SKRIPSI Jurusan Matematika - Fakultas MIPA UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Proses Berpikir Kreatif dalam Pemecahan Masalah Matematika Materi Vektor Berdasarkan Gaya Belajar Siswa Kelas X SMAN 1 Talun

Elvi Nurcholisna

Abstrak


ABSTRAK

 

Nurcholisna, Elvi. 2017. Proses Berpikir Kreatif dalam Pemecahan Masalah Matematika Materi Vektor Berdasarkan Gaya Belajar Siswa Kelas X SMAN 1 Talun. Skripsi. Jurusan Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Latifah Mustofa Lestyanto, S.Si., M.Pd.

 

Kata kunci: berpikir kreatif, proses berpikir, gaya belajar, pemecahan masalah.

 

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa dalam pemecahan masalah matematika materi vektor berdasarkan gaya belajarnya. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian tiga siswa kelas X SMAN 1 Talun yaitu satu siswa dengan gaya belajar visual, satu siswa dengan gaya belajar auditori, dan satu siswa dengan gaya belajar kinestetik. Penelitian ini diawali dengan pemberian angket gaya belajar, kemudian dilakukan tes kemampuan berpikir kreatif untuk memperoleh subjek penelitian. Selanjutnya, dilakukan wawancara untuk menelusuri proses berpikir kreatif dari masing-masing subjek terpilih.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek bergaya belajar visual memahami masalah dengan mengidentifikasi masalah yaitu menentukan informasi yang diketahui dan informasi yang ditanyakan serta menilai ketercukupan informasi yang tersedia pada soal. Selanjutnya pada langkah menyusun rencana, subjek visual menghasilkan ide dengan mengamati gambar ilustrasi vektor, menggambar garis imajiner, menggambar garis bantu, memperhatikan informasi, membagi ke dalam kasus-kasus, dan mengurutkan kemungkinan-kemungkinan vektor yang dijumlahkan. Pada tahap mengklarifikasi ide, subjek visual membuktikan kesamaan dua vektor secara tertulis dan menguji ketepatan titik-titik yang dilalui ruas garis berarah. Kemudian menilai kelayakan ide dengan mencoba mensubtitusikan vektor dan menyederhanakan operasi serta membandingkan ide-ide. Pada tahap membuat keputusan subjek visual menyeleksi ide berdasarkan kemudahan ide dalam menyatakan vektor yang ditanyakan serta memeriksa kesesuaian ide dengan syarat-syarat. Selanjutnya menjalankan rencana dengan mengimplementasikan ide yang melibatkan proses subtitusi vektor, penyederhanaan operasi, penggambaran ruas-ruas garis berarah, dan penulisan kemungkinan-kemungkinan vektor yang memenuhi. Pada langkah terakhir, subjek visual memeriksa kembali dengan menguji kebenaran jawaban dengan cara membandingkan, mengamati titik awal dan titik akhir dari gambar ruas garis berarah, dan menghitung ulang hasil penjumlahan vektor.

Tidak terdapat perbedaan proses berpikir yang signifikan antara subjek bergaya belajar visual, auditori, dan kinestetik pada langkah memahami masalah, menjalankan rencana, dan memeriksa kembali. Adapun perbedaan proses berpikir ketiga subjek tersebut tampak pada langkah menyusun rencana. Pada langkah menyusun  rencana, subjek bergaya belajar auditori menghasilkan ide dengan berpedoman pada titik-titik yang diketahui, tanpa menggambar garis bantu karena subjek auditori merasa lebih mudah mencari ide dengan tanpa mengamati gambar. Kemudian subjek auditori mengklarifikasi ide dengan memberikan penjelasan mengenai kebenaran ide penjumlahan vektor secara lisan. Pada tahap menilai kelayakan ide, subjek auditori menguji kemudahan dan kecepatan ide dalam menyatakan vektor yang ditanyakan dan pada tahap membuat keputusan subjek auditori menyeleksi ide berdasarkan kemudahan dan kecepatan ide dalam menyatakan vektor yang ditanyakan.

Sedangkan subjek bergaya belajar kinestetik menghasilkan ide dengan mengamati gambar ilustrasi vektor, menggambar garis bantu, mencoba-coba mencari vektor yang memenuhi permintaan soal, dan memodifikasi ide-ide yang telah ditemukan sebelumnya. Selanjutnya subjek kinestetik mengklarifikasi ide dengan membuktikan kesamaan dua vektor secara tertulis, mengamati jalur yang dilalui ruas garis berarah, dan memeriksa kesesuaian ide dengan syarat-syarat. Pada tahap menilai kelayakan ide, subjek kinestetik mencoba mensubtitusikan vektor dan menyederhanakan operasi. Kemudian, membuat keputusan dengan tanpa menyeleksi ide, melainkan langsung menerapkan semua ide untuk menemukan vektor yang dicari.