SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran POGIL (Process Oriented Guided Inquiry Learning) terhadap Hasil Belajar Kognitif dan Keterampilan Berfikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Malang pada Materi Larutan Penyangga

arifah nurfitriyah

Abstrak


ABSTRAK

 

Nuritriyah, Arifah. 2017. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran POGIL (Processs-Oriented Guided Inquiry Learning) terhadap Hasil Belajar Kognitif dan Keterampilann Berfikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas XI SMA Negeri 10 Malang pada Materi Larutan Penyangga. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Ridwan Joharmawan, M.Si., (2) Dr. Yudhi Utomo, M.Si.

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran POGIL, Hasil belajar kognitif, Keterampilan berfikir tingkat tinggi

Keterampilan berfikir tingkat tinggi merupakan tujuan penting dalam semua sektor pendidikan. Menurut kurikulum 2013 revisi, pembelajaran kimia di SMA/MA bukan sekedar pengalihan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik, tetapi juga pengembangan keterampilan berfikir tingkat tinggi melalui pengalaman kerja ilmiah. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mengembangkan keterampilan berfikir tingkat tinggi siswa adalah model pembelajaran POGIL. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adanya perbedaan hasil belajar kognitif dan keterampilan berfikir tingkat tinggi antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran POGIL dan model pembelajaran ekspositori pada materi larutan penyangga.

Penelitian ini meggunakan rancangan peneltian eksperimen semu dengan desain post test only controlled group design. Populasi penelitian mencakup semua siswa kelas XI IPA SMAN 10 Malang tahun pelajaran 2016/2017. Sampel dipilih melalui teknik cluster random sampling. Dipilih dua kelas dari delapan kelas yang ada menggunakan teknik undian. Selanjutnya kelas eksperimen dan kelas kontrol dipilih secara acak sehingga diperoleh: 1) kelas XI IPA B sebagai kelas eksperimen yang diberi perlakuan dengan model pembelajaran POGIL. 2) kelas XI IPA C sebagai kelas kontrol yang diberi perlakuan dengan model pembelajaran ekspositori. Data hasil belajar kognitif siswa diperoleh dari kemampuan siswa menjawab soal pada tingkat kognitif C1-C6, sedangkan keterampilan berfikir tingkat tinggi diukur dari kemampuan siswa dalam menjawab soal pada tingkat kognitif C4-C6 menurut Taksonomi Bloom Revisi. Analisis data hasil penelitian dilakukan secara deskriptif dan statistik menggunakan uji hipotesis berupa independent sample t-test dengan taraf signifikansi α=0, 05. Analisis data dilakukan dengan bantuan program IBM SPSS Statistics 20.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran POGIL pada materi larutan penyangga berpengaruh positif dalam meningkatkan hasil belajar kognitif dan keterampilan berfikir tingkat tinggi siswa yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan. Perbedaan hasil belajar kognitif ditunjukkan oleh nilai rata-rata hasil belajar kognitif siswa sebesar 83,88 untuk siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran POGIL dan 76,33 untuk siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran ekspositori serta dibuktikan secara statistic dengan nilai t hitung (4,606) > t tabel (1,994). Perbedaan keterampilan berfikir tingkat tinggi ditunjukkan oleh persentase jawaban benar untuk soal dengan tingkat kognitif C4-C6 sebesar 84,76% untuk siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran POGIL dan 62,96% untuk siswa yang dibelajarkan dengan model ekspositori serta dibuktikan secara statistik dengan nilai t hitung (8,868) > t tabel (1,994). Dengan demikian, guru disarankan agar menerapkan model pembelajaran POGIL pada materi kimia lainnya yang memiliki karakteristik materi yang sama dengan larutan penyangga seperti: materi asam basa, hidrolisis garam, kelarutan dan hasil kali kelarutan, dan lain-lain untuk meningkatkan hasil belajar kognitif dan keterampilan berfikir tingkat tinggi siswa. Selain itu, agar proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran POGIL dapat berlangsung dengan baik, maka guru disarankan untuk dapat membimbing dan mengawasi jalannya diskusi kelompok dalam pembelajaran POGIL.