DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Open-Ended Materi Bangun Ruang Sisi Datar

Nafi'atuz . Zahro

Abstrak


Kata kunci : berpikir kreatif, memecahkan masalah, open-ended

Semakin berkembangnyailmu pengetahuan dan teknologi, siswa dituntut untuk dapat menggunakan kemampuannya dalam menyelesaikan segala permasalahan yang dihadapi. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki siswa yakni pemecahan masalah. Melalui kemampuan pemecahan masalah, siswa dapat mengasah kemampuan berpikir kreatifnya. Namun kemampuan berpikir kreatif siswa di Indonesia cenderung belum optimal. Penyebab di antaranya yaitu seperti yang terjadi di MTs. Negeri 6 Banyuwangi bahwa guru masih menerapkan masalah-masalah yang hanya mempunyai satu solusi benar (masalah rutin/tertutup). Hal ini ditunjukkan dari hasil pengerjaan 28 siswa ketika diberikan dua soal open-ended, jawaban siswa secara keseluruhan hanya menuliskan satu strategi penyelesaian dalam memecahkan masalah.

Berpikir kreatif merupakan salah satu kemampuan yang memengaruhi keberhasilan siswa dalam memecahkan masalah matematika. Tidak semua permasalahan matematika dapat dipecahkan dengan cara konvensional namun dibutuhkan cara-cara baru atau pemikiran yang berbeda dengan sebelumnya. Guru dapat mengasah kemampuan siswa untuk memberikan gagasan baru melalui masalah yang menghasilkan solusi banyak (masalah open-ended). Salah satu materi matematika yang dapat dimanfaatkan untuk mengasah kemampuan berpikir kreatif adalah geometri. Peneliti memilih masalah open-ended materi bangun ruang sisi datar karena erat hubungannya dengan yang ada di lingkungan siswa. Oleh karenanya, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif siswa SMP kelas VIII dalam memecahkan masalah open-ended materi bangun ruang sisi datar.

Indikator kemampuan berpikir kreatif yang digunakan dalam penelitian adalah kelancaran, fleksibilitas, dan orisinalitas dengan lima tingkatan yaitu tingkat

4 (sangat kreatif),

3 (kreatif),

2 (cukup kreatif),

1 (kurang kreatif), dan 0 (tidak kreatif). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, pemberian masalah open-ended, dan wawancara. Teknik triangulasi digunakan untuk mengecek keabsahan data.

Berdasarkan jawaban 28 siswa kelas VIIIA dan 30 siswa kelas VIIIB, diperoleh 13 siswa VIIIA dan 23 siswa VIIIB mampu menjawab seluruh pertanyaan yang diberikan. Hasil tersebut kemudian dipilah berdasarkan kejelasan dan kerincian jawaban, sehingga diperoleh tujuh siswa yakni empat siswa kelas VIIIA dan tiga siswa kelas VIIIB. Kejelasan yang dimaksud merujuk pada kemampuan siswa dalam menuliskan jawaban yang dapat dipahami oleh peneliti. Sementara itu, kerincian merujuk pada kemampuan siswa dalam menuliskan jawaban secara detail. Berdasarkan hasil tersebut, dua dari tujuh siswa menggunakan strategi yang sama dalam menyelesaikan masalah poin (b), sehingga dipilih lima siswa untuk dilakukan wawancara. Hasil wawancara dan jawaban yang diuraikan kemudian dikategorikan menjadi tingkatan berpikir kreatif dengan melibatkan tiga ‎indikator yang digunakan dalam penelitian ini (kelancaran, fleksibilitas, dan orisinalitas).

Pengkategorian kemampuan siswa berdasarkan hasiljawaban dan wawancara menghasilkan satu siswa berada di tingkat 0 (tidak kreatif), satu siswa di tingkat

1 (kurang kreatif), dua siswa di tingkat

2 (cukup kreatif), dan satu siswa di tingkat

3 (kreatif).

Siswa pada tingkat nol dapat memahami masalah dengan menuliskan apa yang diketahui tetapi hanya mampu membuat rencana penyelesaian melalui satu strategi. Di samping itu, hanya mampu melaksanakan rencana penyelesaian dengan menghasilkan satu kemungkinan solusi. Tahap memeriksa kembali tidak dilakukan, sehingga masih terdapat kesalahan pengerjaan.

 

Siswa pada tingkat satu dapat memahami masalah dengan menuliskan apa yang diketahui dan membuat gambar yang mewakili masalah open-ended. Hanya mampu membuat rencana penyelesaian melalui satu strategi. Mampu melaksanakan rencana penyelesaian dengan dua alternatif solusi serta melakukan tahap memeriksa kembali dengan baik. Siswa pada tingkat dua (dengan indikator fleksibilitas) dapat memahami masalah dengan menuliskan apa yang diketahui serta mampu membuat rencana penyelesaian melalui dua strategi. Hanya mampu melaksanakan rencana penyelesaian dengan menghasilkan satu kemungkinan solusi. Tidak melakukan tahap memeriksa kembali, sehingga masih terdapat kesalahan pengerjaan.

 

Siswa yang berada pada tingkat dua (dengan indikator orisinalitas) dapat memahami masalah dengan menuliskan apa yang diketahui, menuliskan instruksi, dan membuat gambar yang mewakili masalah open-ended. Namun hanya mampu membuat rencana penyelesaian melalui satu strategi yang bersifat unik atau tidak biasa digunakan pada kemampuan seusianya. Mampu melaksanakan rencana penyelesaian dengan menghasilkan satu kemungkinan solusi. Tahap memeriksa kembali telah dilakukan tetapi masih terdapat kesalahan. Siswa pada tingkat tiga dapat memahami masalah dengan menuliskan apa yang diketahui dan membuat gambar yang mewakili masalah open-ended. Mampu membuat rencana penyelesaian melalui dua strategi dan melaksanakan rencana penyelesaian dengan dua alternatif solusi. Melakukan tahap memeriksa kembali dengan baik, sehingga tidak ada kesalahan.

 

Berdasarkan hasil penelitian, siswa dalam memecahkan masalah mampu melaksanakan tahapan Polya. Akan tetapi, masih terdapat kesalahan yang dilakukan oleh siswa terkait dengan perhitungan atau penguraian jawaban yang kurang lengkap, sehingga tidak sesuai dengan masalah yang diberikan. Sebagian besar siswa tidak melakukan tahap memeriksa kembali namun juga ada siswa yang sudah melakukan tahap tersebut tetapi masih salah dalam perhitungan. Hal itu disebabkan karena siswa tidak menyadari akan kesalahan yang telah dilakukan walaupun sudah melewati tahap memeriksa kembali. Oleh karenanya, disarankan guru matematika SMP untuk menerapkan masalah open-ended agar siswa dapat memberikan beragam solusi atau strategi yang benar. Di samping itu, guru dapat memberikan masalah atau pertanyaan yang berpeluang untuk menghasilkan gagasan-gagasan baru atau unik agar siswa dapat berpikir lebih dalam untuk mengasah kemampuan berpikir kreatifnya.