DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

EFL Teachers’ Perception and Production of Requests. (Thesis)

Vita Nur Santi

Abstrak


            This study aimed at investigating Indonesian EFL interlanguage request behaviors in terms of both perception and production of requesting acts. Data were selected from eligible subjects with some criteria, i.e. EFL teachers who had been teaching in high schools and universities, and taking a graduate program in English Education, under the scholarship of Ministry of Religious Affairs (MORA) at the State University of Malang. From 107 Teachers who were eligible to be selected as the subjects of this study, only 65 teachers who returned the questionnaire, 19 were available to act out in Role Play, and 10 agreed to be interviewed.

            The design used in this study is descriptive research. Both quantitative and qualitative analyses were employed. Data for analysis consisted of 1950 perception responses collected through six-point Scaled-Response Questionnaire (SRQ) and 659 production responses obtained through Discourse Completion Task (DCT) and Role-Play in which degree of Imposition, Status, and Distance were contextual factors embedded in each situation. In addition, there were some data gathered via Interview to response three main questions regarding teachers' perception. Responses of request perception were analyzed in terms of Imposition degree, Difficulty to make request and Possibility to perform request. On the other hand, request production were coded into the head act of request strategies comprising Direct, Conventional Indirect, and Non-Conventional indirect strategies following the coding scheme of CCSARP (Blum-Kulka, House & Kasper, 1989).

Through quantitative and qualitative data analysis, some important findings were obtained. Regarding the perception data, most EFL teachers in this study were aware of the difference between English native-speaker's culture and Indonesian culture. Yet, in terms of the teaching and learning process in the classrooms, only few teachers apply the curriculum and understand well what and how to teach to EFL students with regard to pragmatic competence. In terms of strategy preference, most of the responses found in both DCTs and Role-Plays show that Indonesian teachers tended to employ conventionally indirect strategy, namely query preparatory as 86. 3% found in DCT and 67. 8% found in Role-Play.

As a consequence, there are two pragmatic transfers occurring in this study. First, negative socio-pragmatic transfer occurs when teachers fall back to their native cultural backgrounds in perceiving context-internal factors with regard to context-external factors involving in each situation in which those perception is different from those of English native speakers. Second, positive pragmalinguistic transfer occurs when teachers preferred to employ query preparatory strategy in producing the requests almost in all situations. This occurring is caused by the teachers' competence in terms of linguistic forms in English requests which follow those in their native language.

Based on the research results, there are three suggestions which are recommended following the results of this study. First, for EFL teachers, it is suggested not only to be aware but also apply what they have understood, particularly in the sense that language is taught in order to make students able to use it in both written and oral communication. Second, for teachers' producers, it is suggested that they give more attention on pragmatic aspects integrated in English teaching and learning for those aspects are often neglected by EFL teachers. Third, for future researchers, focus on teachers' perception by using a survey, and to provide genuine data on teachers' competence toward pragmatic awareness within EFL classrooms, there should be not only one communicative act investigated, but more than merely requesting act. As well, the study related to politeness should be conducted more deeply and focused on the aspects that are not discussed in here, such as the inter-relationship between locutionary, illocutionary, and perlocutionary acts in requesting.

Abstrak:

Kata kunci: guru EFL, persepsi permintaan, strategi permintaan

            Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki perilaku interlanguage permintaan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua yang dilakukan orang Indonesia baik dari segi persepsi dan produksi meminta. Data dipilih dari subyek yang memenuhi syarat dengan beberapa kriteria, yaitu guru EFL yang telah mengajar di perguruan tinggi dan sekolah-sekolah menengah, dan mengambil program pascasarjana program studi Pendidikan Bahasa Inggris, dengan beasiswa Kementerian Agama (Kemenag) di Universitas Negeri Malang. Dari 107 Guru yang memenuhi syarat untuk dipilih sebagai subjek penelitian, hanya 65 guru yang mengembalikan kuesioner, 19 guru bersedia untuk bermain peran, dan 10 guru telah setuju untuk diwawancarai.

Desain penelitian ini adalah penelitian descriptif. Analisi kuantitatif dan qualitatif digunakan untuk mengolah data. Untuk analisis data terdapat 1950 tanggapan persepsi yang dikumpulkan melalui kuesioner enam-skala respon (SRQ) dan tanggapan produksi 659 yang diperoleh melalui angket melengkapi wacana (DCT) dan bermain peran di mana tingkat beban, status sosial, dan status keakraban merupakan faktor kontekstual yang tertanam dalam setiap situasi. Selain itu, ada beberapa data yang dikumpulkan melalui wawancara untuk merespon tiga pertanyaan utama tentang persepsi guru. Tanggapan persepsi permintaan dianalisis dalam hal tingkat beban, kesulitan untuk membuat permintaan dan kemungkinan untuk melakukan permintaan. Sementara produksi permintaan dikode ke dalam strategi tindakan inti meminta yang terdiri dari permintaan langsung, tidak langsung konvensional, dan strategi tidak langsung non-konvensional mengikuti skema pengkodean dari CCSARP (Blum-Kulka, House & Kasper, 1989).

Melalui analisis data kuantitatif dan kualitatif, beberapa temuan penting diperoleh. Mengenai data persepsi, kebanyakan guru EFL dalam penelitian ini mengetahui perbedaan antara budaya penutur bahasa Inggris dan budaya Indonesia. Namun, dalam hal pengajaran dan proses belajar di kelas, hanya beberapa guru menerapkan kurikulum dan memahami dengan baik apa dan bagaimana mengajarkan kepada siswa EFL materi yang berkaitan dengan kompetensi pragmatis. Dalam hal preferensi strategi, sebagian besar tanggapan yang ditemukan di DCT dan bermain peran menunjukkan bahwa guru Indonesia cenderung untuk menggunakan strategi konvensional tidak langsung, yaitu permintaan persiapan.

Konsekuensinya, terdapat dua transfer pragmatis yang terjadi dalam penelitian ini. Pertama, transfer negatif aspek sosiopragmatik yang terjadi ketika para guru menggunakan latar belakang budaya mereka dalam memberi persepsi atas faktor-faktor konteks internal meminta yang mana faktor-faktor konteks eksternal juga menyertai setiap situasi yang terdapat dalam penelitian ini. Kedua, transfer positif aspek pragmalinguistik yang terjadi ketika para guru lebih senang menggunakan strategi permintaan persiapan dalam hampir semua situasi. Hal ini terjadi karena kompetensi guru tentang bentuk-bentuk linguistik meminta dalam bahasa Inggris yang mengikuti bentuk linguistik meminta dalam bahasa asli mereka.

Berdasarkan temuan penelitian, ada tiga saran yang direkomendasikan berdasarkan hasil penelitian ini. Pertama, untuk guru EFL, disarankan tidak hanya mengetahui tetapi juga menerapkan apa yang telah mereka mengerti, terutama dalam arti bahwa bahasa diajarkan supaya siswa dapat menggunakannya baik dalam komunikasi tertulis dan lisan. Kedua, untuk produsen guru, disarankan bahwa mereka memberi perhatian lebih pada aspek pragmatis yang terintegrasi dalam pengajaran bahasa Inggris untuk aspek-aspek yang sering diabaikan oleh para guru EFL. Ketiga, untuk para peneliti di masa depan, agar memperbesar penyelidikan ke daerah-daerah yang lebih luas tetapi lebih fokus pada persepsi guru dan desain yang tepat mungkin adalah penelitian survei, dan untuk menyediakan data asli pada kompetensi guru terhadap kesadaran pragmatis dalam kelas EFL, harus ada tidak hanya satu tindakan komunikatif yang diselidiki, tapi lebih dari sekedar tindak tutur meminta. Selain itu, studi yang berkaitan dengan kesopanan harus dilakukan lebih mendalam dan terfokus pada aspek yang tidak dibahas di sini, seperti hubungan antara ungkapan, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi dalam meminta.