SKRIPSI Jurusan Sastra Arab - Fakultas Sastra UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Analisis semiotik riffaterre pada sajak Al-lughah al-‘arabiyyah tatahaddats ‘an nafsihâ karya Hafidz Ibrahim

agus endra bayu

Abstrak


ABSTRAK

 

Bayu, Agus Endra, 2016. Analisis semiotik riffaterre pada sajak Al-lughah al-         ‘arabiyyah tatahaddats ‘an nafsihâ karya Hafidz Ibrahim. Skripsi, Jurusan          Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)          Dr.       Hanik Mahliatussikah, M. Hum, (II) Ibnu Samsul Huda, S.S, M.A

 

Kata Kunci: sajak,al-lughah al-‘arabiyyah, semiotik Riffaterre

Sajak  “Al-lughah al-‘arabiyyah tatahaddats ‘an nafsihâ” merupakan salah satu puisi terkenal karya penyair kenamaan pada awal abad 19 yaitu Hafidz Ibrahim yang berasal dari Mesir. Beliau dikenal sebagai penyair dari sungai Nil. Puisi ini menggambarkan tentang keprihatinan beliau terhadap bahasa Arab pada masa itu karena mulai ditinggalkan penuturnya serta ajakan penyair untuk melestarikan kembali bahasa Arab.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan (1) ekspresi tidak langsung: pergantian arti, penyimpangan arti, penciptaan arti dan penciptaan arti, (2) pembacaan heuristik dan hermeneutik, (3) matrik, model dan varian dan (4) hipogram dari sajak ”al-lughah al-‘arabiyyah tatahaddats ‘an nafsihâ”karya Hafidz Ibrahim.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dengan  pendekatan semiotik. Adapun data penelitian ini berupa teks sajak ”al-lughah al-‘arabiyyah tatahaddats ‘an nafsihâ” karya penyair Hafidz ibrahim. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi terhadap hasil pengamatan. Data peneltian dianalisis menggunakan metode semiotika Riffaterre. Instrumen penelitian ini yaitu peneliti itu sendiri.Kegiatan analisis data dilaksanakan sejak awal penelitian, selama penelitian dan setelah analisis.

Berdasarkan analisis data, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. Pertama,  ekspresi tidak langsung  sajakAl-lughah al-‘arabiyyah tatahaddats ‘an nafsihâmeliputi a) pergantian arti, oleh metafora (tasybîh balîgh), metonimi (kinâyah), personifikasi (isti’ârah makniyah), sinekdok part prototo (majaz mursal kammiyyah juz’iyyah), simile (tasybîh ghairu bâligh), perbandingan epos (tasybîh tamtsîl), b) penyimpangan arti oleh ambiguitas dan kontradiksi, c) penciptaan arti oleh rima (qâfiyah) dan homologues. Kedua pembacaan heuristik dilakukan dengan penambahan sisipan dan sinonim dalam tanda kurung. Adapun pembacaan hermeneutik puisi ini memuat pesan penyair kepada penutur bahasa Arab untuk tetap mempertahakan dan mempelajari bahasa Arab.

 

Ketiga, matriks dalam sajak diabtraksikan dari model dan varian yang terdapat pada bait-bait sajak, yaitu gambaran bahasa Arab yang diacuhkan oleh masyarakat Mesir kala itu.Adapun tema sajak ini adalah keluhan serta rintihan bahasa Arab mengenai keadaannya. Keempat, hipogram potensial pada sajak ini adalah fenomena mulai ditinggalkannya bahasa Arab pada masa itu oleh para penuturnya. Sedangkan hipogram aktualnya adalah munculnya peradaban asing yaitu peradaban Perancis (barat) -termasuk bahasanya- yang mulai menggerus kebudayaan Mesir kala itu dan begitu pula dengan bahasanya (bahasa Arab).