DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Peran Kepala Sekolah dan Guru dalam Pengelolaan Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences (Studi Multi Kasus di SD Plus Al Kautsar Kota Malang dan SD Unggulan Permatajingga Kabupaten Malang)

M. Saunan Al Faruq

Abstrak


Pembelajaran berbasis Multiple Intelligences (MI) merupakan proses belajar yang didasarkan pada keberagaman kecerdasan manusia. Pembelajaran berbasis MI melibatkan peserta didik untuk belajar melalui aktivitas yang merupakan pilar penting dalam mengonstruksi pengetahuan, perasaan, kemauan, dan keterampilan. Pengelolaan pembelajaran tidak lepas dari peran seorang kepala sekolah sebagai seorang pemimpin dalam satuan pendidikan. Selain itu, guru juga memiliki peran yang strategis, dimana guru merupakan orang yang berhadapan langsung dengan peserta didik. SD Plus Al Kautsar Malang dan SD Unggulan Permatajingga merupakan dua sekolah dasar yang sama-sama menerapkan pembelajaran berbasis MI. Oleh karena itu peneliti melakukan pengamatan guna memahami secara mendalam peran kepala sekolah dan guru dalam pengelolaan pembelajaran berbasis multiple intelegences di sekolah dasar.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi lintas kasus (cross-case studies). Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi langsung pada kasus penelitian dan studi dokumentasi sebagai pendukung. Hasil pengumpulan data kemudian disusun sesuai dengan kaidah penelitian mulai dari proses reduksi data, paparan temuan data (display data), dan pembahasan sesuai dengan fokus penelitian.

Analisis temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis MI dimulai sejak awal pendirian sekolah dan didasarkan pada komitmen sekolah untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik sesuai potensi kecerdasan yang dimiliki. Sekolah dasar dalam kasus penelitian ini mengadopsi konsep MI yang mempercayai bahwa terdapat sembilan tipe kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik. Konsep multiple intelligences yang diterapkan di sekolah dasar memberikan solusi melalui asesmen atau identifikasi bakat dan minat, serta kecerdasan yang peserta didik, sehingga pihak manajemen sekolah dapat memfasilitasi perkembangan mereka sesuai dengan kemampuan dan gaya belajarnya.

Kepala sekolah berperan sebagai pemimpin (leader) dan pengelola (manager) dalam pengelolaan pembelajaran berbasis MI. Hal ini dapat dilihat dari kebijakan yang diterapkan di sekolah, termasuk diantaranya adalah peran kepala sekolah dalam penyusunan kurikulum dan perannya selama proses pembelajaran berlangsung. Kepala sekolah sebagai innovator ditunjukkan melalui gagasannya dalam mengadopsi konsep MI. Selain itu, kepala sekolah juga berperan sebagai communicator dengan masyarakat berkenaan dengan program dan kegiatan yang berlangsung di sekolah. Selama berlangsungnya proses pembelajaran, kepala sekolah berperan sebagai supervisor dan educator yang dilakukan melalui supervisi akademik dan pertemuan ruti antara kepala sekolah dan guru dalam rangka pembinaan. Kepala sekolah juga berperan sebagai evaluator dalam penilaian kinerja guru dan monitoring perkembangan peserta didik dalam evaluasi pembelajaran.

 

Adapun peran guru dalam pengelolaan pembelajaran berbasis MI dimulasi sejak proses perencanaan yang menunjukkan bahwa guru berperan sebagai perncana pelaksanaan pembelajaran. Selian itu, guru juga menjadi petugas dalam pemetaan peserta didik, dimana beberapa guru terlibat dalam tim Multiple Intelligence Research (MIR) dan panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Peran guru yang paling terlihat dalam penerapan pembelajaran berbasis MI dapat diamati melalui perannya sebagai pendidik yang memberikan keteladanan bagi peserta didik. Para guru juga berperan sebagai pembimbing yang memberikan panduan selama berlangsungnya proses pembelajaran. Guru sebagai pengajar atau fasilitator ditunjukkan melaui interaksi antara guru dan peserta didik dengan tujuan untuk memfasilitasi mereka agar berkembang sesuai dengan kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki. Guru juga berperan sebagai penasehat yang menggugah semangat peserta didik untuk belajar dan menerapkan hasil pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Peran terakhir dari guru adalah sebagai evaluator, dimana guru melakukan menilaian terhadap peserta didik dan mengamati perkembangan mereka selama proses pembelajaran.