SKRIPSI Jurusan Manajemen - Fakultas Ekonomi UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

HUBUNGAN ANTARA EMPATI DAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PERILAKU PROSOSIAL

RATNA DEWI SETYANINGRUM

Abstrak


HUBUNGAN ANTARA EMPATI DAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PERILAKU PROSOSIAL PADA PENGURUS DAN PENGASUH PANTI ASUHAN DI KOTA MALANG

Ratna Dewi Setyaningrum Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Malang

E-mail: ratnadws4@yahoo.com

 

ABSTRACT

The purpose of this study is to find out:

(1) The relationship between empathy and prosocial behavior in orphanages and carers in Malang City;

(2) The relationship between emotional intelligence and prosocial behavior in orphanages and carers in Malang City.

This research uses a quantitative approach and data collection techniques through questionnaires. The population in this study were administrators and caregivers in 12 orphanages in Malang City who were chosen based on religion, and the samples used in this study were 86 people. Analysis of the data used in this study is correlation analysis.

 

Keyword : Empathy, Emotional Intelligence, Prosocial Behavior

Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan bisa hidup tanpa adanya keberadaan orang lain, karena pada dasarnya manusia pasti membutuhkan bantuan dari orang lain. Perilaku prososial atau saling tolong menolong sudah menjadi kewajiban alamiah bagi setiap manusia. Menurut Baron & Byrne (2005), perilaku prososial adalah suatu tindakan menolong yang menguntungkan orang lain tanpa harus menyediakan suatu keuntungan langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut, dan mungkin bahkan melibatkan suatu resiko bagi orang yang menolong. Namun tidak sedikit manusia pada era zaman sekarang mulai menunjukkan ciri-ciri individualisnya masing-masing dan mulai bersikap acuh tak acuh kepada sesama. Jika berbicara tentang masyarakat di Indonesia, banyak masyarakat yang sekarang lebih mementingkan kepentingan dan ego dirinya sendiri daripada orang lain, melakukan sesuatu hanya untuk kepentingan pribadi, tidak memandang apakah hal tersebut berdampak baik atau buruk bagi orang lain. Hal ini menyebabkan sifat prososial dalam diri seseorang menjadi berkurang dan menyebabkan timbulnya sifat acuh tak acuh tersebut. Seperti teori yang diungkapkan Baron dan Byrne, melakukan tindakan prososial membuat keuntungan bagi orang lain tanpa harus menguntungkan bagi diri si penolong. Dalam perilaku prososial ini memang dibutuhkan pengorbanan untuk membantu orang lain, dan pengorbanan tersebut  bermacam-macam jenisnya, seperti waktu, material, tenaga, dan lainnya.

Munculnya perilaku prososial yang dilakukan oleh seseorang selalu terkait dengan berbagai macam faktor, seperti faktor emosional dan faktor motivasional. Salah satu faktor motivasional yang mempengaruhi individu untuk melakukan tindakan prososial adalah perasaan empati. Empati merupakan perasaan simpati dan perhatian terhadap orang lain. Empati terjadi ketika individu berfokus pada kebutuhan dan emosi dari seseorang yang akan ditolong (Taylor et.al, 2009). Empati juga mampu memotivasi individu untuk menolong karena tujuan empati adalah memperbaiki keadaan orang lain dan merupakan motif dari tindak altruistik (Taylor et.al, 2009). Empati dapat membuat seseorang peduli untuk memberikan perhatian kepada orang lain. Ada pun perasaan kasihan terhadap orang lain dapat meningkatkan kesediaan seseorang untuk menolong orang lain. Selain empati, ada beberapa hal yang mungkin mempengaruhi seseorang dalam berperilaku prososial, seperti kecerdasan emosional. Goleman (2003) menjelaskan bahwa individu yang memiliki kecerdasan emosi tinggi menunjukkan pengendalian diri untuk mengoptimalkan kepuasan selama masa hidup mereka dan menunnjukkan keterlibatan dalam kegiatan yang prososial. Adapun kecerdasan emosi menurut Goleman (2003) adalah kemampuan untuk mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, kemampuan mengelola emosi dengan baik dan kemampuan dalam berhubungan dengan orang lain. Menurut Baron & Byrne (2005) bahwa emosi seseorang dapat mempengaruhi kecenderungannya untuk menolong. Emosi positif secara umum meningkatkan tingkah laku menolong dan pada emosi negatif memungkinkan menolong yang lebih kecil. Kecerdasan Emosi atau Emotional Quostiont (EQ) adalah akumulasi kecenderungan individu yang bersifat bawaaan dengan faktor lingkungannya.

Perilaku prososial merupakan materi yang masuk dalam teori Organizational Citizenship Behaviour (OCB) dan teori tersebut masuk dalam teori Altruisme. Altruisme sendiri adalah bagian dari perilaku prososial, yaitu keinginan seseorang untuk membantu orang lain. Selain itu dalam kenyataannya, sumber daya manusia selalu disandingkan dengan psikologi untuk saling melengkapi dalam menjalankan tugasnya karena bidang tersebut sama-sama mengelola individu yang ada di sebuah institusi atau organisasi. Penelitian ini disarankan untuk objek yang bersifat non profit karena topik yang dibahas meliputi konsep tolong menolong dan tidak ada profit yang didapatkan. Peneliti memilih mengambil objek dari pengurus panti asuhan karena objek tersebut merupakan salah satu bentuk tindakan perilaku prososial dan perlu dibutuhkannya sifat empati dan kecerdasan emosional dalam menjalankan tugasnya mengasuh anak-anak di panti asuhan. Pengurus panti asuhan sebagian besar juga bertugas sebagai pengasuh anak dalam sehari-harinya, dan seorang pengurus panti asuhan menjadi orang tua kedua bagi para anak yatim piatu yang berada disana.

Sebuah panti asuhan mungkin saja menjadikan seseorang sebagai pengurus panti tanpa adanya tes psikologi. Namun sebenarnya hal itu perlu dilakukan untuk mengukur seberapa tinggi empati dan kecerdasan emosi yang dimiliki oleh orang tersebut, karena dalam mengimplementasikan tugasnya sebagai pengurus dan pengasuh di panti asuhan, mereka akan dihadapkan oleh beberapa karakter yang berbeda dari sekian banyak anak asuhnya. Hal ini membutuhkan pengetahuan yang lebih karena apabila kita salah memperlakukan atau mengasuh anak-anak yang berada di panti asuhan, maka hal tersebut dampak berdampak bagi kehidupan anak tersebut di kemudia harinya. Penulis ingin meneliti apakah adanya hubungan dari rasa empati dan kecerdasan emosional yang dimiliki tiap pengurus dan pengasuh panti asuhan di Kota Malang dengan perilaku prososial, karena pada penelitian terdahulu, ada yang menyatakan bahwa tidak adanya hubungan antara empati dengan perilaku prososial. Penelitian ini dilakukan oleh Mar’atus Sholihah dengan judul “Empati dan Religiusitas dengan Perilaku Prososial pada Volunteer Pemerhati Anak Jalanan”. Selain itu, peneliti juga akan menambahkan variabel lain dalam penelitian ini untuk mengetahui hubungan yang selain empati. Dengan demikian diajukan hipotesis: H1: Empati berhubungan positif signifikan terhadap perilaku prososial pada Pengurus dan Pengasuh Panti Asuhan di Kota Malang. H2: Kecerdasan emosional berhubunngan positif signifikan terhadap perilaku prososial pada Pengurus dan Pengasuh Panti Asuhan di Kota Malang.

 

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini termasuk dalam jenis korelasional, yaitu mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu variabel penelitian berhubungan dengan variasivariasi pada suatu atau lebih variabel lain itu tidak bersifat sebab-akibat. Penelitian ini dilakukan dengan cara menjelaskan gejala-gejala yang timbul oleh suatu objek penelitian, dalam hal ini data diperoleh dari Panti Asuhan di Kota Malang. Berdasarkan data tersebut peneliti akan berusaha mencari jawaban dari rumusan masalah yang telah diajukan, sehingga akan diperoleh gambaran mengenai hubungan antara empati dan kecerdasan emosional dengan perilaku prososial. Berdasarkan tingkat eksplanasinya, penelitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih.

Populasi dalam penelitian ini adalah Pengurus dan Pengasuh dari 12 Panti Asuhan tersebut yang total berjumlah 110 orang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan perhitungan Rumus Slovin yaitu sebanyak 86 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah Pengurus dan Pengasuh Panti Asuhan di Kota Malang.

Dalam penelitian ini memiliki 3 variabel bebas, yaitu empati (X1), kecerdasan emosional (X2), dan perilaku prososial (Y). Adapun gambar mengenai hubungan antar variabel adalah sebagai berikut:

Keterangan:

X1 = Variabel independen 1 (Empati)

X2 = Variabel independen 2

(Kecerdasan Emosional)

Y = Variabel dependen (Perilaku

Prososial)

X1

X2

Y

a

b

a = Hubungan antara empati dengan perilaku prososial

b = Hubungan antara kecerdasan emosional dengan perilaku prososial

 

TEKNIK PENGUJIAN HIPOTESIS

Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan uji hipotesis yang terdiri dari uji t dan analisis korelasi.

 

HASIL

Hasil Analisis Deskriptif

1. Empati (X1)

No

Pernyataan Mean

1 3.267

2 3.233

3 3.140

4 3.128

5 3.256

6 3.221

7 3.000

8 2.814

9 3.233

10 2.895

11 2.977

12 3.035

13 3.047

14 3.070

15 2.965

16 2.826

17 2.663

18 2.616

19 2.826

20 2.826

21 2.581

22 2.535

23 2.512

24 2.477

Grand

Mean 2,922

2. Kecerdasan Emosional (X2)

No

Pernyataan Mean

1 3.221

2 2.837

3 3.023

4 3.093

5 3.035

6 3.105

7 3.221

8 3.314

9 3.233

10 3.035

11 3.244

12 3.198

13 2.942

14 2.744

15 2.802

16 2.837

17 3.221

18 3.326

19 2.895

20 3.395

21 3.267

22 3.349

23 3.198

24 3.221

25 3.198

26 3.326

27 3.128

28 3.070

29 3.291

Grand

Mean 3,130

3. Perilaku Prososial (Y)

No

Pernyataan Mean

1 3.116

2 3.186

3 3.233

4 3.221

5 3.070

6 2.942

7 3.058

8 3.000

9 3.337

10 3.151

11 3.384

12 3.023

13 3.221

Grand

Mean 3,149

Hasil Analisis Korelasi (Product Moment Pearson)

Empati Kecerdasan

Emosional Perilaku Prososial Empati

Pearson

Correlat

1 .608** .309

**

ion

Sig. (2-

tailed)

.000 .004

N 86 86 86

Kecer

dasan

Emos

ional

Pearson

Correlat

ion

.608** 1 .224

*

Sig. (2-

tailed)

.000 .038

N 86 86 86

Perila

ku

Proso

sial

Pearson

Correlat

ion

.309** .224*

1

Sig. (2-

tailed)

.004 .038

N 86 86 86

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-

tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-

tailed).

 

PEMBAHASAN

1. Empati (X1)

Hasil deskripsi variabel empati diperoleh mean sebesar 2,922, yang dapat diartikan bahwa para responden memiliki sifat empati yang baik. Mayoritas jawaban dari responden adalah jawaban Setuju, dan respon tertinggi terkait dengan item pernyataan empati yaitu nomor 1 dengan mean 3,267.

2. Kecerdasan Emosional (X2)

Hasil deskripsi variabel kecerdasan emosional diperoleh mean sebesar 3,130, yang dapat diartikan bahwa para responden memiliki kecerdasan emosional yang baik. Mayoritas jawaban dari responden adalah jawaban Setuju, dan respon tertinggi terkait dengan item pernyataan kecerdasan emosional yaitu nomor 20 dengan mean 3,395.

3. Perilaku Prososial (Y)

Hasil deskripsi variabel perilaku prososial diperoleh mean sebesar 3,149, yang dapat diartikan bahwa para responden memiliki perilaku prososial yang baik. Mayoritas jawaban dari responden adalah jawaban Setuju, dan respon tertinggi terkait dengan item pernyataan perilaku prososial yaitu nomor 11 dengan mean 3,384.

4. Hubungan Antara Empati dengan Perilaku Prososial

Koefisien korelasi antara empati dengan perilaku prososial sebesar 0,309 dengan Sig. 0,004. Dikarenakan r hitung (0,309) lebih besar dari pada r tabel (0,1786), dan nilai Sig. (0,004) < 0,05 maka hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara empati dengan perilaku prososial diterima.

5. Hubungan Antara Kecerdasan

Emosional dengan Perilaku Prososial Koefisien korelasi antara kecerdasan emosional dengan perilaku prososial sebesar 0,224 dengan Sig. 0,038. Dikarenakan r hitung (0,224) lebih besar dari pada r tabel (0,1786), dan nilai Sig. (0,038) < 0,05 maka hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara kecerdasan emosional dengan perilaku prososial diterima.

6. Interpretasi Hasil

Penjelasan untuk analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa: H1 : Berdasarkan hasil dari uji hipotesis, diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan antara empati dan perilaku prososial pada pengurus dan pengasuh panti asuhan di Kota Malang.

Hasil penelitian ini sejalan dengan teori Batson dalam Taufik (2012) yang menyatakan bahwa empati dapat menimbulkan dorongan untuk menolong, dan tujuan dari menolong itu untuk memberikan kesejahteraan bagi target empati.

Penelitian ini di dukung juga oleh penelitian terdahulu milik Cahyani (2016)  yang menyatakan bahwa adanya hubungan positif yang signifikan antara empati dengan perilaku altruisme, dan dapat disimpulkan juga bahwa semakin tinggi empati maka semakin tinggi juga perilaku altruisme pada responden tersebut. Penelitian lain yang memiliki hasil yang serupa juga dilakukan oleh Andromeda (2014), Hubber (2012), Istiana (2016), Lange (2008), Pradnyana (2016), yang menyatakan bahwa empati memiliki hubugan dengan perilaku prososial. H2 : Berdasarkan hasil dari uji hipotesis, diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dengan perilaku prososial pada pengurus dan pengasuh panti asuhan di Kota Malang.

Hasil penelitian ini sejalan dengan teori Batson dkk (dalam Goleman, 2005), berdasarkan beberapa penelitian mengenai perilaku prososial, menemukan adanya hubungan erat antara perilaku altruisme (prososial) dengan kecerdasan emosi. Artinya, orang yang memiliki kecerdasan emosional lebih tinggi cenderung mudah menolong orang lain atau berperilaku prososial. Sebaliknya, orang yang kecerdasan emosionalnya lebih rendah, lebih sedikit kemungkinannya.menolong orang lain. Kecerdasan emosi sangat dibutuhkan oleh pengurus dan pengasuh panti asuhan di Kota Malang dalam berinteraksi dengan seseorang, khususnya anak asuh mereka. Ketika pengurus dan pengasuh panti asuhan mampu mengenali emosi diri dan emosi orang lain, maka akan terjalin hubungan saling percaya dan saling membantu antara pengurus dan pengasuh dengan anak asuhnya. Kekurangan kecerdasan emosi dapat menyebabkan pengurus dan pengasuh juga tidak dapat melakukan perilaku prososial dengan baik, baik kepada anak asuhnya maupun dalam bermasyarakat.

Penelitian ini di dukung juga oleh penelitian terdahulu milik Rudyanto (2010) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara kecerdasan emosional dengan perilaku prososial. Penelitian lainnya yang memiliki hasil serupa juga dilakukan oleh Burke (2016), Afolabi (2013), dan Hakim (2013) yang menyatakan bahwa kecerdasan emosional memiliki hubugan dengan perilaku prososial

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai Hubungan Antara Empati dan Kecerdasan Emosional dengan Perilaku Prososial pada Pengurus dan Pengasuh Panti Asuhan di Kota Malang, maka peneliti dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Pengurus dan pengasuh panti asuhan panti asuhan di Kota Malang memiliki empati, kecerdasan emosional, dan perilaku prososial yang baik.

2. Terdapat hubungan antara empati dengan perilaku prososial pada pengurus dan pengasuh panti asuhan di Kota Malang

3. Terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dengan perilaku prososial pada pengurus dan pengasuh panti asuhan di Kota Malang

 

SARAN

Dari serangkaian hasil penelitian yang dilakukan serta kesimpulan yang ada, peneliti mengajukan beberapa saran yang kiranya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi pihak-pihak terkait, di antaranya adalah:

1. Bagi Panti Asuhan di Kota Malang Apabila panti asuhan akan merekrut pengurus atau pengasuh baru, lebih baik diperhatikan juga psikologis calon pegawai tersebut, terutama pada aspek kecerdasan emosionalnya, karena untuk menjalankan tugasnya sehari-hari dibutuhkan kontrol emosi yang stabil untuk menghadapi berbagai macam karakter anak asuhnya.

2. Bagi Peneliti Selanjutnya Untuk peneliti lain yang akan meneliti tentang perilaku prososial diharapkan dapat mempertimbangkan variabel selain empati dan kecerdasan emosional, seperti suasana hati, faktor situasional, dan faktor sosiobiologis, dikarenakan berdasarkan hasil penelitian ini, variabel empati dan variabel kecerdasan emosional memiliki aspek-aspek yang menyerupai.

 

DAFTAR RUJUKAN

Afolabi, O. A. 2013. Roles of Personality Types, Emotional Intelligence and Gender Differences on Prosocial Behavior.6 (1): 124–139 (Online), https://psyct.psychopen.eu/article/vie w/53/49/, diakses pada 4 Agustus 2018.

Andromeda, S. 2014. Hubungan Antara Empati dengan Perilaku Altruisme pada Karang Taruna Desa Pakang. (Online), http://eprints.ums.ac.id/30704/, diakses pada 4 Agustus 2018.

Baron, R. A. dan Byrne, D. 2005. Psikologi Sosial Jilid 2 Edisi Kesepuluh (alih Bahasa:Ratna Djuwita,dkk). Jakarta: Erlangga. Burke, M. 2016. Affective Forecasting Ability: Individual Differences in Emotional Intelligence and Prosocial Behaviour. (Online), https://esource.dbs.ie/handle/10788/ 3142 Cahyani, R. 2016. Hubungan Antara Empati dengan Perilaku Altruisme pada Relawan SSCS (Save Street Child) Surabaya. Skripsi. Surabaya: Psi UIN Sunan Ampel. (Online), http://digilib.uinsby.ac.id/12806/, diakses pada tanggal 4 Agustus 2018.

Ghozali, I. 2011. Aplikasi Analisis Multivariatif dengan Program IBM SPSS 19. Edisi 5. Semarang: Badan Penerbit Univesitas Dipenogoro. Goleman, D. 2003. Emotional Intelligence, Kecerdasan Emosional, Mengapa EI Lebih Penting Daripada IQ. Diterjemahkan oleh T. Hermaya. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Hadi, S. 1991. Analisis Butir untuk Instrumen Angket, Tes, dan Skala Nilai. Yogyakarta: FP UGM. Hakim, A., dkk. 2013. Emotional Intelligence and Organizational Commitment as Predictor Variables Organizational Citizenship Behavior (Study on Employee of Community Health Centers in City of Kendari)

Hubber, J. T. dan MacDonald, D. A. 2012. An Investigation of The Relation Between Altruism, Empathy, and Spirituality Istiana. 2016. Hubungan Empati dengan Perilaku Prososial pada Relawan KSR PMI Kota Medan. Jurnal Diversita 2 (2): 1-13 (Online), http://ojs.uma.ac.id/index.php/diversi ta/article/view/508, diakses pada tanggal 4 Agustus 2018.

Lange, P. A. 2008. Does Empathy Trigger Only Altruistic Motivation? How Abou Selflessness or Justice?. 8 (6): 766-774 (Online), https://www.semanticscholar.org/pap er/Does-empathy-trigger-onlyaltruistic-motivation, diakses pada tanggal 4 Agustus 2018. Pradnyana, A. A. G. P. S. dan Lestari, M. D. 2016. Peran Perilaku Prososial, Efikasi Diri dan Empati pada Pegawai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Bali.

Jurnal Psikologi Udayana 3 (3):  551-562 (Online), https://ojs.unud.ac.id/index.php/psik ologi/article/view/28069, diakses pada tanggal 4 Agustus 2018. Rudyanto, E. 2010. Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual dengan Perilaku Prososial pada Perawat. Skripsi. Surakarta: FK USM. (Online), https://eprints.uns.ac.id/2449/, diakses tanggal 4 Agustus 2018. Sholihah, M. 2017. Empati dan Religiusitas dengan Perilaku Prososial pada Volunteer Pemerhati Anak Jalanan. (Online), http://webcache.googleusercontent.c om/search?q=cache:wZoxVzBygzAJ :mpsi.untagsby.ac.id/backend/upload s/pdf/EMPATI_DAN_RELIGIUSITAS_DENGAN_PERILAKU_PROSOSIAL.pdf+&cd=1&hl=en&ct=clnk &gl=id, diakses tanggal 4 Agustus 2018.

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Taufik. 2012. Empati: pendekatan psikologi sosial. Jakarta: Raja Grafindo. Taylor, E. dkk. 2009. Psikologi Sosial Edisi Kedua Belas. Jakarta: Kencana