SKRIPSI Jurusan Ekonomi Pembangunan - Fakultas Ekonomi UM, 2008

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penerapan pembelajaran kooperatif model roundtable dalam pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar ekonomi siswa kelas VII SMPN 4 Malang

Maulida Sulastiani

Abstrak


Berdasarkan obeservasi awal diketahui bahwa pembelajaran di kelas VII C SMP Negeri 4 Malang kurang menarik motivasi dan perhatian siswa dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Hasil belajar siswa dalam kelas belum memenuhi standar minimum (SKM) yaitu 72 ke atas. Upaya penibgkatan motivasi dan hasil belajar ekonomi siswa dilakukan pembelajaran kooperatif model Roundtable dalam pembelajaran berbasis masalah.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang penerapan pembelajaran kooperatif model Roundtable dalam pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 4 Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif yang dilaksanakan dalam 2 siklus melalui 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII C SMP Negeri 4 Malang yang berjumlah 36 siswa, yang terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, rubrik dan tes pada akhir setiap siklus. Data motivasi dan hasil belajar siswa dianalisis secara deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian yang diperoleh dari skor klasikal motivasi belajar siswa aspek minat pada tahap penyajian kelas siklus 1 yaitu 47 % dengan kategori cukup dan pada siklus 2 meningkat sebesar 73 % dengan kategori baik (mengalami peningkatan sebesar 26%). Pada tahap kerja kelompok siklus 1 sebesar 47 % dengan kategori cukup dan pada siklus 2 meningkat sebesar 60% dengan kategori cukup (mengalami peningkatan sebesar 13%). Pada tahap penutup siklus 1 yaitu 40% dengan kategori kurang dan pada siklus 2 meningkat sebesar 60% dengan kategori cukup (mengalami peningkatan sebesar 20%). Aspek perhatian Pada tahap penyajian kelas (Pendahuluan) siklus 1 yaitu sebesar 60% dengan kategori cukup dan pada siklus 2 meningkat menjadi 80% dengan kategori baik (mengalami peningkatan sebesar 20%). Pada tahap kerja kelompok (inti) siklus 1 yaitu sebesar 60% dengan kategori cukup dan pada siklus 2 meningkat menjadi 70% dengan kategori baik (mengalami peningkatan sebesar 10%). Pada tahap penutup (kesimpulan) siklus 1 yaitu sebesar 50% cukup dan pada siklus 2 meningkat menjadi 80% dengan kategori baik(mengalami peningkatan sebesar 30%). Aspek konsentrasi Pada tahap penyajian kelas (Pendahuluan) siklus 1 yaitu sebesar 60% dan pada siklus 2 meningkat menjadi 70% ( mengalami peningkatan sebesar 10%). Pada tahap kerja kelompok (inti) siklus 1 yaitu sebesar 50% dan pada siklus 2 meningkat menjadi 70% ( mengalami peningkatan sebesar 20%). Pada tahap penutup (kesimpulan) yaitu sebesar 40% dan pada siklus 2 meningkat menjadi 60% ( mengalami peningkatan sebesar 20%) . Aspek ketekunan pada Pada tahap penyajian kelas (Pendahuluan) siklus 1, siklus 1 yaitu sebesar 70% dan pada siklus 2 meningkat menjadi 80% ( mengalami peningkatan sebesar 10%). Pada tahap kerja kelompok (inti) siklus 1 yaitu sebesar 55% dan pada siklus 2 meningkat menjadi 70% ( mengalami peningkatan sebesar 15%). Pada tahap penutup (kesimpulan) siklus 1 yaitu sebesar 60% dan pada siklus 2 meningkat menjadi 70% ( mengalami peningkatan sebesar 10%). Hasil belajar siswa dari aspek afektif menunjukkan bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 sebanyak 17 siswa (47%) dan pada siklus 2 meningkat menjadi 26 siswa (73%), mengalami peningkatan sebesar 20%.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran koopeartif model Roundtable dalam pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar ekonomi siswa kelas VII C SMP Negeri 4 Malang. Saran-saran yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini adalah bagi guru mata pelajaran ekonomi mulai menerpakan pembelajaran kooperatif model roundtable dalam pembelajaran berbasis masalah dan mengembangkannya pada materi yang lain. Penerapannya dalam kelas memerlukan kreativitas guru yang tinggi terutama dalam menyajikan fenomena sebagai pemicu masalah sehingga masalah yang disajikan betul-betul dapat merangsang siswa untuk berpikir.