SKRIPSI Jurusan Sastra Arab - Fakultas Sastra UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Analisis Fonetis Kata-Kata Serapan Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia

Laila Zumzumi

Abstrak


ABSTRAK

 

Analisis Fonetis Kata-Kata Serapan Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia Laila Zumzumi Dr. Kholisin, M.Hum. Dr. Yusuf Hanafi, M.Fil.I. Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang, 5 Malang Email: lailazumzumipba@gmail.com : Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk dan proses perubahan fonetis yang terjadi pada kata serapan bahasa Indonesia dari bahasa Arab. Sumber data penelitian ini adalah Kamus Kata-Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia (Badudu, 2003), Kamus Kata Serapan (Martinus, 2001), Buku berjudul Kaidah Bahasa Indonesia (Muljana, 1969), dan internet, diakses pada 18 Januari 2018, (http://bahasaindonesiaanna.blogspot.com/2010/05/kata-serapan-bahasa-indonesia-dari.html). Instrumen penelitian ini adalah peneliti. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode dokumentasi. Hasil penelitian ini terdapat 21 macam perubahan fonetis pada kata serapan dari bahasa Arab. Proses perubahan bunyi terjadi berdasarkan lima kategori, yaitu: (1) perpindahan titik artikulasi, (2) perubahan cara artikulasi, (3) berdasarkan kebersuaraan, (4) eliminasi empatik, dan (5) pelesapan bunyi.

 

Kata kunci: analisis fonetis, kata-kata serapan bahasa Indonesia dari bahasa Arab

The purpose this study is describing the forms and processes of phonetic changes that occur in borrowing words Indonesian from Arabic. The source of this research data is the Dictionary Borrowing Words in Indonesian (Badudu, 2003), Dictionary Borrowing Words (Martinus, 2001), Book the title Kaidah Bahasa Indonesia (Muljana, 1969), and internet, taked on 18 January 2018,(http://bahasaindonesiaanna.blogspot.com/2010/05/kata-serapan-bahasa-indonesia-dari.html). The instrument of this research is a researcher. Data collection is done by using documentation method. The results of this study are 21 type phonetic changes occurredon borrowing words from Arabic. The processes of phonetic changes based on five category, that is: (1) displacement point of articulation, (2) change in articulation way, (3) based on  vows, (4) elimination of emphatic, and (5) losted of sound.

 

Keywords: phonetic analysis, borrowing words Indonesian from Arabic.

Salah satu struktur dari ilmu linguistik yang paling dasar adalah fonetik. Menurut Junus dan Banarusu(1996:23), “Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan menganalisis bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur, serta mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia”. Dalam studi bahasa sebagai ilmu sering dibedakan pula antara linguistik dan fonetik. Para linguis Inggris benar-benar membedakan studi linguistik dan studi fonetik sebagai dua disiplin ilmu yang berbeda. Dikatakan bahwa bidang fonetik begitu penting khususnya dalam sistem ejaan dan ucapan bahasa Inggris, sehingga sukar bagi mereka untuk memasukkan dalam kerangka besar ilmu linguistik. Dikatakan pula bahwa fonetik dapat dipelajari lepas dari semua unsur bahasa yang lain (Parera, 1991:18).

Bahasa Indonesia merupakan salah satu objek penelitian yang sering dibahas dari sudut pandang linguistik. Pembahasan tentang bahasa Indonesia juga tidak dapat dipungkiri sering dikaitkan dengan bahasa lain. Sebagai contoh, kajian tentang komparasi bahasa Indonesia dengan bahasa lain. Hal ini dikarenakan bahasa Indonesia bersifat terbukasehingga memungkinkan untuk menerima unsur bahasa asing yang diperlukan (Zuhriah, 2004:1).

Faktor lain yang menjadi pendukung adanya keeratan hubungan bahasa Indonesia dengan bahasa asing adalah kontak bahasa yang terjadi di masyarakat. Seperti halnya hubungan bahasa Indonesia denga bahasa Arab. “Pengaruh bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu yang kemudian bernama bahasa Indonesia bersamaan dengan masuknya agama Islam ke Nusantara” (Ruskhan dkk, 2000:2).

Beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli bahasa mengenai hubungan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Arab adalah penelitian kata pungutan dari bahasa Arab yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Sudarno dalam Adib (2009:93) menjelaskan penelitian terdahulu yang menyebutkan bahwa “sejumlah 2500 kata dari bahasa Arab dan bahasa Persi telah terserap ke dalam bahasa Indonesia dan sekitar 2300 di antaranya berasal dari bahasa Arab.”

Jumlah tersebut pastinya sudah banyak berubah karena bahasa selalu berkembang seiring dengan perkembangan budaya dan peradaban manusia. Selanjutnya Badudu dalam Adib (2009:93) juga memaparkan bahwa “bahasa Indonesia telah mengeksplorasi kosa kata dari bahasa Arab secara besar-besaran dan merupakan jumlah yang terbesar diantara kosa kata serapan dari bahasa asing lainnya seperti bahasa Cina, Belanda, Inggris, Tamil, Paris, Portugis, maupun Sansekerta.”

Penelitian sebelumnya yang membahas tentang hubungan antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab yang berfokus pada bidang fonetik adalah yang dilakukan oleh Samsul Hadi (2003).  Dalam penelitiannya yang berjudul “Perubahan Konsonan pada Kata-Kata Serapan dari Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia”, dia membahas tentang perubahan bunyi konsonan pada kata-kata serapan bahasa Arab dalam bahasa Indonesia dengan disertai penjelasan tentang sifat-sifat bunyi dari masing-masing konsonan yang mengalami perubahan bunyi.

Penelitian lain yang membahas fonetik bahasa Arab adalah yang dilakukan oleh Zuhriah (2004).Dalam karyanya yang berjudul “Penyimpangan-Penyimpangan Unsur Serapan Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia”, Zuhria membahas tentang uraian sebab terjadinya penyerapan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia sekaligus menuliskan beberapa penyimpangan bunyi yang terjadi akibat penyerapan kata Arab dalam bahasa Indonesia. Selain menyinggung tentang kajian fonetis, dijelaskan juga penyimpangan makna yang terjadi akibat penyerapan kata tersebut.

Dari penelitian yang telah dijelaskan diatas dan penelitian-penelitian sebelumnya belum ada yang membahas tentang proses terjadinya perubahan bunyi kata serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, penulis melakukan penelitian kebahasaan tentang analisis fonetis pada kata serapan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dengan fokus penelitian pada proses terjadinya perubahan bunyi.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan rancangan penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian ini berasal dari Kamus Kata-Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia (Badudu, 2003), Kamus Kata Serapan (Martinus, 2001), media massa lainnyadan internet. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode dokumentasi. Instrumen penelitian pada penelitian ini adalah peneliti sebagai instrumen utama (human instrument). Tahapan analisis data yang dilakukan oleh peneliti adalah (1) Mengumpulkan kata serapan bahasa Arab dari sumber data, (2) Mengklasifikasikan kata-kata yang mengalami perubahan fonetis dan tidak,(3) Mengidentifikasi perubahan bunyi berdasarkan sifat-sifatnya, (4) Menyimpulkan dan menyusun perubahan bunyi yang terjadi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Bentuk Perubahan Fonetis Kata Serapan Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia

Bunyi huruf hijaiyah yang mengalami perubahan fonetis setelah diserap ke dalam bahasa Indonesia sebanyak 16 bunyi. Bunyi-bunyi tersebut adalah [?], [ts], [ch], [kh], [d], [dz], [z], [sy], [sh], [dl], [th], [dh], [’], [gh], [f], dan [q]. Setiap bunyi ada yang mempunyai satu bentuk perubahan atau lebih. Jadi, total bentuk perubahan bunyi yang terjadi sebanyak 21 macam bunyi.

Rincian bentuk perubahan bunyi yang terjadi adalah sebagai berikut: (1) Bunyi [?] berubah menjadi satu macam bunyi, yaituhilang; (2) Bunyi [ts]berubah menjadi satu macam bunyi, yaitu[s]; (3) Bunyi [ch] berubah menjadi satu macam bunyi, yaitu [h]; (4) Bunyi [kh]berubah menjadi satu macam bunyi, yaitu [k]; (5) Bunyi [d]berubah menjadi satu macam bunyi, yaitu [t]; (6) Bunyi [dz]berubah menjadi satu macam bunyi, yaitu [z]; (7) Bunyi [z]berubah menjadidua macam bunyi, yaitu [s] dan [j]; (8) Bunyi [sy] berubah menjadi satu macam bunyi, yaitu [s]; (9) Bunyi [sh] berubah menjadisatu bentuk bunyi, yaitu [s]; (10) Bunyi [dl]berubah menjadi dua macam bunyi, yaitu [d] dan [l]; (11) Bunyi [th]berubah menjadi satu macam bunyi, yaitu [t]; (12) Bunyi [dh] berubah menjadi dua macam bunyi, yaitu [z] dan [l]; (13) Bunyi [’]berubah menjadi dua macam bunyi, yaitu [?] dan [k]; (14) Bunyi [gh] berubah menjadisatu macam bunyi, yaitu [g]; (15) Bunyi [f]berubah menjadi satu macam bunyi, yaitu [p]; (16) Bunyi [q] berubah menjadi dua macam bunyi, yaitu [g] dan [k].

Adapun contoh kata serapan bahasa Arab dalam bahasa Indonesia yang mengalami perubahan fonetis adalah sebagai berikut:(1) Bunyi [?] hilang, contoh: imla; (2) Bunyi [ts]berubah menjadi [s], contoh: bahas; (3) Bunyi [ch] berubah menjadi [h], contoh: rahim; (4) Bunyi [kh]berubah menjadi [k], contoh: kabar; (5) Bunyi [d]berubah menjadi [t], contoh: lahad; (6) Bunyi [dz]berubah menjadi [z], contoh: zikir; (7)Bunyi [z]berubah menjadi [s], contoh: markas; (8) Bunyi [z]berubah menjadi [j], contoh: jerapah; (9) Bunyi [sy] berubah menjadi [s], contoh: setan; (10) Bunyi [sh] berubah menjadi[s], contoh: istilah; (11) Bunyi [dl]berubah menjadi [d], contoh: duafa; (12) Bunyi [dl] berubah menjadi [l], contoh: perlu; (13) Bunyi [th]berubah menjadi [t], contoh: tawaf; (14) Bunyi [dh] berubah menjadi [z], contoh: mahfuz; (15) Bunyi [dh] berubah menjadi [l], contoh: lalim; (16) Bunyi [’] berubah menjadi [?], contoh: akikah; (17) Bunyi [’]berubah menjadi [k], contoh:iklan; (18) Bunyi [gh]berubah menjadi [g], contoh: magrib; (19) Bunyi [f]berubah menjadi [p], contoh: petua; (20) Bunyi [q] berubah menjadi [g], contoh: gamis; (21) Bunyi [q] berubah menjadi [k], contoh: fakir.

B. Proses Perubahan Fonetis Kata Serapan Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia

Dari jumlah perubahan bentuk bunyi sebanyak 21 macam yang telah dipaparkan diatas, pada bagian ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai proses terjadinya perubahan bunyi tersebut yang diklasifikasikan dalam beberapa kategori, yaitu: (1) perpindahan titik artikulasi, (2) perubahan cara artikulasi, (3) berdasarkan kebersuaraan, (4) eliminasi empatik, dan (5) pelesapan bunyi.Adapun penjabarannya adalah sebagai berikut:

berikut:

1. PerpindahanTitik Artikulasi

Tidak semua bunyi dalam bahasa Arab terdapat padanannya dalam bahasa Indonesia. Setiap bunyi dihasilkan oleh alat ucap yang berbeda-beda. Beberapa bunyi dari bahasa asing terasa sulit untuk diucapkan karena jarang didengar dan tidak biasa digunakan. Ada sembilan bunyi dalam kata serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia yang mengalami penyesuaian karena berpindah tempat keluarnya bunyi. Bunyi-bunyi tersebut adalah sebagai berikut:

a) Bunyi Labiodental Berubah Menjadi Bilabial

Bunyi labiodental adalah bunyi yang terjadi karena gerakan gigi atas dengan bibir bawah. Adapun bunyi bilabial adalah bunyi yang dilafalkan dengan cara mengatupkan bibir atas dan bawah. Contoh perubahan bunyi labiodental  menjadi bilabial adalah berubahnya bunyi [f] menjadi [p] pada kata “petua”.

b) Bunyi Apikointerdental Berubah Menjadi Apikoalveolar

Bunyi apikointerdental adalah bunyi yang yang dihasilkan oleh pertemuan antara ujung lidah dengan gigi atas dan bawah. Sedangkan bunyi apikoalveolar adalah bunyi yang terjadi karena ujung lidah bersentuhan dengan gusi gigi atas. Diantara contoh perubahan bunyi apikointerdental menjadi apikoalveolar adalah: (1) bunyi [ts] menjadi [s] pada kata “bahas”; (2) bunyi [dz] menjadi [z] pada kata “zikir”; (3) bunyi [dh] menjadi [z] pada kata “mahfuz”;  (4) bunyi [dh] menjadi [l] pada kata “lalim”.

c) Bunyi Apikodental Berubah Menjadi Apikoalveolar

Bunyi apikodental adalah bunyi yang dihasilkan dari hasil kerjasama antara ujung lidah dengan gigi atas. Sedangkan bunyi apikoalveolar adalah bunyi yang pelafalannya dengan cara meletakkan ujung lidah pada gusi gigi atas. Contoh perubahan bunyi apikodental menjadi apikoalveolar adalah berubahnya bunyi [dl] menjadi [l] pada kata “perlu”.

d) Bunyi Apikoalveolar Berubah Menjadi Mediopalatal

Bunyi apikoalveolar adalah bunyi yang pelafalannya dengan cara meletakkan ujung lidah pada gusi gigi atas. Sedangkan bunyi mediopalatal adalah bunyi yang dilafalkan dengan cara menempelkan daun lidah (tengah lidah) pada langit-langit keras.Contoh perubahan bunyi apikodental menjadi apikoalveolar adalah berubahnya bunyi [z] menjadi [j] pada kata “jerapah”.

e) Bunyi Mediopalatal Berubah Menjadi Apikoalveolar

Bunyi mediopalatal adalah bunyi yang dilafalkan dengan cara menempelkan daun lidah (tengah lidah) pada langit-langit keras. Sedangkan bunyi apikoalveolar adalah bunyi yang dilafalkan dengan cara mendekatkan ujung lidah pada gusi gigi atas. Contoh perubahan bunyi mediopalatal menjadi apikoalveolar adalah berubahnya bunyi [sy] menjadi [s] pada kata “setan”.

f) Bunyi Dorsouvular Berubah Menjadi Dorsovelar

Bunyi dorsouvular adalah bunyi yang dilafalkan dengan cara menempatkan pangkal lidah pada anak tekak. Sedangkan bunyi dorsovelar dilafalkan dengan cara menempelkan pangkal lidah pada langit-langit lunak. Contoh perubahan bunyi dorsouvular menjadi dorsovelar adalah berubahnya bunyi [q] menjadi [k] dan [g] pada kata “fakir” dan “gamis”.

g) Bunyi Faringal Berubah Menjadi Dorsovelar

Bunyi faringal yaitu bunyi yang dihasilkan atau yang proses penghasilannya berada di dalam rongga faring. Sedangkan bunyi dorsovelar yaitu bunyi yang dihasilkan oleh punggung lidah (dorsum) dan langit-langit lunak (velum). Contoh perubahan bunyi faringal menjadi dorsovelar adalah berubahnya bunyi [kh] menjadi [k] pada kata “kabar”.

h) Bunyi Laringal Berubah Menjadi Dorsovelar

Bunyi laringal adalah bunyi yang dilafalkan dengan cara dinding tenggorokan mengejang untuk memodifikasi arus udara yang datang dari paru-paru. Sedangkan bunyi dorsovelar adalah bunyi yang terjadi karena interaksi antara pangkal lidah dengan langit-langit. Contoh perubahan bunyi laringal  menjadi dorsovelar adalah berubahnya bunyi [’] menjadi [k] pada kata “iklan”.

i) Bunyi Faringal Berubah Menjadi Laringal

Bunyi faringalyaitu bunyi yang proses penghasilannya berada di dalam rongga faring. Sedangkan bunyi laringal adalah bunyi yang dihasilkan oleh pita suara dalam rongga antara kedua pita itu yang disebut glotis. Contoh perubahan bunyi faringal menjadi laringal adalah berubahnya bunyi /ch/ menjadi [h] pada kata “rahim”.

2. Perubahan Cara Artikulasi

Pada proses perubahan bunyi akibat perubahan cara artikulasinya, ada enam bunyi yang mengalami pergantian bunyi. Hal ini disebabkan olehberubahnya hambatan yang dialami. Adapun penjabarannya adalah sebagai berikut:

 

a. Bunyi Frikatif Menjadi Plosif

Bunyi yang mengalami perubahan cara artikulasinya dari frikatif menjadi plosif ada tiga macam, yaitu: (1) Bunyi [kh] menjadi [k], contoh: kabar;(2) Bunyi [gh] menjadi [g], contoh: magrib; dan (3) bunyi [f] menjadi [p], contoh: petua. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

b. Bunyi Frikatif Menjadi Lateral

Bentuk perubahan bunyi frikatif menjadi sampingan adalah berubahnya bunyi [dh] menjadi [l] pada kata “lalim”.

c. Bunyi Plosif Menjadi Lateral

Perubahan bunyi plosif menjadi sampingan terjadi pada berubahnya bunyi [dl] menjadi [l] pada kata “perlu”.

d. Bunyi Frikatif Menjadi Afrikatif

Perubahan bunyi frikatif menjadi afrikatif terjadi pada berubahnya bunyi [z] menjadi [j] pada kata “jerapah”.

3. Berdasarkan Kebersuaraan

Jika dilihat dari segi kebersuaraannya, perubahan fonetis yang terjadi pada bunyi bahasa Arab setelah diserap ke dalam bahasa Indonesia adalah sebanyak tiga bentuk bunyi. Adapun pembagiannya adalah sebagai berikut:

a.Bersuara Berubah Menjadi Tidak Bersuara.

Bentuk perubahan bunyi bersuara menjadi tidak bersuara ada dua macam, yaitu: (1) Bunyi [d] menjadi [t], contoh: lahad dan (2) Bunyi [z] menjadi [s], contoh: markas.