SKRIPSI Jurusan Ekonomi Pembangunan - Fakultas Ekonomi UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaruh Penanaman Modal Asing (PMA) dan Tingkat Inflasi terhadapa Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

MAULIDIYA YULININGTIAS

Abstrak


Pengaruh Penanaman Modal Asing (PMA) dan Tingkat Inflasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Maulidiya Yuliningtias, Farida Rahmawati(Pembimbing)

Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang, Indonesia

E-mail: maulidiyarm@gmail.com 

Abstrak

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial maupun simultan penanaman modal asing (PMA) dan tingkat inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2010-2017. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial penanaman modal asing (PMA) berpengaruh signifikan dan positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Sedangkan tingkat inflasi berpengaruh tidak signifikan dan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Kemudian secara simultan kedua variabel bebas memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Kata Kunci: penanaman modal asing, inflasi, pertumbuhan ekonomi.

Klasifikasi JEL:

PENDAHULUAN

Pembangunan ekonomi merupakan suatu bentuk usaha dan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan melakukan perluasan kesempatan kerja, pemerataan distribusi pendapatan, dan juga mengusahakan adanya pergeseran aktivitas ekonomi yang semula ditujukan pada sektor pertanian atau agraris menjadi sektor industri. Salah satu indikator untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan pembangunan ekonomi suatu negara adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional (Hasyim, 2016: 232).

Pertumbuhan ekonomi di Indonesia ataupun di negara lain bersifat kuantitatif yang mana hal tersebut menggambarkan perkembangan perekonomian dalam suatu tahun tertentu apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Indikator yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi adalah produk domestik bruto (PDB) yang mengukur pendapatan total setiap orang dalam perekonomian (BPS, 2018).  

Indonesia merupakan negara besar di Asia Tenggara yang tergabung di dalam perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara (Perbara) atau lebih dikenal sebagai Association of South East Asian Nation (ASEAN) dengan rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,525%. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan dengan Laos yang berada di posisi pertama dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi selama 8 tahun yakni sebesar 7,677%. Angka tersebut memiliki selisih 2% terhadap rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meskipun selisih angka tersebut kecil namun dapat memposisikan Indonesia pada peringkat 5 diantara negara-negara ASEAN seperti pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2010-2017 (y-o-y)(%)

Sumber : World Bank and OECD National Account Data Files.

Dalam laporan Bank Dunia (2019), 3 dari 4 negara ASEAN yang memiliki laju pertumbuhan yang lebih tinggi dari Indonesia yakni Laos, Myanmar, dan Vietnam memiliki rata-rata 5,38% terhadap PDB melalui aliran modal yang berasal dari penanaman modal asing atau PMA. Kontribusi PMA yang cukup besar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Laos, Myanmar, dan Vietnam berada diatas pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Meskipun dalam hal pendapatan perkapita ketiga negara tersebut masih berada pada kategori low income, namun pertumbuhan ekonomi yang cepat dan berkelanjutan dapat mendorong pendapatan perkapita semakin meningkat di masa mendatang.

Chenery dan Charter (dalam Kuncoro, 2010: 372) menjelaskan bahwa sumber dana eksternal (PMA) dapat dimanfaatkan oleh negara sedang berkembang sebagai dasar mempercepat investasi dan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi tidak dapat terus bergantung pada konsumsi ataupun ekspor saja, Indonesia harus mengoptimalkan seluruh komponen yang ada dalam upaya meningkatkan pendapatannya. Menurunnya pertumbuhan ekonomi negara maju yang ditandai dengan turunnya produktivitas diakibatkan dari penggunaan permodalan difokuskan pada investasi keluar atau outflows ke negara-negara dengan potensi ekonomi tinggi yang masih belum dioptimalkan seperti di negara-negara berkembang. Atas peluang tersebut Indonesia harus meningkatkan daya saing ekonominya dalam rangka menarik PMA masuk lebih banyak ke Indonesia sehingga diharapkan dengan naiknya PMA dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dan PMA pada sektor produktif dapat mendorong meningkatnya prduktivitas yang selama ini cenderung menurun sehingga nantinya pendapatan nasional dapat meningkat. PMA memberikan dampak positif terhadap aktivitas produksi dalam negara penerima investasi, seperti transfer manajemen, produksi, dan teknologi, sekaligus PMA dapat berpartisipasi dalam upaya pembangunan ekonomi di Indonesia melalui perluasan lapangan kerja dimana hal ini akan berdampak pada pengurangan pengangguran dan pengangguran yang berkurang dapat memperkecil kemiskinan yang terjadi di Indonesia.

Kurniati (2007) dalam Septiani dkk (2018) menerangkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penerimaan PMA di Indonesia salah satunya yakni inflasi. Inflasi merupakan suatu kejadian meningkatnya harga secara umum dan berlangsung secara terus menerus. Tingkat inflasi yang tinggi menunjukkan ketidakstabilan ekonomi dalam negeri, secara singkat adalah ketika inflasi tinggi harga barang dan jasa akan mengalami peningkatan dikarenakan biaya input produksi (harga faktor-faktor produksi) mengalami kenaikan, sebut saja itu kondisi 1. Selanjutnya kondisi 1 menyebabkan pelaku usaha harus meningkatkan harga jual barang dan jasa yang telah dihasilkan dari proses produksi, harga jual yang tinggi membuat daya saing produk menjadi menurun. Saat daya saing suatu perusahaan menurun maka otomatis profit yang didapatkan perusahaan akan menurun. Sehingga menjaga inflasi yang rendah dan stabil merupakan jalan yang harus ditempuh Indonesia agar para investor asing mau menanamkan modalnya di Indonesia mengingat bahwa PMA merupakan sumber dana eksternal pembangunan yang lebih menjanjikan jika dibandingkan dengan utang luar negeri.

Secara historis inflasi Indonesia dipengaruhi oleh faktor moneter seperti adanya perubahan dalam peredaran uang di masyarakat sehingga mendorong kebijakan pada pembatasan atau pengurangan jumlah uang yang beredar. Akan tetapi dengan kondisi dan kebijakan yang demikian belum mampu mengendalikan inflasi di Indonesia berada pada tingkat yang rendah dan stabil. Sehingga dilakukan beberapa kajian yang lebih mendalam terkait faktor penyebab inflasi, Badan Pusat Statistik (2018) mengklasifikasikan inflasi IHK kedalam disagregasi yang terdiri dari inflasi inti dan inflasi non inti. Dimana inflasi non inti terdiri dari inflasi administered prices (AP) atau inflasi yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah dan inflasi volatile foods (VF) atau inflasi kelompok bahan pangan yang secara historis paling sering mengalami kenaikan. Karena adanya disagregasi tersebut, pemerintah maupun Bank Indonesia dapat mengamati dan meninjau dengan jelas apa yang menyebabkan inflasi di Indonesia. Inflasi di Indonesia cenderung disebabkan oleh inflasi dari kelompok bahan pangan dimana kenaikan ini dapat terjadi sampai tiga kali dalam satu tahun. Kenaikan pertama pada awal tahun, kenaikan kedua menjelang hari besar keagamaan nasional, dan yang terakhir menjelang akhir tahun.

Gambar 1.1 Tingkat Inflasi Tahun 2010-2017

Sumber: Badan Pusat Statistik (Diolah, 2018)

Tingkat inflasi pada tahun 2010 sangat tinggi yakni sebesar 6,96%. Tingkat inflasi tahun 2010 disebabkan oleh kelompok bahan pangan yang mengalami kenaikan drastis sebesar 17,74%. Sedangkan untuk inflasi AP cukup rendah sebesar 5,40% dan untuk inflasi inti masih tergolong stabil. Meningkatnya inflasi VF yang cukup tinggi, membuat pemerintah dan otoritas moneter segera menanggapi kondisi tersebut dengan kebijakan yang segera dan antisipatif. Segera

melakukan upaya bantuan seperti pemotongan rantai distribusi pangan dimana biaya disini memakan anggaran yang diberikan pusat ke daerah untuk biaya pembangunan menjadi biaya pemotongan rantai distribusi. Rantai distribusi normal membuat harga akhir barang menjadi normal, dikarenakan terjadi inflasi seperti inflasi BBM membuat biaya pengiriman barang menjadi bertambah sehingga harga akhir barang juga bertambah, selain itu ketersedian pasokan bahan pangan yang tidak mencukupi permintaan pasar juga turut mendorong inflasi akibat kelangkaan dari bahan pangan tersebut. Sehingga menanggapi kondisi demikian Pemerintah pusat bekerjasama dengan otoritas moneter yakni Bank Indonesia membentuk suatu tim khusus dalam pengendalian inflasi bahan pangan yang disebut dengan Tim Pengendalian Inflasi (TPI) di tingkat pusat. Koordinasi pemerintah dan Bank Indonesia tidak dapat terlaksana tanpa adanya koordinasi dengan daerah, karena inflasi nasional bersumber dari inflasi tiap daerah di Indonesia. Untuk itu pemerintah juga merekomendasikan kepada tiap daerah untuk membentuk tim pengendalian inflasi daerah (TPID). Sehingga pada akhirnya koordinasi ketiga komponen dapat memberikan kontribusi yang baik terhadap pembentukan inflasi IHK atau inflasi nasional.

Pengendalian inflasi menjadi salah satu kebijakan moneter dan fiskal di Indonesia yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Inflasi yang tinggi memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi yang dilihat dari menurunnya PDB. Menurunnya PDB karena inflasi dapat terlihat pada penurunan penerimaan investasi dimana inflasi menyebabkan daya beli masyarakat menurun. Turunya daya beli masyarakat menunjukkan permintaan yang semakin menurun dan menyebabkan investasi pada sektor produktif mengalami kelesuan. Selain itu dari sisi perdagangan dalam negeri, kenaikan harga menyebabkan produk-produk dalam negeri tidak mampu bersaing dengan produk negara lain sehingga kegiatan ekspor turun dan impor meningkat. Kembali lagi dalam persamaan PDB bahwa nilai ekspor harus lebih besar daripada impor apabila ingin meningkatkan PDB. Darisini terlihat bahwa inflasi dapat berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dari segi perdagangan. Dari segi neraca pembayaran, menurunnya ekspor dan meningkatnya impor menyebabkan ketidakseimbangan terhadap dana yang masuk dan keluar negeri, kondisi neraca pembayaran akan memburuk. Selain itu dari sisi kesejahteraan pun inflasi yang tinggi akan menurunkan pendapatan riil yang diterima masyarakat, karena kenaikan tingkat upah tidak secepat kenaikan harga barang maka akan menurunkan daya beli. Penurunan daya beli akan menurunkan PDB dimana konsumsi merupakan salah satu komponen yang harus terus memiliki nilai positif agar pertumbuhan ekonomi terus meningkat (Murni, 2016: 222).

Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019 menjelaskan berbagai kebijakan yang ditempuh baik fiskal maupun moneter adalah memiliki tujuan yang sama, kebijakan yang dibuat bertujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Kebijakan fiskal saat ini difokuskan untuk mendorong terciptanya iklim investasi yang kondusif bagi investasi dalam negeri ataupun PMA sebagai bagian dari upaya menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Terciptanya iklim investasi yang kondusif tidak terlepas dari bauran kebijakan fiskal dan moneter dengan mendorong tercapainya target inflasi nasional tanpa harus mengurangi daya beli masyarakat dimana hal ini merupakan cerminan dari stabilitas ekonomi dalam negeri yang mampu mendorong penerimaan PMA di Indonesia. Pada akhirnya bauran kebijakan fiskal dan moneter akan menjadi salah satu strategi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Selain beberapa masalah yang telah dijelaskan diatas, peneliti menemukan research gap atau celah penelitian dari penelitian-penelitian terdahulu. Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Mukhtar (2015) mengenai “Effect Investment and The Rate of Inflation to Economic Growth in Indonesia”, menunjukkan bahwa investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2005-2013. Sedangkan inflasi berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Karlina (2017) mendapatkan hasil penelitian bahwa inflasi berpengaruh secara signifikan dan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2011-2015. Septiatin, dkk (2016) dengan judul “Pengaruh Inflasi Dan Tingkat Pengangguran Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia” juga menunjukkan bahwa dalam jangka panjang inflasi memberikan dampak negatif namun tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 2011-2015 secara triwulanan. Ardiansyah (2017) menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2008-2016. Lubis (2014) juga mendapati bahwa inflasi berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 1968-2012.  Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Arifin (2016) didapatkan pengaruh inflasi yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2005-2014. Septiani dkk (2018) juga menemukan bahwa inflasi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 2006-2015. Claudia (2017) juga menemukan bahwa inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2001-2014.

Selain itu menurut penelitian Salebu (2014), menunjukkan bahwa pengaruh dari penanaman modal asing (PMA) atau Foreign Direct Investment (FDI) terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 1994-2013 adalah positif dan signifikan, hal itu menunjukkan bahwa PMA berpengaruh signifikan terhadap GDP yang berasal dari sektor primer, sekunder dan tersier. Hastuti dan Wahyu (2017) mendapatkan hasil bahwa PMA memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 1980-2015. Amiruddin (2018) juga menemukan hasil bahwa PMA berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Tahun 2004-2017. Namun ditemukan hasil penelitian yang bertentangan dengan penelitian tersebut yakni penelitian yang dilakukan oleh Sarwiono (2016) dalam naskah publikasinya bahwa, PMA berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2000-2014. Selain itu penelitian Fitri (2016) tentang “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia Tahun 1984-2013” menunjukkan bahwa investasi PMA berpengaruh tidak signifikan dan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia tahun 1984-2013. Dikarenakan adanya beberapa celah dalam penelitian-penelitian terdahulu, peneliti ingin mengetahui lebih dalam mengenai pengaruh secara parsial dan simultan dari investasi khususnya PMA dan juga tingkat inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2010-2017.

KAJIAN PUSTAKA

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional (Hasyim, 2016: 232).

Pertumbuhan ekonomi lebih menunjuk pada perubahan yang bersifat kuantitatif (quantitative change) dan biasanya diukur dengan menggunakan data produk domestik bruto atau pendapatan output perkapita (Nanga, 2005: 273).

Pada penelitian ini digunakan beberapa grand theory yang pertama yakni Teori Harrod Domar (1947), pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Kemudian Solow-Swan (1957) menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tergantung pada pertambahan penyediaan faktor-faktor produksi, seperti tenaga kerja, akumulasi modal, dan juga kemajuan teknologi. (Hasyim, 2016: 248).

Teori pertumbuhan endogen (Endogeneus Growth Theory) dalam penelitian Loening (2005) menerangkan bahwa teori pertumbuhan baru ini lebih menekankan pada dua hal, pertama peranan modal manusia (human capital) dan yang kedua adalah kemajuan teknologi. Hal tersebut memiliki implikasi bahwa dalam jangka panjang, akumulasi modal, tabungan nasional, tingkat kemajuan teknologi, dan kebijakan pemerintah juga akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam suatu negara.

Penanaman Modal Asing (PMA)

Penanaman Modal Asing (PMA) merupakan bentuk investasi dengan jalan membangun, membeli total atau mengakuisisi perusahaan. Penanaman Modal di Indonesia diatur dengan Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan Penanaman Modal Asing adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal asing, baik menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri (DPR RI, UU No. 25 Tahun 2007).

Salvatore (1997) menjelaskan bahwa penanaman modal asing dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi dan merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan jumlah modal untuk melaksanakan pembangunan ekonomi yang bersumber dari luar negeri yang mengalir ke sektor swasta baik yang melalui investasi tidak langsung (Portofolio) maupun investasi langsung (Direct investment).

Di dalam penelitian ini, grand theory yang digunakan yang pertama adalah teori pertumbuhan Keynes mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh agregate demand (AD) yaitu permintaan yang disertai kemampuan membayar barang dan jasa yang diminta dan ada di dalam perekonomian. Dalam AD, permintaan barang dan jasa dipengaruhi oleh konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor dan impor dengan persamaan (Y = C + I + G + (X-M)) (Mankiw, 2006: 11).

Teori Harrod-Domar menyimpulkan bahwa investasi dianggap sebagai faktor penting karena memiliki dua peran sekaligus di dalam perekonomian yaitu pertama, investasi berperan sebagai faktor yang dapat menciptakan pendapatan, artinya investasi berpengaruh pada sisi permintaan. Kedua, investasi memperbesar kapasitas produksi perekonomian dengan meningkatkan stok modal, artinya investasi akan mempengaruhi sisi penawaran (Hasyim, 2016: 240).

Teori model pertumbuhan endogen, inovasi teknologi dan investasi modal manusia dilihat sebagai sumber utama pertumbuhan produktivitas, dan pertumbuhan produktivitas itu sendiri menjadi mesin penggerak dari pertumbuhan ekonomi (Nanga, 2005: 292).

Inflasi

Menurut Bank Indonesia secara sederhana inflasi diartikan sebagai kenaikan harga secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Kenaikan satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Indikator yang digunakan untuk mengukur inflasi oleh BI ialah IHK. Selain itu definisi lain inflasi adalah gejala ekonomi yang menunjukkan naiknya tingkat harga secara umum yang berkesinambungan. Syarat inflasi sendiri ialah terjadi kenaikan harga secara terus menerus diikuti dengan kenaikan harga barang lain. Satu kenaikan harga barang saja tidak dapat dikatakan sebagai inflasi. Kenaikan harga biasanya bersifat sementara, seperti pada saat hari besar keagamaan nasional, bencana, dan lain sebagainya (Hasyim, 2016).

Teori Keynes menjelaskan hubungan antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi dimana keistimewaan teori ini adalah di dalam jangka-pendek (short-run) kurva penawaran agrigat (AS) adalah positif. Kurva AS positif adalah harga naik dan output juga naik. Selanjutnya hubungan yang selanjutnya secara hipotesisnya kepada hubungan jangka panjang (long-run relationship) antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi dengan dimana inflasi naik akan tetapi pertumbuhan ekonomi turun.

Dalam penelitian Lubis (2014) Teori Pertumbuhan Endogen menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi bergantung kepada keuntungan dari kapital (rate of return on capital). Karena inflasi menurunkan jumlah keuntungan, maka inflasi dapat mengurangi akumulasi kapital yang selanjutnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi. Penjelasan lebih lanjut adalah bahwa pertumbuhan ekonomi akan terus terjadi akibat dari jatuhnya keuntungan kapital tidak melebihi tingkat kritikalnya dan individu akan terus berinvestasi dan menambah kapital akumulasi yang seterusnya menaikkan pertumbuhan ekonomi.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Ex Post Facto. Ex Post Facto adalah penelitian yang dilakukan setelah suatu peristiwa atau kejadian itu terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan penyebab yang memungkinkan perubahan perilaku, gejala, atau fenomena yang disebabkan oleh suatu peristiwa. Perilaku atau hal-hal yang menyebabkan perubahn pada variabel bebas atau independen secara keseluruhan sudah terjadi.

Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda dengan metode OLS (Ordinary Last Square). Regresi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kuantitatif antara variabel-variabel yang diteliti yaitu pertumbuhan ekonomi sebagai variabel terikat, investasi sebagai variabel bebas pertama, dan inflasi sebagai variable bebas kedua.

Analisis Data Penelitian

1. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik digunakan untuk menguji apakah model regresi yang digunakan dala penelitian ini layak diuji atau tidak. Uji asumsi klasik yang digunakan untuk memastikan bahwa multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas tidak terdapat dalam model yang digunakan dan data yang dihasilkan terdistribusi normal. Jika keseluruhan syarat terpenuhi, berarti model analisis telah layak digunakan. Uji asumsi klasik dijabarkan sebagai berikut :

a.Uji Normalitas

b.Uji Multikolinearitas

c.Uji Autokorelasi

d.Uji Heteroskedastisitas

2. Analisis Regresi Linier Berganda

Regresi berganda adalah pengembangan dari regresi linier sederhana, yaitu sama-sama alat yang dapat digunakan untuk memprediksi permintaan di masa yang akan datang berdasarkan data masa lalu atau untuk mengetahu pengaruh satu atau lebih variabel bebas (independent) terhadap satu variabel tak bebas (dependent). Perbedaannya adalah dalam regresi linier berganda jumlah variabel bebas lebih dari satu untuk mempengaruhi variabel tak bebasnya (Siregar, 2013).

Berikut merupakan rumus regresi linier berganda :

Y =  + 1X1 + 2X2

Keterangan :

Y = PDB

X1 = PMA

X2 = INFLASI

, 1, 2 = Konstanta

Dalam analisis regresi linier berganda juga dilakukan uji hipotesis. Tujuan dilakukannya pengujian hipotesis terhadap penerapan model regresi linier berganda adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh secara parsial dan simultan variabel independen terhadap variabel dependen. Untuk itu dilakukan beberapa uji sebagai berikut:

a.Uji signifikasi secara parsial (individu)

b.Uji signifikan secara simultan (bersama-sama)

c. Koefisien Determinasi (R2)

HASIL PENELITIAN

1. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Dari hasil uji JB diatas di dapatkan nilai JB sebesar 1.982701 dengan nilai probabilitas sebesar 0.371075 atau 37% > 5% ( = 5%). Artinya dalam kriteria pengujian dapat ditulis, H0 diterima dan H1 ditolak karena P Value >  5%. Maka data dalam penelitian ini dapat dikatakan berdistribusi normal.

b. Uji Multikolinearitas

Hasil uji multikolinearitas dapat dilihat pada tabel centered VIF. Nilai VIF masing-masing variabel independen PMA dan inflasi sama-sama sebesar 1.009532. Karena nilai VIF kedua variabel tidak ada yang melebihi 10 atau 5 (syarat multikolinearitas) maka dapat dikatakan tidak terjadi multikolinearitas.

c. Uji Autokorelasi

Nilai dU sebesar 1.5736 dan nilai 4-dU sebesar 2.4264 didapatkan dari tabel Durbin Watson untuk jumlah variabel bebas atau k = 2, dan jumlah data penelitian atau n = 32. Kemudian nilai DW penelitian sebesar 2.0174 yang berada lebih dari dU dan kurang dari 4-dU mencerminkan tidak adanya autokorelasi dalam data penelitian.

d. Uji Heteroskedastisitas

Hasil Prob. F-statistic menjadi sebesar 0.3825 > 0.05 atau lebih besar dari  = 5%, dapat dijelaskan bahwa data dalam penelitian telah lulus uji heteroskedastisitas.

Hasil Analisis Regresi Linier Berganda

a.Uji Parsial (Statistik t)

1)Pengaruh PMA terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia

Terdapat hipotesis yang digunakan dalam membandingkan t-hitung dengan t-tabel adalah sebagai berikut:

Jika t hitung < t tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak

Jika t hitung > t tabel maka Ho ditolak dan H1 diterima.

Kemudian diketahui t hitung PMA sebesar 11.75675 dan t-tabel PMA sebesar 2.045, sehingga t-hitung variabel PMA > daripada t-tabelnya, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Berarti bahwa Variabel PMA atau PMA berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi yang dilihat dari PDBnya.

Diketahui P-value sebesar 0.0000 dengan =0.05 sehingga P-Value < 0.05 Hipotesis H1 diteria berarti bahwa Variabel PMA berpengaruh signifikan terhadap variabel pertumbuhan ekonomi yang dilihat dari PDB.

2)Pengaruh Inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia

Terdapat hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:

Jika t hitung < t tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak

Jika t hitung > t tabel maka Ho ditolak dan H1 diterima.

Diketahui t-hitung (-1.15060) dan t-tabel sebesar 2.045 dimana t-hitung < t-tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Berarti bahwa Variabel INFLASI memiliki pengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dilihat dari PDB.

Diketahui P-value sebesar 0.2593dan =0.05 dimana P-Value > 0.05, maka H0 diterima dan H1 ditolak. Berarti bahwa Variabel INFLASI atau memiliki pengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dilihat dari PDB. Dalam penelitian ini kondisi inflasi berada pada kisaran inflasi ringan yakni dibawah 10%. Berarti bahwa tingkat inflasi di Indonesia masih bisa menjadi simulator bagi pertumbuhan ekonomi.

b.Uji Simultan (F statistik)

Nilai F hitung digunakan untuk menguji pengaruh secara simultan variabel independen terhadap variabel dependen atau untk menguji ketetapan model (goodness of fit). Jika variabel independen memiliki pengaruh secara simultan (bersama-sama) terhadap variabel dependen maka model persamaan regresi masuk dalam kriteria cocok atau fit. Sebaliknya, jika tidak terdapat pengaruh secara simultan maka masuk dalam kategori tidak cocok atau non fit.

Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:

H0 = Tidak Signifikan

H11 = Signifikan

Cara yang digunakan adalah dengan membandingkan F hitung dan F tabel dimana hipotesisnya :

Jika F hitung < F tabel maka H0 diterima dan H1 ditolak

Jika F hitung > F tabel maka H0 ditolak dan H1 diterima

Diketahui F hitung sebesar 71.82069 dan F tabel sebesar 4.17, maka F hitung > F tabel sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Berarti bahwa Kedua Variabel bebas secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat. Selain cara diatas dapat juga dilihat menggunakan prob f statistic atau p-value  dengan tingkat signifikasi /  = 5%. Hipotesisnya :

Jika p-value > , maka H0 diteria dan H1 ditolak.

Jika p-value <  maka H0 ditolak dan H1 diterima.

Diketahui Prob(F-statistic) atau p-value 0.000000 < 0.05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Berarti bahwa PMA dan Inflasi berpengaruh signifikan terhadap PDB.

c. Koefisien Determinasi (R2)

Besarnya Adjusted R Square dalam hasil estimasi regresi linier berganda sebesar 0.820006 atau 82%. Angka tersebut menjelaskan bahwa variabel PMA dan Tingkat Inflasi memiliki proporsi pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 82%. Sehingga sisanya sebesar 17.96% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dicantumkan dalam model regresi linier berganda dalam penelitian ini.

Interpretasi Model

Berdasarkan hasil estimasi regresi linier ganda tersebut maka dapat disusun sebuah model persamaan regresi sebagai berikut

Y =  + 1X1 + 2X2 + e

PDB = 7.089625 + 0.476175 (PMA) – 0.017234(INFLASI) + e

a.Konstanta atau  sebesar 7.089625 artinya jika nilai PMA(X1) dan INFLASI(X2)=0, maka PDB(Y) nilainya sebesar  7.089625.

b.Koefisien regresi atau 1 yakni PMA (X1) sebesar 0.476175 artinya jika PMA  mengalami kenaikan 1%, maka PDB (Y) akan naik sebesar 47,6% dengan asumsi variabel independen lainnya tetap. Koefisien bernilai positif artinya hubungan antara PMA dengan PDB (pertumbuhan ekonomi) adalah hubungan yang searah dimana jika PMA naik maka pertumbuhan ekonomi yang dilihat dari PDB juga akan naik.

c.Koefisien regresi atau 2 yakni INFLASI(X2) sebesar  (-0.017234) artinya jika inflasi mengalami kenaikan sebesar 1% maka pertumbuhan ekonomi akan mengalami penurunan sebesar 1% dengan asumsi variabel independen lainnnya konstan. Untuk koefisien bernilai negatif berarti ada hubungan tidak searah antara inflasi dengan pertumbuhan ekonomi. Inflasi yang tinggi akan cenderung menurunkan pertumbuhan ekonomi yang dilihat dari nilai PDB.

PEMBAHASAN

Dari hasil analisis regresi dapat dijelaskan hubungan variabel bebas dan variabel terikat dalam penelitian.

Penanaman Modal Asing (PMA)

Berdasarkan hasil perhitungan melalui analisis regresi linier berganda, Penanaman Modal Asing (PMA) memiliki nilai probabilitas sebesar 0,0000 < 0,050 yang berarti bahwa PMA berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang dilihat melalui pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan nilai koefisien variabel sebesar 0.476175 yang memiliki arti bahwa ketika PMA mengalami kenaikan sebesar 1% akan memberikan pengaruh perubahan PDB sebesar 47,6%. PMA yang dihitung  merupakan realisasi dari PMA yang masuk ke Indonesia. Realisasi PMA menunjukkan bahwa investasi yang masuk ke Indonesia sudah bukan merupakan wacana atau rencana saja, tetapi merupakan perwujudan dari adanya PMA yang masuk telah dijalankan dan memberikan dampak kepada kondisi perekonomian di Indonesia. Sehingga Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian Mukhtar (2015) yang menjelaskan bahwa investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2005-2013. Sebagai hasilnya untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi suatu negara, selain melalui usaha peningkatan sumber pembiayaan dalam negeri, tetap dibutuhkan sumber pembiayaan luar negeri. Perlunya peningkatan investasi diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, meningkatkan peran aktif masyarakat, serta memperluas kesempatan usaha dan lapangan kerja. Untuk mencapai target-target tersebut diperlukan usaha penciptaan iklim investasi yang kondusif sehingga dapat menarik investor  (penanam modal), serta menjamin kepastian usaha dan keamanan investasi.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian dari Salebu (2014) yang menemukan hasil empiris menggunakan pendekatan efek tetap menunjukkan bukti kuat bahwa PMA mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap PDB pada tingkat signifikansi 5% dimana terlihat bahwa tidak semua subsektor dari PMA tersebut yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari hasil regresi per sektor dengan menggunakan pendekatan Efek Tetap dengan spesifikasi efek menggunakan cross section fixed effect ditunjukkan bahwa subsektor Tanaman Pangan dan Perkebunan, Pertambangan, Industri makanan, serta Transportasi, Gudang dan Komunikasi berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa PMA mempunyai pengaruh signifikan terhadap PDB berasal dari sektor primer, sekunder, dan juga sektor tersier. Hastuti dan Wahyu (2017) juga mendapatkan hasil bahwa Penanaman Modal Asing berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada Tahun 1980-2015. Semakin tinggi PMA yang diterima suatu negara berkembang, termasuk Indonesia semakin tinggi pertumbuhan ekonomi negara yang bersangkutan diatas rerata kawasan. Kemudian perlambatan pertumbuhaan PMA pada sektor primer dan sekunder yang serah dengan laju perlambatan pertumbuhan ekonomi dan perdagangan global, sebaliknya sektor tersier menunjukkan tren peningkatan seiring dengan implementasi kebijakan infrasutruktur. Terakhir stabilitas dan kesinambungan makroekonomi ( indikator: devisa/ nilai tukar, inflasi, pendapatan perkapita) mempengaruhi pertumbuhan PMA. Amiruddin (2018) juga mendapatkan hasil penelitian yang sama yakni PMA berpengaruh positif da signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2004-2017. Dilihat dari nilai koefisien determinasi sebesar 57,9% variasi dalam model, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Sesuai dengan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa PMA merupakan salah satu determinan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, oleh karena itu diharapkan Pemerintah dan Bank Indonesia terus berupaya meningkatkan iklim investasi yang baik sehingga dapat mendorong ketertarikan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Dikarenakan peran PMA penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, maka terdapat beberapa upaya dalam meningkatkan investasi khususnya PMA di Indonesia yang dilakukan oleh Pemerintah yang pertama, melakukan Optimalisasi Kinerja Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dalam memperbaiki iklim investasi antara lain mendorong terciptanya kepastian hukum melalui penyederhanaan dan harmonisasi peraturan terkait penanaman modal (deregulasi peraturan), memberikan kemudahan pelayanan perizinan dan nonperizinan penanaman modal melalui penyelenggaraan PTSP di bidang penanaman modal baik di Tingkat Pusat (BKPM), Provinsi dan Kabupaten/Kota, mengembangkan Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) dan penyediaan online tracking system. Jenis perizinan yang telah dapat dilayani melalui SPIPISE adalah: Izin Prinsip, Izin Usaha dan Surat Persetujuan Pembebasan Bea Masuk Barang Modal dan Bahan Baku. Terkait implikasi dari deregulasi peraturan adalah meningkatnya peringkat Indonesia dalam EoDB (Ease of Doing Business). EoDB merupakan pemeringkatan kemudahan berusaha yang dipublikasikan setiap tahun oleh Grup Bank Dunia. Dalam pemeringkatan ini, penilaian dilakukan berdasarkan kemudahan di 10 area yang merepresentasikan siklus hidup yang dilalui oleh usaha kecil dan menengah domestik di negara yang disurvei. Negara-negara yang berada pada kedudukan terdepan dalam peringkat EoDB adalah negara-negara yang memiliki kinerja terbaik di 10 area yang disurvei dan selaras dengan praktik terpuji internasional. Indonesia berhasil meraih peringkat dalam kemudahan mendirikan usaha, kemudahan mengurus perizinan, kemudahan jual beli dan balik nama kepemilikan tanah atau bangunan, kemudahan melakukan pelaporan dan pembayaran pajak serta iuran wajib, kemudahan melakukan kegiatan ekspor impor, dan kemudahan penyelesaian perkara perdata dengan nilai gugatan sederhana. Dengan adanya pemeringkatan oleh Bank Dunia, dapat memberikan dampak positif mengenai kondisi kebijakan dalam negeri dalam ekonomi global. Sehingga pada akhirnya dapat menarik minat investor asing untuk melakukan penanaman modal di Indonesia.

Selain melakukan deregulasi dan simplifikasi peraturan  terkait penanaman modal, dalam meningkatkan penerimaan PMA pemerintah juga harus menjaga stabilitas dalam ekonomi makro terkait dengan salah satu indikator yang menjadi acuan investor asing untuk memutuskan melakukan investasi di suatu negara adalah inflasi. Sehingga kebijakan yang harus diambil adalah meningkatkan iklim investasi melalui penguatan stabilitas ekonomi makro termasuk dalam upaya pengendalian inflasi.

Inflasi

Berdasarkan hasil perhitungan melalui analisis regresi berganda, variabel Tingkat Inflasi memiliki nilai probabilitas sebesar 0,2802 > 0,050 yang berarti bahwa tingkat inflasi berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Dengan nilai koefisien sebesar (-0.017234) yang memiliki arti bahwa ketika tingkat inflasi mengalami kenaikan sebesar 1% akan memberikan pengaruh terhadap perubahan PDB sebesar minus 1%. Hubungan tingkat inflasi dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2010-2017 adalah negatif. Dimana ketika inflasi mengalami kenaikan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi melalui penururnan PDB.