SKRIPSI Jurusan Ekonomi Pembangunan - Fakultas Ekonomi UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PROSPEK KAMPUNG WARNA WARNI JODIPAN BERDASARKAN PEMBANGUNAN EKONOMI LOKAL DAN PEMBANGUNAN EKONOMI KOMUNITAS

M SAHRUL MUBAROK

Abstrak


PROSPEK PENGEMBANGAN KAMPUNG WISATA JODIPAN BERDASARKAN TEROI PEMBANGUNAN EKONOMI LOKAL DAN PEMBANGUNAN EKONOMI KOMUNITAS

M. SAHRUL MUBAROK S1 Ekonomi Pembangunan, Universitas Negeri Malang

E-mail : alung.mubarok87@gmail.com

 

ABSTRAK

Dalam menjadikan kampung wisata yang indah dan di minati oleh para pengunjung di butuhkan pengembangan yang bias dilakukan oleh pemerintah dan para masyarakat yang ada di dalam kampung. Dengan menyatukan visi dan misi serta pembangunan yang berkelanjutan pada mayarakat setempat. Dari sebuah implementasi dan upaya menjadikan kampung wisata yang selalu ingin dikunjungi oleh masyarakat luar dibutuhkan pengembangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membantu agar kampung ini bisa tetap eksis dan diminati oleh para pengunjung dengan melihat seberapa besar prospek yang ada di KWJ (Kampung Wisata Jodipan) ini.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif. Dengan data yang digunakan adalah data sejarah berdirinya kampung wisata, profil kampung, potensi yang bisa dikembangkan di dalam kampung ini yang sampai saat ini belum di manfaatkan seutuhnya. Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data tersebut adalah pengamatan lapangan, wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk mengecek keabsahan data digunakan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dan pengecekan dengan teman sejawat.

 

Kata Kunci: Prospek, Kampung Wisata, Community Economic Development, Local Economic Development

 

PENDAHULUAN

Di Kota Malang ada 72 kampung wisata (Malang Post, 12 November 2017). Kampung Wisata warna warni Jodipan (KWJ) adalah salah satu kampung wisata yang berada di Kota Malang. Kampung wisata ini berdiri sejak tahun 2016. Kampung wisata Jodipan adalah kampung wisata yang menjual warna cat rumah yang berwarna warni sebagai produk utama wisata kampung ini. Peneliti memilih kampung jodipan sebagai objek penelitian dikarenakan kampung jodipan selama ini hanya menjual warna warni cat rumah yang lambat laun akan menjadikan pengunjung bosan. Peneliti memiliki keinginan membuat kampung wisata jodipan ini terus aktif beroperasi di ramainya pariwisata di Kota Malang.

Awalnya jodipan merupakan kampung yang kumuh orang melihatnya saja ogah apalagi untuk berkunjung. Sebelum berhasil dirubah menjadi kampung wisata warna warni, kampung ini adalah kampung yang terlihat kumuh dan tidak terawat.  Seperti lazimnya pemukiman kumuh dikota-kota lain di Indonesia, beragam problematika sosial pun kerap terjadi di kampung tersebut. Angka kemiskinan, jumlah pengangguran, kejahatan, dan fenomena lainnya kerap dijumpai di kampung ini.

Permasalahan sosial tersebut masih ditambah lagi dengan permasalahan keindahan dan rencana tata ruang kota yang sudah disusun oleh pemerintah kota malang. Upaya pemerintah kota malang untuk menjadikan kota malang sebagai kota yang asri dan layak huni sering terbentur dengan permasalahan hunian liar seperti yang sudah terjadi di kampung jodipan tersebut. Kondisi tersebut kemudian disikapi oleh pemerintah kota Malang dengan membuat rencana relokasi pemukiman, untuk selanjutnya dipindah ke rumah susun yang telah disediakan.

Permasalahan tersebut ternyata tidak luput dari perhatian kalangan akademisi. Pada tahun 2016 sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang mempunyai gagasan untuk membuat sebuah project sosial yang diharapkan mampu memberi jawaban atas permasalahan tersebut, yakni pengecatan masal rumah-rumah penduduk di lingkungan tersebut. Gagasan itu disambut oleh warga dengan sangat baik. Dengan melibatkan segenap instrument masyarakat dan sponsor, gagasan tersebut bisa segera direalisasikan. Pada bulan desember 2016, program pengecatan kampung tersebut resmi dimulai.

Program tersebut ternyata mampu menjawab permasalahan yang sebelumnya terjadi, baik dari segi sosial ekonomi, maupun tata ruang kota. Kampung kumuh yang dulunya kurang menarik untuk dikunjungi, apalagi dijadikan tempat hunian, sekarang berubah menjadi sebuah kampung yang indah dan menarik banyak minat orang.

Setelah adanya Kampung Wisata Jodipan, kondisi rumah penduduk lebih indah dari sebelumnya. Lantaran rumah rumah penduduk di cat sedemikian rupa dengan warna warni pada dinding dinding rumah. Ditambah dengan adanya seni-seni mural yang terlihat di sudut-sudut kampung menjadi pelengkap keindahan kampung tersebut. Mulai dari gang masuk, jalan, hingga rumah-rumah penduduk. Ini lah yang menajdikan ketertarikan tersendiri bagi wisatawan yang akan berkunjung ke lokasi tersebut.

Masyarakat Kampung Wisata Jodipan memiliki mata pencaharian yang berbeda-beda, ada yang bekerja sebagai pegawai/karyawan, pedagang, jasa/montir, dan sebagainya. Sehubungan adanya Kampung Wisata Jodipan, maka masyarakat mempunyai penghasilan tambahan untuk memperbaiki kehidupan keluarga yang bermukim di kawasan . Diharapkan pula adanya Kampung Wisata Jodipan dapat memberikan kontribusi positif bagi perekonomian masyarakat terlebih Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Malang dan juga membawa tren positif bagi manajemen pengelolaan Kota Kreatif.

Pengembangan Kota Kreatif inilah sebagai pendorong pemerataan pembangunan melalui percepatan pertumbuhan pusat-pusat perekonomian dengan menggali potensi dan keunggulan daerah. Karena berbasis pada potensi lokal sebagai keunggulan dan identitas dasar, maka secara efektif dapat meningkatkan nilai tambah (value added) dan daya saing sebagai pencapaian pembangunan berkelanjutan.

Berdasarkan informasi yang didapatkan dilapangan, terdapat beberapa masalah diantaranya kurangnya fasilitas yang memadahi seperti minimnya toilet umum, tepat beristirahat buat para pengunjung, kurangnya pusat informasi mengenai Kampung Wisata Jodipan, sehingga wisatawan tidak mendapatkan informasi yang ingin mereka gali. Tidak adanya orang berjualan oleh-oleh khas Kampung Wisata Jodipan, sehingga pengunjung yang datang ke Kampung ini tidak mendapatkan cinderamata khas dari kampung ini.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Penggumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumen.

Penelitian ini dilakukan di Kampung Wisata Jodipan, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data primer dan data skunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penlitian kualitatif pada umumnya menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi, atas dasar konsep tersebut, maka penelitian ini menggunakan ketiga teknik pengumpulan data tersebut.

Jenis pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah  eksploratif. Pendekatan ekploratif bertujuan untuk memetakan suatu objek secara relatif mendalam atau dengan kata lain pendekatan ekploratif adalah penelitian yang dilakukan untuk mencari sebab atau hal – hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu dan dipakai manakala kita belum mengetahui secara spesifik mengenai objek penelitian kita.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

•Prospek Pengembangan Kampung Wisata Jodipan Berdasarkan Local Economic Development (LED)

Prospek, keberadaan, dan eksistensi kampung wisata Jodipan jika didasarkan pada konsep Local Economic Development (LED) dalam penelitian ini mengacu pada peranan pemerintah serta organisasi masyarakat dalam membangun perekonomian yang ada di wilayah tersebut. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut.

a. Peran Pemerintah

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti di lapangan, beberapa program yang berhasil dijalankan oleh pemerintah untuk mengembangkan kawasan wisata Jodipan adalah dengan membangun jembatan kaca di bantaran sungai antara Kampung Wisata Jodipan dengan Kampung 3D. Pemerintah juga memberikan pelatihan kepada ibu-ibu melalui Dinas Koperasi dan Usaha Mikro yang dilakukan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro rutin  3 bulan sekali.

Selain itu pemerintah juga memberikan peran serta yang dilakukan untuk pengembangan kampung wisata di desa Jodipan ini  antara lain: mengadakan work shop pembuatan kerajinan tangan, pembinaan usaha kecil, pembinaan pengelolaan kampung wisata, pembinaan bahasa Inggris dalam rangka persiapan menyambut wisatawan mancanegara, pembinaan pengelolaan perpustakaan umum, dan pembinaan tentang penghijauan dan perawatannya. Sehingga warga yang ingin mengembangkan kampungnya menjadi icon kebanggaan kota Malang memiliki referensi yang jelas dan terarah.

b. Organisasi Masyarakat

Yang dimaksud dengan organisasi masyarakat disini adalah sekumpulan warga yang bekerja untuk kepentingan kampung wisata jodipan dengan tujuan untuk memajukan dan menjaga keindahan yang diberikan oleh kampung wisata jodipan untuk para pengunjung.

Adapun beberapa kegiatan para masyarakat yang menjadikan para pengunjung KWJ betah dan ingin kembali ke kampung ini adalah dengan mereka membuka suatu usaha yang mensuport pengunjung dalam berwisata, seperti berjualan makanan, menyewakan camera, menyediakan toilet umum dan menyediakan mushola.

Kegiatan lain yang dilakukan oleh organisasi masyarakat yang ada di sini adalah mereka mengikuti pelatihan pelatihan yang diberikan oleh pemerintah untuk membuat suatu kerajinan. Dengan bertambahnya ilmu yang di miliki per individu ini membuat perekonomian di kampung ini meningkat. Hal ini dikarenakan para pengerajin yang ada di kampung ini membuat hasil karya mereka untuk diperjual belikan di kampung wisata ini.

Menurut peneliti ada beberapa upaya lain yang bisa dilakukan oleh pemerintah. Salah satu diantaranya adalah  dengan mengandeng warga setempat untuk membuat acara berupa pertunjukan seni, pasar murah, acara tematik, atau acara lain yang bersifat mengundang kehadiran banyak orang untuk berkunjung ke kampung wisata warna-warni Jodipan. Acara ini dapat digelar setiap minggu atau di waktu-waktu tertentu, misalnya pada saat perayaan hari jadi kota Malang. Dengan diadakannya acara khusus ini pengunjung yang datang tentu akan semakin banyak. Tentu saja ini akan membawa dampak positif secara langsung bagi kampung wisata warna-warni Jodipan, berupa meningkatnya pendapatan warga kampung secara umum.

•Prospek Pengembangan Kampung Wisata Jodipan Berdasarkan Community Economic Development (CED)

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Kampung Wisata Jodipan melalui observasi dan wawancara, peneliti menemukan beberapa aspek yang mengambarkan Community Economic Development (CED) sebagai berikut:

a. Kondisi Organisasi Masyarakat

Kampung Wisata Jodipan memiliki salah satu organisasi masyarakat di luar pemerintah yang bertugas sebagai pengelola, pengatur dan pengembangan kawasan wisata tersebut. Organisasi ini diketuai oleh Bapak Ismail Marzuki yang merupakan ketua Rukun Tetangga (RT) 7. Organisasi ini dibentuk setelah terbentuknya Kampung Wisata Warna-warni. Hal ini diawali dari inisiatif Bapak Ismail Marzuki untuk membentuk pengelolah KWJ. Setelah diadakan musyawarah, kemudian ditentukan beberapa orang yang mewakili masyarakat sekitar untuk mengelola organisasi tersebut.

Untuk mengelola kawasan wisata tersebut, Organisasi warga membagi tugas antara lain: untuk ketua dipercayakan kepada para ketua Rukun Tetangga (RT), kemudian di bawahnya terdapat sub bagian yang terdiri dari keamanan yang diambil dua orang tiap Rukun Tetangga (RT), bagian sekretaris, keamanan dan bagian pemasaran. Adapun ketua Rukun Warga (RW) menjadi penasehat organisasi tersebut. Organnisasi ini berada dibawah naungan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) kelurahan Jodipan, yang bertugas membimbing, mengawasi dan memberdayakan masyarakat kelurahan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat kelurahan.

Dari hasil observasi dan wawancara peneliti dengan beberapa warga, ditemukan beberapa partisipasi masyarakat yang ada di kampung warna warni yaitu:

1. Jasa Penjaga Loket Masuk

Jasa ini merupakan inisiatif dari organisasi kampung warna warni yang diketuai oleh Ismail Marzuki. Menurut beliau, pada awalnya untuk masuk kawasan wisata ini tidak dipungut biaya karena ketika kampung ini mulai dipercantik dan dibenahi, tidak ada niat serius untuk dijadikan kawasan pariwisata. Setelah banyaknya pengunjung yang datang di kawasan tersebut dan banyaknya fasilitas yang butuh untuk diperbaiki, sedangkan tidak ada dana untuk memperbaikinya, maka beliau melalui organisasi warga kampung membuat loket masuk di kawasan wisata tersebut.

Loket ini terbagi menjadi 4 tempat berdasarkan pintu masuk kawasan tersebut. Untuk masuk ke dalam kawasan wisata kampung Warna-warni, pengunjung diwajibkan untuk membeli satu stiker dengan harga Rp. 3.000,- (tiga ribu Rupiah) per orang. Adapun bagi masyarakat sekitar, tamu warga, dan anak sekolah tidak dipungut biaya masuk.

2. Jasa Penjaga Toilet Umum

Toilet umum menjadi salah satu fasilitas wajib bagi setiap tempat wisata. Menurut keterangan Ismail Marzuki, keberadaan Toilet umum sudah ada sebelum adanya kampung warna warni. Toilet umum ini semula dipakai untuk kegiatan MCK para warga dan tidak dipungut biaya. Semenjak dibentuknya kampung warna-warni, beliau melihat bahwa dibutuhkan perbaikan dan perawatan toilet tersebut karena fasilitas tersebut sangat dibutuhkan para pengunjung. Oleh karena itu, beliau menugaskan para ibu PKK yang tidak berjaga di loket masuk untuk menjaga dan membersihkan toilet tersebut.

Adapun biaya yang harus di keluarkan para pengunjung yang ingin menggunakan toilet umum ini sebesar Rp. 2000,- (dua ribu rupiah). Di kawasan wisata jodipan ini terdapat tiga tempat toilet umum yang telah disediakan oleh pengurus kampung wisata untuk para pengunjung. Letak toilet umum ini ada di setiap masing-masing RT. Hasil dari pengelolaan toilet umum tersebut kemudian dipergunakan untuk berbagai kebutuhan, diantaranya adalah untuk pembelian mesin pompa air, listrik dan perawatan toilet umum. Selain itu, hasil dari pengelolaan toilet umum tersebut juga untuk memberikan pemasukan tambahan bagi para ibu anggota PKK yang bertugas.

3. Jasa Penjaga Parkir

Jasa ini muncul atas inisiasi organisasi kampung warna warni. Mereka melihat bahwa setelah dibentuknya Kampung Warna Warni, banyak para wisatawan yang datang dengan membawa kendaraan bermotor sedangkan untuk parkir belum tertata dengan rapi. Oleh karena itu mereka menggerakkan masyarakat untuk mengatur tempat parkir agar tertata rapi sehingga memudahkan para wisatawan untuk memarkirkan kendaraan mereka.

Semenjak adanya parkir, permasalahan warga yang tidak memiliki pekerjaan di kampung tersebut teratasi, mereka diarahkan kepada pekerjaan jasa parkir. Berdasarkan pengamatan peneliti, untuk parkir jenis kendaraan bermotor dikenakan biaya Rp. 2000 untuk roda dua dan Rp. 5000 untuk roda empat. Lahan parkir yang tersedia di kawasan tersebut terbagi menjadi 3 tempat di sekitar kawasan tersebut. adapun untuk mengatur anggota parkir, mereka membagi petugas parkir menjadi dua kelompok yaitu A, B dan C. Mereka berjaga secara bergiliran agar semua mendapatkan jatah yang sama.

Menurut peneliti, warga memiliki peluang lain untuk mendapatkan tambahan penghasilan, yang bisa mereka lakukan dengan cara bekerja secara kelompok. Mereka-mereka yang sedang tidak mendapat giliran bertugas sebenarnya mempunyai waktu luang yang bisa dimanfaatkan bersama untuk membuat suatu aktivitas prakarya lain yang layak untuk dijual, baik untuk dijual didalam wilayah kampung warna-warni maupun dijual keluar wilayah kampung warna-warni. Misalnya pembuatan jajan oleh-oleh dan merchandise. Akan tetapi untuk saat ini, pemanfaatan waktu luang itu masih belum dilakukan dengan maksimal. Diperlukan campur tangan kaum akademisi, praktisi dan pemerintahan untuk menemukan langkah kreatif sebagai solusi dari permasalahan tersebut.

b. Pemberdayaan Masyarakat

Kampung Wisata Warna-Warni memberikan dampak pada kesempatan dalam mengembangkan ekonomi pada warga setempat. Salah satu kesempatan tersebut melalui produksi. Hal ini terbukti dengan hasil wawancara dan observasi peneliti bahwa terdapat pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sasaran program ini adalah bagaimana para warga mampu menciptakan usaha industri rumahan yang mampu dijual di masyarakat secara mandiri. Ada beberapa produk yang telah berjalan diantaranya adalah pembuatan kue coklat dan es krim.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan Teori Local Economic Development

Prospek, keberadaan, dan eksistensi kampung wisata Jodipan jika didasarkan pada konsep Local Economic Development (LED) dalam penelitian ini mengacu pada peranan pemerintah serta organisasi masyarakat dalam membangun perekonomian yang ada di wilayah tersebut.

1. Peran Pemerintah

Peran pemerintah dalam pembangunan perekonomian daerah adalah dengan memberikan pelatihan-pelatihan, menggadakan work shop, dan menambah sarana dan prasarana. Pemerintah daerah telah memberikan pelatihan kepada masyarakat Jodipan setiap 3 bulan sekali. Pemerintah juga sudah membantu pengembangan KWJ dengan membangun jembatan kaca yang menghubungan antara KWJ dengan Kampung 3D.

2. Organisasi Masyarakat

Pemerintah memberikan kepercayaan penuh kepada warga setempat. Pemerintah hanya berperan sebagai pendukung  bagi mereka. Hal ini dijelaskan oleh bapak Pairin selaku ketua RW 02 yang menyatakan bahwa setelah diresmikannya kawasan tersebut, pemerintah melalui Bapak Walikota mengatakan bahwa kawasan wiata tersebut diserahkan semua kepada warga. Dengan diberinya hak untuk mengelolah KWJ ini para ketua RT dan ketua RW yang berada di KWJ ini melakukan rapat dengan semua para warga untuk membuat suatu kepengurusan untuk mengurus KWJ yang nantinya para pengurus ini bertanggung jawab atas semua yang ada di KWJ.

Berdasarkan Teori Community Economic Development

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Kampung Wisata Jodipan melalui observasi dan wawancara, peneliti menemukan beberapa aspek yang mengambarkan Community Economic Development (CED)

a. Kondisi Organisasi Masyarakat

Kampung Wisata Jodipan memiliki salah satu organisasi masyarakat di luar pemerintah yang bertugas sebagai pengelola, pengatur dan pengembangan kawasan wisata tersebut. Organisasi ini diketuai oleh Bapak Ismail Marzuki yang merupakan ketua Rukun Tetangga (RT) 7. Untuk mengelola kawasan wisata tersebut, Organisasi warga membagi tugas antara lain: untuk ketua dipercayakan kepada para ketua Rukun Tetangga (RT), kemudian di bawahnya terdapat sub bagian yang terdiri dari keamanan yang diambil dua orang tiap Rukun Tetangga (RT), bagian sekretaris, keamanan dan bagian pemasaran. Adapun ketua Rukun Warga (RW) menjadi penasehat organisasi tersebut.

Organisasi warga menginginkan adanya partisipasi dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh warga, bukan hanya sebagian. Salah satu penyebabnya adalah karena tidak semua warga memiliki kemampuan untuk membangun sebuah usaha di daerah tersebut. Oleh karena itu beberapa warga yang kurang mampu mulai ditugaskan ke dalam sektor jasa.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti ada beberapa partisipasi aktif yang telah dilakukan oleh masyarakat yaitu, penjagaan loket, parker, maupun toilet. Untuk penjagaan loket dan toilet ada beberapa ibu-ibu PKK yang bersedia untuk menjaga loket tersebut, sedangkan untuk penjagaan parkir ada beberapa pemuda kampung yang bertugas. Mereka yang bertugas ini sebelum adanya KWJ tidak memiliki pekerjaan, setelah adanya KWJ ini mereka kini memiliki pekerjaan yang bias dibilang cukup untuk memenuhi kebutuhan tiap hari.

b. Pemberdayaan Masyarakat

 

Kampung Wisata Warna-Warni memberikan dampak pada kesempatan dalam mengembangkan ekonomi pada warga setempat. Salah satu kesempatan tersebut melalui produksi. Hal ini terbukti dengan hasil wawancara dan observasi peneliti bahwa terdapat pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sasaran program ini adalah bagaimana para warga mampu menciptakan usaha industri rumahan yang mampu dijual di masyarakat secara mandiri. Ada beberapa produk yang telah berjalan diantaranya adalah pembuatan kue coklat dan es krim.