SKRIPSI Jurusan Ekonomi Pembangunan - Fakultas Ekonomi UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGARUH STATUS SOSIAL EKONOMI ORANG TUA, JUMLAH UANG SAKU DAN MODERNITAS INDIVIDU TERHADAP PERILAKU MENABUNG SISWA KELAS X IPS SMA BRAWIJAYA SMART SCHOOL MALANG ANGKATAN TAHUN 2018

Islami Nur Ayu Winda

Abstrak


PENGARUH STATUS SOSIAL EKONOMI ORANG TUA, JUMLAH UANG SAKU DAN MODERNITAS INDIVIDU TERHADAP PERILAKU MENABUNG SISWA KELAS X IPS SMA BRAWIJAYA SMART SCHOOL MALANG

Winda Ayu Nur Islami1, Prih Hardinto2

Economic Education Program, Faculty of Economics, State University Malang

windaayu1307@gmail.com,  prih.hardinto.fe@um.ac.id 

ABSTRACT

Saving is a positive action that is beneficial for individuals because they are able to change wasteful attitudes into a frugal attitude, practice discipline and financial responsibility, control themselves so that they don't behave consumptively, and to meet urgent needs in the future. Saving is a familiar and almost everyone knows it, but in fact the culture of saving in the community and students in Indonesia is still relatively low. Financial education that is manifested in financial literacy for children is one of the things that parents cannot ignore.

This research aims to explain the influence of parents' socio-economic status, amount of pocket money, and individual modernity on saving behavior of class X IPS of Brawijaya Smart School Malang. Using a quantitative approach to the type of explanatory research, data collection was done using a questionnaire. This research uses saturated samples where all members of the population are used as samples. The population used all IPS X grade students of Brawijaya Smart School as many as 50 respondents. The data analysis technique used is descriptive statistics, multiple linear regression, classic assumption test and hypothesis test.

The results showed that there was a positive influence between parents 'socio-economic status, the amount of pocket money, and individual modernity on saving interest in class X IPS of SMA Brawijaya Smart School, which can be concluded if parents' socio-economic status, pocket money, and individual modernity increases, the interest in saving students of class X IPS of Brawijaya Smart School Malang will also increase.

Keywords: Socio-economic status, pocket money, modernity, saving

PENDAHULUAN

Kegiatan menabung bisa dilakukan sejak dulu, baik di rumah maupun di bank tergantung bagaimana cara masing-masing individu untuk melakukannya. Kegiatan menabung dikalangan siswa tidak lepas dari campur tangan orang tua karena sebagian besar masih diatur oleh orang tuanya. Alfin Shalahuddinta dan Susanti (2014) berpendapat bahwa keluarga merupakan tempat yang paling dominan untuk mensosialisasikan pengelolaan keuangan karena anak usia remaja atau mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sehingga anak mendapatkan pendidikan keuangan dari orang tua mereka. Upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk memotivasi anak agar gemar menabung yaitu mengajarkan menabung dengan menyisihkan uang saku yang dimilikinya, memberikan hadiah apabila jumlah tabungannya meningkat, mengontrol perilaku konsumtif dengan mengajarkan anak untuk pintar dalam memilih produk dan sebagianya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dwi Setiyani Utami (2016) bahwa orang tua yang memberi teladan dalam pengelolaan keuangan dan apresiasi positif kepada mahasiswa saat mereka mengambil keputusan untuk menabung dapat memengaruhi perilaku mahasiswa dalam menabung.

Menabung termasuk kata yang familiar dan hampir semua orang mengetahuinya, namun kenyataannya budaya menabung di kalangan masyarakat maupun siswa siswi di Indonesia masih tergolong rendah. Pendidikan keuangan yang termanifestasi dalam literasi keuangan untuk anak merupakan salah satu hal yang tidak dapat diabaikan oleh orangtua. Namun pada kenyataannya tidak semua anak memiliki pendidikan keuangan yang memadai. Dalam arti, tidak semua orangtua mampu mendiskusikan dan mengajarkan tentang cara mengelola uang yang benar pada anak sebagai salah satu modal mencapai kesejahteraan saat dewasa nantinya. Menurut Subroto Rapih (2016) Pada tahapan yang masih dalam taraf perkembangan, akan sangat efisien jika pendidikan literasi keuangan

diberikan kepada mereka anak usia dini. Penanaman nilai – nilai literasi keuangan yang benar pada usia dini akan selalu memberkas dalam fikiran mereka.

Masyarakat khususnya siswa-siswi Indonesia belum menjadikan menabung sebagai kebiasaan, akhirnya banyak orang yang tidak terbiasa menabung dan mengakui bahwa menabung merupakan hal yang sangat sulit dilakukan. Individu menganggap menabung bukan termasuk hal yang utama karena tidak berkaitan dengan masa sekarang melainkan masa mendatang. Apabila individu menyadari dan memaknai secara mendalam, menabung merupakan bentuk investasi yang penting dan berguna bagi individu itu sendiri. Seperti pendapat dari Peter Garlans Sina (2014) bahwa terdidik dalam keuangan akan sangat membantu rumah tangga mengelola uang yang benar, seperti bagaimana menabung, mengelola pengeluaran, anggaran yang realistis dan biaya-biaya tidak terduga.

Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan beberapa siswa kelas X IPS SMA Brawijaya Smart School Malang pada oktober 2018 menunjukkan bahwa siswa memiliki perilaku menabung yang berbeda-beda. Hal ini terlihat dari kebiasaan siswa yang membicarakan proses menabungnya, dimana siswa berusaha hemat dengan cara menyisihkan sebagian uang sakunya. Siswa lain juga bercerita meskipun tidak setiap hari, namun setiap ada kesempatan maka siswa tersebut akan menabungkan uangnya di celengan. Sementara itu, ada juga siswa yang membicarakan soal kebiasaannya yang hanya berorientasi pada pengeluaran seperti sering membelanjakan uang saku secara berlebihan di kantin sekolah atau mall dan café. Hanya meletakkan uang saku di dalam dompet saja dengan alasan lebih praktis dan cepat dalam pengambilan apabila sewaktu-waktu dibutuhkan, serta membeli barang-barang setiap kali mendapatkan uang dan bahkan meminjam uang pada teman untuk mengkonsumsi lebih.

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa siswa-siswi kelas X IPS SMA Brawijaya Smart School memiliki cara yang berbeda-beda terhadap uang sakunya. Hal ini terlihat dari hasil wawancara penulis dengan beberapa siswa kelas X IPS SMA Brawijaya Smart School, dimana dalam pembicaraannya ada siswa yang membuat anggaran keuangan sebelum membelanjakan uang sakunya, namun juga ada siswa yang tidak membuat anggaran keuangan dan belum bisa mengelola uang sakunya dengan baik sehingga permasalahan yang sering dihadapi siswa adalah pengeluarannya yang tidak terkontrol. Kondisi ini akan berdampak pada rendahnya kesempatan siswa untuk menabung. Disamping lingkungan keluarga, perilaku menabung siswa juga tidak lepas dari uang saku yang diberikan oleh orang tua, semakin besar uang saku semakin besar pula risiko anak membelanjakan uangnya. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Resti Desi Marwati (2018) secara logika, tabungan seseorang akan sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatannya. Semakin tinggi pendapatan maka porsi uang yang akan ditabung menjadi semakin besar dan berarti kebutuhan akan menabung menjadi semakin tinggi.  

Menurut Samsul Pariwang (2016) status sosial ekonomi merupakan suatu tingkatan atau kedudukan seseorang di dalam masyarakat yang dilihat dari tingkat pendidikan, tingkat penghasilan dan kekayaan serta tingkat pekerjaannya. Seseorang yang memiliki status sosial ekonomi yang tinggi akan sangat berbeda dalam hal memilih suatu barang atau jasa jika dibandingkan dengan status sosial ekonomi seseorang yang rendah. Berdasarkan penjelasan di atas, penulis memilih SMA Brawijaya Smart School sebagai tempat penelitian karena sebagian besar orang tua dari siswa merupakan pengusaha yang bisnisnya berskala besar serta berprofesi sebagai pejabat di kota tempat tinggal siswa. Luthfatul Amaliya dan Khasan Setiaji (2017) menyatakan bahwa status sosial ekonomi berpengaruh terhadap perilaku konsumsi siswa, semakin tinggi status sosial ekonomi orang tua siswa, maka semakin tinggi pula tingkat rasionalitas siswa dalam berkonsumsi. Selain itu SMA Brawijaya Smart School merupakan SMA yang letaknya sangat dekat dengan pusat perbelanjaan yaitu Malang Town Square dengan jarak kurang lebih 500 – 550 Meter. Dengan dekatnya jarak dari SMA dan berbagai promosi dan tawaran diskon di pusat perbelanjaan ini mampu menyedot perhatian dari siswa SMA Brawijaya Smart School lebih tinggi daripada siswa SMA lain yang letaknya jauh dari pusat perbelanjaan ini. Penulis mengambil subjek penelitian kelas X karena mempertimbangkan kemampuan kognitif dan cara berfikir kritis siswa dalam pengambilan keputusan. Anak usia 15-17 tahun atau setara dengan siswa kelas X SMA telah memasuki tahap operasional formal. Siswa kelas X diharapkan mampu membuat pertimbangan dan keputusan secara tepat tentang hal-hal yang berkaitan dengan menabung berdasarkan informasi yang telah diperolehnya.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis eksplanasi untuk menganalisis pengaruh variabel bebas yaitu status sosial ekonomi orang tua (X1), jumlah uang saku (X2), dan modernitas individu (X3) terhadap variabel terikat yaitu perilaku menabung (Y). Untuk menganalisis pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, di dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi ber-ganda SPSS Versi 20.

Penelitian ini menggunakan sampel jenuh dimana semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan siswa kelas X IPS di SMA Brawijaya Smart School yang berjumlah 50 siswa.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas X IPS SMA Brawijaya Smart School memiliki status sosial ekonomi orang tua yang tinggi, jumlah uang saku yang sangat tinggi, dan modernitas individu yang sangat tinggi. Hal ini dapat diketahui dari analisis statistik deskriptif sebagai berikut.

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Status Sosial Ekonomi Orang Tua

No. Interval Kelas Klasifikasi Frekuensi Persentase

1 42 - 50 Sangat Tinggi 19 38%

2 34 - 41 Tinggi 25 50%

3 26 - 33 Cukup Tinggi 6 12%

4 18 - 25 Rendah 0 0%

5 10-17 Sangat Rendah 0 0%

      50 100%

Sumber: data penelitian

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Jumlah Uang Saku

No. Interval Kelas Klasifikasi Frekuensi Persentase

1 21 - 25 Sangat Tinggi 32 64%

2 17 - 20 Tinggi 17 34%

3 13 - 16 Cukup Tinggi 1 2%

4 19 - 12 Rendah 0 0%

5 5 - 18 Sangat Rendah 0 0%

      50 100%

Sumber: data penelitian

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Modernitas Individu

No. Interval Kelas Klasifikasi Frekuensi Persentase

1 84 - 100 Sangat Tinggi 42 84%

2 68 - 83 Tinggi 8 16%

3 52 - 67 Cukup Tinggi 0 0%

4 36 - 51 Rendah 0 0%

5 20 - 35 Sangat Rendah 0 0%

50 100%

Sumber: data penelitian

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Perilaku Menabung

No. Interval Kelas Klasifikasi Frekuensi Persentase

1 42 - 50 Sangat Baik 25 50%

2 34 - 41 Baik 19 38%

3 26 - 33 Cukup Baik 6 12%

4 18 - 25 Kurang Baik 0 0%

5 10.17 Tidak Baik 0 0%

50 100%

Hasil analisis regresi berganda menunjukkan persamaan regresi yakni: Y =  -37,119 + 0,507 X1 + 0,437 X2 + 0,544 X3. Uji asumsi klasik yang pertama adalah uji normalitas Kolmogorov Smirnov dan terlihat dari nilai Asymp. Sig (2-tailed) lebih besar dari α (0,05) yaitu X1 sebesar 0,368; X2 sebesar 0,424; X3 sebesar 0,654 dan Y sebesar 0,240. Jadi dapat disimpulkan data terdistribusi secara normal. Uji asumsi klasik kedua adalah uji multikolinieritas dengan nilai VIF untuk X1 sebesar 2,245, X2 sebesar 1,015, dan X3 sebesar 2,266. Nilai Tolerance untuk X1 sebesar 0,445, X2 sebesar 0,985, dan X3 sebesar 0,441. Dapat disimpulkan bahwa model regresi di dalam penelitian ini tidak terdapat gejala multikolinieritas. Uji asumsi klasik yang ketiga adalah uji heteros-kedastisitas. Nilai signifikansi residual untuk X1 sebesar 0,334, untuk X2 sebesar 0,068, dan X3 sebesar 0,248. Hal ini menunjukkan bahwa nilai signifikansi untuk semua variabel > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data dalam penelitian ini bebas dari gejala heteroskedastisitas.

Hasil uji hipotesis dilakukan dengan menguji pengaruh secara parsial dan secara simultan. Hasil uji parsial (uji t) variabel status sosial ekonomi orang tua menunjukkan bahwa nilai  variabel status sosial ekonomi orang tua sebesar 6,009 sedangkan nilai diketahui 2,012 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak. Hasil uji parsial (uji t) variabel jumlah uang saku menunjukkan bahwa nilai untuk variabel jumlah uang saku sebesar 3,582 sedangkan nilai diketahui 2,012 dan nilai signifikansi sebesar 0,001 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak. Hasil uji parsial (uji t) variabel modernitas individu menunjukkan bahwa nilai untuk variabel modernitas individu sebesar 7,598 sedangkan nilai diketahui 2,012 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak. Hasil uji simultan (Uji F) menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 dan  nilai sebesar 129,421 dan diketahui nilai sebesar 2,80 , maka dapat disimpulkan bahwa  H0 ditolak atau dengan kata lain status sosial ekonomi orang tua, jumlah uang saku, dan modernitas individu berpengaruh terhadap perilaku menabung siswa kelas X IPS SMA Brawijaya Smart School Malang. Besarnya koefisien determinasi sebesar 89% dengan sumbangan efektif masing-masing variabel yaitu X1 sebesar 36,50%, X2 sebesar 4,16%, dan X3 sebesar 48,69%.

Berdasarkan hasil penelitian memperlihatkan adanya pengaruh antara variabel status sosial ekonomi orang tua terhadap minat menabung siswa. Hal ini menunjukkan bahwa status sosial ekonomi orang tua mempengaruhi minat menabung siswa. Lingkungan sebagai salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku seseorang. Pada penelitian ini penulis menyoroti status sosial orang tua siswa dari segi sosial ekonomi yang dilihat dari segi pendidikan, pekerjaan dan pendapatan. Status sosial ekonomi orang tua yang berbeda-beda akan memberi pengaruh yang berbeda pula terhadap siswa. Orang tua yang memiliki status sosial ekonomi yang tinggi, mampu memenuhi kebutuhan materiil siswa dengan baik. Selain itu memberikan peluang pada siswa untuk belajar mengelola uang dengan baik.

Orang tua dengan status sosial yang terbilang tinggi dilihat dari segi pendidikan, cenderung akan memberikan pembelajaran kepada anak untuk memiliki kecakapan dalam melakukan kegiatanya salah satunya yaitu mengelola keuangan dengan baik. Namun sebaliknya, orang tua dengan status sosial ekonomi yang lebih rendah, akan menganggap anaknya belum bisa dipercaya untuk mengelola keuangannya sendiri. Sehingga orang tua tersebut hanya akan memenuhi kebutuhan anaknya saja tanpa mengajarkan bagaimana mengelola uangnya sendiri.

Dari segi kekayaan, orang tua yang memiliki pendapatan atau kekayaan tinggi, pasti akan memberikan uang saku yang dianggap lebih dari cukup untuk anaknya. Namun jika dibandingkan dengan orang tua yang berpendapatan rendah, tentu uang saku yang diberikan kepada anak masing-masing berbeda. Anak dari orang tua yang berpendapatan tinggi tersebut mendapatkan uang saku yang banyak yang lebih dari kebutuhannya, dari hal tersebut bisa dilihat bahwa anak tersebut memiliki kesempatan untuk menabung. Jika dibanding dengan anak lain

yang mendapat uang saku pas-pasan dari orang tuanya, anak tersebut memiliki kesempatan menabung lebih kecil. Dengan uang saku yang pas-pasan, anak tersebut hanya fokus untuk memenuhi kebutuhannya.

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin besar kemungkinan orang itu bergaji tinggi dan mempunyai kedudukan yang dihormati. Pandangan masyarakat menganggap beberapa jenis pekerjaan memiliki prestise yang lebih tinggi dibandingkan pekerjaan lain. Sistem klasifikasi pekerjaan lebih banyak berorientasi pada pengaruh, martabat atau wibawa. Kepemilikan harta benda juga mencerminkan keadaan status sosial keluarga. Harta benda ini termasuk dalam rumah tangga, perabot rumah tangga, hingga kendaraan pribadi. Sehingga status sosial ekonomi orang tua menjadi lebih terpandang di lingkungannya. Status sosial ekonomi orang tua sebagai kondisi nyata yang menggambarkan tingkat kekayaan, kekuasaan kehormatan dan ilmu pengatahuan orang tua siswa di lingkungan tempat tinggalnya.

Dilihat di SMA Brawijaya Smart School kebanyakan siswa membawa kendaraan pribadi berupa sepeda motor atau diantar menggunakan mobil oleh orang tua siswa. Siswa juga menghabiskan waktunya di kantin saat jam istirahat dan sedikit dari mereka yang membawa bekal sendiri dari rumah. Siswa juga mengaku sering pergi hang uot di café atau sekedar berjalan-jalan bersama teman selapas pulang sekolah maupun saat libur. Hasil temuan dalam penelitian ini dibuktikan dengan hipotesis awal bahwa terdapat pengaruh yang positif antara status sosial ekonomi orang tua terhadap perilaku menabung siswa kelas X IPS SMA Bawijaya Smart School Malang. Dari hasil penelitian ini menjelaskan bahwa status sosial ekonomi orang tua berpengaruh terhadap perilaku menabung siswa kelas X IPS SMA Bawijaya Smart School Malang. Keluarga dengan status sosial yang tinggi akan mengajarkan anak tentang kecakapan mengelola keuangan dan menabung yang dapat membentuk minat menabung siswa.

Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kristanti (2016) tentang “Pengaruh Financial Literacy, Status Soisal Ekonomi Orang Tua dan Kelompok Teman Sebaya Terhadap Perilaku Menabung Siswa Kela