SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Optimasi Sintesis Monogliserida dari Asam Lemak Santan Terhidrolisis dan Gliserol Menggunaan Lipase Kecambah Wijen

Noor Anggraini

Abstrak


ABSTRAK

 

Santan memiliki beberapa manfaat untuk kesehatan. Salah satunya yaitu mengandung asam laurat yang memiliki sifat anti bakteri, anti jamur dan anti virus. Santan dapat membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh dan mencegah flu, sakit tenggorokan dan berbagai penyakit. Asam laurat dalam santan masih terikat dalam bentuk trigliserida sehingga perlu dihidrolisis agar membentuk asam laurat bebas. Karena asam laurat yang masih terikat dalam bentuk trigliserida tidak memiliki kemampuan antibakteri. Namun, asam laurat bebas mempunyai aktivitas anti bakteri yang lebih rendah dari monogliserida khususnya monolaurin. Monoasilgliserol (MAG) terdiri dari beberapa jenis, salah satu diantaranya adalah gliserol monolaurat atau monolaurin. Monolaurin adalah senyawa multifungsi dengan sifat sebagai emulsifier dan antimikroba. Senyawa tersebut merupakan ester antara asam laurat dengan gliserol. Untuk memperoleh monogliserida dengan jumlah yang tinggi dibutuhkan aktivitas enzim yang tinggi pula. Lipase adalah enzim yang memiliki kemampuan mensintesis minyak atau lemak melalui reaksi esterifikasi. Lipase juga mengkatalisis hidrolisis triasilgliserol pada interfase minyak dalam air dan akan memutus ikatan ester pada lingkungan dengan kondisi sedikit air. Pada penelitian ini, lipase diperoleh dari kecambah wijen. Karena enzim dari kecambah wijen dapat membantu mempercepat reaksi esterifikasi, sehingga diharapkan dengan aktivitas lipase yang tinggi dapat diperoleh monogliserida yang tinggi pula.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan santan terhidrolisis dan gliserol dan lama inkubasi yang paling baik untuk menghasilkan monogliserida. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Objek dalam penelitian ini adalah monogliserida sedangkan variabel-variabel yang terlibat meliputi variabel bebas dan variabel kontrol. Variabel bebas berupa perbandingan mol substrat (santan terhidrolisis : gliserol) dengan 4 variasi yaitu (50:5 ; 50:10 ; 50:15 dan 50:20) sedangkan variabel kontrolnya adalah lama inkubasi (1,2,3,4,5 dan 6 jam). Penelitian yang dilakukan terdiri dari beberapa tahap, yaitu: (1) proses pembuatan santan terhidrolisis, (2) isolasi dan uji aktivitas lipase kecambah wijen, dan (3) sintesis monogliserida. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah stirring hot plate dan kolom kromatografi. Variabel yang diamati adalah aktivitas lipase pada santan dan kecambah wijen, kadar FFA santan, kadar FFA hasil esterifikasi, volume fraksi minyak, serta volume dari monogliserida.

 

Kondisi optimum pada sintesis monogliserida diperoleh pada perbandingan santan terhidrolisis dan gliserol (50:5) setara dengan perbandingan minyak dan gliserol (1:1). Karena didalam santan mengandung minyak sebesar 10%. Sedangkan  lama inkubasi optimum diperoleh selama 4 jam dengan monogliserida sebesar 17 % dari 10 mL total minyak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbandingan santan terhidrolisis dengan gliserol dan lama inkubasi berpengaruh nyata terhadap aktivitas lipase pada santan dan kecambah wijen, kadar FFA santan, kadar FFA hasil esterifikasi, volume fraksi minyak, serta volume dari monogliserida.