SKRIPSI Jurusan Ekonomi Pembangunan - Fakultas Ekonomi UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PERAN BANK SAMPAH DALAM PEMBANGUNAN YANG BERKELANJUTAN DI DAERAH (STUDI KASUS DI KOTA KEDIRI)

Dewi Wungkus Antasari

Abstrak


ABSTRAK

 

Antasari, Dewi Wungkus. 2013. Peran Bank Sampah dalam Pembangunan yang Berkelanjutan di Daerah (Studi Kasus di Kota Kediri). Skripsi, Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Prih Hardinto, M. Si, (II) Dr. Imam Mukhlis, S. E, M. Si.

 

Kata Kunci: Bank Sampah, Pembangunan Berkelanjutan, Pemberdayaan.

 

Bank Sampah merupakan suatu program baru di Kota Kediri yang menggunakan sistem 3R (reduce, reuse, dan recycle). Program ini adalah sebuah realisasi dari sistem pengelolaan sampah baru dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Kediri. DKP menggunakan sistem “himpun- angkut- buang” sebelum menggunakan sistem baru tersebut. Akan tetapi dampaknya adalah membuat TPA menggunung dan terlihat seperti gunungan sampah. Hal tersebut tentunya justru menimbulkan masalah baru di Kota Kediri. Oleh karena itu DKP menggalakkan sistem pengelolaan sampah baru sesuai dengan Perarutan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2012 dan Undang- Undang Nomor 18 Tahun 2008. Walaupun 3R merupakan program dari DKP, namun Bank Sampah didirikan secara pribadi atau swasta. Bank Sampah didirikan oleh masyarakat dari setiap kelurahan di Kota Kediri. Akan tetapi DKP tetap melakukan kontrol serta memberikan bantuan pada Bank Sampah yang membutuhkannya. Kegiatan- kegiatan yang dilakukan Bank Sampah meliputi menabung sampah, simpan- pinjam, dan kegiatan 3R.

Penelitian ini dilaksanakan di DKP Kota Kediri, Bank Sampah Hijau Daun, Bank Sampah Sriwilis, Bank Sampah Flamboyan, dan warga sekitar, selama satu bulan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari beberapa wawancara yang dilakukan pada pihak DKP, pengeloa Bank Sampah, dan warga sekitar. Data sekunder diperoleh dari dokumen DKP yang direkomendasikan dalam Undang- Undang Nomor 18 Tahun 2008 dan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2012.

Berdasarkan hasil analisis, dapat ditarik empat kesimpulan, diantaranya: Pertama, Bank Sampah akan berdiri jika terdapat suatu pengelola, nasabah, dan sampah- sampah yang akan ditabungkan. Bank Sampah didirikan pada tiap kelurahan di Kota Kediri atas dukungan dan arahan DKP Kota Kediri. Mekanisme menabung sampah diantaranya, nasabah datang pada Bank Sampah dengan membawa sampah yang telah dipilah- pilah maupun sampah yang telah dipilah. Pengelola melakukan penimbangan sampah kemudian dicatat dalam buku tabungan nasabah sehingga nasabah dapat mengambil hasil tabungannya ketika tabungan cukup banyak terkumpul. Kedua, peran masyarakat dalam program Bank Sampah sangat penting. Masyarakat Kota Kediri tergolong berpartisipasi aktif dalam program Bank Sampah. Hal ini dapat dilihat dari jumlah nasabah dari tiap Bank Sampah di Kota Kediri. Ketiga, dari beberapa proses yang dilakukan dalam Bank Sampah dapat diketahui bahwa kegiatan- kegiatan tersebut merupakan misi penyelamatan lingkungan. Karena manusia tidak akan bisa melakukan aktivitas- aktivitasnya jika lingkungan tercemar. Sehingga pembangunan tidak terhambat. Kesimpulan terakhir, Bank Sampah di Kota Kediri menggunakan Pendekatan Partisipatif Struktural. Bank Sampah di Kota Kediri memperdayakan masyarakatnya dalam pelaksanaannya, dan DKP sebagai fasilitator serta memberikan bantuan pada Bank Sampah di Kota Kediri.