SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) terhadap Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 2 Malang pada Materi Pokok Koloid Tahun Ajaran 2009/2010

Eka Sasmita Rini

Abstrak


ABSTRAK

 

Rini, Eka Sasmita. 2010. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) terhadap Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 2 Malang pada Materi Pokok Koloid Tahun Ajaran 2009/2010. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D. Pembimbing (II) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd.

 

Kata kunci: Think Pair Share (TPS), hasil belajar, kemampuan berpikir tingkat tinggi, koloid.

 

Pendidikan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan suatu bangsa. Guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP menggunakan paradigma pembelajaran konstruktivistik dimana pembelajaran yang dilakukan berpusat pada siswa (student-centered). Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada teori konstruktivistik adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe TPS, mendeskripsikan dampak penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS terhadap hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 2 Malang serta mengetahui perbedaan hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran konvensional pada materi pokok koloid.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu dan deskriptif kuantitatif. Rancangan eksperimental semu digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kognitif siswa. Sedangkan rancangan deskriptif kuantitatif digunakan untuk mendeskripsikan keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe TPS, hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 2 Malang tahun ajaran 2009/2010 dengan sampel penelitian adalah siswa kelas XI IPA 2 dan XI IPA 3. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Cluster random sampling. Instrumen yang digunakan berupa instrumen perlakuan (terdiri dari silabus, RPP, LKS dan hands-out) dan instrumen pengukuran yang terdiri dari tes serta lembar observasi untuk menilai kemampuan afektif dan psikomotor siswa. Analisis data dilakukan dengan uji t pada signifikansi = 0,05 dan analisis deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas eksperimen (menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TPS) lebih baik daripada kelas kontrol (menggunakan pembelajaran konvensional). Keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe TPS telah berlangsung baik sesuai RPP, dimana tingkat keterlaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama adalah 96,36%, pertemuan kedua dan ketiga sebesar 100%. Rata-rata hasil belajar kognitif sisswa kelas eksperimen adalah sebesar 83,50 dengan persen ketuntasan 90%, sedangkan kelas kontrol sebesar 77,50 dengan persen ketuntasan 80%. Uji t juga menunjukkan bahwa hasil belajar kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol (thitung  2,735 > ttabel 1,665). Persentase kemampuan afektif siswa pada kelas eksperimen lebih baik (sangat baik 35%, baik 44,77% dan cukup baik 20,83%) dibandingkan kelas kontrol (sangat baik 29,17%, baik 37,5% dan cukup baik 33,33%). Persentase kemampuan psikomotor siswa pada kelas eksperimen juga lebih baik (sangat baik 41,25%, baik 32,50% dan cukup baik 26,25%) dibandingkan kelas kontrol (sangat baik 35%, baik 26,25% dan cukup baik 38,75%). Kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas kontrol. Hal ini dapat diketahui dari persentase jawaban siswa dalam menjawab soal pada tingkatan C4-C5 yaitu pada kelas eksperimen sebesar 87 % sedangkan kelas kontrol hanya mencapai 73 %.