DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kalimat dalam Karangan Pelajar BIPA Tingkat Atas

nugroho hasan

Abstrak


ABSTRAK

Nugroho, Hasan. 2019. Kalimat dalam Karangan Pelajar BIPA Tingkat Atas Asal

Amerika Serikat. Tesis. Program Studi Magister Pendidikan Bahasa

Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)

Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd., (II) Dr. Gatut Susanto, M.M., M.Pd

Kata kunci: kalimat, unsur fungsi kalimat, norma pemakaian kalimat, karangan,

 pelajar BIPA.

Penelitian ini membahas dua hal yaitu, kalimat dalam karangan pelajar

BIPA tingkat atas berdasarkan kelengkapan unsur fungsinya dan kalimat dalam

karangan pelajar BIPA tingkat atas berdasarkan norma pemakaiannya.

Berdasarkan tujuan tersebut dikerucutkan dalam bentuk fokus penelitian yaitu,

mendeskripsikan kalimat dalam karangan pelajar BIPA tingkat atas berdasarkan

kelengkapan unsur fungsinya dan mendeskripsikan kalimat dalam karangan

pelajar BIPA tingkat atas berdasarkan norma pemakaiannya.

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif . Jenis

penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan menggunakan ancangan teoritis

analisis kalimat. Data penelitian ini adalah kalimat yang digunakan oleh pelajar

dalam jurnal hariannya. Sumber data dalam penelitian ini adalah jurnal harian

yang ditulus oleh pelajar BIPA tingkat atas asal Amerika Serikat. Penelitian ini

dilaksanakan di BIPA Universitas Negeri Malang.

Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa pada kalimat lengkap, kalimat

tunggal yang diproduksi oleh pelajar memiliki enam pola utama, yaitu (1) S-P, (2)

S-P-O, (3) S-P-Pel, (4) S-P-Ket beserta variasinya, (5) S-P-Pel-Ket beserta

variasinya, dan (6) S-P-O-Ket beserta variasinya. Pada kalimat majemuk lengkap,

pola yang dihasilkan memiliki kemiripan dengan kalimat tunggal, hanya saja pada

kalimat majemuk, strukturnya memiliki dua klausa atau lebih, baik bersifat

subordinasi, koordinasi, maupun campuran. Beberapa pola yang ditemukan pada

kalimat majemuk setara lengkap diantarannya adalah (1) S-P-Konj-S-P-Ket, (2) SP-Konj-S-P, dan (3) S-P-O-Konj-S-P-Ket. Beberapa pola yang ditemukan pada

kalimat majemuk bertingkat lengkap diantaranya adalah (1) S{S-O-P}-P, (2) S{SP-Pel-Ket}-P{S-P-Ket}, (3) S-P-O{Atr-S-P-Pel (Atr-S-P)}, (4) S-P-Ket{Konj-SP-O(S-P-Ket)}, (5) Ket{Konj-S-P}-Ket-S-P-O-Ket, dan (6) Ket{Konj-S-P-O}-SP-Pel{Konj-S-P-O}. Beberapa pola yang ditemukan pada kalimat majemuk

campuran lengkap diantaranya adalah (1) Ket-S-P-Konj-S-P-Pel{S-P}, (2) S-P-OKet{Konj-S-P-Ket{S-P-Ket}-Konj-S{Ket-S-P}-P, (3) S-P-O{S-P-Pel}-Konj-S-PO{S-P-Ket(Konj-P-O)},(4)Ket-S-P-Konj-S-P-O-Pel-Ket{Konj-S-P-Ket}. Kalimat

mejemuk lengkap pada penelitian ini memiliki dua tipe, yaitu (1) semua fungsi

sintaksis dalam kalimat majemuk hadir disebabkan karena di dalam klausa-klausa

pembangun kalimat, fungsi-fungsi sintaksis yang sama diduduki oleh kata yang

ix

berbeda, (2) semua fungsi sintaksis dalam kalimat hadir di dalam semua klausa

pembangun kalimat, tetapi ada fungsi sintaksis yang sama yang diduduki oleh

kata yang sama dalam klausa-klausa pembangun kalimat tersebut.

Kalimat tidak lengkap juga ditemukan pada kalimat tunggal, tetapi

jumlahnya sangat sedikit. Terdapat empat fungsi sintakis yang dilesapkan oleh

pelajar pada kalimat ini, yaitu

(1) pelesapan fungsi O,

(2) pelesapan fungsi S,

(3)Pelesapan fungsi P, dan

(4) pelesapan fungsi S-P. Pola-pola yang dihasilkan oleh

pelajar dalam bentuk kalimat tunggal tidak lengkap meliputi

(1)S-P-Ket(pelesapan O),

(2) Ket-P-Ket,

(3) Ket-O-Ket,

(4) Ket-S-P (verba inti pada Pmengalami pelesapan), dan

(5) P-Pel. Ketidaklengkapan unsur fungsi pada

kalimat tunggal ini memiliki dua sebab. Pertama, pelajar membuat kalimat elips

sehingga kalimat tersebut menjadi lebih efektif untuk komunikasi. Kedua, pelajar

membuat kesalahan berbahasa yang termasuk dalam kategori mistake. Pada

kalimat majemuk tidak lengkap, ada beberapa unsur fungsi yang mengalami

pelesapan pada kalimat ini, yaitu

(1) pelesapan salah satu S yang disebabkan

adanya S yang diduduki oleh kata yang sama dalam klausa yang berbeda,

(2)pelesapan P yang disebabkan karena kehadiran P dianggap tidak efektif, dan

(3)pelesapan O pada kalimat pasif dengan menghilangkan kata yang menduduki

peran pelaku. Pada kalimat majemuk setara, unsur fungsi yang sama yang

mengalami pelesapan terjadi pada klausa yang terletak di belakang. beberapa pola

struktur yang ditemukan, diantaranya adalah

(1) S-P-Ket-Konj-P, (2) S-P-KetKonj-S-P (pelesapan O), (3) S-P-O-Ket-Konj-P-O-Ket, (4) S-P-Pel-Ket-Konj-PPel, (5) S-P-Ket-Konj-P-O, (6) S-P-Ket-Konj-P-Ket, (7) P-Ket-Konj-S-P, (8) KetS-P-Konj-P-Konj-P-Ket, dam (9) S-P-Ket-Konj-O-Ket. Pada kalimat majemuk

bertingkat, pelesapan unsur fungsi terjadi pada klausa yang menempati anak

kalimat, selain itu ditemukan pula pelesapan unsur fungsi yang terjadi pada induk

kalimat, yang meliputi pelesapan unsur S, S-P, P, dan O. Beberapa pola struktur

yang ditemukan pada kalimat majemuk bertingkat tidak lengkap pada induk

kalimat diantaranya adalah

(1) S-P-Ket{Konj-P},

(2) Ket{S-P-Ket}-S-KetKet{Konj-P-O},

(3) Konj-S-P-Ket-Ket{Konj-P-O-Ket} (pelesapan O),

(4) Ket{SP-O},

(5) Ket{S-P-Pel},

(6) P-Ket{Konj-S-P-Pel-Ket-Ket-Ket(Konj-S(S-P)-

Ket(S-Ket))}. Beberapa pola struktur yang ditemukan pada kalimat majemuk

bertingkat tidak lengkap pada anak kalimat diantaranya adalah

(1) S-P{P-O},

(2)Ket{Konj-P}-S-P,

(3) S-P-Pel{P-O-Ket},

(4) S-P-Ket{S-Ket},

(5) Ket{Ket}-S-PO-Ket-Ket,

(6) Konj-S-P-O-Ket{Konj-P-Ket},

(7) Ket{P}-S-P-O,

(8) Konj-S-PPel{S-P-Ket-Ket}-Ket{Ket-Ket}. Pada kalimat majemuk kompleks (campuran)

pun demikian, pelesapan unsur fungsi yang terjadi merupakan kombinasi yang

terjadi pada kalimat majemuk setara dan bertingkat. Beberapa pola struktur yang

ditemukan pada kalimat majemuk kompleks atau campuran diantaranya adalah

(1)S-P-Ket{Konj-O}-Konj-P-Pel,

(2) Ket{Konj-S-P-O-Ket}-S-P-O-Pel-Konj-PelKet,

(3) Ket{Konj-S-P}-S-P-Pel-Konj-S-P-O-Konj-O{S-P},

(4) S-P-Pel-Ket

{Konj-P-O}-Konj-Ket{P-O}-Ket{Konj-S-P-O-Ket(S-Konj-S-P)},

(5) Konj-Ket-

x

S-P-Ket-Konj-P-O-Konj-P-Konj-S-P-O{S-P-O}, (6) Ket-S-P-O-Pel-Konj-PelKonj-P-O{S (S-P-O)-P-O}, (7) Ket-S-Konj-S-P-Ket-Konj-P-Ket-Ket-Ket{KonjS-P}, (8) S-Ket-Konj-P-Ket{Konj-P-O-Ket-Ket}-Konj-P-S-Ket{Konj-P-Ket}, (9)

Ket{Konj-S-P-Pel-Ket}-S-P-Konj-P.

Berdasarkan penelitian juga ditemukan penggunaan kalimat baku dan tidak

baku yang digunakan oleh pelajar. Data pada fokus ini didominasi oleh kalimat

tidak baku. Pada kalimat baku, kalimat yang diproduksi pelajar memiliki beberapa

ciri yang dapat dikenali, yaitu

(1) Penggunaan ragam kata baku,

(2) ketepatanpilihan kata,

(3) penggunaan imbuhan pembentuk kata kerja secara eksplisit,

(4)penggunaan konjungsi yang tepat,

(5) ketepatan penggunaan ejaan,

(6) ketepatanpenggunaan tanda baca,

(7) struktur frasa, klausa, dan kalimatnya tepat, serta

(8)penggunaan kalimat yang efektif. Kalimat tidak baku yang diproduksi oleh pelajar

memiliki beberapa ciri yaitu,

(1) pelesapan unsur fungsi kalimat, yang meliputi

pelesapan S pada kalimat tunggal dan induk kalimat, serta pelesapan P,

(2) Pilihankata atau frasa yang tidak tepat, yang meliputi pengguunaan kata tanya dalam

kalimat pernyataan, penggunaan ragam kata tidak baku, penggunaan kata ganti

yang tidak tepat, pilihan kata yang tidak tepat tetapi memiliki makna berdekatan,

penggunaan kata bahasa asing,

(3) bentukan kata yang tidak tepat, yang meliputipelesapan imbuhan pembentuk kata kerja dan penggunaan imbuhan tidak baku,

(4) pemborosan dan pengurangan kata yang meliputi gejala pleonaasme, sertapenghilangan kata depan,

(5) penggunaan konjungsi yang kuang tepat yangmeliputi penggunaan konjungsi antarklausa untuk mengawali kalimat, sertapenggunaan konjungsi yang kurang sesuai,

(6) ketidaktepatan penggunaan tandabaca, yaitu tanda koma, dan

(7) penggunaaan struktur klausa atau kalimat yangtidak tepat yang meliputi ketidaktepatan struktur klausa relatif, kalimat yanghaanya terdiri atas anak kalimat, serta pelesapan bagian kalimat yang penting.Berdasarkan temuan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa (1)kalimat dalam karangan pelajar BIPA tingkat atas berdasarkan kelengkapan unsurfungsinya diwujudkan oleh pelajar dalam kalimat tunggal dan kalimat majemukbaik yang berstruktur lengkap maupun tidak lengkap, (2) kalimat dalam karanganpelajar BIPA tingkat atas berdasarkan normapemakaiannya diwujudkan olehpelajar dalam dua ragam kalimat, yaitu ragamkalimat baku dan tidak baku yang

mencakup aspek kata, morfologi, dan sintaksis.