DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2008

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pola Pembelajaran dan Penyebaran Bengkel Ketog Magic, (Sebuah Studi Kasus Perkembangan Bengkel Ketog Magic dari Desa Bangsri, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar).

Miranu Triantoro

Abstrak


Focus dalam penelitian ini adalah bagaimana pola pembelajaran dan penyebaran bengkel Ketog Magic dari desa Bangsri Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar terjadi. Dengan demikian penelitian ini akan mencari jawab atas permasalahan (1) bagaimana pola pembelajaran yang dilakukan dalam bengkel “ketog magic”?, (2) mengapa  transfer pengetahuan dan ketrampilan itu diperlukan dalam sebuah bengkel ketog magic ? dan (3) Bagaimana pola penyebaran “Bengkel Ketog Magic”, sehingga dapat berkembang di berbagai wilayah?

Untuk menemukan jawaban atas permasalahan tersebut di atas, penelitian ini dirancang dengan mempergunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, sehingga kehadiran peneliti sangat penting dalam memperoleh data yang lengkap dan akurat. Untuk itulah dalam proses pengumpulan data dipergunakan tiga teknik, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama, yaitu wawancara mendalam (in dept interviu), observasi maupun dokumentasi.

Untuk kepentingan  analisis data dipergunakan model interaktif Miles dan Habermas, yang diawali dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan kesimpulan, yang dilakukan secara terus menerus selama proses penelitian berlangsung. Sedangkan untuk  mengecek keabsahan data dan hasil penelitian senantiasa dilakukan dengan mempergunakan (1) uji kredibilitas, baik melalui pengamatan secara terus menerus, meningkatkan kecermatan , trianggulasi data, menganalisa kasus negative maupun dengan melakukan member check; (2) Uji transferabilitas; (3) Uji dependabilitas dan (4) Uji Confirmabilitas.

Berdasarkan pada temuan hasil penelitian dapat dikemukakan bahwa pola pembelajaran yang dilakukan di bengkel kenteng teter/ketog magic, tidaklah dilakukan secara berjenjang sebagaimana pembelajaran-pembelajaran di lembaga-lembaga formal. Hal ini  terkait dengan warga belajar dalam bengkel kenteng teter sendiri yang terdiri dari berbagai usia dan latar belakang pengalaman yang berbeda. Namun demikian dalam proses pelaksanaan pembelajarannya mengenal pentahapan-pentahapan dalam rangka penguasaan berbagai jenis ketrampilan hingga seseorang dikatakan mahir atau memiliki ketrampilan sebagai tukang teter di sebuah bengkel kenteng teter atau ketog magic.

Adapun tahapan-tahapan sekaligus tingkatan-tingkatan dalam bengkel kenteng teter/ketog magic tersebut adalah (1) tahapan sebagai kuli alat / pesuruh/pemagang awal (2) tahapan sebagai kuli pendamping/penglamak, dan (3) tahapan sebagai kuli tukang/mahir. Masing-masing tahapan memiliki kharakteristik tersendiri, baik dilihat dari segi tujuan, bahan/meteri, metode, alat/media, evaluasi maupun jangka waktu yang diperlukan.

Berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang ada di bengkel kenteng teter atau ketog magic, perlu dan penting sekali untuk disampaikan kepada generasi muda sebagai penerusnya, karena disamping dengan ketrampilan tersebut seseorang telah memiliki bekal untuk mengembangkan diri dan berwiraswasta, sekaligus dapat dipergunakan untuk membuka peluang kerja dan membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial yang menjadi peran sosialnya, baik terkait dengan upaya untuk mengentaskan kemiskinan, mengurangi jumlah pengangguran maupun memberi kesempatan kepada seseorang yang tidak bisa tertampung melalui pendidikan formal, karena alasan ekonomi, putus sekolah maupun yang lainnya.

Sedangkan pola penyebaran bengkel kenteng teter/ketog magic yang akhirnya berkembang diberbagai wilayah Indonesia bahkan di Luar Negeri (misalnya: Philipina, Malasyia, dan Singapura) dilakukan secara berantai, yaitu diawali dengan melalui system magang, dimana seseorang yang belum memiliki ketrampilan sama sekali, belajar dan bekerja pada sebuah bengkel hingga akhirnya memiliki keahlian yang cukup untuk mendirikan bengkel; kenteng teter tersendiri.

Berdasarkan pada hasil penelitian tersebut di atas, maka penerapan sistem magang dengan model “Learning by doing” yang dilakukan di bengkel kenteng teter atau ketog magic  hendaknya lebih diintensifkan pelaksanaannya baik berkenaan dengan proses dan program pembelajaran maupun pembinaan-pembinaannya oleh lembaga-lembaga yang terkait (baik material maupun spiritual), sehingga lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat.

Akhirnya melalui penelitian ini mudah-mudahan dapat dan mampu menjadi titik awal untuk melakukan pengkajian-pengkajian secara seksama terhadap berbagai fenomena sosial yang ada dan berkembang di masyarakat, terutama terkait dengan eksistensi bengkel kenteng teter atau ketog magic yang telah terbukti keberadaannya dalam memberikan pelayanan jasa kepada masyarakat yang membutuhkannya.