SKRIPSI Jurusan Ekonomi Pembangunan - Fakultas Ekonomi UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Analisis Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) Berbasis Komoditas Ubi Kayu di Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo

Kusumawardiny Safira

Abstrak


Kusumawardiny, Safira. 2019.  Analisis Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) Berbasis Komoditas Ubi Kayu di Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.S.

Kata Kunci: Pengembangan Ekonomi Lokal, Komoditas Basis, Heksagonal PEL

Kabupaten Ponorogo merupakan penghasil ubi kayu terbesar di Jawa Timur. Menurut data Badan Pusat Satistik Kabupaten Ponorogo, komoditas ubi kayu merupakan komoditas basis di Kabupaten Ponorogo. Daerah penghasil ubi kayu terbesar di Kabupaten Ponorogo salah satunya adalah Kecamatan Sawoo. Potensi besar pada sektor pertanian di Kecamatan Sawoo tidak dibarengi dengan pengembangannya yang berkelanjutan yang lebih inovatif guna menunjang pertumbuhan ekonomi wilayah. Permasalahan yang dihadapi petani ubi kayu di Kecamatan Sawoo adalah lemahnya akses modal dan akses pasar. Usaha tani ubi kayu belum dapat berkontribusi pada peningkatan pendapatan petani karena petani hanya berorientasi pada produksi tanpa membudidayakan komoditas menjadi bisnis. Selain itu kebijakan dari pemerintah yang kurang dalam mendukung petani ubi kayu.

Penelitian ini untuk menganalisis status Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) pada komoditas ubi kayu di Kecamatan Sawoo melalui keenam aspek PEL dalam heksagonal PEL. Rancangan dalam penelitian ini diawali dengan menyebar kuesioner pada responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil kuesioer kemudian diolah dengan Program RALED dengan alat analisis Heksagonal PEL.

Hasil analisis menunjukkan kondisi keenam aspek PEL yaitu aspek kelompok sasaran berada dalam angka indeks 34,73 yang berarti dalam status kurang, aspek faktor lokasi berada dalam angka indeks 90,53 yang berarti dalam status baik, aspek kesinergian dan fokus kebijakan berada dalam angka indeks 35,55 yang berarti dalam status kurang, aspek pembangunan berkelanjutan berada dalam angka indeks 49,84 yang berarti dalam status kurang, aspek tata pemerintahan berada dalam angka indeks 41,35 yang berarti dalam status kurang dan proses manajemen berada dalam angka indeks 22,55 yang berarti dalam status buruk. Aspek yang memiliki status paling baik adalah aspek faktor lokasi dan aspek yang berada pada status paling buruk adalah aspek proses manajemen. Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan status proses manajemen karena memiliki status paling buruk yaitu dengan cara meningkatkan kualitas SDM seluruh stakeholder agar memiliki kesadaran dan tanggung jawab dalam upaya pengembangan ekonomi lokal sebagai upaya mensejahterakan masyarakat karena dalam upaya pengembangan ekonomi lokal bukan hanya tugas pemrintah tetapi juga dibutuhkan partisipasi pelaku usaha dan seluruh komponen masyarakat.