SKRIPSI Jurusan Manajemen - Fakultas Ekonomi UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengembangan Modul Konvensional Mata Pelajaran Administrasi Umum Kompetensi Dasar Menerapkan Tata Ruang Kantor untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa (Studi pada Siswa Kelas X Bisnis Daring dan Pemasaran SMK Islam Kota Batu).

NURUL HIDAYAH

Abstrak


Kata Kunci: modul konvensional, hasil belajar.

Pendidikan merupakan faktor yang terpenting untuk membentuk suatu karakter kepribadian manusia. Kepribadian manusia yang baik akan membawa generasi muda bangsa menjadi lebih baik. Semakin tinggi kualitas pendidikan maka sumber daya manusia juga akan berkualitas. Salah satu cara untuk meningkatkan pendidikan yang berkualitas yaitu dengan mengikuti perkembangan Kurikulum, karena kurikulum memiliki peranan penting untuk menentukan arah pendidikan. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran, karena guru merupakan sumber informasi untuk siswa. Dengan hal tersebut siswa mampu memperoleh materi sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh guru yang mengajar mata pelajaran misalnya mata pelajaran Administrasi Umum. Maka guru memerlukan bahan ajar yang sesuai dengan Kurikulum yang berlaku. Bahan ajar merupakan instrumen yang digunakan oleh seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran.

Bahan ajar memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran karena dengan adanya bahan ajar siswa dapat belajar secara mandiri dengan atau tanpa adanya guru. Berdasarkan hal tersebut maka guru mampu membuat bahan ajar yang dapat meningkatkan motivasi siswa supaya dapat belajar secara mandiri supaya meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satunya dengan membuat modul agar dapat digunakan siswa dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Modul Konvensional mata pelajaran Administrasi Umum Kompetensi Dasar Menerapkan Tata Ruang Kantor untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research & Development) yang mengacu pada langkah-langkah dari penelitian Borg, at all., (2003). Langkah-langkah penelitian pengembangan yang telah dimodifikasi peneliti terdiri dari delapan langkah yaitu

(1) Menganalisis Tujuan Pembelajaran,

(2)  Melakukan Analisis Pembelajaran,

(3) Merumuskan Tujuan Pembelajaran,

(4) Mengembangkan Modul Pembelajaran,

(5) Validasi Produk dan Revisi Produk,

(6) Mendesain dan Melakukan Tes Formatif,

(7) Merevisi Bahan Ajar, dan

(8) Mendesain dan Melaksanakan Tes Sumatif.

Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu sebuah bahan ajar dalam bentuk modul yang memuat materi mengenai tata ruang kantor. Modul yang dikembangkan melewati dua tahap validasi yaitu validasi modul yang dilakukan oleh dua validator ahli modul dan juga validasi materi yang dilakukan oleh dua validator ahli materi. Subjek uji coba pengguna pada penelitian pengembangan ini yaitu siswa yang menggunakan modul dalam proses pembelajaran. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari instrumen yang diberikan kepada ahli modul, ahli materi, dan juga responden atau pengguna berupa kritik dan saran. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari angket yang diberikan kepada validator ahli dan juga para responden atau pengguna untuk menilai kelayakan, kelengkapan serta tampilan dari modul, serta posttest yang memiliki tingkat kesukaran dan daya pembeda yang diberikan kepada pengguna modul untuk mengukur hasil belajar.

Hasil validasi ahli modul menunjukkan skor 86,92% dan ahli materi menunjukkan skor 96,32% yang berarti sangat valid, sangat efektif, sangat tuntas, dan dapat digunakan meskipun ada beberapa perbaikan kecil sesuai saran yang diberikan ahli validator. Sama halnya dengan respons yang diberikan oleh pengguna yang menunjukkan skor 83%yang berati berarti sangat valid, sangat efektif, sangat tuntas, dan dapat digunakan meskipun ada sedikit perbaikan kecil sesuai saran yang diberikan pengguna melalui uji coba pengguna. Hasil belajar melalui uji coba pengguna yang ditunjukkan melalui hasil posttest yang diberikan kepada kelas eksperimen yang menggunakan modul dalam proses pembelajaran memiliki nilai rata-rata 87,59% dan standar deviasi 6,5 sedangkan kelas kontrol yang tidak menggunakan modul dalam proses pembelajaran memiliki nilai rata-rata 79,31 dan standar deviasi 8,74 menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar di antara dua kelas tersebut. Melalui uji Independent Sample T Test menunjukkan bahwa probabilitas yang diperoleh yaitu 0, nilai tersebut