SKRIPSI Jurusan Ekonomi Pembangunan - Fakultas Ekonomi UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

POLA MODAL SOSIAL DAN KAITANNYA DENGAN KEBERLANGSUNGAN USAHA (Studi Pada Pengusaha Keripik Tempe Di Desa Karangtengah Prandon Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi)

Annisa Ulhidayah Dwiyanti

Abstrak


ABSTRAK

 

Dwiyanti, Annisa Ulhidayah. 2017. Pola Modal Sosial dan Kaitannya dengan Keberlangsungan Usaha (Studi Pada Pengusaha Keripik Tempe di Desa Karangtengah Prandon Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi.  Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Farida Rahmawati., S.E., M.E.

 

Kata kunci: Modal Sosial, Keberlangsungan Usaha, Pengusaha keripik tempe.

 

            Modal sosial dibutuhkan oleh pengusaha sebagai strategidalam mengembangkan Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM). Permasalahan di sentra industri keripik tempe Desa Karangtengah Prandon Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi adalahpemasaran yang didominasi oleh pengepul dan homogenitas produk. Meski demikian, usaha tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Berkaitan dengan hal itu, diperlukan pembahasan mengenai modal sosial dalam keberlangsungan usaha tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk modal sosial, keberlangsungan usaha serta hubungan modal sosial dan keberlangsungan usaha pengusaha keripik tempe.

            Penelitian ini menggunakan pendekatankualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalahstudi kasus karena lebih banyak berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan “how” (bagaimana), “why” (mengapa), serta pada tingkatan tertentu juga menjawab pertanyaan “what” (apakah), dalam kegiatan penelitian.Sumber data dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis, foto, dan statistik yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi dan dianalisis dengan tahapan reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasinya. Informan didapatkan melalui teknik purposive sampling kemudian dilanjutkan dengan teknik snowball sampling. Sanjutnya, untuk pengecekan keabsahan data peneliti melakukan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan/keajegan pengamatan, triangulasi serta analisis kasus negatif.

            Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh tiga kesimpulan penelitian sebagai berikut. Pertama, bentuk modal sosial pengusaha keripik tempe adalah kepercayaan (trust), jaringan (network), dan hubungan timbal balik (reciprocal). Kepercayaan pengusaha dalam hubungan sosial didasari oleh kedekatan hubungan, kesamaan lingkungan tempat tinggal, rasa hormat, rasa saling membutuhkan dan riwayat kehidupan sosial individu. Jaringan pengusaha terdapat dalam organisasi formal yakni Koperasi Pengrajin Tahu Tempe Indonesi (KOPTI) dan Dewan Kesenian Daerah (DKD) serta organisasi kemasyarakatan yakni Ibu-Ibu PKK dan arisan Bapak-Bapak. Hubungan timbal balik pengusaha didasari oleh rasa sungkan, keinginan menjaga hubungan sosial, bentuk amal ibadah, dan keinginan mendapat balasan.

            Kedua, keberlangsungan usaha pengusaha keripik tempe dapat dilihat dari: a) keberlangsungan sumber daya manusia relatif menguntungkan ditandai dengan tenaga kerja yang didapat dari lingkungan terdekat serta sudah memiliki kemampuan dasar membuat keripik tempe. Tenaga kerja sulit dicari pada momen tertentu dengan upah yang relatif lebih mahal dari hari biasa, dan b) keberlangsungan pemasaran relatif beragam yakni secara langsung, dititipkan, serta melalui jasa pengepul. Pengusaha menilai persaingan usaha relatif semakin tidak sehat.

            Ketiga, secara umum modal sosial dalam bentuk kepercayaan, jaringan, dan hubungan timbal balik berpengaruh positif terhadap keberlangsungan usaha pengusaha keripik tempe di Desa Karangtengah Prandon Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi. Namun, salah satu bentuk modal sosial yakni hubungan timbal balik berpengaruh negatif terhadap salah satu aspek keberlangsungan usaha yakni keberlangsungan pemasaran. Pada dasarnya, hal tersebut disebabkan karena pengusaha menganggap pengusaha lain sebagai pesaing

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ABSTRACT

 

Dwiyanti, Annisa Ulhidayah. 2017. Patterns of Social Capital and its Relation to Business Continuity  (Study on Entrepreneurs tempeh chips in The village of Karangtengah Prandon District of Ngawi Sub-Province of Ngawi. Mini Thesis, Departement of Economic Development, Faculty of Economic, State University of Malang. Adviser: Dr. Farida Rahmawati., S.E., M.E.

 

Keywords: social capital, business continuity, entrepreneurs tempeh chips.

         

          Social capital is needed by entrepreneur as a strategy in developing a small  and medium entreprises.The problems in the tempeh chips industrial in the village of Karangtengah Prandon District of Ngawi Sub-Province Ngawi are marketing dominated by collectors and product homogeneity. However, these business are still going on until today. In that regard, it would require a discussion about social capital within the business continuity. This research is purpose for  knowing a form of social capital, business continuity and the relation of social capital and business continuity an entrepreneurs tempeh chips.

          This study uses qualitative research approach with a case study conducted because its more triying to answer a quetions “how”, “why”, and at current stage it also answer a question of “what” in research activity. The source of the data in the study are the words and actions, the written data resources, photos, and statisticswere collected through observation, interviews and documentation and analyzed by stage of data reduction, data presentation and conclusion and verification, the informant obtained through purposive sampling technique was followed by a snowball sampling technique.Furthermore, for checking the validity researcher  conducted the extension of participation, persistence / constancy observation, triangulation and analysis of negative cases.

          Based on the results of  these data analysis, obtained three conclusions as follows. Firstly, forms of social capital entrepreneurs tempeh chipsare a) trust,  b) network, and c) reciprocal. Entrepreneurs trust in social relations based on the closeness of the relationship, the similarity neighborhood, respect, mutual interests and history of an individual's social life. Network entrepreneurs contained in the formal organization Indonesian Tempeh Tofu Cooperativ (ITTC) and the Regional Arts Council (RAC) as well as the community organization family walfare system associations consist of mothers, rotating saving and credit association consist of fathers. Entrepreneurs reciprocal based on shyness, awareness to maintain social relationships, forms of acts of worship, aswell as the desire to receive a reply.

          Secondly, business continuity of entrepreneurstempeh chips can be seen from: a continuity of human resources is relatively profitablecharacterized by labor derived from the closest neighborhoodand already have basic skills to make tempeh chips, Labor is hard to find at a specific moment in wages are relatively more expensive than usual, and b) continuity of marketing is relatively various that is directly, entrusted, as well as through collectors. Entrepreneursconsidered thatthe competitionis relatively less healty.

          Thirdly, In general social capital in the form of trust, network, and reciprocal have some positive effect on the continuity of business entrepreneurs tempeh chips in the village of Karangtengah Prandon District of Ngawi Sub-Province of Ngawi. However, one form of social capital that is has a negative effect on the continuity of marketing because entrepreneurs consider the other entrepreneurs as a competitors.