KARYA DOSEN Fakultas Sastra UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

DARI ETNOPUITIKA KE LINGUISTIK: MENAMPILKAN POTRET LAIN BAHASA JAWA

Achmad Effendi Kadarisman

Abstrak


Selama empat dasawarsa terakhir, bahasa Jawa dengan keunikan tingkat tuturnya telah dibahas secara rinci oleh para ahli bahasa, terutama oleh ahli sosiolinguistik dan linguistik antropologi.  Istilah lokal untuk tiga tingkat tutur bahasa Jawa adalah ngoko (tingkat rendah), madya (tingkat menengah), dan krama (tingkat tinggi).  Sebagian penutur bahasa Jawa berpendapat bahwa bentuk madya pada hakekatnya adalah bentuk krama yang rusak sehingga terdengar kurang santun (Errington 1985: 44, 112); tetapi kenyataannya sampai saat ini bentuk madya tetap lazim digunakan di antara wong cilik (orang kecil) atau oleh priyayi terhadap wong cilik. Dalam membicarakan tingkat tutur bahasa Jawa, Poedjosoedarmo et al. (1979: 12) bukan saja menunjukkan gerak vertikal yang lentur dari ngoko ke krama, melainkan juga membuat daftar kata bagi ketiga tingkat tutur tersebut.  “Gerak lentur” di sini berarti: semakin banyak kata krama yang muncul dalam sebuah kalimat, semakin santun kalimat itu terdengar bagi mitra tutur.  Bagi ahli bahasa, adanya daftar kata yang memiliki tingkat tutur tersebut sangat berguna, terutama dari segi jumlahnya.  Dalam daftar kata oleh Poedjosoedarmo et al. (1979: 66-121) maupun dalam catatan Uhlenbeck (1959 [1987]: 297), jumlah kata yang memiliki tingkat tutur yang berbeda berkisar antara 850 dan 900 kata; sedangkan jumlah kata (dictionary entries) dalam bahasa Jawa diperkirakan sekitar 100.000 kata.  Jadi jumlah kata yang menentukan perbedaan tingkat tutur tak lebih dari 1%.  Namun bentuk ngoko dan krama terdengar sangat berbeda, karena kosakata tersebut adalah kosakata yang sangat sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, misalnya pronomina, kata tugas, nama-nama anggota tubuh, verba serta adjektiva untuk memerikan peristiwa sehari-hari, dan sebagian besar afiks.


Teks Penuh: PDF