SKRIPSI Jurusan Ekonomi Pembangunan - Fakultas Ekonomi UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Analisis Efektivitas Penggunaan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) Berbasis Uang Elektronik Sebagai Alat Pembayaran Non Tunai Pada Mahasiswa Ekonomi Pembangunan.

FRANSISCHA MUSTIKA AYU WENING

Abstrak


Kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam mendorong Less Cash Society (LCS) ini sebenarnya telah dimulai sejak 2006 dan membuat Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) pada 14 Agustus 2014. GNNT ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan instrumen non tunai, sehingga berangsur-angsur terbentuk suatu komunitas atau masyarakat yang lebih menggunakan instrumen non tunai (Less Cash Society/LCS).Bank Indonesia (BI) pada Oktober 2013 sudah masuk ke kampus dan menunjuk Universitas Indonesia sebagai proyek percontohan penerapan program transaksi tanpa menggunakan uang tunai. Banyak universitas lain yang menggunakan kartu mahasiswa terintegrasi uang elektronik bekerja sama dengan bank. Salah satunya adalah Universitas Negeri Malang           

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian ini mendeskripsikan data secara objektif terhadap penggunaan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) terintegrasi e-money yang dilihatdari aspek penggunaan. Lokasi penelitian bertempat di Fakultas Ekonomi Univeritas Negeri Malang dengan sumber data diperoleh dari mahasiswa Ekonomi Pembangunan.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) berbasis uang elektronik untuk alat pembayaran non tunai dikatakan mahasiswa kurang efektif, hal ini dapat dilihat dari indikator yang digunakan yaitu keamanan, efisiensi, pencapaian tujuan, integrasi dan adaptasi. Banyaknya mahasiswa yang tidak pernah menggunakannya untuk bertransaksi sehari-hari, namun mahasiswa hanya menggunakannya untuk keperluan akademis. Adapun faktor kendala efektivitas penggunaan KTM berbasis uang elektronik untuk alat pembayaran non tunai adalahkurangnya sosialisasi terhadap mahasiswa, ketakutan akan kehilangan produk,pola pikir mahasiswa dan pedagang,tidak adanya mesin untuk melakukan top up atau isi ualang e-money,adanya alat pembayaran non tunai lainnya dan kurangnya kerjasama antar pihak yang terkibat dalam program ini.