SKRIPSI Jurusan Sastra Arab - Fakultas Sastra UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

KEBEBASAN PENERJEMAHAN NOVEL MA'RUF FI BILADIL FULUS DAN KITAB KUNING HIKAYATUL MU'ADZABIN WAL MUN'AMIN FIL QUBUR

pundhi raras purbosari

Abstrak


ABSTRAK: Penerjemahan merupakan strategi pemahaman informasi yang dimuat dalam bahasa asing kepada penutur bahasa sasaran. Penerjemahan penting dalam fungsinya sebagai strategi pemahaman informasi, sebagaimana yang ditegaskan oleh Widyamartaya (1989: 9) bahwa penerjemahan sangat dibutuhkan dalam kegiatan tukar-menukar informasi, pengetahuan, dan hasil temuan. Dalam proses penerjemahan, penerjemah tentunya menemukan hambatan-hambatan penerjemahan yang dihadapi dengan menggunakan prosedur dan metode penerjemahan. Terdapat dua macam metode dan prosedur penerjemahan. Pertama, prosedur dan metode penerjemahan yang terikat pada BSu. Kedua, prosedur dan metode penerjemahan yang beroirentasi pada BSa sehingga lebih bebas. Berbicara tentang kebebasan, kebebasan dalam penerjemahan diperoleh dari cara berpikir penerjemah dalam menyelesaikan hambatan-hambatan yang ditemuinya dalam proses penerjemahan.

     Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kebebasan penerjemahan dari novel Ma’ruf fi Biladil Fulu:s, mendeskripsikan kebebasan dalam penerjemahan kitab Hikayatul Mu’adzabin wal Mun’ami:n fil Qubu:r, dan mendeskripsikan perbedaan antara kebebasan pada penerjemahan karya fiksi novel Ma’ruf fi Biladil Fulu:s dan karya nonfiksi kitab Hikayatul Mu’adzabin wal Mun’ami:n fil Qubu:r. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-deskriptif dengan berbasis kajian pustaka. Setelah penulis mengkaji teori penerjemahan, penulis mencoba untuk memaparkan kebebasan penerjemahan dari teori tersebut. Data yang dianalisis merupakan hasil random sampling yang diambil dari bagian awal, tengah, dan akhir teks.

    Pada penelitian ini, penulis juga menghasilkan klasifikasi kebebasan yang didasarkan pada prosedur dan metode penerjemahan. Klasifikasi tersebut ada tiga macam, yaitu (1) kebebasan leksikal, (2) kebebasan gramatikal, dan (3) kebebasan makna-kontekstual. Kedua teks yang menjadi objek penelitian ini juga diklasifikasikan menggunakan ketiga macam kebebasan tersebut. Hasil dari penelitian tersebut adalah (1) pada penerjemahan novel Ma’ruf fi Biladil Fulus ditemukan 25 kata dan frasa yang merupakan kebebasan leksikal, 5 struktur yang merupakan kebebasan gramatikal, dan 26 kata dan frasa yang merupakan kebebasan makna-kontekstual (2) pada penerjemahan kitab Hikayatul Mu’adzabin wal Mun’amin fil Qubur ditemukan 27 kata dan frasa yang merupakan kebebasan leksikal, 10 struktur yang termasuk kebebasan gramatikal, dan 38 kata dan frasa yang merupakan kebebasan makna-kontekstual, dan (3) bahwa penerjemahan pada kitab Hikayatul Mu’adzabin wal Mun’amin fil Qubur dalam kasus ini lebih bebas dari pada penerjemahan novel Ma’ruf fi Biladil Fulu:s. Penerjemahan novel Ma’ruf fi Biladil Fulus dapat dikatakan tidak lebih bebas daripada kitab Hikayatul Mu’adzabin wal Munamin fil Qubur karena kebebasan yang terdapat pada novel tersebut lebih sedikit  dibandingkan teks hasil penerjemahan kitab.

Kata kunci: kebebasan penerjemahan, novel Ma’ruf fi Biladil Fulus, kitab Hikayatul Mu’adzabin wal Munamin fil Qubur

SUMMARY: The purpose of this study is to describe the freedom of the novel Ma'ruf fi Biladil Fulus and the heritage book Hikayatul Mu'adzabin wal Mun’amin fil Qubur's translation. This research is a qualitative-descriptive research based on literature review. After the examination of  the theory about the translation procedures and methods, the author tries to expose the freedom of translation from those two kinds of theories. The data of this study is gained by using random sampling method, and it's taken from the beginning, middle, and end of the text. In this study, the author also produced a classification of freedoms based on procedures and methods of translation. There are three kinds of classifications, namely (1) lexical freedom, (2) grammatical freedom, and (3) contextual freedom. The two texts that became the object of this study are also classified using these three kinds of freedom. The results of the study are (1) the translation of the novel Ma'ruf fi Biladil Fulus that found 25 words and phrases which are lexical freedoms, 5 structures which are grammatical freedoms, and 26 words and phrases which are contextual freedom (2) in the translation of Hikayatul Mu'adzabin wal Mun'amam fil Qubur found 27 words and phrases which are lexical freedoms, 10 structures which include grammatical freedom, and 38 words and phrases which are contextual freedom-freedom, and (3) that translation in Hikayatul Mu 'adzabin wal Mun'amin fil Qubur in this case is more free than the translation of novel Ma'ruf fi Biladil Fulus. The translation of the novel Ma'ruf fi Biladil Fulus can be said to be no more free than the heritage book Hikayatul Mu'adzabin wal Munamin fil Qubur because the freedom contained in the novel is less than the text of the translation of the book.

Keywords: the freedom in translation, novel Ma’ruf fi Biladil Fulus, the heritage book Hikayatul Mu’adzabin wal Mun’amin fil Qubur