SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Efektivitas Model Pembelajaran Learning Cycle 6 Fase untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas XI SMAN 1 Pandaan pada Materi Hidrolisis Garam dan Larutan Penyangga

isnaini yunitasari

Abstrak


ABSTRAK

 

Yunitasari, Isnaini. 2017. Efektivitas Model Pembelajaran Learning Cycle 6 Fase untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas XI SMAN 1 Pandaan pada Materi Hidrolisis Garam dan Larutan Penyangga. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S., (II) Drs. H. Dermawa

Afandy, M.Pd.

 

Kata Kunci:   model pembelajaran Learning Cycle 6 Fase, kemampuan berpikirtingkat tinggi, hidrolisis garam dan larutan penyangga

Pembelajaran kimia saat ini tidak hanya untuk pengalihan pengetahuan dan keterampilan saja, namun juga untuk membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Kemampuan berpikir tingkat tinggi menurut Taksonomi Bloom Revisi meliputi kemampuan menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan membuat/menciptakan (C6). Berdasarkan hasil tes PISA Tahun 2012, rata-rata kemampuan sains siswa Indonesia hanya 382, sedangkan rata-rata kemampuan sains internasional sebesar 501. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa Indonesia pada cabang ilmu sains, termasuk kimia, masih tergolong rendah. Kemampuan berpikir tingkat tinggi tidak dapat dimiliki secara langsung oleh siswa, melainkan harus melalui latihan. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kimia SMAN 1 Pandaan dan hasil analisis soal ulangan harian materi larutan penyangga dan hidrolisis garam yang diujikan ke siswa oleh Nuryana Wahyuning Sari saat melaksanakan penelitian di SMAN 3 Malang pada tahun ajaran 2013/2014, dapat disimpulkan bahwa siswa kurang terlatih mengerjakan soal-soal kemampuan berpikir tingkat tinggi, khususnya pada materi hidrolisis garam dan larutan penyangga. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa, yaitu siswa dibelajarkan dengan model pembelajaran yang menganut paradigma konstruktivistik, seperti model pembelajaran Learning Cycle 6 Fase yang memberikan kebebasan siswa untuk menggali dan membangun pemahamannya secara mandiri serta aktif dalam berpikir dan beraktivitas. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 6 Fase dengan metode pembelajaran konvensional pada materi hidrolisis garam dan larutan penyangga (2) Untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran Learning Cycle 6 Fase untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa pada materi hidrolisis garam dan larutan penyangga.

Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian kuantitatif eksperimental semu dengan pretes dan pascates dalam dua kelompok (quasi experimental pretest-pascatest). Populasi penelitian adalah semua siswa kelas XI IPA SMAN 1 Pandaan. Pengambilan sampel ditentukan dengan teknik cluster random sampling dan terpilih dua kelas, yaitu kelas XI IPA 7 sebagai kelas ekperimen (kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle 6 fase) yang berjumlah 30 siswa dan kelas XI IPA 3 sebagai kelas kontrol (kelas yang dibelajarkan dengan metode pembelajaran konvensional) yang berjumlah 32 siswa. Instrumen Penilaian yang digunakan meliputi instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Instrumen perlakuan terdiri dari: (1) Silabus (2) RPP (3) LKS, sedangkan instrumen pengukuran terdiri dari: (1) Tes (2) Kuis (3) Lembar Observasi. Analisis data yang digunakan terdiri dari: (1) Analisis deskriptif untuk nilai kuis dan keterlaksanaan pembelajaran. (2) Analisis ANCOVA untuk menguji apakah ada perbedaan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 6 Fase dengan metode pembelajaran konvensional.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Ada perbedaan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 6 Fase dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan metode pembelajaran konvensional pada materi hidrolisis garam dan larutan penyangga. Hal ini dapat ditunjukkan dari  hasil uji kesamaan dua rata-rata data pretes yang memiliki signifikansi (0,738) lebih besar dari 0,050, sehingga data pretes kedua kelas tidak berbeda, sedangkan rata-rata nilai pascates siswa pada kelas eksperimen (89,91) lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (83,04). (2) Model pembelajaran Learning Cycle 6 Fase efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa pada materi hidrolisis garam dan larutan penyangga. Hal ini ditunjukkan dari rata-rata nilai pascates kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol, jumlah siswa yang nilai pascatesnya lebih dari KKM pada kelas eksperimen (27 dari 30 siswa) lebih banyak dibandingkan kelas kontrol (23 dari 32 siswa), nilai rata-rata gain score kelas eksperimen (55,56) lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (49,53), dan rata-rata persentase nilai kuis kelas eksperimen (87,92%) lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (77,35%).