DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Defragmentasi Struktur Berpikir Siswa dalam Memecahkan Masalah Geometri Melalui Pemunculan Skema Ditinjau dari Gaya Kognitif

Puspita Ayu Damayanti

Abstrak


RINGKASAN

 

Damayanti, Puspita Ayu. 2019. Defragmentasi Struktur Berpikir Siswa dalam Memecahkan Masalah Geometri Melalui Pemunculan Skema Ditinjau dari Gaya Kognitif. Tesis, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Subanji, M.Si, (2) Dr. Sukoriyanto, M.Si

 

Kata Kunci: defragmentasi struktur berpikir, memecahkan masalah, geometri, pemunculan skema, gaya kognitif

Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu standar proses pembelajaran. Kemampuan pemecahan masalah sangat dibutuhkan pada kehidupan yang berkembang semakin kompleks. Oleh karena itu, kemampuan pemecahan masalah harus dikuasai oleh siswa. Namun, hasil observasi awal menunjukkan bahwa siswa tidak mampu memecahkan masalah, khususnya geometri, dengan baik. Padahal penguasaan materi geometri diperlukan siswa karena sangat sering dijumpai pada kehidupan dan dapat mengasah kemampuan pemecahan masalah. Hasil observasi juga menunjukkan siswa mengalami kesulitan memecahkan masalah yang memuat berbagai konsep. Kesulitan juga terjadi akibat siswa tidak menganalisa masalah dengan baik. Selain itu, hasil observasi awal menunjukkan bahwa proses pemecahan masalah geometri dapat berbeda untuk masing-masing siswa. Hal ini dapat dipengaruhi oleh gaya kognitif. Terdapat dua tipe gaya kognitif siswa jika ditinjau dari tempo konseptual yaitu reflektif dan impulsif.

Dalam memecahkan masalah, siswa dengan gaya kognitif reflektif cenderung cermat tetapi membutuhkan waktu relatif lama dibandingkan siswa dengan gaya kognitif impulif yang cenderung tidak cermat namun relatif cepat. Kurang cermatnya siswa impulsif mengakibatkan jawaban yang dihasilkan cenderung salah. Meskipun demikian, siswa dengan gaya kognitif reflektif juga dapat melakukan kesalahan. Kesalahan terjadi akibat adanya kesenjangan antara struktur berpikir siswa dengan struktur masalah. Sehingga perlu segera ditata kembali supaya sesuai melalui defragmentasi. Salah satu jenis defragmentasi adalah pemunculan skema. Defragmentasi ini digunakan karena sesuai dengan kesalahan siswa yang diakibatkan karena banyak skema yang tidak muncul ketika memecahkan masalah. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses defragmentasi struktur berpikir siswa dalam memecahkan masalah geometri melalui pemunculan skema ditinjau dari gaya kognitif.     

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif-naratif. Subjek dalam penelitian ini adalah empat siswa kelas IX SMPN 1 PUNCU 2018/2019 dengan dua siswa untuk masing-masing gaya kognitif. Data penelitian ini terdiri dari (1) skor siswa pada MFFT (Matching Familiar Figure Test),

(2) jawaban siswa pada tes pemecahan masalah, (3) ungkapan verbal siswa dalam wawancara, serta (4) struktur berpikir siswa dalam skema. Instrumen yang digunakan dalam penelitian terdiri dari lembar MFFT, lembar pemecahan masalah serta pedoman wawancara.

Hasil penelitian ini menunjukkan tindakan-tindakan yang dilakukan dalam rangka defragmentasi struktur berpikir siswa reflektif dan impulsif. Pada siswa reflektif defragmentasi melalui pemunculan skema dilakukan dengan disekuilibrasi, konflik kognitif, dan scaffolding level 2. Bentuk scaffolding level 2 yang diberikan adalah (1) explaining, berupa perintah untuk mecermati kembali informasi atau data, (2) reviewing, berupa pertanyaan arahan atau dorongan, perintah untuk memberikan penjelasan dan justifkasi, perintah untuk menuangkan gagasan dalam tulisan. Disekuilibrasi diberikan dalam bentuk pertanyaan sehingga siswa ragu dengan gagasan salahnya. Konflik kognitif diberikan dalam bentuk pemberian pernyataan terkait konsep yang tepat untuk dibandingkan dengan konsep siswa yang salah.

Pada siswa impulsif defragmentasi melalui pemunculan skema dilakukan dengan disekuilibrasi, konflik kognitif, serta scaffolding level 1 dan 2. Bentuk scaffolding level 1 adalah pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk melakukan refleksi atau memeriksa kembali pekerjaannya. Bentuk scaffolding level 2 yang diberikan adalah (1) explaining, berupa perintah untuk mecermati kembali informasi atau data, (2) reviewing, berupa pertanyaan arahan atau dorongan, perintah untuk memberikan penjelasan dan justifkasi, perintah untuk menuangkan gagasan dalam tulisan, pemberian informasi suatu konsep tetapi bukan langsung pada masalah, membuat model paralel untuk memberikan pemahaman. Disekuilibrasi diberikan dalam bentuk pertanyaan sehingga siswa ragu dengan gagasan salahnya. Konflik kognitif diberikan dalam bentuk pemberian pernyataan terkait konsep yang tepat untuk dibandingkan dengan konsep siswa yang salah.

Perbedaan defragmentasi yang diberikan adalah pada siswa impulsif (1) defragmentasi yang diberikan lebih banyak, (2) adanya defragmentasi pemunculan skema setelah skema tersebut terbentuk melalui defragmentasi, (3) terdapat scaffolding level 1, (4) terdapat scaffolding level 2 berupa pembuatan model paralel untuk membantu pemahaman siswa, dan (5) perlu penyampaian suatu konsep untuk membentuk skema.