SKRIPSI Jurusan Ekonomi Pembangunan - Fakultas Ekonomi UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGARUH INVESTASI DAN UPAH MINIMUM KABUPATEN TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA PADA INDUSTRI PENGOLAHAN DI KABUPATEN MOJOKERTO TAHUN 2015-2017

DINKA IDIA FITRI

Abstrak


Pengaruh Investasi Dan  Upah Minimum Kabupaten Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja pada Sektor Industri Pengolahan Di Kabupaten Mojokerto Tahun 2015-2017

Dinka Idia Fitri

Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang

sejarah Pasal Abstrak

Diterima: Maret 29, 2019

Diterima: 4 April 2019

Diterbitkan: 5 April 2019

Penyerapan tenaga kerja merupakan masalah penting dalam pembangunan nasional maupun daerah. Tenaga kerja dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan suatu daerah. Dengan maksud bahwa penyerapan tenaga kerja mendukung keberhasilan pembangunan nasional secara keseluruhan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh investasi baik asing maupun investasi dalam negeri dan upah minimum kabupaten terhadap penyerapan tenaga kerja pada industri pengolahan. penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif dengan Model Vector Error Correction Model (VECM) dan untuk mengalisis data menggunakan program bantuan E-views 7. Data penelitian yang digunakan adalah data sekunder yang didapat dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Mojokerto. Hasil penelitian menunjukkan Penanaman Modal Asing, Penanaman Modal Dalam Negeri dan Upah Minimum Kabupaten berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja pada jangka pendek maupun jangka panjang.

Kata kunci:Investasi, Upah Minimum, Penyerapan Tenaga Kerja, industry pengolahan, VECM

email Koresponden:

dinkafitri@gmail.com

Cara Cite:

Fitri. Dinka IDIA. 2019. Pengaruh Investasi dan  Upah  Minimum Kabupaten Terhadap penyerapan Tenaga Kerja di Industri pengolahan di Kabupaten Mojokerto tahun 2015-2017. Penelitian Kuantitatif Ekonomi.

PENGANTAR

Pembangunan ekonomi adalah serangkaian kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas kesempatan kerja dan distribusi pendapatan. pembangunan ekonomi serta pengembangan di daerah lain selalu melibatkan sumber daya manusia sebagai salah satu aktor pembangunan, oleh karena itu, jumlah orang di negara adalah elemen kunci dalam pengembangan (Kuncoro, 2003: 24). Pembangunan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari perkembangan sejumlah kegiatan ekonomi yang dapat diklasifikasikan dalam sektor primer, sekunder dan tersier. Pada awalnya, struktur ekonomi Indonesia didukung oleh sektor pertanian (primer), namun seiring dengan usia tumbuh dan teknologi, peran sektor pertanian, mengurangi dan digantikan oleh sektor industri dan sektor jasa.

Proses pembangunan ekonomi sering dikaitkan dengan proses industrialisasi. Proses industrialisasi dan industri konstruksi merupakan salah satu tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam rangka meningkatkan kehidupan yang lebih maju. Pembangunan sektor manufaktur (industri manufaktur) hampir selalu mendapatkan prioritas dalam perencanaan negara-negara berkembang. Sektor industri yang digunakan sebagai pemimpin sektor (leading sector) yang berarti banyak untuk industri konstruksi akan mempercepat dan mengangkat sektor lain seperti sektor jasa dan sektor pertanian. Pembangunan ekonomi yang mengarah ke industrialisasi dapat mendorong untuk memenuhi kerja (Simanjutak, 1998: 37). Berikut kerja data dalam industri manufaktur di Kabupaten Mojokerto di 2015-2017

tabel 1.1

Pada Tabel 1.1 menunjukkan bahwa lapangan kerja di Mojokerto selalu meningkat dalam tiga tahun terakhir.Mojokerto merupakan salah satu kabupaten / kota di Jawa Timur yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang stabil dalam beberapa tahun terakhir. pertumbuhan ekonomi Mojokerto selalu di atas lima persen setiap tahun. Ini tidak terlepas dari peran industri manufaktur sebagai komponen pengungkit ekonomi Kabupaten Mojokerto. Sektor industri pengolahan merupakan komponen utama dan sektor terkemuka memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dibandingkan dengan sektor lainnya. Sektor ini juga menyediakan kontribusi ekonomi yang besar dalam transformasi struktur ekonomi dari Mojokerto yang awalnya berbasis pertanian (agraris) bergeser ke industri pengolahan. Lebih dari setengah dari perekonomian Kabupaten Mojokerto sangat ditentukan oleh perkembangan kinerja sektor manufaktur. Nilai tambah yang dihasilkan oleh sektor ini bisa meningkatkan perekonomian Mojokerto. industri manufaktur merupakan penyumbang terbesar pendapatan daerah Mojokerto. Menurut kantor Pusat Statistik Mojokerto jumlahnya, yaitu GDP membentuk lima, industri pengolahan pertama sebesar 53,01%, grosir dan eceran perdagangan 10,12%, 10,09% konstruksi, pertanian, kehutanan dan perikanan 9,29%, informasi dan komunikasi 5.38 %. Dari data tersebut diketahui bahwa industri pengolahan Mojokerto memiliki penyumbang terbesar dalam membentuk PDB. 09% konstruksi, pertanian, kehutanan dan perikanan 9,29%, informasi dan komunikasi 5,38%. Dari data tersebut diketahui bahwa industri pengolahan Mojokerto memiliki penyumbang terbesar dalam membentuk PDB. 09% konstruksi, pertanian, kehutanan dan perikanan 9,29%, informasi dan komunikasi 5,38%. Dari data tersebut diketahui bahwa industri pengolahan Mojokerto memiliki penyumbang terbesar dalam membentuk PDB.

Penelitian ini menguraikan variabel bebas dari penelitian (Tarigan 2018); investasi dan upah minimum kabupaten (Sari 2015). Tenaga kerja dan investasi (Ismei dan Wijanarko 2015). tenaga kerja dan upah minimum kabupaten (IBuchari 2016).

Hubungan antara Investasi dan Penyerapan Tenaga Kerja, kegiatan investasi memungkinkan masyarakat untuk terus meningkatkan kegiatan ekonomi dan membuka banyak lapangan kerja, meningkatkan pendapatan nasional yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ini berasal dari fungsi penting dari kegiatan investasi, yaitu (Sukirno: 2008)

1) Investasi merupakan salah satu komponen dari pengeluaran agregat, sehingga peningkatan investasi juga akan meningkatkan permintaan agregat, pendapatan nasional dan kesempatan kerja

2) Dengan kegiatan investasi, jumlah barang modal akan meningkat sehingga akan meningkatkan kapasitas produk.

3) kegiatan investasi selalu diikuti oleh perkembangan teknologi.

Menurut Akmal (2010), kegiatan investasi yang bertujuan untuk memasok barang-barang modal seperti mesin dan peralatan produksi lainnya yang terkait dengan peningkatan output akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Hal ini disebabkan meningkatnya jumlah barang modal. Semakin besar investasi dibuat, semakin banyak tenaga kerja akan diminta, terutama untuk investasi padat karya. Oleh Karen, jumlah investasi yang dilakukan akan sangat mempengaruhi jumlah tenaga kerja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa investasi memiliki efek pada pekerjaan karena kegiatan investasi akan memungkinkan masyarakat untuk meningkatkan kegiatan ekonomi sehingga bisnis baru akan dibuat yang menyerap tenaga kerja.

Hubungan dengan Tingkat Upah Minimum dengan Penyerapan Tenaga Kerja, Kenaikan tingkat upah akan diikuti oleh penurunan jumlah pekerja yang minimal yang berarti bahwa itu akan menyebabkan peningkatan jumlah pengangguran. Setidaknya, dengan penurunan tingkat upah, maka akan diikuti oleh meningkatnya permintaan tenaga kerja, yang cenderung mengurangi jumlah pengangguran. Peningkatan tingkat upah yang dapat diikuti oleh peningkatan jumlah pekerja hanya akan terjadi jika perusahaan mampu meningkatkan harga jual barang (PayamanJ.Simanjutak, 2001). Berdasarkan uraian tersebut dapat dilihat bahwa hubungan dengan pekerjaan dan kenaikan upah juga dapat meningkatkan lapangan kerja. Upah dimaksud dalam penelitian ini adalah layanan yang telah atau dilakukan yang dinyatakan dalam upah. tingkat upah akan mempengaruhi biaya tinggi dan rendah dari produksi perusahaan dan dapat meningkatkan harga jual per unit barang yang diproduksi. Jika harga barang yang dijual meningkat, konsumen akan mengurangi pembelian jumlah barang yang dikonsumsi. Hal ini menyebabkan barang telah diproduksi oleh penjual menurun dan produsen untuk mengurangi jumlah produksi, yang mengakibatkan pengurangan tenaga kerja yang dibutuhkan (Kuncoto, 2010).

METODE

Berdasarkan tujuan dan yang diangkat  dalam penelitian ini, maka untuk mendapatkan hasil yang relevan digunakan pendekatan kuantitatif. Dan berikut rancangan penelitian dari penelitian ini :

informasi:

X1 : Penanaman Modal Asing  

X2 : Penanaman Modal Dalam Negeri

X3 :  Upah Minimum Kabupaten

Y : Penyerapan Tenaga Kerja  

: Pengaruh parsial

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi. Sumber data diperoleh menggunakan teknik dokumentasi yang diperoleh dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Dinas Ketenagakerja Kabupaten Mojokerto yang berupa data bulanan yang sudah diolah. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunkan metode Vector Error Correction Model (VECM).

VECM merupakan metode turunan dari VAR. Asumsi yang perlu dipenuhi sama seperti VAR, kecuali masalah stasioneritas. Berbeda dengan VAR, jika VECM harus stasioner pada diferensiasi pertama dan semua variabel harus memiliki stasioner yang sama, yaitu terdiferensiasi pada turunan pertama.

Hasil dan Diskusi

1.Uji Stationeritas

Pada tahap awal akan diuji dengan menggunakan akar uji stasionaritas unit, metode ADF. Tes ini dilakukan untuk melihat apakah digunakan time series data stasioner atau tidak untuk menguji uji unit root dan derajat integrasi dilanjutkan dengan uji kointegrasi.

Tabel 4.1 Stasioneritas Hasil Uji pada tingkat level

variabel ADF t-statistik McKinnon Nilai Kritis 5 Persen masalah Informasi

TK -3,886825 -2,948404 0,0052 Stasioner

PMA -4,170480 -2,948404 0,0025 Stasioner

PMDN -3,299468 -2,948404 0,0225 Stasioner

UMK -1,725175 -2,954021 0,4097 Tidak Stasioner

Sumber: Data diolah tahun 2019

Unit Akar Uji yang dilakaukan di tigkat level menunjukkan variable TK telah stasioner seperti yang terlihat dari nilai probabilitas kurang dari nilai kritis 5% (0,0052> 0,05). Unit Akar Uji dilakukan pada variabel PMA telah stasioner seperti yang terlihat dari nilai probabilitas kurang dari nilai kritis 5% (0,0025> 0,05). Unit Akar Uji dilakukan pada variabel PMDN telah stasioner seperti yang terlihat dari nilai probabilitas kurang dari nilai kritis 5% (0,0225> 0,05). Unit Akar Uji dilakukan pada variabel Upah Minimum Kabupaten belum stasioner seperti yang terlihat dari nilai probabilitas bahwa nilai lebih dari 5% kritis (0,4097> 0,05).

Oleh karena itu, ada satu variable Upah Minimum Kabupaten tidak stasioner pada tingkat level, maka solusinya adalah dengan menguji pada tingkat first difference. Hasil uji ADF tingkat first difference dapat ditampilkan pada tabel berikut.

Tmampu 4.2 Stasioneritas Hasil Uji pada first difference

variabel ADF t-statistik McKinnon Nilai Kritis 5 Persen masalah Informasi

TK -7,106681 -2,951125 0,0000 Stasioner

PMA -6,600812 -2,951125 0,0000 Stasioner

PMDN -7,928072 -2,951125 0,0000 Stasioner

UMK -4,803218 -2,954021 0,0005 Stasioner

Sumber: Data diolah tahun 2019

Dari pengujian data di atas, semua variabel yang telah memenuhi persyaratan stasioner data uji ADF dimana nilai probabilitas kurang dari nilai kritis 5% (0,005). Oleh karena itu nilai semua data variabel stasioner pada tingkat first difference. hal itu dapat dilakukan langkah berikutnya dalam estimasi VECM adalah menentukan panjang lag optimal.

2.Optimal Lag Panjang Uji

Sebelum menentukan lag optimal, diperlukan untuk menguji lag maksimum. lag maksimum diperoleh jika akar memiliki modulus lebih kecil dari satu dan semuanya terletak di dalam lingkaran satuan, sehingga persamaan VAR yang stabil diperoleh.

Penentuan lag optimal dapat dilakukan untuk menguji lag Kriteria mengukur tinggi pada perkiraan VAR dengan melihat berbagai kriteria yang tercantum dalam hasil tes.

Tabel 4.3 Lag Optimal Panjang Uji

Berdasarkan hasil uji lag optimal di atas dapat dilihat bahwa memenuhi kriteria rasio kemungkinan (LR), Final Prediksi Kesalahan (FPE), Akaike Information Criction (AIC), Schwarz Information Criction (SC), dan Manusia-Quin Criction (HQ) yang terkandung dalam lag 1, sehingga dalam penelitian ini menggunakan lag panjang optimnal 1.

3.uji kointegrasi

Setelah uji stasioner melalui unit akar uji dan tingkat integrasi terpenuhi, maka uji langkah kointegrasi berikutnya. uji kointegrasi bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan keseimbangan jangka panjang antara dua variabel. Untuk menguji kointegrasi antara variabel-variabel yang ada, metode yang digunakan adalah metode Johanson atau Johansen Test.

tabel 4.4 uji kointegrasi

Cointegration Test dilakukan dengan metode Johansen untuk melihat ada tidaknya hubungan jangka panjang dari variabel pma (penanaman modal asing), pmdn (penanaman modal dalam negeri), umk (upah minimum kabupaten) dan tk (tenaga kerja). Dari hasil test tersebut variabel pma, pmdn, umk dan tk memiliki kointegrasi yang dilihat dari nilai Trace Statistic yang lebih besar dari nilai kritis 5% (94.79980> 47.85613) serta nilai Max-Eigen Statistic yang juga lebih besar dari nilai kritis 5% ( 61.45901> 27.58434).

4. Uji VECM

Perkiraan VECM menghasilkan hubungan jangka pendek dan jangka panjang antara variabel (pma, pmdn, umk dan tk) Dalam perkiraan ini, tk (tenaga kerja) adalah variabel dependen, sedangkan variabel independen adalah pma (penanaman modal asing), pmdn (penanaman modal dalam negeri), dan umk (upah minimum kabupaten).VECM memperkirakan hasil dalam menganalisis efek jangka pendek dan jangka panjang dari variabel dependen dan independen. Adanya hubungan jangka pendek dan jangka panjang menunjukan bahwa variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen.

Tabel 4.5 Hasil estimasi jangka pendek

Sumber: Data diolah tahun 2019

Hasil penafsiran masing-masing variabel sebagai berikut:

Varaibel PMA memiliki nilai t-statistik 3,24867> T tabel 1,69389, sehingga karena nilai t-statistik lebih besar dari t-tabel maka hasil perbandingan dari PMA dalam jangka pendek memiliki pengaruh positif dan signifikan sebesar 3,24867, yang berarti jika ada peningkatan investasi asing sebesar satu dolar pada satu bulan sebelum itu akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 3,24867%. Dengan pengaruh investasi asing di pasar tenaga kerja secara signifikan sesuai dengan pendapat Sukirno (2000: 367) bahwa investasi memungkinkan masyarakat untuk terus meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat kegiatan investasi memungkinkan masyarakat untuk terus meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

variabel PMDN memiliki nilai t-statistik 2,82284> T-tabel 1,69389. Jadi karena nilai t-statistik lebih besar dari t-tabel maka hasil dari perbandingan adalah PMDN dalam jangka pendek memiliki pengaruh positif dan signifikan sebesar 2,82284%, yang berarti jika ada peningkatan investasi dalam negeri untuk satu dolar pada bulan sebelumnya akan menaikkan peningkatan tenaga kerja sebesar 2,82284%..

Kabupaten variabel upah minimum memiliki nilai t-statistik-,21858> t-tabel -1,69389.Jadi karena nilai t-statistik lebih besar dari t-tabel, maka hasil perbandingan UMK dalam jangka pendek memiliki efek negatif dan signifikan dari -0,21858, yang berarti dalam kasus kenaikan upah minimum kabupaten satu rupiah dalam satu bulan sebelumnya akan mengurangi penyerapan tenaga kerja sebesar  -0,21858%.

abel 4.6 Hasil estimasi jangka panjang

Sumber: Data diolah tahun 2019

Berdasarkan hasil estimasi VECM yang telah dilakukan dapat diintepresikan sebagai berikut:

Nilai t-statistik dari variabel PMA adalah -0.24994 sedangkan nilai t-tabel adalah -1,69389, Jadi karena nilai t-statistik lebih besar dari t-tabel maka variabel PMA berpengaruh negatif dan signifikan sebesar -0,24994 yang berarti jika ada peningkatan investasi asing meningkat satu dolar dalam satu bulan sebelumnya itu akan mengurangi penyerapan tenaga kerja sebesar -0,24994%., Dari analisis tersebut dapat dilihat bahwa hubungan negatif antara tingkat investasi dengan kerja bertolak belakang dengan teori dikemukakan oleh Harrod Domar, bahwa peningkatan tingkat output dan kesempatan kerja dapat dilakukan dengan akumulasi modal (investasi) dan tabungan.

Nilai t-statistik dari variabel PMDN -0,15376 sedangkan nilai t-tabel adalah -1,69389. Niali sehingga karena t-statistik lebih besar dari t-tabel maka variabel dalam negeri memiliki pengaruh negatif yang signifikan dari -0,15376 yang berarti jika ada peningkatan investasi dalam negeri dalam rupiah di bulan sebelumnya itu akan menurunkan penyerapan tenaga kerja sebesar -0,15376%.Hal ini terjadi karena investasi dalam negeri adalah bidang usaha yang padat modal, sehingga untuk melaksanakan kegiatan mereka, terutama di sektor manufaktur tidak perlu memperpanjang karyawan, karena menjalankan produksi yang mereka dapat menggunakan mesin yang berteknologi maju dan memiliki produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan manusia.

Variabel UMK memiliki nilai t-statistic -0.21858 > t-tabel -1,69389. Sehingga dikarenakan nilai t–statistic lebih besar dari t-tabel, maka hasil perbandingan tersebut UMK dalam jangka pendek mempunyai pengaruh negatif dan signifikan sebesar -0.21858 yang artinya apabila terjadi kenaikan upah minimum kabupaten sebesar satu rupiah pada satu bulan sebelumnnya maka akan menurunkan penyerapan tenaga kerja -0.21858%. Secara teoritis kenaikan upah akan menyebabkan penurunan kuantitas tenaga kerja yang diminta. Jika tingkat upah naik, sementara harga input lainnya tetap, harga tenaga kerja relatif lebih mahal daripada input lainnya. Hal ini mendorong pengusaha untuk menggantikan tenaga kerja relatif mahal dengan input lainnya, yang lebih murah untuk mempertahankan keuntungan. Kenaikan upah juga mendorong perusahaan untuk meningkatkan harga per unit produk sehingga konsumen cenderung mengurangi konsumsi produk ini. Hal ini menyebabkan banyak produk yang tidak menjual, akibatnya produsen terpaksa mengurangi jumlah produksi. Penurunan jumlah produksi pada akhirnya akan mengurangi tenaga kerja yang dibutuhkan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan,Investasi asing dalam jangka pendek berpengaruh positif signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di industri pengolahan. Dalam jangka panjang berpengaruh negatif yang signifikan terhadap penyerapan di industri pengolahan, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di pengaruh positif yang signifikan jangka pendek terhadap penyerapan di industri pengolahan. Dalam jangka panjang berpengaruh sinifikan negatif terhadap penyerapan tenaga kerja di industri pengolahan, upah minimum kabupaten di jangka pendek dan jangka panjang berpengaruh signifikan dan negatif pada penyerapan tenaga kerja di industri pengolahan. Untuk meningkatkan kesempatan kerja, pemerintah pusat dan daerah harus mampu merangsang pertumbuhan ekonomi regional dengan menciptakan iklim investasi yang lebih baik sehingga mereka dapat menciptakan lapangan kerja baru yang padat karya, sehingga tenaga kerja dapat diserap ke dalam pasar tenaga kerja yang akan akhirnya mengurangi pengangguran.

Referensi

Arsyad, Lincolin. 1999. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: Bagian Penerbit. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.

Badan Pusat Statistik, 2018. Mojokerto di Angka 2018.Mojokerto: BPS Mojokerto.

Boediono, 1999. Teori Pertumbuhan Ekonomi. Yogyakarta: BPEE

Bungin, Burhan (2001) Kualitatif dan Kuantitatif Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Gadjah Mada Press.

Gujarati, Damodar N. 2006. Dasar Ekonometrika. Jakarta: penerbit.

Jhingan, ML. 2004. Pembangunan Ekonomi dan Perencanaan. Jakarta: Erlangga

Kuncoro, M. 2003. Pembangunan Ekonomi, Teori, dan Isu Kebijakan. Jogjakarta: YKPN

Ma'mun dan Akhmad Yasin 2003. Pengaruh Investasi dan Tenaga Kerja terhadap PDB Pertanian.

Mankiw, N Gregory. 2000. Makroekonomi, Sixth Edition. Jakarta: Erlangga

Simanjuntak, Payaman. 1998. Pengantar Ekonomi Sumber daya manusia. Jakarta: UI LPEE

Sukirno, Sadono. 2008. Isu 3. Makro Ekonomi Teori Jakarta: Raja Grafindo Persada

Sukirno, Sadono. 2006. Pembangunan Ekonomi: Proses, Masalah dan Kebijakan. Jakarta: LPFE, Universitas Indonesia

Tambunan, T. 2001. Perekonomian Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia

Todaro, M. 2000. Ekonomi untuk Negara Berkembang Suatu Pengantar Prinsip dan Pengembangan Kebijakan. Edisi ketiga. Jakarta: Bumi Literatur