DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

The Translation of Metaphors in the Book The Mysteries of the Qur’an from English to Indonesian. (Thesis)

Agus Eko Cahyono

Abstrak


Translation work has a mouthful significant importance in translating culture, in revitalizing language, in interpreting texts, in distributing knowledge, in suggesting the relationship between thought and language and its contribution towards understanding between nations. However, in spite of its importance, translation is a very difficult work, namely on making decision which principle to refer to; whether the translation should incline to the source or the target language, be faithful or beautiful, literal or free, and whether to attempt to and struggle for the form or the content. Metaphors or expressions with metaphorical meanings, because of their nature of using a figurative word to denote meaning, are among the potential areas of translation problem.

This study aims to describe how metaphors or expressions with metaphorical meanings in the book The Mysteries of the Qur'an are translated from English to Indonesian. In addition, it is also intended to analyze how appropriate the metaphors have been translated from English to Indonesian.

The study takes a descriptive qualitative research design. The data of the research are all the English metaphorical expressions found in the original book that consists of 272 pages and their Indonesian translation version Dari Balik Lembaran Suci consisting of 337 pages.

From the analysis, it is found that the translation of English metaphors to Indonesian have been attempted through various strategies. Of the 185 English metaphors in the book, 84 metaphors or 45% are adopted or reproduced to Indonesian, 29 metaphors or 16% are adapted or replaced with Indonesian metaphors, 10 metaphors or 5% are changed to simile, 26 metaphors or 14% are adopted or reproduced and combined with sense, 4 metaphors or 2% are translated to simile combined with sense, 27 metaphors or 15% are converted to sense, and 5 or 3% are deleted. These findings indicate that the translator is familiar with the metaphor translation strategies commonly found or written in translation textbooks or other translation references. Familiarity or knowledge of the metaphor translation strategies gives benefit to help translators solve metaphor translation problems.

Second, after conducting an analysis of the metaphor translation by examining the referential and contextual accuracies (faithfulness to the SL text and acceptability in the TL text), the result of the analysis of metaphor translation is: of the 185 English metaphor translations to Indonesian, 173 metaphors or 94% are marked appropriate metaphor translation, 7 metaphors or 4% are marked less appropriate metaphor translation, and 5 metaphors or 2% are marked inappropriate metaphor translation. The judgment or evaluation of the metaphor translation appropriateness is based on the evaluator's, in this case the researcher's, own standard of referential and pragmatic accuracy.

From the research findings, some suggestions may be made. First, for translation teachers; they should give specific attention and manage at least one separate class meeting for discussing explicitly issues related to metaphor translation for metaphor translation has its specific problems which are different from other aspects of language. Second, for translation students; they must have fine mastery of English, the source language, and Indonesian, the target language, if he or she wants to translate from English to Indonesian, for an advanced mastery linguistic, social and cultural aspects of the source language is a dead price for understanding the language and the style, the literal meaning and the metaphorical meaning, the surface meaning and the deep or hidden meaning of the text to be translated. Third, for translators; before translating a text, a translator should first make an analysis of the original text in order to be well informed of the author's purpose of writing the text (to persuade, to prohibit, to express feeling, to transfer knowledge, to entertain, etc.), the characteristic of the readership (who the target readers are), and an indication of the text type (expressive, informative, vocative, or other text types). In addition, in order to achieve success in translating metaphors, a translator should consider the referential and contextual accuracies of the translation. Fourth, for future researchers; for those who are interested specifically in the matter of metaphor translation studies, this research suggests that they may conduct research on more specific metaphor translation problems related to universal and culture-specific natures of the metaphors.

 

Abstrak:

Kata kunci: penerjemahan, ekspresi metaforis, strategi penerjemahan, ketepatan penerjemahan.

Penerjemahan memiliki peran penting untuk penyebaran budaya, memperkaya bahasa, menafsirkan teks, menyebarkan pengetahuan, memahami hubungan antara bahasa dan pikiran, dan untuk meningkatkan pemahaman antar bangsa. Namun, walaupun penting, pekerjaan penerjemahan sulit dan melelahkan, yakni dalam memutuskan untuk mengacu pada prinsip vang mana, apakah harus lebih mementingkan bahasa sumber atau bahasa sasaran, apakah harus setia atau harus indah, apakah harus terikat atau bebas, dan apakah harus memperjuangkan bentuk atau isi. Metafora atau ungkapan yang mengandung makna metaforis, oleh karena sifatnya yang menggunakan bahasa figuratif untuk mengungkapkan makna, merupakan salah satu faktor yang menimbulkan masalah penerjemahan.

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bagaimana metafora atau ungkapan metaforis Bahasa Inggris dalam buku "The Mysteries of the Qur'an" diterjemahkan ke dalam versi terjemahan Bahasa Indonesia "Dari Balik Lembaran Suci". Selain itu, penelitian ini juga bertujuan menganalisa sejauh mana ketepatan penerjamahan metafora dalam buku tersebut.

Penelitian ini menggunakan.desain penelitian kualitatif-deskriptif. Data penelitian ini adalah seluruh ungkapan metaforis Bahasa Inggris yang terdapat dalam buku versi aslinya yang terdiri dari 272 halaman, dan penerjemahan metafora Bahasa lnggris tersebut dalam Buku versi Bahasa Indonesianya yang memiliki 337 halaman.

Dari analisa yang dilakukan, ditemukan bahwa penerjemahan metafora Bahasa lnggris ke dalam Bahasa Indonesia telah diupayakan melalui berbagai strategi penerjemahan metafora. Dari 185 metafora Bahasa lnggris dalam buku tersebut, sebanyak 84 metafora atau 45% diadopsi ke dalam Bahasa Indonesia, 29 metafora atau 16% di adaptasi atau digantikan dengan metafora Bahasa Indonesia, 10 metafora atau 5% dirubah ke dalam bentuk simile, 26 metafora atau 14% diadopsi plus makna literal, 4 metafora atau 2% diterjemahkan ke dalam bentuk simile plus makna literal, 27 metafora atau 15% dirubah ke dalam makna literal, dan 5 metafora atau 3% dihilangkan. Temuan ini mengindikasikan bahwa penerjemah buku tersebut familiar atau mengetahui strategi-strategi penerjemahan metafora yang biasa terdapat atau tertulis dalam buku-buku pedoman penerjemahan atau buku-buku referensi penerjemahan lainnya. Pengetahuan ini terbukti membantu penerjemah mengatasi masalah-masalah penerjemahan metafora.

Setelah melakukan analisis terhadap penerjemahan metafora dalam buku tersebut, yakni dengan menganalisa ketepatan referensial dan ketepatan kontekstual (kesetiaan terhadap teks bahasa sumber dan keberterimaan terjemahan dalam teks bahasa sasaran), hasil analisa penerjemahan metafora tersebut adalah: dari 185 metafora Bahasa Inggris yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, sebanyak 173 penerjemahan metafora atau 94% dinilai tepat, 7 penerjemahan metafora atau 4% dinilai kurang tepat, dan 5 penerjemahan metafora atau 2% dinilai tidak tepat.

Dari temuan dan analisa penelitian ini, dapat dihasilkan beberapa saran. Pertama, untuk para pengajar terjemahan; mereka seharusnya memberikan perhatian khusus dan mengatur minimal satu pertemuan/kelas terpisah untuk membahas berbagai permasalahan terkait dengan terjemahan metafora karena terjemahan metafora mempunyai masalah yang khusus yang berbeda dari aspek bahasa yang lain. Kedua, untuk para siswa yang mengambil mata kuliah terjemahan; mereka harus mempunyai penguasaan Bahasa Inggris yang bagus, bahasa sumber, dan Bahasa Indonesia, bahasa sasaran, jika mereka ingin menterjemahkan Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia, karena penguasaan yang bagus akan aspek bahasa, sosial, dan budaya terhadap bahasa sumber adalah harga mati untuk memahami bahasa dan gayanya, makna sebenarnya dan makna metafora, makna luar dan makna dalam atau makna tersembunyi dari teks yang diterjemahkan. Ketiga, untuk para penerjemah; sebelum menterjemahkan teks, seorang penerjemah seharusnya membuat analisa pada teks asli supaya memahami tujuan pengarang menulis teks tersebut (untuk mengajak, melarang, mengungkapkan perasaan, mentransfer pengetahuan, menghibur, dsb.), karakterisasi keterbacaan (siapa target pembaca), dan merupakan petunjuk dari jenis teks (ekspresif, informative, vocative, atau jenis teks lain). Selain itu, untuk mencapai keberhasilan dalam menterjemahkan metafora, seorang penerjemah seharusnya mempertimbangkan keakuratan acuan dan isi dari terjemahan. Keempat, untuk peneliti selanjutnya; bagi siapapun yang tertarik secara khusus dalam masalah penerjemahan metafora, mereka bisa melakukan penelitian tentang masalah penerjemahan metafora yang lebih khusus terkait dengan bidang metafora secara global dan terfokus pada budaya.