalimat:

مَنْ رَأَهُ بَديْهَةً هَابَهُ. وَإِذَا دَعَاهُ المِسْكِيْنُ أَجَابَهُ

Siapa yang melihat Nabi Muhammad sepintas akan tampak kewibaannya. Jika diundamg orang miskin, Nabi Muhammad pasti mengabulkan (datang).

Dijelaskan dalam sebuah hadits:

ويقول عمر وبن العاص عن حضرة المصطفى صلّى اللّه عليه وما كنت أطيق أن أملا عيني منه اجلالاله ولو سئلت أن أصفَه أطقت لاني لم أكن أملأ عيني منه. رواه مسلم في الصّحيح (١٧٨\٢ بالنّووي)

 

2. Deskripsi Nilai-Nilai Karakter dalam Teks Puisi pada Kitab “Mukhtasar fi  al Sirah al -Nabawiyyah.

 

5.2.1 Cinta Damai

Cinta damai merupakan sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadirannya. Dalam kitab Mukhtasor fi as-Siroh an-Nabawiyyah ditemukan sifap cinta damai yang terdapat dalam diri Rasulullah pada syair:

 

- مَنْ رَأَى وَجْهَكَ يَسْعَد # يَا كَرِيْمَ الوَالِدَيْنِ

Siapapun yang melihat wajahmu ( Nabi Muhammad) akan bahagia # wahai yang mulia ke dua orang tua ( Nabi Muhammad).

Sifat Nabi Muhammad cinta damai terdapat pada kisah kesaksian sahabat terhadap kegembiraan Rasulullah atas berbagai hal yang dialami dirinya maupun sahabatnya. Nabi Muhammad tidak segan mengajak para sahabatnya untuk bercengkrama. Nabi Muhammad juga menggoda sahabatnya. Dikisahkan oleh at-Turmudzi dengan sanad yang mursal dari Hasan al-Bashri, suatu ketika seorang wanita tua datang menghadap Nabi Muhammad dan memintanya untuk didoakan supaya wanita itu dimasukkan ke dalam surga.  Akan tetapi Nabi Muhammad memberikan tanggapan ke wanita tua itu, dan mengatakan bahwa “Sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh wanita tua”

Wanita tua itu kaget mendengar apa yang diucapkan oleh Rasulullah, wanita merasa selama ini ibadahnya hanya sia-sia. Rasulullah sangat memahami kerisauan yang dialami oleh wanita tua itu yang salah menangkap dan memahami maksud dari Rasulullah. Rasulullah sebenarnya inginmengajak wanita tua itu bercanda,  tapi wanita tua shalihah itu menanggapinya salah. Rasulullah memanggil kembali wanita tua itu dan berkata: “Sungguh dia (wanita tua) tidak akan masuk surga karena karena dia wanita tua. Allah berfirman: Kami menjadikan mereka wanita-wanita itu dengan kejadian yang baru. Maka, Kami jadikan mereka itu gadis-gadis, remaja putrid. Merekaberkasih-kasihan dengan suami sesame usianya.

Mendengar penjelasan itu, kesedihan wanita itu langsung hilang dan menjadi gembira wajahnya. Setelah kejadian itu, wanita tua itu senakin rajin ibadahnya. Ini adalah salah satu contoh sikap Rasulullah memberikan kebahagiaan kepada siapapun orang yang ada disekitarnya (Nurul, 2017:229).

 

5.2.2 Peduli Sosial

 Sifat peduli sosial merupakan sifat yang selalu ingin memberi bantuan kepada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Sifat Nabi Muhammad berupa peduli sosial yang terdapat pada kitab MAN adalah:

فَمَحَوْتَ