DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Makna Arsitektur Rumah Adat Balla Lompoa Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan melalui Perspektif Interaksi Simbolik

Syamsuriadi.

Abstrak


ARSITEKTUR RUMAH BALLA LOMPOA GALESONG SUKU MAKASSAR SEBAGAI SUMBER MATERI GEOGRAFI BUDAYA

Syamsuriadi1, I Komang Astina1, Singgih Susilo1 1Pendidikan Geografi-Pascasarjana Universitas Negeri Malang

E-mail: syamsuriadiunmum@gmail.com

INFO ARTIKEL

Riwayat Artikel:

Diterima:

ABSTRAK

Disetujui:Abstract: The purpose of this study was to describe the meaning of the balla lompoa symbol Galesong in the Makassar tribe while still looking at the geographic context behind the shape of the balla lompoa house. This type of research is qualitative descriptive using an ethnographic approach with a perspective of symbolic interaction. The results of this study indicate that the symbols on balla lompoa have a meaning that is guided by the philosophy of the Makassar tribe, namely sulapa appaka (square). The form of balla lompoa Galesong Makassar tribe is also motivated by the location of the Galesong region which is the coastal area of the Makassar Strait. The meaning and value of the balla lompoa is very relevant to be used as a source of material in the Culture Geography Course, Department of Geography, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Makassar State University.

Abstrak: Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan makna simbol balla lompoa di Galesong pada Suku Makassar dengan tetap melihat konteks geografi yang melatarbelakangi bentuk rumah balla lompoa itu. Jenis penelitian ini deskriptif kualitatif  menggunakan  pendekatan  etnografi dengan perspektif interaksi simbolik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa simbol pada balla lompoa memiliki makna yang berpedoman pada falsafah suku Makassar yaitu sulapa appaka (persegi empat). Bentuk balla lompoa Galesong Suku Makassar juga dilatarbelakangi oleh letak  wilayah Galesong yang merupakan wilayah pesisir pantai selat Makassar. Makna dan nilai balla lompoa tersebut sangat relevan untuk dijadikan sumber materi pada Matakuliah Geografi Budaya Jurusan Geografi Fakultas MIPA Universitas Negeri Makassar.

Kata kunci: arsitektur; rumah   balla lompoa; mateial source; cultural geografi

Alamat Koresponden: Syamsuriadi Pendidikan Geografi  Pascasarjana Universitas Negeri Malang  Jl.Semarang No.5, Kota Malang

Peradaban masa lalu dianggap oleh generasi muda merupakan sesuatu yang ketinggalan sehingga berpotensi untuk dilupakan. Pada kehidupan akan terjadi pembaruan dengan berdampak pada mengikisnya nilai budaya yang ada di bangsa kita. Perkembangan zaman membuat generasi melenial mengalami begitu banyak persoalan (Syarif, Hasriyanti, Fatchan, Astina, & Sumarmi, 2016). Tantangan dalam melawan  kepentingan  dan  sikap  individual antara kebersamaan bisa memicu masalah sosial (Hendra, Budijanto, & Ruja I Nyoman, 2018). Salah satu  peradaban kita sabagai bangsa yang beragam adalah melihat bentuk dari rumah adatnya yang juga beragam seperti yang ada di Sulawesi Selatan lebih tepatnya di Kecamatan Galesong yang disebut juga balla lompoa (rumah kebesaran) yang ada di Kabupaten Takalar. Jika dipahami, peradaban masa lalu merupakan gambaran tingkat intelektual leluhur yang hidup pada saat itu. Oleh karena itu menggali dan melestarikan peradaban arsitektur rumah yaitu balla lompoa kita dan generasi milenial akan mengetahui cara berkembang kecerdasan manusia dari tiap masanya. Kecerdasan beradaptasi leluhur masa lalu juga akan memberikan gambaran perkembangan manusianya. Kekayaan tradisional pada masyarakat di Sulawesi Selatan tercermin dari beragamnya entitas budaya dan khazanah nilai yang di interpretasikan sebagai keseimbangan hidup antara manusia, ketuhanan dan alam, hingga khazanah arsitektur yang merepresentasikan makna dan nilai luhur.

Kepercayaan para leluhur terhadap bentuk bangunan dan posisi bangunan rumah akan memberikan variasi bernuansa tersendiri. Kepercayaan tersebut bagi masyarakat Suku Makassar saat ini dihadapkan pada tantangan untuk melestarikannya yang secara perlahan terus menghadapi proses modernisasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa dari beberapa peninggalan arsitektur tradisional salah satu diantaranya yakni bangunan rumah adat sebagian sudah ada yang mengalami pelapukan bahkan sampai punah termakan usia (Ansaar, 2015). Balla lompoa berbentuk rumah panggung sarat akan simbol yang mengandung makna dan nilai sosial. Banyak  bangunan  yang  bersejarah dan mempunyai  makna  simbolik  dan arsitektur yang unik dan menarik (Rahmawati Tri Annisa & Nurcahyo Abraham, 2018). Simbol budaya tersebut hanya saja belum memublikasikan secara menyuluh ke masyarakat. Berdasarkan hasil observasi awal pada masyarakat umum pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang representasi makna rumah panggung hanya di ketahui oleh beberapa orang. Pemahaman  masyarakat  tentang  representasi rumah panggung hanya dipengaruhi  oleh  kondisi sosial ekonomi, padahal di dalam struktur bentuk rumah adat panggung itu terdapat representasi alam dan manusia. Hal ini tercermin dari masih adanya masyarakat yang belum memahami akan arti simbol pada arsitektur balla lompoa.

Arsitektur tradisional lahir dari kebutuhan manusia untuk melindungi diri dari cuaca pada musim tertentu. Bentuknya bervariasi mengikuti bahan bangunan yang tersedia tidak terkecuali yang ada di Kabupaten Takalar. Sejarawan dan antropolog serta para budayawan sudah mengenal kepulauan Indonesia sebagai tanah dan orang-orang dengan tradisi bangunan lama untuk iklim tropis basah yang terbuat dari konstruksi bambu dan kayu (Wiryomartono Bagoes, 2013). Oleh karena itu arsitektur tradisional yang dimiliki oleh Suku Makassar sangat terkait dengan kondisi dan potensi sumber daya alam sekitarnya serta perlu dilestarikan.

Beberapa masyarakat membuat rumah dengan bentuk semi permanen atau panggung yang tidak jauh berbeda dengan struktur rumah balla lompoa. Masyarakat yang masih memiliki rumah dalam bentuk semi permanen ini ternyata tidak semuanya memahami secara persis akan makna dari arsitektur tersebut. Sebagai  produk  dari  proses  berfikir  yang  inovatif, kreatif  dan  produktif secara bersama-sama membentuk sistem hidup yang berkesinambungan dengan masyarakat  yang dibangun  oleh  adat,  norma ataupun  kebiasaan  berupa tradisi yang  telah  membudaya. Balla lompoa yakni rumah adat di Galesong ini masih bertahan salah satunya karena bagi masyarakat,  rumah tersebut berarti rumah besar dan merupakan suatu simbol kebudayaan yang beridentitas. Struktur bangunan terdahulu tersebut memberi pandangan dan sekaligus sebagai identitas kesukuan bagi masyarakat pendorong kebudayaan (Johansen Poltak, 2014). Indonesia sendiri memiliki berbagai provinsi tiap-tiap daerah mencetuskan rumah adatnya sendiri. Pulau Sumatera yakni rumah adat Krong Bede, Balon, Gandag, Sulaso, Bubung, Panggung Kajang, Limas, Rakit Limas, Rakyat, dan nowou sesat. Pulau Jawa yakni rumah adat badui, Sunda, Joglo jawa tengah, Bangsal Kencono, Joglo Jawa timur, Tanean lanjhang, dan Kebaya, pulau Sulawesi yakni, rumah adat Pewaris, Tambi, Buton, Tongkonan, Dulokopa, dan Mandar. Pulau Kalimantan yakni rumah adat Panjang, Betang, Lamin, Bubungan Tinggi, dan Baloy. Pulau Bali yakni rumah adat Gapuran Candi Bentar. Pulau Nusa Tenggara yakni rumah adat Musalaki dan Dalam Lokal. Pulau Maluku yakni rumah adat Baiko dan Sasadu. Pulau Papua yakni rumah adat Honai, Mod Saki Aksa, dan Lgkojei. Bahkan terdapat wilayah provinsi yang mempunyai rumah adat hampir disetiap wilayah kabupaten. Salah satunya rumah adat Tongkonan, Mamasa, Saoraja Tenri Bali, Labakkang, Buki, Bola Soba, Sao Mario, Balla Lompoa, Letta, dan Langkanae.

Pemanfaatan kebudayaan yang ada pada lingkungan sekitar peserta didik sebagai materi ajar akan meluaskan kajian  kontekstual yang sudah ada pada pembelajaran. Perlunya mengetahui proses dari budaya lokal yang ada di sekitar lingkungan mahasiswa untuk menghadapi globalisasi (Syamsunardi, 2017). Bahan ajar Geografi yang ideal yakni bersumber pada lingkungan sekitar peserta didik. Pembelajaran seharusnya mengaitkan antara dunia nyata mahasiswa dengan materi yang akan diajarkan, sehingga dalam pembelajaran akan diperoleh pengetahuan yang bermakna dan bermanfaat (Syarif, 2017).

Mata kuliah geografi budaya sangat relevan dijadikan sebagai salah satu cara mengkomunikasikan kepada mahasiswa mengenai makna simbolik pada konstruksi balla lompoa pada proses pembelajaran. Objek geografi tidak hanya landskap (bentang alam) tetapi memisahkan pengertian landskap budaya dan landskap alam. Geografi budaya merupakan sub bidang  ilmu geografi manusia yang mempelajari studi tentang produk budaya, norma dan variasi mereka menemukan dan hubungan dengan ruang dan tempat (Suharyono, 2013). Berdasarkan hal tersebut arti budaya pada konstruksi rumah balla lompoa sangat berpotensi untuk di integrasikan dalam pembelajaran geografi budaya pada topik budaya lokal. Penelitian ini bermaksud menggali informasi serta mengungkap makna arsitektur balla lompoa di Kabupaten Takalar yang dapat di jadikan sumber pembelajaran Geografi Budaya. Konteks geografi yang melatarbelakangi arsitektur balla lompoa juga akan dipertimbankan dalam memahami pemaknaannya. Penelitian ini berbeda dengan yang lain, karena hasil dari penelitian ini dimanfaatkan sebagai materi pada topik budaya lokal mata kuliah Geografi Budaya.

METODE

Pendekatan etnografi digunakan dalam penelitian ini yang juga merupakan salah satu pendekatan pada penelitian kualitatif dengan memakai perspektif Interaksi simbolik. Pendekatan  etnografi  merupakan suatu pendekatan  yang digunakan dalam mengkaji arsitektur budaya balla lompoa yang ada komunitas masyarakat serta mengungkap makna yang ada pada kebudayaan.  Lokasi  penelitian  berada  di  Desa Galesong Baru Kecamatan Galesong Kabupaten  Takalar,  Sulawesi  Selatan.  Pengumpulan data yang akan dipakai oleh peneliti dalam penelitian ini adalah observasi partisipan, melakukan pengamatan langsung terhadap apa yang dibicarakan diantara subjek penelitian seperti wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis yang digunakan peneliti adalah analisis interaktif (Miles & Huberman, 1984).

Proses pengecekan keabsahan data dengan audit trail untuk memverifikasi keabsahan data. Audit ini dapat terjadi selama berkali-kali dan di akhir penelitian. Penelitian ini yang bertindak sebagai seorang Audit adalah pembimbing peneliti. Drs. I Komang Astina, M.S.,Ph.D sebagai pembimbing I, dan Dr. Singgih Susilo, M.S.,M.Si sebagai pembimbing II. Pada tahap ini sejumlah konsultasi diadakan oleh peneliti dan auditor. Selama proses konsultasi atau pemeriksaaan rancangan laporan hasil penelitian auditor memberi respon. Jika dari sisi auditor terlihat adanya perbaikan, hal itu dibicarakan untuk kemudian diperbaiki. Penulisan rancangan hasil penelitian tidak hanya dilakukan sekali jadi, tetapi senantiasa berkembang mengikuti dengan hasil revisi.

Hasil penelitian ini kemudian dibuat dalam bentuk laporan etnogafi yang digunakan sebagai sumber materi Matakuliah Geografi Budaya. Materi yang dimaksud adalah memahami budaya lokal yang  akan digunakan pada lingkup  Jurusan  Pendidikan  Geografi  Fakultas MIPA Universitas Negeri Makassar.

HASIL

Lokasi Kecamatan yang ada di Galesong semuanya pada wilayah pesisir. Hal ini membuat masyarakat dahulu yang bertempat tinggal di Galesong lebih memahami akan kondisi alam agar mampu beradaptasi dengan baik, salah satunya dalam membuat rumah atau yang dulunya disebut istana kebesaran bagi karaeng (raja). Adaptasi masyarakat Galesong menunjukkan bentuk pengetahuannya mengenai alam. Masyarakat mampu memberikan respon atas apa yang diberikan oleh alam. Hal ini berkaitan dengan paham posibilisme yakni alam tidak selamanya mampu mengikuti ataupun menanggapi setiap kehidupan dan aktivitas manusia, tetapi alam memberikan berbagai opsi untuk dipilih lalu manusia merespon setiap alternatif pilihan yang disediakan oleh alam. Alam hanyalah sebagai faktor pengontrol aktivitas manusia bukan merupakan faktor penentu, namun alam memberikan banyak peluang dan pilihan yang dapat manusia tentukan unsur-unsur kebudayannya dimana ahli geografi terkadang menyebut pendekatan ini dengan istilah lain yaitu pendekatan fisis posibilisme.

Tata Ruang Balla Lompoa

Berdasarkan pandangan hidup dan budaya lokal (culture) orang Makassar, maka arah rumah sebaiknya menghadap ke salah satu arah mata angin:  utara, timur, selatan, atau barat.  Berdasarkan hasil yang ditemukan dilapangan bahwa rumah yang paling baik dan bagus adalah yang menghadap atau mengarah ke kiblat ataupun mengikuti arah mata angin dengan anggapannya akan lebih aman, dan menghindari kemungkinan akan roboh oleh angin karena rumah tidak menyilang arah angin. Arah orientasi layout balla  lompoa adalah  utara - selatan  dengan makna  bahwa  karaeng (raja)  merupakan  seseorang  yang  memiliki keyakinan  agama  Islam  sehingga berpatokan pada pedoman ajaran Islam,  menghadap utara - selatan, dengan bagian   depan   rumah   menghadap   ke   selatan,   dan   bagian   belakang   rumah menghadap ke utara. Berdasarkan ajaran Islam bahwa rumah yang baik dan bagus menghadap ke kiblat, maka rumah yang menghadap arah utara - selatan  merupakan tanda  bahwa  pemilik rumah  tersebut memiliki keyakinan  Islam. Bentuk balla lompoa adalah persegi yang berpatokan pada falsafah sulapa appaka, dengan arah bangunan utara -selatan. Balla  lompoa berbentuk  rumah  panggung  dengan  tiang di  bawah  bangunan. Benteng (tiang rumah) induk balla  lompoa berjumlah tiga puluh enam  buah  yaitu  enam  deret  ke  samping  dan  tujuh deret  ke belakang.  Tiang  yang  terdapat  pada Paladang berjumlah  enam belas buah.

Gambar 2. Rumah balla lompoa Desa Galesong Baru Kecamatan Galesong

Sumber: Dokumentasi Lapangan

Tuka (Tangga)

Pada  anak  tangga harus  ganjil,  seperti  7,  9,  11, atau 13. karena jumlah  genap  dimaknai  milik orang yang sudah meninggal. Tangga  yang  memakai cocorang (pegangan  tangga)  merupakan  wujud simbolik yang memiliki makna  bahwa  rumah  tersebut  merupakan tempat  raja dengan maksud bahwa untuk membedakan rumah  rakyat  biasa dan rumah  raja. Tidak lain penggunaan coccorang sebagai pegangan tangga agar raja/pengguna tangga tersebut dapat berpegangan ketika  menggunakan   tangga agar lebih aman dari resiko jatuh. Bagian  yang  mengandung  makna   tersebut   berubah,  sehingga bagi masyarakat  setempat  dianggap  sebagai  sesuatu  alamiah  sehingga  menimbulkan mitos yang digunakan turun temurun.

Gambar 3. Tampak depan Tangga Depan dengan Cocorang (pegangang)

Sumber: Dokumentasi Lapangan

Sambulayang (Bubungan)

Jumlah sambulayang (bubungan) dan anjong (khiasan) yang digunakan pada atap rumah merupakan wujud simbolis yang membedakan status sosial seperti status sosial tinggi, menengah,  dan  bawah pada masyarakat.  Jumlah sambulayang yang  diterapkan  pada balla  lompoa sama dengan jumlah sambulayang yang digunakan pada rumah raja Sulawesi Selatan lainnya  yaitu  berjumlah  lima,  dan  terdapat anjong (khiasan)  pada  setiap  ujung  atap balla lompoa. Makna yang tersirat dalam   penggunaan sambulayang dan anjong  itu adalah menunjukan bahwa bangunan ini merupakan kediaman  seorang raja  (orang dengan  status  sosial  tinggi) yang menimbulkan  mitos dalam kalangan masyarakat  suku Makassar yang menyatakan  bahwa  bangunan  rumah  dari  lapisan  sosial  menengah hingga terendah  tidak  boleh menyamai  bentuk  rumah  lapisan  sosial  di  atasnya. Sama halnya bubungan pada bagian atap induk rumah yang berjumlah lima susun, dibagian atap teras rumah juga memiliki lima susun bubungan. Lima susun bubungan pada bagian atap teras rumah balla lompoa memiliki makna bahwa negara memiliki lima dasar yaitu Pancasila. Hanya rumah balla lompoa Galesong yang memiliki lima susun bubungan dibagian paladang (teras) rumah, dimana rumah adat lainnya di Sulawesi Selatan hanya memiliki tiga susun bubungan. Semua itu didasari oleh aturan yang disepakati bersama, jika melanggar aturan itu berarti merusak tata tertib alam dan akan mendatangkan musibah.

Gambar 4. Atap balla lompoa bagian induk rumah dengan sambulayang (bubungan) bersusun lima.

Sumber: Dokumentasi Lapangan

Gambar 5. Atap balla lompoa bagian teras dengan sambulayang bersusun lima.

Sumber: Dokumentasi Lapangan

Paladang (Teras)

Angka yang digunakan pada ruang paladang (teras) ini merepresentasikan pada struktur  alam, tidak terkecuali petak terali  kayu  yang  berjumlah  tiga petak yang mengandung  makna  mengacu  pada   struktur  alam  semesta.  Angka  tiga yang menurut  kepercayaan  masyarakat Galesong suku  Makassar  angka  tiga berarti  bahwa  alam  semesta yang jika dilihat secara garis vertikal  ini  terbagi  atas  tiga  bagian,  yaitu langit, bumi, dan air. Berdasarkan hal tersebut bagian teras rumah ini merupakan gambaran dari langit. Bagi masyarakat Suku  Makassar makna tersebut kemudian  berubah  menjadi  mitos yang hingga saat ini dianggap sebagai sesuatu  yang  alamiah  dalam  kehidupan  sosial  masyarakat. 

Gambar 6. Bagian Depan Paladang (teras)

Sumber: Dokumentasi lapangan

Rinring (Dinding)

Makna  yang tersirat adalah bentuk persegi empat ini merupakan bentuk dasar dari  bentuk  kayu,  sehingga  dengan  menggunakan  bentuk  persegi  empat  dapat mengefesiensikan  penggunaan   kayu   serta proses   pembuatan   kayu   dapat   cepat diselesaikan  yang  hingga  saat  ini  dianggap sebagai sesuatu  yang  alamiah  dalam  kehidupan  sosial  masyarakat  Makassar. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa makna yang diterapkan pada dinding  tetap  berpedoman  pada  struktur  alam, dimana secara vertikal dinding balla lompoa tergolong kedalam alam tengah yang kalau dilihat secara garis horizontal tergolong ruang paddasserang ri tangnga (ruang keluarga). Berdasarkan hal tersebut dinding yang tergolong pada ruangan tengah merupakan gambaran dari bumi. Sementara jumlah jendela yang ada pada dinding yaitu bagian samping  empat jendela yang arti simboliknya bahwa di alam semesta ini ada empat unsur yakni air, api, angin, dan tanah. Tiga jendela bagian depan memiliki arti manusia itu ada tiga susun secara vertikal yaitu bagian atas kepala sampai dagu, bagian tengah dagu hingga pusat, dan bagian bawah yaitu pusat hingga ujung kaki.

Gambar 7. Dinding tampak dari luar

Sumber: Dokumentasi lapangan

Pakkekbu (Pintu)

Pintu  masuk  ruang Paddaserang (ruang keluarga) ini  menggunakan bentuk persegi empat dan terdapat empat bentuk  pada  masing-masing  daun pintu  yang  menunjukan  pada  angka  kesempurnaan.  Bentuk tersebut merupakan bentuk dasar dari kayu yang digunakan sebagai bahan utama membuat pintu, sehingga menggunakan bentuk dasar untuk mengefesiensikan  waktu  dan  biaya. Pintu  masuk ke ruang keluarga itu mempunyai  dua  daun  pintu,  yang mengandung  makna  agar  semua  kebahagiaan  dapat  terbuka dengan harapan ada aura kebaikan yang masuk ke dalam rumah balla lompoa. Penggunaan kaca pada pintu itu juga tersirat makna agar kebaikan yang masuk kerumah akan transparan tanpa ditutupi oleh hal yang dapat merugikan penghuni rumah.

Gambar 8. Pintu ke arah ruang Paddaserang Riolo (ruang depan)

Sumber: Dokumentasi lapangan

Arsitektur balla lompoa yang dapat dijumpai dalam masyarakat Suku Makassar yang secara khusus berada di Kabupaten Takalar berfungsi sebagai tempat tinggal bagi raja yang pada saat itu berjuang melawan penjajah. Fungsi balla lompoa yang lebih nampak sekarang ini lebih kepada tempat untuk melakukan suatu musyawarah yang berkaitan dengan adat setempat. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam arsitektur rumah balla lompoa yakni: nilai estetika, etika, persatuan, religius, falsafah, tanggung jawab status sosial, kejujuran, kesopanan, kepemimpinan, dan nilai kepercayaan. Nilai-nilai yang terdapat pada arsitektur balla lompoa tersebut  harus  dilestarikan dan diketahui oleh generasi muda dan masyarakat. Salah satunya alternatifnya adalah  mengintegrasikannya ke dalam proses pembelajaran khususnya pada Matakuliah Geografi Budaya.

PEMBAHASAN

Asumsi teoritiknya adalah bahwa masyarakat hidup akan senantiasa membentuk interaksi simbolik yang terbentuk melalui proses interaksi dan komunikasi, baik antar individu, individu dengan kelompok, dan atau antar kelompok, dengan memakai sesuatu simbol yang dipahami maknanya melalui proses belajar. Tindakan yang dimunculkan oleh subjek merupakan hasil dari tahap interpretasi terhadap suatu rangsangan yang melalui tahap pemahaman. Akibat kemampuan berpikir dari masing-masing individu, maka akan dimiliki kebebasan untuk menentukan tindakannya sesuai dengan tujuan yang dikehendaki (Ritzer & Goodman, 2012).

Bagi masyarakat Galesong yang memiliki kepercayaan bahwa tanah merupakan bagian dari bumi yang bernafas, dimana di siang hari menarik nafas dan malam mengeluarkan nafas. Pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat  lokal  dalam  menjawab  berbagai  masalah  dalam  pemenuhan  kebutuhan  mereka (Ridwan, Fatchan, & Astina, 2016).  Anggapan masyarakat tersebut jika di kaitkan dengan sisi ilmiah maka hal tersebut bisa di pahami berdasarkan ilmu geografi dari sisi respirasi tanah yakni peristiwa tanah yang bernapas dengan bantuan mikroba-mikroba kecil yang hidup di bawah tanah dan menghabiskan karbon dioksida dari yang disimpan akar dan daun-daun mati. Karbon dioksida ini dilepaskan kembali ke udara. Leluhur telah meyakinkan dalam sistem kepercayaan adat yang ketika dipahami ternyata manusia akan lebih sehat dan aman jika tinggal di rumah panggung dibandingkan tinggal di rumah yang kontak langsung dengan tanah.

Bertuk fisik topografi pada wilayah Sulawesi Selatan terbagi antara dataran tinggi dan dataran rendah sehingga membuat masyarakat beradaptasi pada lingkungan dengan membuat rumah panggung (balla kayu). Dataran tinggi juga masih bisa dijumpai rumah panggung seperti di Kabupaten Toraja, Masamba, serta sebagian wilayah pada Kabupaten Gowa, Sinjai, dan Bone, Kabupaten lainnya tergolong dataran rendah. Asal  mula   tujuan  manusia  mencipta bangunan adalah menyelaraskan kondisi sekitarnya  dengan  pandangan  hidupnya. Rumah adalah  pernyataan  hidup  yang menyatu  dengan masyarakat dan alam lingkungannya (Rachmah, 2018). Masyarakat juga menganggap rumah panggung sebagai rumah yang multifungsi seperti di bagian bawah (siring) untuk menyimpan hasil pertanian seperti jagung, di bagian tengah ata di bawah (paladang) untuk berkumpul bersama anggota keluarga, dan di bagian (paladang) untuk menyimpang padi. Hal tersebut diyakini bahwa Konstruksi rumah sangat dipengaruhi oleh kondisi alam (nature), salah satunya intensitas matahari, intensitas curah hujan, kecepatan angin, serta  material bahan baku yang digunakan banyak terdapat di daerah tersebut.   

Berbeda sekali dengan adanya faktor perkembangan. Rumah hanya berfungsi sebagai tempat berteduh jika dilihat waktu masih masa berburu. Kemudian lebih kedepan ke masa cocok tanam dan dengan hidup yang mulai tetap hampir semua kegiatan kehidupan diawali atau dilaksanakan di rumah begitupun ketika bersosialisasi dimulai dalam rumah. Keberlangsungan  hidup  masyarakat  saat  ini  tentu  sulit untuk  dapat dipisahkan  dari  dunia  kebiasaan,  adat-istiadat,  budaya  dan  keyakinan  hal tersebut   menyatu   dengan   diri   komunitasnya, hal ini yang membuat kelangsungan kehidupan sosialnya berperilaku (Rismawati, 2014). Lingkungan sosial berkaitan dengan sikap. Sikap kebatinan dan kerohanian dimiliki oleh sebuah masyarakat, sedangkan budaya berkenaan dengan tindakan-tindakan manusia (individu) yang melakukan interaksi dengan lingkungan alamnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Bentuk  rumah menurut  anggapan masyarakat  suku Makassar merupakan representasi  alam raya  ini  berbentuk  persegi  empat.  Falsafah  atau  pandangan  hidup  ini  disebut sulapa appaka yang menjadi ukuran keseimbangan hidup. Oleh karena itu, rumah suku Makassar sebagai mikrokosmos harus berbentuk dasar segi empat. Stratifikasi sosial masyarakat suku Makassar sangat signifikan, hal ini dapat dilihat dari bentuk rumah, luas, dan simbol yang boleh dipakai. Berdasarkan hal tersebut  menunjukan  bahwa  rumah balla lompoa merupakan kediaman seorang yang memiliki keturunan raja. Bentuk atap yang digunakan pada bangunan balla lompoa merupakan bentuk segitiga yang  mempunyai  maksud  agar  air  hujan  yang jatuh  tidak tertampung di atas atap sehingga mencegah terjadinya kebocoran ke dalam rumah.

Bentuk persegi empat yang  digunakan  pada  bagian paladang bangunan balla lompoa merupakan wujud simbolis  bahwa rumah ini  adalah  rumah  suku  Makassar.  Makna yang  tersirat  adalah  bentuk  persegi  empat  ini merupakan bentuk dasar dari bentuk kayu. Seperti yang diketahui rumah balla lompoa ini  tersusun  dari  papan  kayu  sehingga  dengan  menggunakan  bentuk persegi  empat  dapat  menghemat  penggunaan  kayu  serta  proses  pembuatan  kayu dapat cepat diselesaikan. Papan  kayu jati yang  digunakan sebagai  pembentuk dinding merupakan  salah satu ciri khas  rumah  suku Bugis-Makassar. Rumah merupakan salah satu unsur universal dalam kebudayaan yang memiliki arti simbolik khas yang dapat menunjukkan identitas pemiliknya. susunan arsitektur suatu rumah merupakan cerminan kebudayaan suatu bangsa. Melihat  bangunan rumah maka dapat merekonstruksi tentang bagaimana kehidupan manusia, bekerja, dan mengekspresikan diri. Hampir seluruh perputaran kehidupan manusia terjadi di dalam rumah mulai dari lahir, hidup dan kemudian mati (Ansaar, 2015). Kehidupan dilakukan dalam rumah. makan dan tidur anggota keluarga terjadi di dalamnya, tamu-tamu diterima dan jamu juga di dalamnya. Hasil pertanian sebagai bahan pangan cadangan pun disimpan di loteng (pammakkang).

Rumah dapat memcerminkan kepribadian orang yang berkediaman di tempat tersebut. Ajaran Islam mengandung nilai sosial (Dahlan, 2017). Hal ini sejalan dengan kepercayaan islam yang menegaskan kondisi manusia dalam lingkungan sosial dengan berbagai suku dan bangsa membentuk kehidupan sosial, membuat mereka saling membantu dalam kebaikan, kebahagiaan manusia juga terkait dengan hubungan dengan sesamanya. Pembangunan rumah senantiasa mengikuti pola tertentu berdasarkan tradisi yang dapat diterima oleh masyarakat pendukung, sehingga rumah tidak dibuat hanya berdasarkan kehendak pribadi yang dibangun dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia baik kebutuhan spiritual maupun realistis sehingga pendirian sebuah rumah senantiasa dihubungkan oleh nilai-nilai watak dan kecenderungan, keinginan dan cita-cita kehidupan manusia itu sendiri. Hal demikian merupakan simbol yang membahasakan segala manusia dari pemiliknya, kecenderungan dan kewajaran yang memperteguh jati diri setiap manusia. Berdasarkan hal tersebut rumah merupakan wujud interaksi simbolik dari manusia yang mencerminkan kepribadian yang bermartabat.

Berangkat dari pandangan masyarakat Galesong arsitektur rumah suku Makassar sebagai sebuah hasil kebudayaan di era penjajahan yang di dalamnya mengandung kearifan dan pengetahuan lokal. Penggalian, interpretasi, dan integrasi terhadapnya dalam rangka reaktualisasi nilai sesuai semangat ruang dan waktu masa kini yang baik untuk pendidikan khususnya dalam menanamkan nilai ke generasi penerus ataupun masyarakat umum. Keragaman etnis dan budaya mempunyai potensi sangat besar dalam pembentukan dan pengembangan pendidikan melalui integrasi nilai-nilai budaya dalam proses pembelajaran dalam pembentukan kepribadian peserta didik (Syarif, 2017). Oleh karena itu semua pihak diharapkan untuk melakukan upaya-upaya yang nyata dalam pelestariannya.

Integrasi Arsitektur Rumah  Balla Lompoa Suku Makassar Sebagai Sumber Materi Geografi Budaya

Kebudayaan pada masyarakat perlu untuk dikenalkan kepada mahasiswa. Proses  pembelajaran  dengan sumber  materi dari  nilai  budaya  lokal  erat kaitannya  dengan  pendidikan  geografi. Pengintegrasian  nilai budaya pada yang terkandung pada rumah yang di interpretasikan oleh masyarakat tersebut dapat  diwujudkan  dalam proses pembelajaran Matakuliah geografi budaya. Menanamkan nilai budaya merupakan  bentuk  tindakan  untuk  mewujudkan sikap  peduli  pada peradaban kebudayaan bangsa yang menjadi identitas nasional yang patut untuk di pahami oleh mahasiswa ataupun masyarakat umum. Tujuan  dari mata kuliah geografi budaya diharapkan setelah  mengikuti  proses  perkuliahan  mahasiswa  memiliki  wawasan  pengetahuan, pemahaman, serta  mampu  menganalisis  teori,  konsep, pendekatan  geografi  dalam memahami kebudayaan masyarakat. Mahasiswa menjadi sasaran membagikan pemahaman budaya lokal yang ada di masyarakat ke mahasiswa diharapakan dengan harapan menerima,  mengaplikasikan dan mentransfer  pemahaman itu kepada orang terdekat mereka. Berdasarkan hal tersebut alternatifnya melalui salah satu Matakuliah wajib seperti geografi  budaya  makna balla lompoa Kabupaten Takalar akan di integrasikan. Harapan yang  lain mengankat   tema makna arsitektur balla lompoa Kabupaten Takalar menjadi refleksi bagi  mahasiswa yang tidak  berasal  dari  kultur suku makassar untuk juga menggali budaya yang ada pada dirinya ataupun tempatnya. 

SIMPULAN

Tiga bagian pada rumah balla lompoa masing-masing memiliki kemampuan dan fungsi bukan hanya tempat untuk beristirahat tetapi juga sebagai pelindung bagi penghuninya yang merupakan perwujudan pengaruh iklim dan letak geografis yang melatarbelakangi bentuk dari balla lompoa di Galesong. Arsitektur balla lompoa memiliki simbol-simbol yang mengandung sebuah makna. Makna yang terdapat pada arsitektur balla lompoa merupakan hasil dari interaksi manusia dan alam yang terbentuk di kehidupan masyarakat.

Simbol pada arsitektur balla lompoa di interpretasikan oleh individu  bahwa  bangunan tersebut merupakan  kediaman  seorang karaeng (raja) dengan bentuk orientasi, rinring (dinding), tontongan (jendela),  tuka (tangga), sambulayang (bubungan), pakkekbu (pintu), dan paladang (teras) yang menggunakan  bentuk  persegi empat, hal ini di karenakan masyarakat Galesong berpedoman pada falsafah sulapa appaka dalam membangun rumah yang memiliki makna keseimbangan hidup. Hal ini sesuai dengan pokok bahasan  pada mata  kuliah  Geografi  Budaya  yakni  memahami kearifan budaya lokal dan diharapkan dengan mengintegrasikan makna yang terdapat pada arsitektur balla lompoa dalam pembelajaran Geografi Budaya yakni dapat lebih memahami materi serta menanamkan sikap peduli terhadap warisan budaya pada diri mahasiswa agar tidak melupakan kearifan budaya lokal dalam menghadapi perkembangan zaman.

DAFTAR RUJUKAN

Ansaar. (2015). Arsitektur Tradisional Mamasa. Makassar: Pustaka Refleksi.

Dahlan, M. (2017). Historical Studies on Sarak Values and their Implementation in Gowa. Mediterranean Journal of Social Sciences, 8(3), 183–188. https://doi.org/10.5901/mjss.2017.v8n3p183

Hendra, Budijanto, & Ruja I Nyoman. (2018). Penguatan Kesetiakawanan Sosial Peserta Didik melalui Nilai Budaya Perayaan Maudu Lompoa. 3(10), 1339–1342. Retrieved from http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/

Johansen Poltak. (2014). Arsitektur Rumah Betang (Radakng) Kampung Sahapm. Patanlaja, 6(3), 461–474.

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1984). Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of New Methods. California: SAGE Publications Inc.

Rachmah, S. (2018). Rumah Adat Balla Lompoa Kakaraengan Marusu Kassi Kebo di Kabupaten Maros (suatu Kajian Historis). Phinisi Integration Review, 1(1), 37–51. Retrieved from http://ojs.unm.ac.id/pir

Rahmawati Tri Annisa, & Nurcahyo Abraham. (2018). Makna Simbolik Arsitektur Gereja Santo Cornelius Kelurahan Pangongangan Kecamatan Manguharjo Kota Madiun Jawa Timur. Agastya: Jurnal Sejarah Dan Pembelajarannya, 7(2), 103. https://doi.org/10.25273/ajsp.v7i2.1492

Ridwan, M., Fatchan, A., & Astina, I. K. (2016). Potensi Objek Wisata Toraja Utara Berbasis Kearifan Lokal Sebagai Sumber Materi Geografi pariwisata. Jurnal Pendidikan, 1(1), 1–10.

Rismawati. (2014). Tradisi Songkabala Di Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar (Suatu Kajian Sosio-Kultural). Rihlah, II(1), 114–131.

Ritzer, G., & Goodman, D. (2012). Teori Sosiologi Klasik Post Modern. Bantul: Kreasi Wacana.

Suharyono. (2013). Pengantar Filsafat Geografi. Yogyakarta: Ombak.

Syamsunardi. (2017). Nilai-nilai Budaya Siri’ Na Pacce Masyarakat Sayye’ Cikoang Kabupaten Takalar Dalam Perspektif Etnografi. Universitas Negeri Malang.

Syarif, E. (2017). Studi Fenomenologi Makna Pasang Ri Kajang Dalam Pengelolaan Hutan Masyarakat Ammatoa Bulukumba Sulawesi Selatan. Universitas Negeri Makassar.

Syarif, E., Hasriyanti, Fatchan, A., Astina, I. K., & Sumarmi. (2016). Conservation Values of Local Wisdom Traditional Ceremony Rambu Solo Toraja’s Tribe South Sulawesi as Efforts the Establishment of Character Education. Efl Journal, 1(1), 17–23. Retrieved from http://www.efljournal.org/

 

Wiryomartono Bagoes. (2013). Soejoedi And Architecture In Modern Indonesia: A Critical Post-Colonial Study. ArchNet-IJAR, 7(1), 177–185. Retrieved from https://ezp.lib.unimelb.edu.au/login?url=https://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=vth&AN=86960267&scope=site