DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2008

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Implementasi Pendekatan Proses Untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Narasi Siswa Kelas V SD Inpres 1 Tanah Tinggi Ternate

Karim Kodrat Hi

Abstrak


Penelitian ini dilatar belakangi permasalahan yang peneliti temui saat melakukan studi pendahuluan di sekolah terteliti. Dari studi pendahuluan tersebut ditemukan bahwa permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran menulis adalah siswa mengalami kesulitan dalam menuangkan gagasan, serta mengalami kesulitan dalam mengorganisasi. Disamping itu, melalui kegiatan wawancara dengan guru kelas V terungkap bahwa dalam kegiatan pembelajaran menulis guru lebih cenderung menerapkan pengajaran menulis sebagai suatu kegiatan yang cenderung mengedepankan hasil daripada proses. dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendekatan proses belum pernah diterapkan dalam kegiatan pengajaran menulis. Oleh karena itu, peneliti mengajukan alternatif penyelesaian masalah dengan mengimplementasikan pendekatan proses dalam pembelajaran menulis narasi.

Penelitian ini bertujuan meningkatkan keterampilan siswa kelas V SD Inpres 1 Tanah Tinggi Ternate dalam melalui pendekatan proses. Tujuan ini dapat dirinci lagi menjadi: (1) meningkatkan keterampilan menulis narasi melalui implementasi pendekatan proses pada tahap pra-menulis, (2) meningkatkan keterampilan menulis melalui implementasi pendekatan proses narasi pada tahap menulis, (3) meningkatkan keterampilan menulis narasi melalui implementasi pendekatan proses pada tahap pasca-menulis.

Untuk mencapai tujuan tersebut, dirancanglah penelitian tindakan dengan pendekatan kualitatif. Rancangan tindakan disusun dalam satuan siklus yang meliputi studi pendahuluan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Instrumen utama pengumpul data dalam penelitian ini adalah peneliti dibantu guru kolaborator dengan menggunakan lembar pengamatan, pedoman wawancara, dan lembar kerja siswa. Dengan demikian, data yang dihimpun dalam penelitian ini meliputi data proses dan data hasil. Data proses berupa aktivitas guru dan siswa ketika tindakan pembelajaran berlangsung. Sedangkan data hasil penelitian berupa karangan siswa setelah diberi tindakan pembelajaran.

 Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan proses dan hasil peningkatan keterampilan menulis narasi dilaksanakan melalui tiga tahap pembelajaran, yaitu (a) tahap pra-menulis, (b) tahap menulis, dan (c) tahap pasca-menulis. Pada tahap pra-menulis, kegiatan pembelajaran yang dilakukan adalah (1) guru membacakan contoh karangan narasi, kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab antara guru-siswa tentang isi dari contoh karangan tersebut, (2) guru mengarahkan siswa untuk mengembangkan tema menjadi subtema, mengembangkan subtema menjadi topik, mengembangkan topik menjadi kerangka cerita, serta menulis judul karangan, (3) kegiatan pembelajaran diakhiri dengan pemeriksaan kerangka cerita oleh masing-masing siswa. Pada tahap pra-menulis. siklus I nilai Rerata siswa terteliti 77, kemudian pada siklus II meningkat menjadi 90,75.

Pada tahap menulis kegiatan pembelajaran yang dilakukan adalah (1) guru mengawali kegiatan pembelajaran dengan memberikan contoh di papan tulis cara mengembangkan kerangka karangan; (2) menugasi siswa untuk mengembangkan kerangka karangannya secara berurutan dengan memperhatikan pilihan kata yang tepat, menyusun kalimat yang benar, menyusun paragraf yang padu, serta menyajikan unsur-unsur narasi yang logis dan padu; (3) guru menugasi siswa merevisi dan mengedit karangan. Revisi dan edit dilakukan dengan cara revisi mandiri siswa dan revisi teman sejawat. Hasil menulis draf awal cerita siswa dari rerata nilai 61.25 meningkat menjadi 68.75 pada siklus I, dan pada siklus II 72.5 meningkat menjadi 88.5. Kemampuan siswa dalam menyajikan unsur-unsur narasi juga mengalami peningkatan yang baik. Pada siklus I rerata nilai siswa terteliti adalah 66. Pada siklus II rerata nilai yang dicapai meningkat menjadi 88.5.

Pada tahap pasca-menulis kegiatan pembelajaran yang dilakukan adalah (1) pemodelan atau pemberian contoh oleh guru sehingga para siswa dapat meniru contoh tersebut; (2) menugasi siswa membacakan karangannya, sementara siswa yang lain menyimak dan mencatat kekurangan atau kesalahan dalam karangan maupun pembacaannya; (3) tanya jawab guru-siswa maupun siswa-siswa tentang isi karangan yang bacakan. Pada tahap pasca-menulis siklus I, kemampuan siswa membacakan karangan di depan kelas meningkat dengan baik. Namun demikian masih terdapat siswa tertentu yang belum mampu menggunakan lafal dan intonasi dengan tepat. Pada siklus II secara keseluruhan siswa dapat membacakan karangannya dengan baik. Tidak ditemukan lagi kesalahan dalam membacakan karangan. Selain itu, dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa untuk mengemukakan pendapatnya berupa pertanyaan dan saran terhadap isi karangan teman. Rerata yang dicapai siswa pada siklus I adalah 71.15, yakni berkualifikasi baik, pada siklus II meningkat menjadi 87.75, yakni berkualifikasi sangat baik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa implementasi pendekatan proses dalam pembelajaran menulis narasi dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa terteliti.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan: (1) Kepada kepala seolah maupun guru di sekolah terteliti agar menerapkan pendekatan proses dalam pembelajaran menulis khususnya menulis narasi karena pendekatan proses terbukti meningkatkan keterampilan menulis siswa, (2) Kepada para guru sekolah dasar, agar hasil penelitian ini dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif strategi pembelajaran keterampilan menulis atau diterapkan untuk pembelajaran keterampilan yang lain. (3) Diharapkan kepada pembaca terutama guru di sekolah terteliti agar mempublikasikan hasil penelitian ini kepada guru lain yang belum memiliki wawasan tentang menulis narasi melalui pendekatan proses agar para guru memahami keunggulan dari pendekatan ini.