SKRIPSI Jurusan Manajemen - Fakultas Ekonomi UM, 2008

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penerapan Pembelajaran Kontekstual Metode Demonstrasi dan Bermain Peran untuk meningkatkan keterampilan Berkomunikasi Melalui Telepon di kelas x Administarsi Perkantoran 1 Sekolah Menegah Kejuruan negeri 2 Balikpapan

Dina Marthen

Abstrak


ABSTRAK

 

Marthen, Dina. 2008. Penerapan Pembelajaran Kontekstual Metode Demonstrasi dan Bermain Peran untuk meningkatkan keterampilan Berkomunikasi Melalui Telepon di kelas x Administarsi Perkantoran 1 Sekolah Menegah Kejuruan negeri 2 Balikpapan, skripsi, Jurusan Manajemen Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. I. Nyoman Suputra, M.Si.

(II) Imam Buchori, S,Pd. MM.

 

Kata kunci : Pembelajaran Kontekstual, Metode Demonstrasi dan Bermain Peran.

 

Keterampilan dasar mengajar merupakan salah satu komponen dalam pembentukan kemampuan profesional seorang guru. Jadi seorang guru yang profesional akan mampu mendemostrasikan berbagai kerampilan dalam kegiatan belajar-mengajar  dan berani mencoba model-model pembelajaran yang baru dengan  mengunakan alat-alat peraga yang cocok untuk anak didik.

Penerapan pembelajaran yang paling tepat dalam mempelajari kompetensi berkomunikasi melalui telepon adalah dengan metode demonstrasi. Mengingat siswa Sekolah Menengah Kejuruan adalah lulusan yang siap terjun kedunia kerja maka sebaiknya pihak sekolah perlu membekali pengetahuan yang cukup untuk bekal siswa di dunia kerja yang sebenarnya. Kegiatan pembelajaran yang diharapkan adalah lebih banyak dilakukan dengan praktek.

 Berdasarkan pada tujuan penelitian tindakan kelas, rancangan penelitian ini digolongkan sebagai penelitian deskriptif. Penelitian diskriptif berusaha melukiskan fenomena sebagaimana adanya. Penelitian dirancang  untuk memperoleh informasi mengenai fenomena pada saat penelitian dilakukan. Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah : (1) Mendikripsikan  penerapan metode demonstrasi dan bermain peran dalam proses pembelajaran Berkomunikasi melalui telepon, (2) Mendiskripsikan hasil belajar dan keterampilan  peserta didik setelah proses pembelajaran dengan mengunakan metode demonstrasi dan bermain peran. (3) Mengetahui respon peserta didik terhadap metode demonstrasi dan bermain peran dalam proses pembelajaran berkomunikasi melalui telepon.

Penelitian deskriptif sendiri memusatkan perhatiannya pada penemuan fakta-fakta sebagaimana keadaan yang sebenarnya. Penelitian yang akan dilakukan ini berusaha menggambarkan dan memaparkan secara rinci mengenai penerapan pembelajaran dengan metode demonstrasi dan bermaian peran pada mata pelajaran berkomunikasi melalui telepon sebagaiman mestinya. Kehadiran peneliti dalam hal ini, selain sebagai peneliti yang mengamati jalannya proses kegiatan pembelajaran, peneliti juga berperan sebagai guru yang secara langsung melakukan kegiatan mengajar dalam kelas. Mata pelajaran berkomunikasi melalui telepon diberikan kepada peserta didik yang berada di kelas x jurusan Administrasi Perkantoran pada Sekolah Menengah Kejuruan, oleh sebab itu lokasi penelitian ini dilaksanakan pada kelas x jurusan Administrasi Perkantoran satu (Apk 1) di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Balikpapan. Sumber data dalam penelitian adalah dari guru mata pelajaran dan peserta didik, dengan melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap : 1) Aktivitas  peserta didik dalam proses belajar mengajar, 2) hasil proses belajar-mengajar, diperoleh dari nilai pretest dan posttes, nilai praktik dan nilai catatan hasil proses belajar-mengajar, 3) hasil respon siswa, terhadap metode demonstrasi dan bermain peran dalam proses pembelajaran berkomunikasi melalui telepon. Pencatatan dan pengumpulan data dilakukan melalui 1) wawancara, 2) observasi, 3) penyebaran angket, dan 4) catatan lapangan. Pembelajaran Kontekstual dengan Metode Demonstrasi dan Bermain Peran dilakukan dengan aktivitas sebagai berikut : 1) Demonstrasi melakukan panggilan ke PT Telkom  2) Menelpon langsung ke Perusahaan Penerbangan untuk memesan tiket.

Hasil belajar peserta didik pada pretes 1 hasil belajar peserta didik mempunyai rata-rata 68,38 dan post tes 1 mempunyai rata-rata  76,43 dan mengalami peningkatan yaitu pada pretes 2 mempunyai rata-rata 69,59 dan post tes 2 mempunyai rata-rata 80,79. hasil penilaian aspek keterampilan siklus 1 diperoleh rata-rata 76,28, aspek sopan santun 78,82 dan mengalami peningkatan pada siklus 2 diperoleh rata-rata 81,28, aspek sopan santun 80,10. Hasil penilaian aspek afektif siklus 1 diperoleh data 2 orang siswa memperoleh peringkat Sangat baik, 9 orang siswa peringkat baik, 26 orang siswa berperingkat cukup dan masih ada 2 oarang siswa yang berperingkat kurang    dan mengalami peningkatan pada siklus 2 diperoleh data 15 orang siswa berperingkat Sangat baik, 20 orang siswa berperingkat baik dan hanya 4 orang siswa yang berperingkat cukup, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan nilai apektif dalam proses pembelajaran. Demikian pula dengan penilaian hasil tes formatif  95% siswa memperoleh nilai diatas 70.

Respon peserta didik terhadap proses pembelajaran kontekstual dengan metode demonstrasi dan bermain peran sangat positif. Hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara dengan peserta didik yang menyatakan senang mengikuti pembelajaran ini karena menurut peserta didik dengan metode demonstrasi ini mereka menjadi lebih aktif dan tidak bosan dalam mengikuti proses pembelajaran.

Dari hasil penelitian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kontekstual dengan metode demonstrasi dan bermain peran yang telah dilakukan dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam berkomunikasi melalui telepon. Adapun saran yang penulis sampaikan adalah sebagai berikut :

1). Bagi pihak sekolah, lebih memperhatikan fasilitas sambungan telepon (PBAX) yang diperlukan dalam proses pembelajaran Berkomunikasi Melalui Telepon.

2).Bagi guru, untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa hendaknya guru lebih kreatif dalam mengembangkan bahan ajar dengan model-model pembelajaran yang lebih moderen, sehingga siswa lebih berminat dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran.

3).Bagi peserta didik, untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar hendaknya peserta didik lebih terbuka untuk mengemukakan pendapat , baik kritik maupun saran dalam proses pembelajaran, sehingga terjalin hubungan yang baik antara sekolah, guru dan peserta didik.

4).Bagi peneliti berikutnya, untuk meningkatkan mutu pendidikan di indonesia, sebagai peneliti dituntut untuk lebih banyak lagi melakukan penelitian terhadap model-model pembelajaran, sehingga dapat memberi masukan kepada pihak sekolah untuk merancang atau menerapkan model pembalajaran yang baik dan model pembelajaran yang kurang baik.

 

 


Teks Penuh: DOC PDF