SKRIPSI Jurusan Sastra Arab - Fakultas Sastra UM, 2006

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Makna Kata Jihad dalam Al Qur’an Menurut Penafsiran Ibnu Katsir dan Sayyid Qutub

Yuswantoro Yuswantoro

Abstrak


Dewasa ini telah banyak kejadian-kejadian yang menimpa umat Islam dan agamanya. Islam yang suci dinodai oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Agama Islam dianggap sebagai sumber inspirasi para pelaku kejahatan. Kasus bom bunuh diri misalnya, sering didefinisikan sebagai bentuk perbuatan jihad yang berasal dari Islam. Dari sini perlu adanya upaya pelurusan terhadap pemaknaan yang salah tentang makna jihad. Sekaligus menjadi pendorong dilakukanya penelitian ini. Untuk membahasnya peneliti merujuk kepada

Al Qur’an melalui dua mufassir, yaitu (i) Ibnu Katsir, (ii) Sayyid Qutub. Bagaiman pendapat keduanya tentang makna jihad dalam Al Qur’an?

Rancangan penelitian yang digunakan adalah menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif, dengan metode analisis yang digunakan yaitu metode dokumenter. Data-data yang dikumpulkan adalah ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung makna kata jihad menurut penafsiran Ibnu Katsir dan Sayyid Qutub. Ternyata ditemukan makna kata jihad sebanyak 41 kali dari 19 surat dalam Al Qur’an. Data-data yang telah terkumpul diklasifikasikan menurut penafsiran keduanya. Kemudian ditelaah kembali untuk memastikan kebenarannya, setelah itu diidentifikasi berdasarkan penggolongan tema-tema jihad menurut Imam Raghib al-Isfahani dan Quraish Shihab.

Makna kata jihad dalam Al Qur’an menurut Ibnu Katsir adalah (1) berjihad melawan musuh yang nyata sebanyak 26 kali, (2) berusaha bersungguh-sungguh sebanyak 7 kali, (3) kemampuan sebanyak 1 kali, (4) berjihad melawan nafsu, setan, dan musuh yang nyata sebanyak 2 kali. Sedang makna kata jihad dalam Al Qur’an menurut pendapat Sayyid Qutub adalah (1) berjihad melawan musuh yang nyata sebanyak 24 kali, (2) berusaha bersungguh-sungguh sebanyak 8 kali, (3) kemampuan sebanyak 1 kali, (4) berjihad melawan nafsu dan setan sebanyak 1 kali, (5) berjihad melawan nafsu, setan, dan musuh yang nyata sebanyak 2 kali.

Pada dasarnya hampir tidak ada perbedaan penafsiran keduanya, kecuali pada surat Al-Imran:142, Ibnu Katsir menafsirkan berjihad melawan musuh yang nyata, dan Sayyid Qutub menafsirkan berjihad melawan nafsu, setan, dan musuh yang nyata; An-Anfal: 74, Ibnu Katsir menafsirkan berjihad melawan musuh yang nyata, dan Sayyid Qutub menafsirkan berusaha sungguh-sungguh; dan Al-Furqan: 52, Ibnu Katsir menafsirkan Berjihad melawan nafsu, setan, dan musuh yang nyata, dan Sayyid Qutub menafsirkan berjihad melawan nafsu, dan setan.

Pendapat kedua mufassir terhadap makna ayat jihad saling memperkuat dan melengkapi. Dari sisi penafsiran kata jihad dalam Al Qur’an ini, Ibnu Katsir lebih lebih menonjol periwayatan sejarah, hadist maupun asbabul nuzulnya. Sedang Sayyid Qutub lebih menonjol dari sisi keterkaitan antara ayat-ayat jihad dengan konteks kekinian dan penggunaan retorika bahasa.