SKRIPSI Jurusan Ekonomi Pembangunan - Fakultas Ekonomi UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Dampak Implementasi Kebijakan Makroprudensial Bagi Sektor Perbankan di Indonesia (Studi Pada Perbankan di Kota Malang)

Feny Putri Emyliani

Abstrak


Sistem keuangan merupakan fundamental perekonomian. Penting untuk menjaga kestabilan sistem keuangan karena munculnya gangguan yang dapat membuat ketidakstabilan pada sistem keuangan akan menimbulkan dampak yang sangat panjang dan dapat berakhir pada terjadinya krisis. Salah satu penyebab krisis adalah risiko sistemik. Kebijakan makroprudensial dirancang untuk tujuan memitigasi risiko sistemik. Risiko sistemik merupakan risiko yang memiliki efek domino dan bersifat menular dari institusi satu ke institusi yang lain. Hal ini disebabkan karena adanya keterkaitan antar institusi sehingga jika terjadi gejolak pada satu institusi akan mempengaruhi institusi yang lain. Kebijakan makroprudensial dibentuk dengan berbagai instrumen makroprudensial ditujukan salah satunya adalah untuk meredam perilaku prosiklikalitas institusi keuangan khususnya perbankan dalam menyalurkan kredit.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptifdan metode yang digunakan adalah etnografi, yaitu penelitian tentang data yang dikumpulkan dan dinyatakan dalam bentuk kata-kata dan gambar dengan usaha mendeskripsikan kebudayaan dan aspeknya dengan meletakkan dan mempertimbangkan masalah secara menyeluruh. Metode pengumpulan data adalah dengan melakukan wawancara kepada otoritas terkait kebijakan makroprudensial yaitu pejabat dari Kantor Bank Indonesia Malang, perwakilan Bank Umum dan masyarakat. Jumlah masyarakat yang menjadi informan adalah 15 orang dengan kriteria sedang proses melunasi KPR atau telah melunasi KPR. Pemilihan 15 orang didasarkan pada jawaban yang diberikan sudah berulang dari informan satu sampai ke informan sekian jadi pengambilan informan di masyarakat dianggap sudah cukup.

Hasil dari penelitian ini adalah secara individual perbankan tidak terdapat dampak yang terlihat karena sasaran yang dituju oleh instrumen makroprudensial masih tetap menunjukkan progres yang positif. Tetapi jika dibandingkan dengan perbankan secara industri atau keseluruhan penerapan kebijakan makroprudensial nyata dapat berpengaruh khususnya pada penyaluran kredit perbankan karena adanya aturan LTV. Respon masyarakat terhadap kebijakan penetapan LTV adalah mayoritas tidak keberatan dengan pemberlakukan batas maksimal kredit perumahan oleh perbankan dikarenakan jangka waktu kredit yang relatif lama.  Selain itu, instrumen yang lain yaitu GWM-LFR tidak memberikan dampak karena bank masih bisa menjaga LFR bank diantara batas bawah dan batas atas LFR yang telah ditetapkan sehingga besaran GWM-LFR adalah 0%. Instrumen Capital Buffer yang masih pada level 0% bertujuan untuk memberikan kelonggaran kepada bank untuk tidak membentuk penyangga modal sehingga penyaluran kredit dapat dioptimalkan. Kondisi perekonomian yang lesu pada hakikatnya tidak disertai dengan menurunnya tingkat konsumsi maupun daya beli masyarakat sehingga perbankan masih leluasa untuk menyalurkan kredit.