DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2008

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaruh Penggunaan Scaffolding dan Kecakapan Berbahasa Indonesia terhadap Kualitas Argumen Mahasiswa dalam Perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan

Bambang Suteng Sulasmono

Abstrak


Kecakapan menilai dan membuat argumen yang kokoh -sebagai inti dari kecakapan berpikir kritis- merupakan hasil belajar yang dipandang penting dalam proses pendidikan di berbagai negara. Di Indonesia kecakapan berpikir kritis juga ditetapkan sebagai salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh para pebelajar mulai dari jenjang pendidikan dasar, menengah sampai ke jenjang perguruan tinggi. Pengembangan kecakapan berpikir kritis itu antara lain dilaksanakan melalui Pendidikan Kewarganegaraan.

Walaupun berpikir kritis itu merupakan hasil belajar yang penting, namun sejumlah studi menunjukkan bahwa para pebelajar umumnya kurang mampu membangun argumen yang kokoh. Oleh karena itu kini telah banyak dikembangkan pembelajaran untuk pengembangan kecakapan membangun argumen

Di bidang teknologi pendidikan kini telah dikembangkan pula teknik-teknik yang dimaksudkan untuk memperlancar proses dan meningkatkan kemampuan pebelajar dalam membangun argumen. Salah satu teknologi pembelajaran yang dikembangkan itu adalah pemanfaatan scaffolding (topangan belajar) dalam pembelajaran membangun argumen.

Berdasarkan kebutuhan untuk mengembangkan kecakapan berpikir kritis melalui kecakapan membangun argumen, yang tumbuh dari kurikulum pendidikan kewarganegaraan di atas, serta tersedianya berbagai referensi teknologi pembelajaran yang diperhitungkan dapat menjawab kebutuhan itu maka penelitian tentang pengaruh penggunaan scaffolding (topangan belajar) terhadap kualitas argumen mahasiswa dalam matakuliah pendidikan kewarganegaraan ini dilakukan.

Penelitian ini hendak menguji pengaruh scaffolding/topangan belajar dalam bentuk pertanyaan penuntun dan peta argumen terhadap kualitas argumen mahasiswa dengan kecakapan berbahasa Indonesia tinggi, sedang dan rendah dalam perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan.

Penelitian eksperimen ini dilaksanakan dalam disain Pretest-Posttest Non Equivalent Control Group Design, dengan fokus untuk menjawab tiga pertanyaan penelitian: a) apakah ada perbedaan nyata antara kualitas argumen mahasiswa yang belajar dengan pertanyaan penuntun dengan kualitas argumen mahasiswa yang belajar dengan peta argumen dalam perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan; b) apakah ada perbedaan nyata antara kualitas argumen mahasiswa yang berkecakapan berbahasa Indonesia yang tinggi, sedang dan rendah dalam perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan dan c) apakah ada interaksi antara topangan belajar dengan keragaman kecakapan berbahasa Indonesia dalam menentukan kualitas argumen mahasiswa peserta perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan.

Tiga hipotesa yang diuji melalui  penelitian ini adalah : a) ada perbedaan nyata antara kualitas argumen mahasiswa yang belajar dengan pertanyaan penuntun dengan kualitas argumen mahasiswa yang belajar dengan peta argumen dalam perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan; b) ada perbedaan nyata antara kualitas argumen mahasiswa yang berkecakapan berbahasa Indonesia tinggi, sedang dan rendah dalam perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan, dan c) ada interaksi antara topangan belajar dengan keragaman kecakapan berbahasa Indonesia mahasiswa dalam menentukan kualitas argumen mahasiswa peserta perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan.

Data dikumpulkan melalui pelaksanaan pretes dan postes dengan menggunakan tes argumentatif. Hasil tes kemudian diberi skor dengan Rubrik Penilaian Kualitas Argumen yang merupakan adopsi serta modifikasi dari Rubric of Argument Quality yang dikembangkan oleh Cho and Jonassen (2002). Skor kualitas argumen mahasiswa kemudian dianalisis dengan analisa statistik parametrik, analysis of varian (anova).

Hasil studi menunjukkan bahwa a) tidak ada perbedaan signifikan antara kualitas argumen mahasiswa yang mengikuti pembelajaran dengan topangan pertanyaan penuntun dengan yang mengikuti pembelajaran dengan topangan peta argumen dalam perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan, b) terdapat perbedaan signifikan antara kualitas argumen mahasiswa yang berkecakapan berbahasa Indonesia tinggi, sedang dan rendah dalam perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan, dan c) tidak terdapat interaksi antara topangan belajar dengan kecakapan berbahasa Indonesia dalam menentukan kualitas argumen peserta perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan.

Studi ini menunjukkan bahwa walaupun tidak terdapat perbedaan siginifikan antar kualitas argumen berdasar jenis topangan belajarnya, namun kedua jenis topangan itu meningkatkan kualitas argumen mahasiswa. Kecakapan berbahasa mahasiswa berpengaruh kepada kualitas argumen mahasiswa, dan pengaruh itu berlaku sama baik pada kelas yang bertopangan pertanyaan penuntun maupun yang bertopangan peta argumen.

Penelitian sejenis, dengan menambah variabel moderator, gaya belajar, atau dengan menggunakan kelas kontrol, yang melibatkan subyek penelitian sesuai dengan rancangan faktorial dan analisa statistik parametrik anova, disarankan guna memperbaiki atau memfalsifikasi hasil penelitian ini.