SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaruh Aktivasi Adsorben Batang Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) Terhadap Adsorpsi Kromium (Cr) Menggunakan Metode Batch

Weti Tri Wulandari

Abstrak


ABSTRAK

 

Kromium (Cr) merupakan salah satu logam berat yang keberadaannya di lingkungan perlu dikendalikan karena sifatnya yang berbahaya. Perlu dilakukan penanganan untuk mengurangi kadar kromium, salah satunya dengan proses adsorpsi. Adsorpsi dapat dilakukan dengan menggunakan adsorben berbahan dasar tanaman yang memiliki kadar selulosa tinggi. Tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Kandungan selulosa yang tinggi dalam eceng gondok dapat dimanfaatkan untuk mengadsorpsi logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk (1) membuat dan mengkarakterisasi adsorben batang eceng gondok tak teraktivasi dan teraktivasi, (2) mengetahui kemampuan adsorpsi batang eceng gondok tak teraktivasi dan terativasi dalam penurunan kadar krom (Cr).

Adsorben eceng gondok tak teraktivasi dibuat dari batang eceng gondok yang telah dikeringkan dan dijadikan serbuk dengan ukuran partikel 100 mesh. Pembuatan adsorben teraktivasi diawali dengan delignifikasi serbuk eceng gondok menggunakan H2O2 2% selama 1,5 jam pada suhu 60oC (1:9 w/v) dalam suasana basa hingga pH 11 (NaOH 0,2 N), residu yang diperoleh diaktivasi menggunakan HCl. Adsorben tak teraktivasi dan teraktivasi ini kemudian dikarakterisasi dengan analisis FT-IR untuk mengidentifikasi gugus fungsi yang terdapat pada adsorben, serta uji kadar air dan kadar abu untuk mengetahui kemampuan daya serap adsorben. Adsorben tak teraktivasi dan teraktivasi yang sudah dikarakterisasi digunakan untuk mengadsorpsi krom sehingga dapat ditentukan kapasitas adsorpsi dari adsorben.

 

Hasil uji FT-IR batang eceng gondok membuktikan bahwa pada batang eceng gondok terdapat gugus –OH, –CH, –C=O, pada adsorben teraktivasi tidak terdapat puncak yang berada disekitar panjang gelombang 1745 cm-1 yaitu gugus fungsi -C=O. Hal ini menandakan bahwa proses delignifikasi pada eceng gondok berhasil dilakukan dengan adanya perlakuan kimiawi. Adsorben tak teraktivasi memiliki kadar air sebesar 9,38% dan kadar abu sebesar 19,67%, sedangkan adsorben teraktivasi memiliki kadar air sebesar 4,91% dan kadar abu sebesar 11,01%. Hal ini mengindikasikan bahwa adsorben teraktivasi memenuhi standar adsorben. Kapasitas adsorpsi menggunakan adsorben tak teraktivasi sebesar 0,008 mg/g dengan efisiensi penyerapan Cr sebesar 1,54%, sedangkan kapasitas adsorpsi menggunakan adsorben teraktivasi sebesar 0,221 mg/g dengan efisiensi penyerapan Cr sebesar 44,28%. Kapasitas adsorpsi adsorben eceng gondok teraktivasi lebih besar sehingga adsorben eceng gondok teraktivasi lebih efektif digunakan dalam proses adsorpsi krom dibandingkan adsorben eceng gondok tak teraktivasi.