DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Potensi Model Pembelajaran ERCoRe dalam Meningkatkan KeterampilanBerpikir Kritis Siswa

Mustaqim

Abstrak


Potensi Model Pembelajaran ERCoRe dalam Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa

Mustaqim*, Duran Corebima Aloysius*, Susriyati Mahanal*, Herawati Susilo*

INFO ARTIKEL

Riwayat Artikel:

ABSTRAK

Abstract: Critical thinking skill is a skill in organizing and generating ideas, interpreting, analyzing, evaluating, and knowledge inference based on evidence, concept, criteria, methodology, or contextual consideration. Students’ critical thinking skill are still low and need to be improved. Critical thinking skill can be developed through student-centered learning. One of the strategies that can be used is ERCoRe learning model. This research aims to know the influence of ERCoRe learning model toward students’ critical thinking skill. The design of this research was quasi-experimental, conducted on class XI IPA SMAN 5 Malang and SMAN 7 Malang students. The data analysis that used is covariant. The conclusion based on the results of the analysis showed that there is the influence of ERCoRe learning model toward students’ critical thinking skill compared to conventional strategy.

Abstrak: Keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan seseorang dalam mengatur dan menghasilkan ide, menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, dan menginferensi pengetahuan berdasarkan bukti, konsep, kriteria, metodologi, atau pertimbangan kontekstual yang sudah ada. Keterampilan berpikir kritis siswa masih rendah dan perlu ditingkatkan. Keterampilan berpikir kritis dapat  dikembangkan melalui pembelajaran yang berpusat pada siswa. salah satunya strategi yang dapat digunakan adalah model pembelajaran ERCoRe. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh model pembelajaran ERCoRe terhadap keterampilan berpikir kritis siswa. Jenis penelitian adalah kuasi eksperimen, yang dilakukan pada sampel di kelas XI IPA SMAN 5 Malang dan SMAN 7 Malang. Analisis data yang digunakan adalah analisis kovarian. Adapun kesimpulan berdasarkan hasil analisis adalah bahwa ada pengaruh  model pembelajaran ERCoRe terhadap keterampilan berpikir kritis siswa dibandingkan dengan strategi konvensional.

 

Kata kunci: Critical Thinking Skills ERCoRe learning model Keterampilan Berpikir Kritis Model pembelajaran ERCoRe

Alamat Korespondensi: Mustaqim,  S2 Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang Jalan Semarang No. 5 Malang

E-mail: Mustaqim.abdimars@gmail.com

 

PENDAHULUAN

Keterampilan abad 21 kini menjadi perbincangan saat ini sehingga keterampilan abad 21 perlu diberdayakan termasuk dalam pembelajaran khususnya sains dalam mempersiapkan siswa untuk bisa bersaing di masa depan dan lingkungan masyarakat yang berkembang seperti sekarang (Osborne, Erduran, & Simon, 2004). Seluruh dunia kini telah mengembangkan suatu sistem yang menekankan pada pengembangan keterampilan, pengetahuan, maupun sikap yang diperlukan di abad ke-21 pada bidang pendidikan termasuk pengajaran (Saveedra & Opfer, 2012). National Education Association (2002) menyatakan bahwa keterampilan yang dimaksudkan dan dirasa penting untuk dikembangkan adalah Learning and Innovation Skills yang terdiri dari 4 aspek, di antaranya yaitu keterampilan berpikir kritis. 

Keterampilan berpikir kritis merupakan kemampuan seseorang dalam mengatur dan menghasilkan, menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, dan menginferensi pengetahuan berdasarkan bukti, konsep, kriteria, metodologi, atau pertimbangan kontekstual yang sudah ada (Facione, 2013) dan kemampuan dalam menggunakan informasi dengan kreatif dan berani mengambil risiko (Yildirim & Özkahraman, 2011). Seseorang yang memiliki keterampilan berpikir kritis cenderung lebih terampil dalam berpikir untuk mengambil keputusan dan kesimpulan dari suatu informasi (Facione, 1990). Ciri-ciri orang yang memiliki keterampilan berpikir kritis adalah

1) mempunyai ambisi dalam melihat sesuatu secara menyeluruh dan rinci,

2) mencari penjelasan dengan menganalisis ide-ide secara menyeluruh dan rinci,

3) Selalu mencari penjelasan yang lebih akurat,

4) berpikiran secara terbuka dan luas (Fisher, 1998).

Beberapa penelitian sebelumnya menyatakan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa masih rendah dan perlu ditingkatkan (Novitasari, 2012; Kurniawati, 2015). Salah satu alasan rendahnya keterampilan berpikir kritis adalah pembelajaran yang digunakan saat ini masih cenderung menggunakan pembelajaran konvensional dan belum mengembangkan keterampilan berpikir siswa  (Bahri & Corebima, 2015). Hal ini sejalan dengan pernyataan Corebima (1999) bahwa pemberdayaan berpikir siswa masih kurang diperhatikan dan dilaksanakan pada pembelajaran di Indonesia. Pembelajaran yang diterapkan di sekolah masih menggunakan pembelajaran teacher center dimana pada proses pembelajaran masih didominasi oleh guru dan tidak memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi secara mandiri dalam mengembangkan proses berpikirnya (Trianto, 2008).

Keterampilan berpikir kritis dapat  dikembangkan melalui pembelajaran melalui pemilihan  strategi pembelajaran yang tepat (Paul & Elder, 2006). Strategi yang dirasa tepat untuk mengembangkan  keterampilan berpikir kritis tersebut adalah pembelajaran yang memposisikan siswa sebagai pusat pembelajaran sehingga siswa melatih kemampuan dalam berpikir (Duron, 2006). Pembelajaran yang terpusat pada siswa melatih konseptualisasi, penerapan,  analisis,  sintesis, dan evaluasi  informasi melalui pengamatan, pengalaman,  refleksi,  komunikasi dan refleksi dalam bertindak (Scriven & Paul, 2004).

Salah satu strategi yang dapat digunakan dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis serta menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah dengan menerapkan model pembelajaran ERCoRe (Eliciting, Resctructuring, Confirming and Reflecting). Model ERCoRe merupakan model pembelajaran yang berbasis pada pendekatan konstruktivis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendekatan konstruktivis dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa (Maypole & Davies, 2001). ERCoRe memiliki empat tahapan yaitu Eliciting, Restructuring, Confirming, dan Reflecting, yang di dalamnya terdapat kegiatan mind mapping dan kegiatan kooperatif lainnya. Manfaat dari tahapan model pembelajaran ini adalah

1) meningkatkan keterampilan berpikir siswa,

2) menjadikan siswa sebagai pebelajar yang mandiri,

3) mengajak siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan melalui kegiatan pembelajaran yang bersifat kooperatif dimana siswa akan diarahkan untuk membuat peta pikiran (mind map) dalam mengkonstruk kembali pengetahuan yang telah mereka peroleh (Ismirawati, 2015).

Berdasarkan pemaparan yang telah dibahas, peneliti merasa perlu dilakukan sebuah penelitian dalam rangka melihat pengaruh model pembelajaran ERCoRe terhadap keterampilan berpikir kritis. Penelitian ini nantinya diharapkan dapat menjadi solusi dalam dunia pendidikan khususnya bagi guru dalam upaya mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa dengan menerapkan model pembelajaran ERCoRe sehingga siswa mampu bersaing dalam kehidupan bermasyarakat dengan baik.

 

METODE

Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian quasi eksperimen atau eksperimen semu dengan desain penelitian yaitu Pretest-Postest Nonequivalent Control Group Design. Penelitian dilakukan dengan memberikan tes berpikir kritis diawal pertemuan sebagai pre-test pada kelas sampel yang sebelumnya telah dilakukan pembelajaran ERCoRe sebagai kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional seabgai kelas kontrol, setelah itu diberikan tes diakhir pertemuan sebagai post-test.

Penelitian dilaksanakan pada semester gasal tahun ajaran 2018/2019. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas XI IPA di SMA Negeri di Malang. Sampel dipilih dengan teknik random sampling pada kelas setara pada 2 sekolah yaitu di SMA Negeri 5 Malang dan SMA Negeri 7 Malang dengan total berjumlah 13 kelas. sehingga diperoleh 4 kelas yaitu kelas IPA4 dan IPA 5 di SMAN 5 Malang serta IPA 3 dan IPA 5 di SMAN 7 Malang dengan total siswa sebanyak 141.

Pengambilan data dilakukan dengan memberikan tes essay berjumlah 8 soal yang dibuat berdasarkan indikator berpikir kritis dari Facione yang terdiri dari explanation, analisys, inference, evaluation, dan self-regulation. Tes diberikan setelah siswa diberikan pembelajaran terkait materi yang akan dijawab dalam soal yaitu materi tentang sistem gerak, sistem peredaran darah dan sistem pencernaan manusia yang sebelumnya telah dilakukan uji coba soal untuk melihat validitas dan reliabilitasnya. Adapun hasil uji validitas dan ringkasan hasil reliabilitas dapat dilihat secara berurutan pada Tabel 1 dan Tabel 2 berikut ini.

Data yang diperoleh akan diuji prasayarat berupa uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan homogenitas menggunakan uji Levene’s Test. Apabila data   memenuhi syarat normal dan homogen kemudian akan dilanjutkan dengan analisis teknik anakova untuk mengetahui adanya kontribusi keterampilan berpikir kritis dan kreatif terhadap retensi siswa. Analisis akan dilakukan dengan menggunakan bantuan aplikasi SPSS 23.

 

HASIL

Deskripsi Rata-rata Skor Hasil Belajar Kognitif

 Data hasil skor pretest dan posttest keterampilan berpikir kritis pada model pembelajaran ERCoRe mengalami peningkatan yaitu sebesar 15,650%, sedangkan pada pembelajaran konvensional mengalami peningkatan yang lebih kecil yaitu sebesar %. Adapun ringkasan peningkatan hasil skor keterampilan berpikir kritis dapat dilihat pada Tabel 1.

 

1. Rata-Rata Nilai Pretest dan Posttest Hasil Belajar Kognitif pada Model Pembelajaran yang Berbeda

Strategi                Mean Std. Error 95% Confidence Interval

Lower Bound Upper Bound

ERCoRe                54,815a 1,115 52,610 57,020

Konvensional  43,651a 1,122 41,432 45,871

Uji Prasyarat Variabel Terikat Hasil Belajar Kognitif

 Sebelum melakukan uji hipotesis untuk mengetahui adanya pengaruh model pembelajaran ERCoRe, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yang terdiri atas uji normalitas dan uji homogenitas data sebelum melakukan pengujian hipotesis. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal, sedangkan uji homegenitas digunakan untuk mengetahui ragam data yang homogen. Hasil uji normalitas dan homogentias data secara berurutan dapat dilihat pada Tabel 2 dan Tabel 3 berikut.

Tabel 2. Ringkasan Uji Normalitas Data

 XBKritis YBKritis

N 141  141

Normal Parametersa,b  Mean 25,2955 49,2317

 Std. Deviation 9,00072 11,83339

Most Extreme Differences Absolute ,130 ,105

 Positive ,130 ,105

 Negative -,076 -,082

Test Statistic ,130 ,105

Asymp. Sig. (2-tailed) ,000c ,001c

 Tabel 3a. Ringkasan Uji Homogenitas Data Pretest

F df1 df2 Sig.

2,169 3 137 ,094

Tabel 3b. Ringkasan Uji Homogenitas Data Posttest

F df1 df2 Sig.

,131 3 137 ,942

Berdasarkan Tabel 4. diperoleh nilai signifikansi yaitu, nilai ini lebih besar dari nilai alpha (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa data keterampilan berpikir kritis terdistibusi normal. Berdasarkan Tabel 5a dan 5b diperoleh nilai segnifikansi yaitu, nilai ini lebih besar dari nilai alpha (0,05) sehingga dapat disimpulan bahwa data keterampilan berpikir kritis memiliki ragam yang homogen.

Uji Hipotesis Variabel Terikat Hasil Belajar Kognitif

Hasil analisis dengan uji ANAKOVA dapat diketahui bahwa nilai Fhitung = 20,306 dengan p-value = 0,046. p-value < α (α=0,05). Sehingga, H0 yang berbunyi tidak ada pengeruh strategi pembelajaran terhadap keterampilan berpikir kritis siswa, di tolak. Maka, H1 yang berbunyi ada pengaruh strategi pembelajaran terhadap keterampilan berpikir kritis siswa, diterima.  Selain itu dapat diketahui bahwa strategi yang memiliki pengaruh lebih besar dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa adalah model pembelajaran ERCoRe dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Adapun ringkasan uji anakova dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Ringkasan Uji Anakova Pengaruh Model Pembelajaran terhadap Hasil Belajar Kognitif

Source Type III Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 7712,933a 4 1928,233 22,053 ,000

Intercept 15467,430 1 15467,430 176,902 ,000

XBKritis 3238,087 1 3238,087 37,034 ,000

Strategi                4314,103 1 4314,103 49,341 ,000

Error 11891,132 136 87,435

Total 361354,492 141

Corrected Total 19604,065 140

Berdasarkan Tabel 4, diperoleh nilai taraf signifikan yaitu 0,000. Berdasarkan uji statistik hasil anakova tersebut dapat diketahui lebih kecil dibandingkan dengan alpha yang digunakan yaitu 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh strategi pembelajaran terhadap keterampilan berpikir kritis siswa. Data kemudian dianalisis dengan uji lanjut untuk mengetahui strategi mana yang memiliki pengaruh paling besar terhadap peningkatan hasil belajar kognitif. Adapun lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5 di bawah ini.

Tabel 5. Ringkasan Hasil Uji Lanjut Pengaruh Strategi Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Kognitif

No Strategi Xkritis Ykritis Selisih KritisCor

1 ERCoRe 24,2371 54,108 29,8709 54,815

2 Konvensional 26,369 44,2857 17,9167 43,651

Berdasarkan Tabel 5, diperoleh rerata terkoreksi untuk strategi pembelajaran ERCoRe yaitu 11,164% lebih besar dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran ERCoRe berpengaruh lebih banyak dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis jika  dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

 

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil uji analsis data untuk menguji hipotesis diketahui bahwa terdapa pengaruh strategi pembelajaran terhadap keterampilan berpikir kritis siswa, dimana strategi yang digunakan adalah model pembelajaran ERCoRe dan pembelajaran konvensional. Selain itu dapat pula disimpulkan bahwa model pembelajaran ERCoRe memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan dengan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Melalui pembelajaran ERCoRe, siswa akan mengkonstruk pengetahuan mereka dalam bentuk mind map individu maupun kelompok. Selain itu ada beberapa kegiatan pada model ERCoRe yang mempengaruhi peningkatan keterampilan berpikir kritis. Adapun langkah-langkah tersebut tertuang dalam keempat sintaks atau tahap pembelajaran.

Tahap pertama disebut Eliciting atau mencari informasi. Pada tahap ini siswa akan diberikan kesempatan untuk menemukan sendiri pengetahuan yang terkait dengan materi pembelajaran dari bahan bacaan berupa UKBM, buku paket dan internet. Melalui eliciting, siswa melatih keterampilan dalam menyimpulkan suatu bacaan menjadi bentuk yang lebih sederhana terkait topik pembelajaran (Tomasek, 2009). Dalam menyimpulkan, siswa harus menilai sendiri pengetahuan yang relevan dan mengidentifikasi, menanya dan mengganti, menilai, mendeteksi, serta menerima atau menolak informasi, pengetahuan atau pendapat orang lain (Brookfield, 1987) keterampilan berpikir kritis siswa dapat berkembang. Menurut King (1968), terdapat dua alasan yang menyebablan kegiatan membaca dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Pertama adalah konsep dasar pembaca berasal pemikiran-pemikiran yang diperluas dan diperdalam yang berasal dari sumber bacaan. Kedua adalah pembaca membentuk sendiri pemikiran operasional dalam berbahasa terutama dan membangun bahasa khususnya menyusun kosa kata. Oleh karena itu, membaca memiliki peran penting dalam mengembangkan keterampilan berpikir siswa (Zubaidah, 2016).

Tahap kedua disebut Restructuring atau menyusun kembali. Pengetahuan yang telah diperoleh pada tahap pertama kemudian akan disusun kembali dalam bentuk lebih sederhana dalam bentuk mind map kelompok. Pembelajaran berkelompok (Cooperative learning) dapat digunakan dalam pembelajaran untuk memberdayakan kemampuan berpikir kritis (Corebima, 2008). Dalam tahap ini siswa saling bertukar pikiran terhadap apa yang telah mereka dapat dari membaca kemudian dituangkan dalam bentuk mind map. Mind map merupakan media yang dibuat berdasarkan cara berpikir seseorang yang mengikuti cara kerja otak manusia secara alami sehingga mampu memanfaatkan seluruh potensinya (Winduro, 2009). Strategi mind mapping membuat siswa berpikir secara aktif dengan mengemukakan pendapat secara bebas dan bekerjasama, sehingga melatih siswa berpikir kritis dalam menemukan dan menggunakan informasi (Marvianasari, 2016). Hal tersebut sejalan dengan pendapat Buzan (2004) yang menyatakan bahwa mind map membuat siswa lebih aktif dalam mengemukakan gagasan atau idenya melalui pemetaan pikiran selama pembelajaran.

Tahap ketiga disebut Confirming atau mengkonfirmasi pengetahuan. Pengetahuan yang dikonfirmasi adalah pengetahuan yang telah mereka tuangkan dalam bentuk mind map dan akan dipresentasikan di depan kelas serta ditanggapi oleh siswa yang lainnya. Berpikir kritis dapat dikembangkan dengan melatih siswa mencari kebenaran dan toleran terhadap ide-ide baru, sistematis dalam berpikir, Baik dalam menganalisis masalah, memiliki rasa ingin tahu yang besar, dewasa dan mandiri dalam berpikir (Anderson, 2004). Berpikir kritis siswa akan berkembang melalui penerapan kegiatan reflektif dimana siswa akan membuat kesimpulan dari seluruh rangkaian pembelajaran (Suprijono, 2010).

Tahap keempat disebut Reflecting atau refleksi. Informasi yang telah diperoleh dari tahap satu, dua dan tiga kemudian akan di analisis dan dievaluasi kembali untuk disimpulkan menjadi suatu pengetahuan yang baru. Kegiatan refleksi dapat mengaktifkan keterampilan berpikir kritis siswa (Kagan & Kagan, 2009). Berpikir kritis adalah berpikir yang menguji, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek dari situasi masalah (Krulik dan Rudnik, 1993). Termasuk di dalam berpikir kritis adalah mengelompokkan, mengorganisasikan, mengingat dan menganalisis evaluasi. Siswa yang memiliki keterampilan berpikir kritis akan mampu menganalisis dan mengevaluasi informasi yang mereka temukan kemudian memunculkan pertanyaan, mengumpulkan dan menghubungkannya dengan informasi yang relevan, serta mengomunikasikannya dengan baik (Duron, 2006).

 

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran ERCoRe  berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kritis siswa.

Saran

Model pembelajaran ERCoRe dapat digunakan guru sebagai sarana pembelajaran di kelas untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Tidak menutup kemungkinan model ini juga dapat meningkatkan prestasi siswa yang lainnya maka dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam terhadap model ERCoRe ini.

DAFTAR RUJUKAN

Anderson, L. (2004). New perspectives on action learning: developing criticality. Journal of European Industrial Training, 28(8/9), 657–668. https://doi.org/1011080309059041056657

Bahri, A., & Corebima, A. D. (2015). The Contribution Of Learning Motivation And Metacognitive Skill On Cognitive Learning Outcome Of Students Within Different Learning Strategies. Journal Of Baltic Science Education, 14(1648–3898), 487–500.

Brookfield, S. (1987). Developing Critical Thinkers. Challenging adults to explore alternative ways of thinking and acting. San Francisco: Jossey – Bass.

Buzan, T. (2004). Mind Map Untuk Meningkatkan Kreativitas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Corebima, A. D. (1999). Proses dan Hasil Pembelajaran MIPA di SD, SLTP, dan SMU: Perkembangan Penalaran Siswa Tidak Dikelola Secara Terencan. Proceeding Seminar on Quality Improvement of Mathemathics and Science Education in Indonesia.

Duron, R. (2006). Critical Thinking Framework For Any Discipline. International Journal of Teaching and Learning in Higher Education, 17(2), 160–166.

Facione, P. (1990). Critical Thinking: A Statement of Expert Consensus for Purposes of Educational Assessment and Instruction. ResearchGate.

Facione, P. (2013). Critical Thinking: What It Is and Why It Counts. ResearchGate.

Fisher, R. (1998). Thinking about Thinking: Developing Metacognition in Children. Teaching Thinking and Creativity Developing Creative Minds and Creative Futures, 141, 1–15.

Ismirawati, N. (2015). Prototipe Model Pembelajaran Ercore (Elicitation, Restructuring, Confirmation, Reflection) Untuk Memberdayakan Keterampilan Metakognisi. Seminar Nasional Pendidikan Sains “Pengembangan Model Dan Perangkat Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi,” 227–239.

Kagan, S., & Kagan, M. (2009). Kagan Cooperative Learning. San Clemente, California: Kagan.

King, M. L. (1968). Developing Critical Thinking Skills Through Reading. International Reading Association Conference. Boston: U. S. DEPARTMENT OF HEALTH, EDUCATION & WELFARE OFFICE OF EDUCATION.

Kurniawati, Z. L. (2015). Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA Negeri Kota Batu Pada Matapelajaran Biologi. In M. Saptasari, U. Lestari, B. Lukiati, M. Amin, F. Rahman, S. Prabaningtyas, … S. E. Rahayu (Eds.), Seminar Nasional dan Workshop Nasional Biologi dan Pembelajarannya ke-2 (pp. 1677–1684). Malang: Jurusan Biologi FMIPA UM.

Marvianasari, S. (2016). Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Dalam Pembelajaran Geografi Melalui Model Mind Mapping. Universitas Lampung.

Maypole, J., & Davies, T. G. (2001). Students Perceptions of Constructivist Learning In A Community College American History II Survey Course. Community College Review, 29(2), 54–79.

Novitasari, A. T. (2012). Pengembangan Pemikiran Kritis Dan Kreatif Dalam Pembelajaran Ekonomi Dengan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL). Prosiding Seminar Nasional Universitas Negeri Surabaya 9 Mei 2015.

Paul, R., & Elder, L. (2006). Critical Thinking Concepts and Tools. Retrieved from The Foundation for Critical Thinking website: www.criticalthinking.org

Scriven, M., & Paul, R. Defining Critical Thinking. , (2004).

Suprijono, A. (2010). Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tomasek, T. (2009). Critical Reading: Using Reading Prompts to Promote Active Engagement with Text. International Journal of Teaching and Learning in Higher Education, 21(1), 127–132.

Trianto. (2008). Mendesain Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) di Kelas. Surabaya: Cerdas Pustaka.

Winduro, S. (2009). Memory Champion! Jakarta: Elex Media Komputindo.

Yildirim, B., & Özkahraman, Ş. (2011). Critical Thinking in Nursing Process and Education. International Journal of Humanities and Social Science, 1(13), 257–262.

Zubaidah, S. (2016). Keterampilan Abad Ke-21: Keterampilan Yang Diajarkan Melalui Pembelajaran. Seminar Nasional Pendidikan Dengan Tema “Isu-Isu Strategis Pembelajaran MIPA Abad 21. Kalimantan Barat: Pendidikan Biologi STKIP Persada Khatulistiwa Sintang.