DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaruh Pengalaman Mengajar, Pengalaman Pelatihan, Budaya Kerja dan Usia Terhadap Persepsi Transferable skills Guru Produktif di SMK Kota Malang dan Kabupaten Malang serta Kota Batu

Seno Isbiyantoro

Abstrak


Persepsi Transferable Skills Guru Produktif Ditinjau dari Pengalaman Mengajar dan Pengalaman Pelatihan di Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu

Seno Isbiyantoro1, Purnomo2, Anik Nur Handayani2

1 Pendidikan Kejuruan, Universitas Negeri Malang

2 Pascasarjana, Universitas Negeri Malang

 

INFO ARTIKEL

Riwayat Artikel:

Diterima: Tgl-Bln-Thn

Disetujui: Tgl-Bln-Thn

ABSTRAK

Abstract: The present study aimed to investigate:

(1) the influence of teaching experience and training experience with perceptions of transferable skills productive teachers;

(2) the influence of teaching experience with perceptions of transferable skills productive teachers,

(3) the influence of training experience with transferable skills productive teachers. The samples were 137 productive teachers of Computer and Information Engineering (TKI) study programs in Malang City and Regency and Batu City. To answer its problems, the study collected the data by using questionnaires. The data gathered were then analyzed employing desctiptive analysis, regression analysis, and partial correlation analysis.

The study found that:

(1) there is a significant influence on teaching experience and training experience with perceptions of transferable skills productive teachers (0,000 < 0,05);

(2) there is a significant influence on teaching experience with perceptions of transferable skills productive teachers (0,001 < 0,05); (3) here is a significant influence on teaching experience with perceptions of transferable skills productive teachers (0,000 < 0,05).

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:

(1) pengaruh pengalaman mengajar dan pengalaman pelatihan dengan persepsi transferable skills guru produktif;

(2) pengaruh pengalaman mengajar dengan persepsi transferable skills guru produktif;

(3) pengaruh pengalaman pelatihan dengan transferable skills guru produktif. Penelitian ini menggunakan rancangan ex-postfacto. Sampel penelitian ini adalah 137 guru produktif program studi Teknik Komputer dan Informasi (TKI) di Kota dan Kabupaten Malang serta Kota Batu. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, analisis regresi ganda, dan analisis korelasi parsial.

Hasil penelitian ini adalah:

(1) ada pengaruh signifikan pengalaman mengajar dan pengalaman pelatihan dengan persepsi transferable skills guru produktif (0,000 < 0,05);

(2) ada pengaruh signifikan pengalaman mengajar dengan persepsi transferable skills guru produktif (0,001 < 0,05);

(3) ada pengaruh signifikan pengalaman pelatihan dengan persepsi transferable skills guru produktif (0,000 < 0,05).

Kata kunci: Pengalaman Mengajar Pengalaman Pelatihan Transferable Skills

Alamat Korespondensi: Seno Isbiyantoro,

Pendidikan Kejuruan Universitas Negeri Malang Jl. Semarang No 5, Kota Malang, Jawa Timur

E-mail: senoisbiyantoro93@gmail.com

Pendidikan kejuruan berperan penting dalam membangun dan memenuhi standar kebutuhan dunia kerja karena lulusannya dibekali keterampilan hardskill maupun softskills. Dalam pendidikan kejuruan terdapat pelatihan yang menyediakan spesialisasi pengetahuan dan keterampilan professional (Mortaki, 2012). Seseorang dapat memiliki keterampilan tersebut melalui pendidikan formal di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK sebagai jembatan bagi lulusan yang siap bekerja sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Sejalan dengan tema pembangunan pendidikan jangka panjang 2005-2024, pembangunan SMK diarahkan pada peningkatan daya saing internasional sebagai pondasi dalam membangun kemandirian dan daya saing bangsa dalam menghadapi persaingan global (Kemendikbud, 2017). Guru merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan kualitas pendidikan. Di zaman modern ini pendidikan guru kejuruan dianggap sebagai pendidik yang professional dan sebagai kunci agen perubahan (Nielsen, 2010), yang memiliki kemampuan paedagogis, kepribadian, profesional dan sosial, dimana guru yang berkualitas adalah guru yang memiliki keempat kompetensi tersebut.

Namun pada kenyataannya tingkat keterampilan guru itu sendiri masih dianggap rendah, terutama dalam memecahkan masalah pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari angka pengangguran pada data Badan Pusat Statistik tahun 2018 yang menunjukan ada 7 juta pengangguran di Indonesia, diantaranya adalah 11,24% lulusan SMK, 7,95% lulusan SMA, 6,02% diploma, dan 5,89% universitas. Sajidan (2017) menambahkan masalah yang terjadi di SMK yaitu guru yang mengajar sesuai bidang kompetensinya hanya mencapai 22,3% dan pendidikan kejuruan (SMK) belum link and match dengan DU/DI. Upaya pemerintah dalam mengatasi beberapa masalah tersebut adalah dengan menerbitkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK dalam rangka peningkatan kualitas dan daya saing SDM Indonesia. Beberapa tugas yang dilakukan adalah menyelaraskan kurikulum SMK dengan kompetensi sesuai pengguna lulusan link and match, meningkatkan kompetensi tenaga kependidikan di SMK dan meningkatkan kerjasama dengan kementerian, pemerintah daerah dan dunia usaha/industri.

Peran guru sangat dibutuhkan dan menjadi faktor utama dalam menerapkan upaya-upaya tersebut. Dalam hal ini guru bukan hanya mengendalikan hardskills saja, tetapi transferable skills juga penting untuk dimiliki karena karakteristik dari keterampilan ini menuntut adanya inisiatif, fleksibilitas, dan kemampuan untuk menangani suatu masalah.  Menurut (Jin, 2014), transferable skills merupakan kompetensi inti yang diperlukan untuk menerapkan keterampilan dasar dan keterampilan pemecahan masalah untuk mengubah lingkungan menjadi salah satu elemen utama kebijakan pendidikan. Seseorang dikatakan memiliki transferable skills apabila terampil dalam berkomunikasi, memecahkan masalah, bekerjasama dengan orang lain, mampu memanajemeni diri, mampu belajar dan menguasai teknologi dalam pekerjaannya. Kelebihan dari transferable skills ini tidak hanya untuk kepentingan pekerjaan, tetapi juga untuk pertumbuhan pribadi dan kualitas hidup. Menurut Demaria, Hodgson, & Czech (2018), transferable skills sangat penting diimplementasikan dalam pendidikan formal, sehingga perlu diterapkan dalam kurikulum pendidikan. Sejalan dengan pernyataan YM Adnan, Md Nasir Daud, Anuar Alias (2012) menekankan bahwa pengembangan soft skills diterapkan dalam kurikulum pendidikan formal atau informal. Luk, Ho, & Chan (2014) menegaskan bahwa transferable skills penting dimiliki oleh siswa, guru, karyawan, universitas, pemerintah, dan badan akreditasi baik dalam pendidikan maupun pekerjaan. Olsen, Sverdrup, & Kalleberg (2019) mengatakan bahwa mengembangkan dan meningkatkan aspek Transferable skills secara positif dapat berpengaruh pada kepuasan kerja.

Berdasarkan pernyataan tersebut seharusnya pendidikan kejuruan memperhatikan transferable skills dalam pembelajaran. Namun pada kenyataannya keterampilan ini kurang mendapat perhatian. Hal ini dibuktikan oleh penelitian Hassan, Maharoff, & Zainal Abiddin (2014) bahwa terdapat 75% pendidik tidak pernah mengikuti kursus yang berkaitan dengan soft skill/transferable skills, artinya banyak pendidik yang tidak memiliki pengetahuan formal tentang soft skill. Dari temuan tersebut, kemungkinan guru juga kurang mengetahui atau memperhatikan transferable skills dalam pekerjaannya. Dengan demikian, persepsi guru mengenai transferable skills juga perlu diketahui dan diperhatikan. Berdasarkan penelitian Williams & Handa (2018) tentang persepsi transferable skills menunjukkan lebih dari 60% responden setuju bahwa transferable skills sangat penting dalam menentukan tingkat pengembangan keterampilan memecahkan masalah. Penelitian Setiawan, Kuntadi, & Bukit (2018) menunjukkan bahwa guru memiliki persepsi transferable skills yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa.

Persepsi transferable skills guru tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pengalaman mengajar dan pengalaman pelatihan. Pengalaman mengajar dianggap penting untuk menjadi tenaga pendidik yang kompeten dan memiliki wawasan yang luas sehingga memungkinkan tercapainya kemampuan transferable skills. Semakin lama masa kerja guru mengajar, maka akan semakin banyak pengalaman yang mendukung ketercapaian kemampuan transferable skills. Tang, (2018) mengatakan bahwa kualitas mengajar dapat mempengaruhi soft skills seperti keterampilan komunikasi, kerja tim dan belajar. Sehingga seorang pendidik penting untuk dimiliki terhadap aspek tersebut, yang akan berdampak positif terhadap prestasi siswa. Pengalaman pelatihan atau diklat juga dapat menjadi faktor penentu dalam mencapai kemampuan transferable skills karena guru akan dilatih untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, wawasan dan keterampilan dalam mengajar. Guru dapat mengembangkan kemampuan transferable skills melalui berbagai program pelatihan. Hal ini didukung oleh penelitian San-Valero et al., (2018) bahwa pelatihan pendekatan pedagogik dapat meningkatkan transferable skill baik dosen maupun siswa seperti kemampuan komunikasi. Ngang, Yunus, & Hashim, (2015) mengungkapkan bahwa soft skills guru dapat diperoleh dari program pelatihan pengajaran. Penelitian Larraz, Vázquez, & Liesa, (2017) menunjukkan bahwa pelatihan guru yang menggunakan metode cooperative learning dapat mengembangkan dan meningkatkan transferable skills.

Berdasarkan pernyataan tersebut, pengalaman mengajar dan pengalaman pelatihan dapat mempengaruhi persepsi transferable skills guru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengalaman mengajar dan pengalaman pelatihan dengan persepsi transferable skills guru produktif program studi Teknik Komputer dan Informasi (TKI) di Kota dan Kabupaten Malang serta Kota Batu.

METODE

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian ex-postfacto karena variabel independent yang akan diteliti telah terjadi terlebih dahulu sebelum variabel dependent. Populasi pada penelitian ini berjumlah 433 guru produktif program TKI di Kota dan Kabupaten Malang serta kota Batu. Penentuan jumlah sampel pada penelitian menggunakan rumus slovin dengan taraf signifikansi 0,1, sehingga diperoleh 137 guru produktif program studi Teknik Komputer dan Informasi (TKI). Pengambilan teknik sampling menggunakan teknik cluster random sampling karena data yang diambil berupa klaster-klaster beberapa SMK yang terdapat program TKI di Kota dan Kabupaten Malang serta kota Batu. Instrumen pengambilan data yang digunakan adalah kuesioner.  Data yang sudah diperoleh, selanjutnya diolah dan dianalisis dengan analisis deskriptif, analisis regresi linier berganda, dan analisis korelasi parsial. Sebelum melakukan analisis regresi linier berganda, dilakukan uji prasyarat terlebih dahulu, diantaranya:

(1) normalitas;

(2) linieritas;

(3) multikolinearitas; dan

(4) heteroskedastisitas.

HASIL

Hasil penelitian ini berupa analisis:

(1) deskriptif,

(2) uji prasyarat,

(3) regresi berganda dan

(4) korelasi parsial.

Analisis Deskriptif

Pengalaman Mengajar Guru Produktif Program keahlian Teknik Komputer dan Informasi (TKI)

Berdasarkan hasil analisis diperoleh skor tertinggi dari variabel pengalaman mengajar adalah 211, sedangkan skor terendah adalah 144. Selisih skor tersebut adalah 67 dan diperoleh panjang kelas interval sebesar 17. Hasil analisis deskiptif pengalaman mengajar disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Analisis Deskriptif Pengalaman Mengajar

No Interval Kategori Frekuensi Persentase

1 195 – 211 Sangat Baik 26 12%

2 179 – 194 Baik 53 39%

3 162 - 178  Cukup  42 31%

4 144--161 Kurang  16 12%

Total 137 100%

Berdasarkan Tabel 1. menunjukkan bahwa pengalaman mengajar guru produktif program keahlian Teknik Komputer dan Informasi (TKI) sebagian besar termasuk dalam kategori ‘baik’. Guru yang  memiliki pengalaman mengajar yang baik rata-rata masa kerja yang cukup lama. Hal ini disebabkan oleh masa mengajar guru yang diteliti lebih dominan pada guru yang sudah lama mengajar. Lamanya masa mengajar guru produktif TKI di Kota dan Kabupaten Malang serta Kota Batu dalam mengajar disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Analisis Deskriptif Lama Mengajar

No Tahun Kategori Frekuensi Persentase

1 <5 Sangat Baik 19 14%

2 5 - 10  Baik 30 22%

3 11 - 15  Cukup  57 42%

4 >5 Kurang  31  23%

Total 137 100%

Berdasarkan Tabel 2. diperoleh data yang menunjukan bahwa lama mengajar guru paling tinggi adalah 11-15 tahun. Hal ini menandakan bahwa guru yang diteliti sudah lama dalam mengajar. Semakin lama guru mengajar, maka pengalaman yang dimilikinya juga lebih banyak sehingga lebih mahir dalam mengajar dan berdampak pada keterampilan guru.

Pengalaman Pelatihan Guru Produktif Program Keahlian Teknik Komputer dan Informasi (TKI)

Berdasarkan hasil analisis diperoleh skor tertinggi dari variabel pengalaman pelatihan adalah 92, sedangkan skor terendah adalah 64. Selisih skor tersebut adalah 28 dan diperoleh panjang kelas interval sebesar 7. Hasil analisis deskiptif pengalaman pelatihan disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Analisis Deskriptif Pengalaman Pelatihan

No Interval Kategori Frekuensi Persentase

1 86 – 92 Sangat Baik 37 27%

2 79 – 85 Baik 49 36%

3 72 – 78 Cukup  35 26%

4 64 – 71 Kurang  16 12%

Total 137 100%

Berdasarkan Tabel 3. menunjukkan bahwa pengalaman pelatihan guru produktif program keahlian Teknik Komputer dan Informasi (TKI) sebagian besar termasuk dalam kategori ‘baik’. Pengalaman pelatihan dapat menjadi faktor yang besar dalam meningkatkan kualitas guru sebagai pendidik. Hal ini disebabkan karena guru yang diteliti sering mengikuti pelatihan, sehingga pengalaman yang diperoleh lebih banyak. Banyaknya pelatihan yang diikuti guru produktif TKI di Kota dan Kabupaten Malang serta Kota Batu dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil Analisis Deskriptif Frekuensi Mengikuti Pelatihan

No Interval Kategori Frekuensi Persentase

1 14 – 17 kali Sangat Baik 21 15%

2 10 – 13 kali Baik 47 34%

3 6 – 9 kali Cukup  39 28%

4 1 – 5 kali Kurang  30 22%

Total 137 100%

Berdasarkan Tabel 4. diketahui jumlah tertinggi adalah guru yang mengikuti pelatihan sebanyak 10-13 kali dengan kategori ‘baik’. Semakin sering guru mengikuti pelatihan, maka pengalaman yang dimilikinya juga lebih banyak. Guru yang sering mengikuti pelatihan diyakini memiliki persepsi transferable skills yang lebih baik

Transferable skills guru produktif program keahlian Teknik Komputer dan Informasi (TKI)

Berdasarkan diperoleh skor tertinggi dari variabel persepsi transferable skills adalah 335, sedangkan skor terendah adalah 241. Selisih skor tersebut adalah 34 dan diperoleh panjang kelas interval sebesar 24. Hasil analisis deskiptif persepsi transferable skills disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 5. Hasil Analisis Deskriptif Persepsi Transferable Skills

No Interval Kategori Frekuensi Persentase

1 313 – 335 Sangat Baik 22 16%

2 289 – 312 Baik 56 41%

3 266 – 288 Cukup  44 32%

4 241 – 265 Kurang  15    11%

Total 137 100%

Berdasarkan Tabel 5. menunjukkan bahwa persepsi transferable skills guru produktif program keahlian Teknik Komputer dan Informasi (TKI) sebagian besar termasuk dalam kategori ‘baik’. Persepsi transferable skills dapat dipengaruhi oleh pengalaman mengajar dan pengalaman pelatihan guru. Hal ini dibuktikan dengan data hasil analisis pengalaman mengajar dan pengalaman pelatihan yang ‘baik’, menyebabkan persepsi transferable skills yang ‘baik’ pula.

Besarnya pengaruh pengalaman mengajar dan pengalaman pelatihan terhadap persepsi transferable skills dapat dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Data akan di uji terlebih dahulu menggunakan uji asumsi klasik sebagai persyaratan teknik analisis. Uji asumsi klasik terdiri dari uji normalitas, linieritas, heteroskedastisitas dan multikolineritas.

Uji Prasyarat Analisis

Uji Normalitas

Pada penelitian ini, uji normalitas menggunakan nilai residual dengan One Sample Kolmorogorov Smirnov. Pengujian menggunakan bantuan SPSS 22 For Machintos. Jika nilai signifikansi > 0.05, maka data berdistribusi normal, sebaliknya jika nilai signifikansi < 0,05, maka data tidak berdistribusi normal. Hasil uji normalitas disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil Uji Normalitas

Unstandardized Residual

N 137

Normal Parametersa,b Mean 289,357664

 Std. Deviation   16,0020505

Most Extreme Differences Absolute ,067

Positive                ,060

Negative -,067

Test Statistic ,067

Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d

a. Test distribution is Normal.

Hasil uji normalitas menggunakan Non-Parametrik Kolmogorov Smirnov SPSS 24 for Machintos, menunjukan nilai Unstandardized Residual siginikansi sebesar 0,200. Berdasarkan hipotesis dan kriteria uji normalitas data, hasil perhitungan diatas lebih besar dari 0,05 sehingga H0 diterima yang berarti data berdistribusi normal.

Uji Linieritas

Uji linieritas dilakukan untuk mengetahui apakah data variabel independent berhubungan linier dengan variabel dependent. Jika nilai signifikansi pada deviation from linearity > 0,05, maka variabel independent dengan variabel dependent memiliki hubungan yang linier, sebaliknya jika nilai signifikansi pada deviation from linearity < 0,05, maka variabel independent dengan variabel dependent memiliki hubungan yang tidak linier. Hasil uji linier disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Hasil Uji Linieritas

Hubungan Variabel Signifikansi

Pengalaman mengajar dengan persepsi transferable skills 0,550

Pengalaman pelatihan dengan persepsi transferable skills 0,250

Berdasarkan Tabel 7. hubungan variabel pengalaman mengajar dan pelatihan dengan persepsi transferable skills memiliki nilai signifikansi > 0,05. Data tersebut menunjukkan bahwa pengalaman mengajar dan pengalaman pelatihan dengan persepsi transferable skills memiliki hubungan yang linier dengan nilai signifikansi masing-masin