SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas XI SMAN 10 Malang pada Materi Hidrolisis Garam Menggunakan Soal Three Tier

Triana Rahmawati

Abstrak


ABSTRAK

 

Rahmawati, Triana. 2016. Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas XI SMAN 10 Malang pada Materi Hidrolisis Garam Menggunakan Soal Three Tier. Skripsi. Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Parlan, M.Si. (II) Drs. Dermawan Afandy, M. Pd.

 

Kata Kunci: identifikasi, miskonsepsi, Hidrolisis Garam

Hidrolisis Garam merupakan salah satu topik dalam pelajaran kimia di SMA dan MA yang banyak mencakup konsep abstrak. Untuk memahami konsep abstrak dibutuhkan pemahaman berpikir abstrak. Namun, hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa SMA dan MA belum sepenuhnya mengembangkan kemampuan tersebut. Disamping itu, pembelajaran Hidrolisis Garam mencakup tiga tingkat representasi, yaitu representasi makroskopik, sub-mikroskopik, dan simbolik. Hasil-hasil penelitian mengungkapkan adanya kesulitan siswa SMA dalam menghubungkan ketiganya. Oleh karena itu Hidrolisis Garam merupakan salah satu materi pelajaran yang berpotensi sulit untuk dipahami oleh siswa. Kesulitan itu dapat mengakibatkan kesalahan pemahaman dan bila berlangsung secara konsisten akan menimbulkan miskonsepsi. Jika miskonsepsi tersebut tidak dieliminasi, maka berpotensi untuk timbulnya miskonsepsi pada konsep lain yang berkaitan. Selama ini identifikasi miskonsepsi dilakukan menggunakan soal essay atau wawancara. Persoalannya, cara tersebut memerlukan banyak waktu sehingga cara tersebut kurang efisien untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa. Untuk mengatasi hal tersebut dikembangkan cara baru dalam mengidentifikasi miskonsepsi  yaitu dengan menggunakan soal pilihan ganda two tier. Persoalannya adalah soal pilihan ganda two tier tidak dapat membedakan siswa yang mengalami miskonsepsi dengan tidak paham konsep. Untuk mengatasi hal tersebut dikembangkan soal pilihan ganda three tier. Soal pilihan ganda three tier merupakan instrumen diagnostik yang efisien karena dapat mengidentifikasi miskonsepsi siswa dengan waktu pengoreksian yang cepat dan dapat membedakan siswa yang paham konsep, kurang paham konsep, tidak paham konsep, miskonsepsi, dan menebak. Selain itu, soal pilihan ganda three tier memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi. Hal tersebut terbukti dari hasil penelitian yang menemukan bahwa soal pilihan ganda three tier memiliki nilai koefisien reliabilitas lebih tinggi daripada soal pilihan ganda biasa ataupun soal pilihan ganda two tier. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa pada materi Hidrolisis Garam menggunakan soal pilihan ganda three tier dan mengetahui sumber-sumber miskonsepsi tersebut.

Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif. Subyek penelitian adalah 52 siswa SMAN 10 Malang dari dua kelas (XI MIPA G dan XI MIPA H) yang diambil dari lima kelas yang homogen. Data penelitian adalah jawaban siswa terhadap tes materi Hidrolisis Garam dan rekaman hasil wawancara. Jawaban siswa terhadap soal-soal materi hidrolisis garam dikumpulkan menggunakan soal pilihan ganda three tier yang terdiri dari 20 item dengan validitas isi sebesar 83,6% dan koefisien reliabilitas, dihitung dengan persamaan Cronbach Alpha, sebesar 0,85. Wawancara menggunakan pedoman wawancara. Jawaban tes materi Hidrolisis Garam dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil analisis, siswa dikategorikan menjadi paham konsep, kurang paham konsep, tidak paham konsep, menebak, dan miskonsepsi. Pada siswa yang mengalami miskonsepsi dilakukan wawancara untuk mengetahui sumber miskonsepsi.

 

Dari hasil analisis data penelitian diidentifikasi enam miskonsepsi yaitu: (1) kation garam dari basa kuat terhidrolisis, (2) anion garam dari asam kuat terhidrolisis, (3) larutan garam yang terhidrolisis total selalu bersifat netral karena garamnya berasal asam lemah dan basa lemah, (4) larutan garam hasil reaksi asam kuat dan basa lemah bersifat asam karena yang terhidrolisis adalah anion dari asam kuat, (5) semua garam selalu bersifat netral, (6) garam yang mengandung atom H selalu bersifat asam.  Adapun sumber miskonsepsi yang dominan adalah penggunaan istilah kimia yang tidak konsisten, buku, teman diskusi, dan penalaran siswa sendiri.