SKRIPSI Jurusan Sastra Arab - Fakultas Sastra UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

ISTITSNA’ DALAM SURAT AL-AN’AM, MAKNA DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN NAHWU

Zahrotul Muzdalifah

Abstrak


ABSTRAK

 

Muzdalifah, Zahrotul. 2018. Istitsna’ dalam  Surat Al-An’am, Makna dan Implikasinyadalam Pembelajaran Nahwu. Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. M. Syatibi Nawawi, M.Pd, (II) Moh. Ahsanuddin, M.Pd.

 

Kata Kunci: Istitsna’, makna ‘adawat istitsna’, pola frasa istitsna’

Bahasa Arab memiliki struktur kalimat tersendiri yang merupakan bahasan ilmu sintaksis atau nahwu termasuk didalamnya bab tentang istitsna. Namun pelajar bahasa Arab seringkali mengalami kesulitan dalam memahami istitsna’ yang memiliki kaidah yang cukup kompleks dan juga dalam memahami frasa istitsna’ yang ada dalam Al-Qur’an atau naskah-naskah Arab yang lain, yang pola-polanya lebih rumit dibandingkan dengan contoh-contoh yang ada pada buku-buku yang diajarkan. Peneliti tertarik membahas makna ‘adawat istitsna’ pada surat Al-An’am karena melihat berbedanya makna ‘adawat istitsna’ pada terjemahan Al-Qur’an kementrian Agama Republik Indonesia. Peneliti memilih surat al-an’am karena surat tersebut belum pernah diteliti dari segi frasa istitsna’nya serta jumlah ayatnya yang mencapai 165 ayat sehingga termasuk as-sab’u at-thiwal .Maka tujuan penelitian ini yakni: 1) Untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk istitsna’ dalam Q.S. Al-An’am, 2) Untuk mendeskripsikan fungsi istitsna’ dalam Q.S. Al-An’am 3) Untuk mendekripsikan makna istitsna’ yang ada dalam Q.S. Al-An’am, serta 4) Untuk mendeskripsikan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa nahwu.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian  deskriptif kualitatif sebagaimana tujuan  dari penelitian ini. Data penelitian berupa frasa-frasa yang mengandung istitsna’ sedangkan sumber data penelitian berupa Ayat-ayat Alquran dalam surat Al-An’am yakni berjumlah 165 ayat. Objek penelitian ini adalah data-data yang berhubungan dengan istisna’ yaitu  ayat-ayat yang terdapat dalam Q.S. Al-An’am yang memuat frasa istisna’. Dalam peneletian ini peneliti merupakan instrumen penelitian ( Human Instrument) sekaligus pengumpul data. Peneliti juga menggunakan instrumen  tabel yang  berfungsi sebagai penunjang. Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan teknik dokumentasi.Sedangkan teknik analisis yakni terdiri dari : pengumpulan data, reduksi data , penyajian data, dan penyimpulan.

Hasil penelitian ini penelitimembagi frasa istitsna’ dalam surat al-an’am berdasakan bentuk dan fungsinya terbagi menjadi 3, yaitu: 1) istitsna’ muttashil yang berfungsi takhsis(12 frasa), 2) istitsna’ munqothi’ berfungsi istidrok(2 frasa), dan 3)  istitsna’ mufarragh berfungsi hasr(28 frasa ).“ Illa” pada surat Al-An’am memiliki makna gramatikal : “kecuali/ selain” dan “hanya”. Sedangkan “ghairu” karena termasuk isim maka memiliki makna leksikal : “selain” dan makna gramatikal: “yang lain”. Pola-pola frasa istitsna’ jika dibandingkan dengan makna atau  terjemahan ‘adawatistitsna’“illa” memiliki makna “selain”, “kecuali” dan “melainkan” jika terdapat dalam frasa istitsna’ muttashil dan munqothi’. Sedangkan dalam frasa istitsna’ mufarragh bisa bermakna “ hanya” , “tidak lain hanya(lah)  dengan pola-pola tertentu. Begitu pula dengan ‘adat istitsna’ “ghairu” yang juga memiliki makna yang  berbeda dengan pola kalimat yang berbeda. Implikasi penelitian ini, terdapat 14 pola yang diterapkan dalam pembelajaran nahwu. 2 diantaranya yakni: 1) bermakna “kecuali/ selain”: Laa+ fi’il+ fa’il+ maf’ul bih+ illa+ badal dan 2) bermakna “hanya”: In (huruf nafi)+ isim (mubtada’)+ illa+ isim (khabar).

Peneliti selanjutnya disarankan melakukan penelitian-penelitian lain mengenai istitsna’ pada surat yang lain, atau tetap meneliti surat Al-An’am dengan membahas segi ilmu balaghah atau badi’nya serta bisa juga dengan memberikan implikasi yang berbeda dari penelitian yang dilakukan untuk pembelajaran nahwu, pembelajaran istima’, kalam, qira’ah, kitabah maupun pembelajaran bahasa Arab secara umum.