SKRIPSI Jurusan Manajemen - Fakultas Ekonomi UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penerapan Poin Pelanggaran untuk Mengurangi Tingkat Pelanggaran di SMK Negeri 8 Malang

Ikka Nur Hidayati Setyaningsih

Abstrak


ABSTRAK

 

Poin pelanggaran merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai pendamping peraturan sekolah atau tata tertib guna untuk membentuk karakter dan mengurangi tingkat pelanggaran peserta didik. Penerapan poin pelanggaran berfungsi sebagai alat perekam setiap pelanggaran yang dilakukan oleh peserta didik. Setiap pelanggaran yang dilakukan oleh peserta didik dicatat jenis pelanggaran dan poin yang diperolehnya, kemudian poin tersebut akan diakumulasikan sampai kenaikan kelas atau sampai lulus bagi kelas XII. SMK Negeri 8 Malang merupakan salah satu sekolah yang menerapkan poin pelanggaran yang cukup lama. Poin pelanggaran yang diterapkan di SMK Negeri 8 ini dibagi menjadi 3 (tiga) kategori pelanggaran yaitu pelanggaran kelakuan, kerajinan, dan kerapian. Masing-masing dari kategori tersebut memiliki batas maximal poin sebelum di kembalikan kepada pihak orang tua.

Fokus Penelitian ini antara lain (1) model pelaksanaan kebijakan poin pelanggaran di SMKN 8 Malang; (2) manfaat yang diperoleh setelah menerapkan sistem poin pelanggaran; (3) penurunan tingkat pelanggaran peserta didik setelah diterapkan sistem poin pelanggaran; (4) hambatan-hambatan dalam pelaksanaan kebijakan sekolah mengenai penerapan poin pelanggaran; (5) upaya yang dilakukan pihak sekolah untuk mengatasi hambatan penerapan poin pelanggaran.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian ini di SMK Negeri 8 Malang yang beralamatkan di Jl. Teluk Pacitan, Arjosari, Blimbing, Kota Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, display data, dan verifikasi data. Pengecekan keabsahan data yang dipergunakan yaitu triangulasi, meningkatkan ketekunan, pengecekan anggota.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Penerapan poin pelanggaran di SMKN 8 Malang memiliki tujuan untuk mendisiplinkan peserta didik, membentuk karakter peserta didik, dan membentuk akhlak yang baik. Dalam penerapannya pihak yang berhubungan langsung yaitu Tim ketertiban, Waka Kesiswaan, BK dan wali kelas. Alur penerapan poin pelanggaran antara peserta didik yang memiliki poin pelanggaran ringan, sedang, dan tinggi berbeda penanganan dan treatment yang diberikan. (2) Dalam pelaksanaanya poin pelanggaran memberikan manfaat yang cukup banyak baik bagi sekolah, guru, bahkan peserta didik sendiri. (3) Terjadi penurunan tingkat pelanggaran dalam penerapan poin pelanggaran. Meskipun penurunan tersebut secara bertahap, karena tim ketertiban memiliki target setiap waktunya. (4) Hambatan dalam pelaksanaan poin pelanggaran yaitu tidak boleh mengeluarkan peserta didik, masih kurangnya support dari pihak lain, pelimpahan seluruh kasus pelanggaran kepada Tim Ketertiban, ketidak percayaan orangtua peserta didik akan pelanggaran yang dilakukan oleh putra putrinya. (5) Upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah yaitu penerapan treathment, memberikan fasilitas kepada peserta didik, memberikan reward kepada peserta didik yang berprestasi, mengadakan pertemuan yang memungkinkan semua guru dapat hadir, memberikan bukti yang akurat, memberikan penjelasan yang jelas kepada orangtua peserta didik.

 

Berdasarkan temuan penelitian, disarankan bagi (1) Kepada peserta didikagar menjalankan tata tertib yang diberlakukan di sekolah dengan sebaik-baiknya. (2) Kepada guru dapat memberikan contoh yang baik bagi peserta didik. Tidak hanya tim ketertiban ataupun waka kesiswaan yang bertugas mendisiplinkan peserta didik, namun kedisiplinan tersebut merupakan tanggung jawab bagi semua warga sekolah. (3) Kepada Tim Ketertiban seharusnya ada alur/skema penanganan peserta didik mengenai pelanggaran tata tertib poin pelanggaran yang terpampang  jelas dan melakukan inventaris semua data poin pelanggaran berupa hard file dan soft file. (4) Kepada orang tua seharusnya senantiasa menyadari bahwa pendidikan utama adalah berasal dari keluarga dan tidak selalu menyalahkan pihak sekolah, (5) Kepada Peneliti Selanjutnyadapat melengkapi dan menyempurnakan teori yang telah ditemukan.