Karya Dosen Fakultas Ilmu Sosial, 2013

Font Size:  Small  Medium  Large

RUANG TERBUKA HIJAU SEBAGAI ALTERNATIF UTAMA PENGELOLAAN SEMPADAN SUNGAI BRANTAS DI KOTA MALANG

Sumarmi

Abstract


I.    Pendahuluan

            Sungai Brantas ibarat sungai penghidupan bagi masyarakat Jawa Timur. Sungai yang bermata air di Sumber Berantas Desa Tulungrejo wilayah Batu, tepatnya di lereng selatan Gunung Arjuno ini mengalir melalui Malang, Blitar, kemudian Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo dan akhirnya sebagian melewati Surabaya, untuk bermuara di Pantai Utara Pulau Jawa, tepatnya di Selat Madura. Air Sungai Brantas memiliki nilai fungsi yang sangat penting bagi masyarakat Jawa Timur. Fungsi tersebut meliputi keperluan untuk pengairan lahan pertanian dan perikanan, pembangkit tenaga listrik, cuci, mandi, dan kakus bagi masyarakat sekitar sungai, suplai air pabrik/industri, sumber bahan air minum (PDAM), sarana transportasi dan juga untuk sarana wisata air.

            Di balik peranannya yang begitu besar, ternyata kondisi nyata yang kita lihat sangat memprihatinkan. Salah satunya adalah masih banyak kalangan masyarakat yang memanfaatkan aliran Sungai Brantas sebagai tempat pembuangan limbah, baik untuk skala rumah tangga, perkantoran, maupun industri/pabrik. Bahkan Daerah Pengaliran Sungai Brantas (DPS Brantas) di daerah Kota Malang sebagian besar telah menjadi kawasan hunian penduduk yang padat dan kumuh.

            Pengaruh manusia, tidak saja menurunkan kualitas air, melainkan juga mengubah morfologi sungai, sehingga sungai kehilangan sebagian bahkan seluruh sifat alaminya. Hal tersebut dapat mengakibatkan merosotnya daya dukung sungai. Misalnya bagian sungai yang diluruskan untuk tujuan kanalisasi dan mengatasi bahaya banjir akan kehilangan sebagian kemampuan purifikasi air secara alamiah. Adapun penggundulan vegetasi tebung dan tepian sungai menyebabkan hilangnya daya filtrasi terhadap sedimen dan  nutrisi dari limbah kota ataupun run off. Sungai yang dikeruk untuk tujuan tertentu akan menyebabkan terjadinya gangguan terhadap penetrasi cahaya matahari akibat timbulnya kekeruhan, serta ketidakstabilan tebing sungai (Hamid dan Amaning, 1991). Hal lain yang dapat terjadi adalah hilang atau rusaknya habitat ikan dan fauna akuatik lainnya. Adapun pencemaran air akibat kegiatan industri, domestik, dan pertanian menyebabkan menurunnya keanekaragaman dan jumlah biota air. Resultante dari perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh kegiatan manusia tersebut akhirnya berimplikasi pada penurunan fungsi dan produktivitas sungai.

            Selama ini telah banyak dilakukan penelitian atau studi yang pada prinsipnya berupaya untuk menata kembali atau memperbaiki kondisi dan fungsi Sungai Brantas, baik secara fisik maupun dari aspek sosio masyarakat. Namun kiranya hal itu belum banyak memberikan hasil. Sebagai bukti, hasil pemantauan masih menunjukkan tingginya kadar bahan organik (Anonim, 1990) dan dikatakan kualitas air Sungai Brantas tidak berubah atau menjadi lebih baik selama 10 tahun Prokasih (http://www.bapedal.go.id/airnet/Prokasih2005.htm, 1 Mei 2002).

            Selain itu jumlah penduduk yang semakin banyak dan bertambah cepatnya laju pembangunan mengakibatkan semakin tingginya intensitas perubahan penggunaan lahan. Perubahan ini berdampak pula di sempadan sungai, yaitu kawasan non artifisial di kanan kiri sepanjang sungai yang berfungsi untuk kelestarian dan pengamanan lingkungan sungai. Averitt et al. (1994) mendefinisikan sempadan sungai sebagai kawasan berbentuk pita tipis yang mengapit suatu saluran air. Di dalam ripirian termasuk kawasan tempat hidup makhluk hidup yang menyatu atau dipengaruhi tubuh air.

            Sempadan sungai yang semula berupa lahan non artifisial kini tidak luput pula berubah menjadi lahan artifisial, yaitu digunakan sebagai tempat aktivitas manusia dan didirikan bangunan. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap sempadan sungai akan meningkat seiring dengan meluasnya pembangunan.

            Fungsi dari sempadan antara lain adalah sebagai penyedia air, pengendalian banjir, pengendalian erosi, mengurangi pengikisan tanggul, peningkatan kualitas dan kuantitas air, tempat hidup dan keragaman habitat flora-fauna, sebagai sumberdaya untuk ruang terbuka, dan sebagai batas estetika untuk pemukiman dan pembangunan perdagangan (McCormick, 1978; Budd et al., 1987; Williams, 1990).

            Sempadan Sungai Brantas di Kota Malang telah mengalami tekanan perubahan menjadi lahan arifisial. Beralihnya sempadan Sungai Brantas menjadi kawasan artifisial perlu dicermati karena fungsi sempadan sungai sangat penting bagi kelestarian sungai maupun penduduk sekitar aliran sungai. Pengelolaan kawasan sempadan selayaknya disesuaikan dengan kemampuan lainnya.

            Sungai Brantas yang  melintasi Kota Malang belum memiliki arahan pengelolaan yang sesuai kondisi fisik dasarnya. Pemerintah Kota Malang, telah menentukan batas lebar sempadan sungai selebar 15 meter, tetapi batasan ini ditetapkan hanya berdasarkan Permen PU No. 063/PRT/993 tentang Sempadan Sungai dan Perencanaan Tata Ruangnya. Penentuan lebar sempadan yang tepat harus didasarkan pada kajian dasar fisik dan fenomena spesifik yang mungkin muncul di kawasan sempadan sungai tersebut.

Makalah disajikan pada Seminar dan Lokakarya Nasional dalam Pertemuan Ilmiah Ikatan Geograf Indonesia


Full Text: DOC