DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

MANAJEMEN BUDAYA PENDISIPLINAN PESERTA DIDIK SMA SWASTA DI KABUPATEN SUMBA BARAT (Studi Multi Situs di SMA Swasta Karanu Waikabubak dan SMA Kristen Wee Karou Sumba Barat-NTT)

Sherly Ersinta Lawa

Abstrak


Manajemen Budaya Pendisiplinan Peserta Didik Sekolah Menengah di Wilayah Indonesia Timur

1 Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan

Volume: Nomor: Bulan-Tahun

Halaman: Tersedia secara online

http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/

EISSN: 2502-471X DOAJ-SHERPA/RoMEO-Google Scholar-IPI

Sherly Ersinta Lawa*, Bambang Budi Wiyono*, Achmad Supriyanto*

* Manajemen Pendidikan-Pascasarjana Universitas Negeri Malang

INFO ARTIKEL

Riwayat Artikel:

Diterima: Tgl-Bln-Thn

Disetujui: Tgl-Bln-Thn

ABSTRAK

Abstract: This study aims to determine the management process of disciplining the

culture of high school students. This study used a descriptive qualitative design with

multi-site study design. Collecting data through observation, interviews, and

documentation studies. Data were analyzed by stages of data condensation, data display,

and conclusions, withdrawals / verification. The results of the study show that:

(1).discipline of students emphasizes time discipline, dressing, appearance;

(2) discipline is applied so that students can become quality and superior people;

(3) discipline is built by disseminating rules and sanctions for violations, cooperation with parents;

(4) the strategy of building a culture of discipline is to enforce order, punishment, morning apples,

spiritual activities;

(5) constraints faced by personal learners and parents, the solution taken is to provide guidance and punishment for violating students, as well as building good cooperation and communication with parents;

(6) the results of the implementation of disciplinary culture have gone well.

Abstrak:

Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui proses manajemen budaya

pendisiplinan peserta didik di Sekolah Menengah Atas. Rancangan kualitatif deskriptif

desain studi multi situs digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui

observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Data dianalisis dengan tahapan kondensasi

data, display data, dan kesimpulan, penarikan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa:

(1) pendisiplinan peserta didik ditekankan pada disiplin waktu, berpakaian, berpenampilan;

(2) disiplin diterapkan agar peserta didik dapat menjadi insan berkualitas dan unggul;

(3) disiplin dibangun dengan mensosialisasikan tata tertib dan sanksi pelanggaran, kerjasama dengan orang tua;

(4) strategi membangun budaya disiplin ialah memberlakukan tata tertib, hukuman, apel pagi, kegiatan kerohanian;

(5) kendala yang dihadapi dari pribadi peserta didik dan orang tua, solusi yang dilakukan yaitu memberikan pembinaan dan hukuman bagi peserta didik yang melanggar, serta membangun kerja sama dan komunikasi yang baik dengan orang tua;

(6) hasil penerapan budaya pendisiplinan sudah berjalan baik.

 

Kata kunci: disiplin; peserta didik; budaya Sumba; budaya pendisiplinan peserta didik

Alamat Korespondensi: Sherly Ersinta Lawa Manajemen Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Malang Jalan Semarang 5 Malang

E-mail: sherlylawa214@gmail.com

Pendidikan merupakan suatu proses memanusiakan manusia, artinya bahwa seorang individu dididik dan diarahkan untuk melakukan sesuatu atau berperilaku seperti dirinya sendiri yang sesuai dengan talenta, akhlak, kapasitas, dan sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya. Tujuan akhir dari pendidikan ialah terwujudnya suatu kesempurnaan mutu hidup yaitu dengan memiliki dan menguasai serta menerapkan strategi dan langkah yang tepat dalam hidupnya sehari-hari sebagai suatu kebiasaan. Pada proses untuk menjadikan peserta didik sebagai manusia yang mempunyai kemampuan dan kepribadian yang unggul, sangat dibutuhkan peranserta dari guru sebagai pendidik.

Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005, tersurat peran seorang pendidik ialah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Guru sebagai pendidik wajib mengetahui dan memiliki strategi dalam menghadapi dan mendidik peserta didik, apalagi menghadapi anak usia remaja yang duduk di jenjang SMA. Anak usia 15- 18 tahun (usia peserta didik SMA) ini rentang bersikap agresif dan brutal karena secara psikologi berada pada masa pencarian jati diri (Erickson, dalam Feist & Feist, 1998). Untuk itu sangat penting untuk menerapkan budaya disiplin agar anak tidak bertindak anarkis dan merugikan orang lain di sekitarnya.

2 Jurnal Pendidikan, Vol , No., Bln ,Thn ,Hal

Setiap manusia wajib memiliki disiplin diri. Disiplin ialah suatu perilaku dimana individu taat dan patuh pada aturan yang berlaku dan mengatur kehidupan sehari-hari yang disusun berdasarkan kesepakatan bersama anggota masyarakat. Sekolah merupakan sarana yang memiliki peranan penting dalam membangun budaya disiplin peserta didik. Kepala sekolah dan guru merupakan ujung tombak pelaku penerapan disiplin peserta didik di sekolah. Artinya bahwa kepala sekolah dan guru selaku penyelenggara pendidikan di sekolah berperan penting untuk membantu peserta didik sebagai suatu individu yang belum atau masih terbelenggu dalam ketidaktahuan akan berbagai pengetahuan dan pengalaman dalam hidup sosial dan pendidikan menjadikan individu yang cerdas, berkompetensi, berkepribadian yang baik, dan berakhlak mulia (Mulyasa, 2011:2). Hal ini serupa dengan apa yang dikemukakan oleh Nawawi (2015:280) bahwa peranan seorang guru sebagai seorang dewasa ialah memberikan pendidikan yang baik dan menjadi teladan bagi peserta didiknya. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Fitria (2017), yang mengemukakan bahwa kepala sekolah sebagai pemimpin berperan untuk menyusun strategi untuk membentuk disiplin peserta didik di sekolah dan mengawasi jalannya program yang dirancangkan sedangkan guru bertugas untuk menerapkan strategi tersebut kepada peserta didik. Hal serupa juga dikemukakan oleh Marijayanti (2013) dalam penelitiannya di MI Muhammadiyah Karangayar menjelaskan bahwa agar pelaksanaan kedisiplinan disekolah berjalan degan baik maka kepala sekolah sebagai seorang pemimpin harus melakukan langkah-langkah proses manajemen. Guru berperan dalam penegakkan

kedisiplinan di sekolah dengan memberikan teladan yang baik bagi para peserta didik dan mensosialisasikan hal tersebut kepada orang tua/wali. Kagoiya & Kagema (2018) dalam penelitian yang dilakukan di Kenya dengan sampel 91 orang guru dan 13 kepala sekolah, mengemukakan bahwa kepala dan guru memiliki strategi dalam mendisiplinkan peserta didik di sekolah. Penerapan budaya disiplin di tiap-tiap sekolah dan daerah tidak sama, hal tersebut disesuaikan dengan tipologi dan karekteristik masyarakat di daerah tersebut. Penerapan budaya pendisiplinan peserta didik di Pulau Sumba dilakukan dengan tegas dan biasanya hukuman yang diberikan dalam bentuk fisik, hal ini dianggap wajar oleh masyarakt dan orang tua peserta didik dikarenakan budaya Sumba itu sendiri tergolong budaya yang keras dan kasar. Hal ini terbukti dengan adanya kegiatan-kegiatan

upacara adat yang menumpahkan darah. Selain itu fisik masyarakat Sumba juga tergolong kuat karena sudah terbiasa dengan bentuk geografis Pulau Sumba yang dipenuhi dengan bukit-bukit dan batu karang.

Dua sekolah menengah yang menjadi lokasi penelitian, SMA Swasta Karanu Waikabubak dan SMA Kristen Wee Karou, merupakan sekolah yang berada di Pulau Sumba. Dua SMA ini merupakan sekolah yang menerapkan budaya pendisiplinan peserta didik dengan cara yang hampir sama, peserta didik yang berada di sekolah tersebut juga memiliki karakteristik dan permasalahan yang hampir sama. Kebanyakan peserta didik yang bersekolah di dua sekolah tersebut merupakan murid pindahan ari sekolah lain karena memiliki kasus pelanggaran disiplin sekolah yang cukup serius sehingga dikeluarkan dari sekolahnya terdahulu. Sehingga pada dua sekolah ini kepala sekolah dan guru harus bekerja keras untk mengubah anak-anak bermasalah tadi menjadi baik. Maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana manajemen budaya pendisiplinan peserta didik di dua

sekolah tersebut.

 

METODE

Kualitatif deskriptif merupakan model pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini, untuk mendeskripsikan proses manajemen budaya pendisiplinan peserta didik di sekolah, mulai dari gambaran budaya pendisiplinan, latar belakang sekolah membangun budaya disiplin peserta didik, proses membangun budaya disiplin, strategi yang diterapkan kepala sekolah dan guru, kendala yang dihadapi dan solusi yang diberikan, sampai hasil dari penerapan budaya pendisiplinan peserta didik. Penelitian ini menggunakan rancangan studi multi situs pada sekolah menengah atas yang berlokasi di Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu ,SMA Swasta Karanu Waikabubak, sebagai situs I, dan ,SMA Kristen Wee Karou, sebagai situs II, karena kedua sekolah ini memiliki latar belakang dan karakter peserta didik yang hampir sama. Penelitian ini dilaksanakan dengan terstruktur dan mendalam agar peneliti dapat memperoleh informasi serta data yang bisa dipercaya. Data-data diperoleh melalui kegiatan observasi nonpartisipan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Wawancara dilakukan pada kepala sekolah, wakil kepala sekolah urusan kesiswaan, guru bimbingan konseling, dan wali kelas, serta peserta didik. Observasi dan studi dokumentasi berupa pengumpulan data-data yang mendukung informasi yang diperoleh saat wawancara.

Informasi dan data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data selama penelitian digunakan untuk menjawab permasalahan yang ada dengan cara mendeskripsikan sesuai dengan fokus penelitian yaitu budaya pendisiplinan peserta didik, latar belakang sekolah membangun budaya disiplin peserta didik, proses membangun budaya disiplin peserta didik di sekolah, strategi yang diterapkan oleh kepala sekolah dan guru dalam membangun budaya disiplin peserta didik, kendala yang dihadapi beserta solusi yang diberikan dalam membangun budaya disiplin peserta didik, dan hasil penerapan budaya pendisiplinan peserta didik di sekolah. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk mengungkapkan gambaran keberhasilan proses manajemen budaya pendisiplinan peserta didik di dua sekolah menengah tersebut. Teknik analisis data terdiri dari langkah-langkah pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, kesimpulan, penarikan/verifikasi (Miles, Huberman, dan Saldana, 2014:14) Nama Belakang Penulis, Judul dalam 3 Kata... 3

 

HASIL

Hasil dari penelitian ini merupakan deskripsi berdasarkan temuan penelitian dari dua situs, situs I yaitu SMA Swasta Karanu Waikabubak dan situs II yaitu SMA Kristen Wee Karou, temuan penelitian lintas situs berdasarkan fokus penelitian. Temuan Penelitian Situs Tunggal Temuan penelitian situs I berdasarkan penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa, gambaran budaya pendisiplinan peserta didik di SMA Swasta Karanu dimulai dari sebelum memasuki pintu gerbang sekolah, disiplin tersebut antara lain berhubungan dengan cara berpakaian dan kehadiran. Masuk sekolah dimulai dari pukul 07.00 WITA ditandai dengan apel pagi setiap harinya, selama apel pagi berlangsung pintu gerbang ditutup. Peserta didik dan guru yang terlambat menunggu di luar gerbang sekolah sampai pintu gerbang dibukakan lagi pada pukul 07.15 WITA yaitu saat apel pagi selesai. Peserta didik yang

terlambat mendapatkan hukuman seperti memungut sampah yang berserakan di lingkungan sekolah, pemberian hukuman dilakukan dengan maksud agar peserta didik jera dan tidak kembali melakukan kesalahan dihari-hari berikutnya. Disiplin di sekolah tidak hanya diberlakukan bagi peserta didik saja tetapi berlaku bagi semua warga sekolah. Kegiatan apel pagi yang dilaksanakan setiap hari bertujuan untuk meningkatkan kedisiplinan guru dan peserta didik dalam hal kehadiran di sekolah. Alasan yang melatarbelakangi sekolah membangun budaya disiplin peserta didik ialah karena disiplin merupakan modal utama bagi peserta didik untuk memperoleh keberhasilan di masa depan. Peserta didik yang sebagian besar berasal dari latar belakang keluarga yang kurang sadar akan pentingnya pendidikan merupakan alasan utama sekolah membangun budaya disiplin peserta didik. Proses membangun budaya disiplin peserta didik dirancang pada setiap akhir tahun pelajaran dan mulai dilaksanakan pada setiap awal tahun pelajaran baru, sekolah menginformasikan tata tertib sekolah dan sanksi yang diberikan bagi pelanggar disiplin sehingga peserta didik dapat mengetahui tugas yang harusnya dijalankan di sekolah. Sekolah juga membangun komunikasi dan

menjalin kerja sama yang baik dengan orang tua peserta didik, juga dengan pemerintah setempat dalam hal ini aparatur desa. Penerapan disiplin di sekolah dimulai dengan memberikan contoh disiplin kepada peserta didik, hal ini merupakan strategi yang diterapkan oleh kepala sekolah dan guru. Komunikasi yang baik selalu terjalin antara kepala sekolah dan guru, dalam menangani peserta didik yang bermasalah pun hukuman yang diberikan merupakan kesepakatan bersama dan sesuai dengan tingkatan kesalahan yang dilakukan. Nasehat, teguran, dan hukuman dalam bentuk fisik pun diberikan bagi pelanggar disiplin, kegiatan apel pagi juga bertujuan untuk melatih disiplin waktu peserta didik.

Kendala yang dihadapi dalam membangun budaya disiplin peserta didik berasal dari keluarga yang kurang paham akan pentingnya pendidikan dan lebih mengutamakan acara adat dan kegiatan mencari uang di sawah. Anak sering tidak masuk sekolah karena membantu orang tua mencari nafkah, bekerja di sawah, atau pun ikut dalam pesta adat. Solusi yang dilakukan ialah memberikan hukuman kepada peserta didik, jika mengulang lagi maka sekolah mengundang orang tua dan memberikan pengertian akan pentingnya peran serta orang tua dalam membentuk pribadi anak. Penerapan budaya pendisiplinan peserta didik di SMA Swasta Karanu Waikabubak sudah berjalan dengan cukup baik, kehadiran peserta didik di sekolah pada pagi hari cukup meningkat secara signifikan, pandangan masyarakat sekitar juga lebih positif terhadap sekolah. Setiap tahun jumlah peserta didik baru yang masuk ke sekolah semakin bertambah. Temuan penelitian situs II berdasarkan penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa, gambaran budaya pendisiplinan peserta didik di SMA Kristen Wee Karou dimulai sejak peserta didik memasuki lingkungan sekolah, peserta didik dilarang menggunakan atribut yang tidak berhubungan dengan kelengkapan seragam sekolah dan harus merapikan baju seragam sekolah yang dipakai. Peserta didik masuk sekolah pukul 07.00 WITA diawali dengan apel pagi untuk ibadah dan doa bersama. Peserta didik yang terlambat akan dibariskan tersendiri, setelah apel pagi selesai peserta didik yang terlambat akan dicatat namanya untuk mendapat perhatian dari wali kelas dan kemudian akan mendapat hukuman dari guru piket seperti membersihkan kamar mandi. Setiap hari dilaksanakan apel pagi dan siang, hal ini bertujuan untuk mendisiplinkan peserta didik. Alasan yang melatarbelakangi penerapan disiplin peserta didik di SMA Kristen Wee Karou ialah karena tanpa disiplin maka peserta didik akan menjadi generasi yang tidak beradap. Disiplin merupakan modal utama dalam membentuk karakter peserta

didik menjadi insan yang berprestasi dan sukses. Membangun budaya disiplin peserta didik di SMA Kristen Wee Karou dimulai sejak awal tahun pelajaran baru, lewat rapat dengan orang tua peserta didik kepala sekolah menginformasikan tata tertib yang ada di sekolah dan menanyakan kesiapan orang tua dan anak untuk menerima atau tidak hal tersebut. Tujuannya adalah agar kedepannya tidak ada komplain dari orang tua ketika anak melanggar aturan dan dikenakan sanksi, selain itu juga peserta didik dapat memahami tugasnya sebagai seorang pelajar di

sekolah dan sanksi yang akan diterima apabila melanggar. Strategi yang diterapkan dalam menerapkan budaya disiplin dimulai dari pemberian teladan yang baik dari kepala sekolah dan guru tentang disiplin dalam hal kehadiran, berpakaian dan kerapihan. Kepala sekolah juga turun langsung ke lapangan dalam mengamati jalannya disiplin. Kepala sekolah dan guru tegas dalam menindak bentuk ketidakdisiplinan. Komunikasi dan kerja sama yang baik laksanakan antara kepala sekolah dan guru dalam membangun budaya disiplin. Guru yang kurang disiplin mendapatkan pembinaan dari kepala sekolah dan dicatat dalam buku pembinaan guru, peserta didik yang melanggar aturan akan

4 Jurnal Pendidikan, Vol , No , Bln Thn , Hal

di bina oleh wali kelas dan wakasek bidang kesiswaan dan dicatat dalam buku kasus peserta didik. Kegiatan pramuka setiap jumat sore dan kegiatan kerohanian setiap rabu sore yang dibina oleh guru agama. Kendala yang dihadapi sekolah dalam membangun budaya disiplin berasal dari pribadi peserta didik yang sudah terbiasa dengan bentuk keras dan kasar sehingga jika mendapat nasehat atau teguran dengan cara yang halus tidak dipedulikan, dan seringkali balik mengancam guru. Selain itu juga faktor yang menjadi Kendala berasal dari lingkungan keluarga yang kurang berpendidikan dan kurang peduli dengan pendidikan. Solusi yang dilakukan dalam mengahadapi Kendala tersebut adalah dengan memberikan hukuman kepada peserta didik yang bermasalah dan membuat surat pernyataan yang ditandatangani di atas materai, memberikan pengertian kepada orang tua dan mensosisalisasikan pentingnya pendidikan anak, serta membangun komunikasi dan menjalin kerja sama yang baik. Hasil penerapan budaya disiplin peserta didik di SMA Kristen Wee Karou sudah berjalan dengan baik, terbukti dengan adanya peningkatan kualitas peserta didik dengan mendapatkan juara pada beberapa jenis perlombaan baik dalam olahraga maupun dalam olimpiade sains . Pandangan masyarakat yang menilai bahwa SMA Kristen Wee Karou semakin disiplin dan semakin berprestasi. Jumlah peserta didik baru yang masuk ke SMA Kristen Wee Karou juga terus bertambah setiap tahunnya. Temuan Penelitian Lintas Situs Temuan lintas situs pada penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum manajemen budaya pendisiplinan peserta didik ada kedua situs yang diteliti merupakan proses pembiasaan menaati tata tertib yang berlaku dan pemberian hukuman bagi pelaku pelanggaran sesuai dengan jenis kesalahan yang dilakukan, dan pendisiplinan diterapkan dengan tegas. Hal ini terlihat dengan pelaksanaan kegiatan apel pagi dan memberikan hukuman bagi yang datang terlambat, menindak langsung peserta didik laki-laki yang berambut panjang. Pengawasan kegiatan juga dilakukan langsung oleh kepala sekolah. Temuan lintas situs dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 4.19 Diagram Temuan Penelitian Lintas Situs Manajemen Budaya Pendisiplinan Peserta Didik

Manajemen pendisiplinan peserta didik pada dua situs yang diteliti menghasilkan temuan yaitu:

(1) budaya pendisiplinan peserta didik pada kedua sekolah menengah tersebut digambarkan dengan adanya disiplin waktu, disiplin berpakaian, dan disiplin berpenampilan;

(2) latar belakang sekolah membangun budaya disiplin peserta didik ialah dikarenakan disiplin merupakan modal utama bagi peserta dalam mencapai kesuksesan hidup di masa depan;

(3) proses membangun budaya disiplin peserta didik yang dilakukan ialah melalui sosialisasi tata tertib kepada orang tua dan peserta didik pada setiap awal tahun pelajaran baru dan menjalin

Manajemen Budaya Pendisiplinan Peserta Didik

Gambaran budaya disiplin peserta didik

Latar Belakang membangun budaya disiplin peserta didik

Proses membangun budaya disiplin peserta didik

Cara-cara yang dilakukan kepala sekolah dan guru

Hambatan dan kendala dalama membangun budaya disiplin peserta didik beserta solusinya

Budaya disiplin peserta didik digambarkan dengan adanya disiplin waktu, disiplin berpakaian, disiplin penampilan peserta didik dengan gaya potongan rambut laki-laki yang pendek dan rapi Karena disiplin merupakan modal utama bagi peserta didik dalam mencapai kesuksesan hidup di masa depan

1) Sosialisasi tata tertib kepada orang tua dan peserta didik pada awal tahun pelajaran dan pemberitahuan sanksisanksi bagi pelanggar aturan

2) Menjalin kerja sama dan komunikasi yang baik dengan orang tua

a) Pemberlakuan tata tertib bagi semua warga sekolah

b) Pelanggar disiplin diberikan sanksi

c) Kegiatan apel setiap hari

d) Kegiatan kerohanian

e) Kegiatan pramuka

a) Hambatan dari orang tua/ keluarga yang kurang paham akan pentingnya pendidikan, lebih mementingkan adat, mengijinkan anak mencari nafkah pada jam sekolah. Solusinya memberikan

arahan dan menjalin komunikasi dengan orang tua melalui panggilan orang tua dan rapat dengan orang tua

b) Faktor pribadi peserta didik. Solusinya memberi pembinaan dan hukuman kepada peserta didik

Hasil yang diperoleh:

a) Disiplin peserta didik tinggi

b) Kegiatan belajar mengajar berjalan lancar

Feedback Feedback

Nama Belakang Penulis, Judul dalam 3 Kata

(3) kerja sama dengan orang tua peserta didik;

(4) memberlakukan tata tertib sekolah, pemberian hukuman, kegiatan apel pagi, pramuka dan kegiatan kerohanian merupakan strategi yang dilakukan oleh kepala sekolah dan guru dalam memebangun budaya disiplin peserta didik;

 (5) hambatan yang dihadapi dalam penerapan disiplin peserta didik ialah dari pribadi peserta didik dan juga dari pihak keluarga/ orang tua. Manajemen budaya pendisiplinan peserta didik di sekolah menengah tersebut berjalan dengan baik dengan hasil adanya peningkatan pada disiplin peserta didik dan juga kegiatan belajar mengajar berjalan dengan lancar.

 

PEMBAHASAN

Sesuai dengan hasil penelitian di lapangan, dalam pembahasan ini peneliti akan menghubungkan dengan teori atau pendapat para ahli terkait manajemen budaya pendisiplinan peserta didik, sehingga diperoleh data yang memiliki nilai atau data akurat. Sub dalam pembahasan disesuaikan dengan fokus penelitian, yaitu:

(1) gambaran budaya pendisiplinan peserta didik;

(2) latar belakang sekolah membangun budaya disiplin peserta didik;

(3) proses membangun budaya disiplin peserta didik;

(4) strategi yang diterapkan kepala sekolah dan guru dalma membangun budaya disiplin peserta didik;

(5) kendala yang dihadapi dan solusi yang diberikan dalam membangun budaya disiplin peserta didik;

(6) hasil penerapan budaya pendisiplinan peserta didik.

Gambaran Budaya Pendisiplinan Peserta Didik

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa sekolah menengah tersebut telah melaksanakan budaya pendisiplinan pada peserta didik sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Semiawan (2010:89). Sekolah sudah menerapkan budaya pendisiplinan peserta didik, dengan tujuan agar peserta didik menjadi pribadi yang disiplin. Gambaran budaya disiplin peserta didik di dua sekolah menengah tersebut sebagai berikut:

(1) Disiplin waktu, yaitu kedatangan peserta didik setiap pagi dan pulang pada siang hari dengan tepat waktu;

(2) Disiplin berpakaian, memakai pakaian seragam sesuai dengan ketentuan dan tidak menggunakan atribut yang tidak berhubungan dengan kelengkapan sekolah; (3) Disiplin penampilan, bagi peserta didik laki-laki potongan rambutnya harus pendek dan rapi.

Pembentukan karakter peserta didik sangat dibutuhkan penerapan disiplin di sekolah setiap hari. Dengan adanya penerapan disiplin setiap hari, maka peserta didik akan menjadi tertib dan mengetahui kewajiban atau tugasnya sebagai seorang pelajar, serta mulai membiasakan diri menjadi mandiri melaksanakan tugasnya tanpa arahan dari pihak lain. Hal tersebut sesuai denganteori yang dikemukakan oleh Mustari (2011:41). Disiplin peserta didik di dua sekolah menengah tersebut menerapkan teori belajar behaviorisme, dimana dalam proses pembelajarannya perlu adanya stimulus yang diberikan oleh kepala sekolah dan guru barulah peserta didik akan merespon atau

bertindak terhadap stimulan. Kepala sekolah dan guru memberikan contoh dan nasehat atau himbauan yang baik dalam usaha untuk membudayakan disiplin peserta didik, hal tersebut dilakukan secara berkesinambungan dan berulang sebagai suatu pembiasaan.

Latar Belakang Sekolah Membangun Budaya Disiplin Peserta Didik

Gambaran budaya pendisiplinan peserta didik yang terlihat tentu dilandasi dengan pemberian dan penerapan suatu strategi untuk menghasilkan situasi disiplin peserta didik yang diharapkan sekolah. Alasan yang melatarbelakangi sekolah membangun budaya disiplin sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Gunawan (2010:96-98) tentang perilaku yang diharapkan akan terbentuk dan dimiliki oleh setiap peserta didik dengan penerapan disiplin dapat disimpulkan bahwa alasan yang melatarbelakangi sekolah membangun budaya disiplin peserta didik sangat baik bagi pribadi peserta didik dalam menjalani hidupnya. Alasan yang melatarbelakangi sekolah membangun budaya disiplin peserta didik di dua sekolah menengah tersebut ialah karena disiplin merupakan modal utama dalam mencapai keberhasilan hidup di masa depan. Dengan membangun budaya disiplin peserta didik, kebiasaan buruk yang dimiliki peserta didik dapat diperbaiki sehingga peserta didik dapat menjadi insan yang mandiri dan berhasil dalam hidupnya kedepan, ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Marijan (2012:73). Latar belakang yang menjadi alasan membangun budaya disiplin peserta didik di dua situ tersebut, sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Omote, et all (2015) di salah satu SMA di Kenya. Mereka juga mengemukakan bahwa dengan menanamkan

nilai-nilai disiplin tinggi pada peserta didik maka dapat melahiran anak-anak yang tumbuh menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

Proses Membangun Budaya Disiplin Peserta Didik

Setelah adanya alasan yang melatarbelakangi sekolah untuk membangun budaya disiplin peserta didik, tahap selanjutnya ialah proses membangun budaya disiplin peserta didik. Membangun disiplin peserta didik tidak dapat dilakukan sendiri oleh kepala sekolah, harus ada peran serta dari warga sekolah lainnya yaitu, guru, karyawan, peserta didik, orang tua maupun masyarakat pengguna jasa pendidikan di sekolah. Hurlock (2002:82) menyatakan bahwa orang tua dan guru merupakan pemberi teladan bagi anak, dan anak sebagai pengikut teladan yang akan memasuki dan menjalani kehidupan yang baik dan berguna di masa depan. Maka dapa disimpulkan bahwa disiplin merupakan suatu langkah yang dilakukan oleh masyarakat untuk mengajarkan kepada anak agar berperilaku moral dan bertindak sesuai dengan aturan yang disetujui oleh kelompok.

6 Jurnal Pendidikan, Vol , No ,Bln ,Thn ,Hal

Dalam penelitian ini diperoleh data bahwa proses membangun budaya disiplin peserta didik sebagai berikut:

(1) Sosialisasi tata tertib kepada orang tua dan peserta didik pada awal tahun pelajaran dan pemberitahuan sanksi-sanksi bagi pelanggar aturan;

(2) Menjalin kerja sama dan komunikasi yang baik dengan orang tua. Hal ini serupa dengan apa yang dikemukakan oleh Omote, Et all (2015) dalam penelitian yang dilakukan di salah satu SMA di Kenya, bahwa dalam menjalankan disiplin di sekolah menengah dan menanamkan nilai-nilai disiplin tinggi pada peserta didik sangat dibutuhkan kemitraan kolaboratif antara orang tua, guru, dan pemangku kepentingan, agar dapat mewujudkan anak-anak yang tumbuh menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Strategi Yang Diterapkan Kepala Sekolah dan Guru Dalam Penerapan Budaya Pendisiplinan Peserta Didik Agar proses membangun disiplin dapat berjalan dengan lancar maka diperlukan adanya strategi dalam penerapannya, hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Marijayanti (2013) dalam penelitiannya di MI Muhammadiyah Karangayar bahwa agar pelaksanaan kedisiplinan disekolah berjalan degan baik maka kepala sekolah sebagai seorang pemimpin harus melakukan langkah-langkah proses manajemen. Guru berperan dalam penegakkan kedisiplinan di sekolah dengan memberikan teladan yang baik bagi para peserta didik dan mensosialisasikan hal tersebut kepada orang tua/wali. Orang tua/wali bertugas untuk menegur peserta didik jika melakukan pelanggaran disiplin di sekolah. Strategi yang diterapkan oleh kepala sekolah dan guru di dua sekolah menengah tersebut dalam menerapkan budaya disiplin peserta didik lewat pembiasaan berupa:

(1) Pemberlakuan tata tertib bagi semua warga sekolah;

(2) Pelanggar disiplin diberikan sanksi;

(3) Kegiatan apel pagi setiap hari;

(4) Kegiatan kerohanian;

(5) Kegiatan pramuka. Hal ini serupa dengan apa yang dikemukakan oleh Fajerin (2013).

Strategi yang diterapkan di dua situs berupa pemberian penghargaan bagi peserta didik yang taat dan patuh pada peraturan sekolah dan pemberian hukuman bagi peserta didik yang melanggar aturan tata tertib sekolah. Hukuman yang diberikan beragam bentuk, hukuman yang diberikan disesuaikan dengan keadaan peserta didik. Misalnya, peserta didik wanita yang melanggar peraturan dengan datang terlambat biasanya diberikan hukuman memungut sampah yang ada dilingkungan sekolah, sedangkan peserta didik laki-laki diberikan hukuman membersihkan WC murid dan juga mengisi air bak WC, bagi peserta didik laki-laki yang berambut gondrong atau panjang diberikan hukuman berlutut dan guru langsung memotong rambutnya sampai pendek, untuk peserta didik dengan kasus bolos sekolah bagi wanita akan dihukum berlutut sedangkan laki-laki akan dihukum push up atau skot jump.

Strategi yang diterapkan oleh sekolah sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Kagoiya & Kagema (2018) dalam penelitian yang dilakukan di Kenya dengan sampel 91 orang guru dan 13 kepala sekolah, yang memperoleh hasil bahwa strategi mendisiplinkan peserta didik dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya dengan melakukan bimbingan konseling dan hukuman dalam bentuk fisik. Hurlock (2002) juga mengemukakan bahwa apapun strategi yang diterapkan dalam membangun budaya disiplin peserta didik harus mencakup empat empat unsur pokok berikut: peraturan sebagai patokan dalam bertindak, hukuman agi pelanggar aturan, penghargaan bagi yang bertindak sesuai dengan aturan, konsisten peraturan dan cara yang digunakan untuk melaksanakan peraturan tersebut. Kendala Yang Dihadapi dan Solusi Yang Diberikan Dalam Membangun Budaya Disiplin Peserta Didik Penerapan budaya disiplin bukanlah hal yang mudah dan selalu berjalan dengan lancar, ada banyak kendala yang dialami oleh sekolah. Kendala yang dihadapi oleh sekolah, yakni Kendala dari orang tua atau keluarga peserta didik yang kurang paham akan pentingnya pendidikan, lebih mementingkan adat, mengizinkan anak mencari nafkah pada jam sekolah, dan faktor pribadi peserta didik yang sering membangkang jika ditegur dan menunjukkan sikap melawan. Hal serupa juga diungkapkan oleh Temitayo, dkk (2013) dalam penelitiannya yaitu bahwa orang tua atau lingkungan sekitar tempat tinggal, sistem politik, sosial dan ekonomi, kurikulum sekolah, lingkungan sekolah, dan teman seumur ialah pemicu persoalan disiplin. Terkait dengan faktor-faktor yang menjadi kendala dalam penerapan disiplin, Gitome (2013) dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa dalam penanaman disiplin pada anak usia sekolah orang tua dan wali sangat berperan penting. Pratama & Suwanda (2013) dalam penelitiannya juga menemukan bahwa ada lima kendala yang dialami sekolah dalam penerapan disiplin peserta didik melalui pelaksanaan tata tertib, yakni pribadi peserta didik, pengaruh lingkungan tempat tinggal dan lingkungan pergaulan, kurangnya kegiatan pembiasaan disiplin dan pengawasan dari orang tua, peserta didik kurang paham tata tertib, hubungan interpersonal dari guru BK dan wali kelas kurang dilakukan.

Hasil Penerapan Budaya Pendisiplinan Peserta Didik Hasil penerapan budaya disiplin peserta didik berjalan dengan baik, karena sekolah mendapat penilain positif dari masyarakat sekitar. Disiplin peserta didik yang semakin meningkat dan kualitas peserta didik yang semakin baik, serta kegiatan KBM yang berjalan dengan tertib dan lancar.

Hal serupa dikemukakan oleh Marjiyanti (2013) dalam penelitiannya bahwa program pendisiplinan peserta didik dikatakanberhasil jika dinilai dari segi kualitas dan kuantitas peserta didik. Dari segi kualitas dapat dilihat dari keberhasilan sekolah dalam meluluskan peserta didiknya dengan memperoleh nilai yang memuaskan dan dapat melanjutkan studi di universitas pilihan, dari

Nama Belakang Penulis, Judul dalam 3 Kata... 7 segi kuantitas dapat terlihat dengan bertambahnya minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut dan dibuktikan dengan peningkatan jumlah peserta didik baru.

 

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan hasil paparan data dan temuan penelitian pada masing-masing situs, serta didasari pada fokus permasalahan yang ada pada penelitian ini.

Pertama, gambaran budaya pendisiplinan peserta didik di sekolah ialah:

(a) Disiplin waktu, yaitu kedatangan peserta didik setiap pagi dan pulang pada siang hari dengan tepat waktu;

(b) disiplin berpakaian, memakai pakian seragam sesuai dengan ketentuan dan tidak menggunakan atribut yang tidak berhubungan dengan kelengkapan sekolah;

(c) disiplin penampilan, bagi peserta didik laki-laki potongan rambutnya harus pendek dan rapi.

Kedua, latar belakang membangun budaya disiplin peserta didik di sekolah ialah: karena disiplin peserta didik merupakan modal utama dalam mencapai keberhasilan hidup di masa depan.

Ketiga, proses membangun budaya disiplin peserta didik di sekolah, ialah sebagai berikut:

(a) Sosialisasi tata tertib kepada orang tua dan peserta didik pada awal tahun pelajaran dan pemberitahuan sanksisanksi bagi pelanggar aturan;

(b) Menjalin kerja sama dan komunikasi yang baik dengan orang tua.

Keempat, strategi yang diterapkan kepala sekolah dan guru dalam membangun budaya disiplin peserta didik di sekolah, ialah sebagai berikut:

(a)  Pemberlakuan tata tertib bagi semua warga sekolah;

(b) pelanggar disiplin diberikan sanksi;

(c) kegiatan apel setiap hari;

 (d) kegiatan kerohanian;

(e) kegiatan pramuka.

Kelima, kendala dalam membangun budaya disiplin peserta didik beserta solusinya di sekolah, ialah:

(a) Kendala dari orang tua/ keluarga yang kurang paham akan pentingnya pendidikan, lebih mementingkan adat, mengijinkan anak mencari nafkah pada jam sekolah. Solusinya memberikan arahan dan menjalin komunikasi dengan orang tua melalui panggilan orang tua dan rapat dengan orang tua;

(b) Faktor pribadi peserta didik yang sering membangkang jika ditegur dan menunjukkan sikap melawan. Solusinya memberi pembinaan dan hukuman kepada peserta didik. Keenam, hasil penerapan budaya disiplin peserta didik di sekolah sudah berjalan dengan baik, karena sekolah mendapat penilain positif dari masyarakat sekitar, disiplin peserta didik yang semakin meningkat dan kualitas peserta didik yang semakin baik, serta kegiatan KBM yang berjalan dengan tertib dan lancar.

Saran

Saran-saran yang dapat diberikan berdasarkan pembahasan dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti ditujukan kepada beberapa pihak. Pertama, Dinas pendidikan Provinsi NTT hendaknya memberikan penghargaan bagi lembaga-lembaga pendidikan yang masih mengutamakan dan mengamalkan nilai-nilai disiplin, sehingga sekolah lain yang sudah mulai kurang mempedulikan disiplin peserta didik dapat kembali menjadi peduli akan pentingnya disiplin. Kedua, kepala sekolah hendaknya hasil dari penelitian ini dapat memberikan motivasi dan terobosan baru guna membenahi manajemen disiplin di sekolah, mengemukakan ide-ide baru kepada dewan guru agar lebih kreatif dalam menangani tindakan disiplin peserta didik, serta menjadi teladan yang baik bagi peserta didik untuk menaati dan mematuhi peraturan yang berlaku di sekolah. Ketiga, guru hendaknya lebih intens dalam memonitor perilaku dan perkembangan peserta didik, memberikan pembinaan dan arahan kepada peserta didik agar senantiasa menaati dan mematuhi aturan, menjalin komunikasi dan kerja sama yang baik dengan orang tua/ wali peserta didik. Keempat, peserta didik hendaknya dapat memahami tugasnya sebagai seorang pelajar, mematuhi peraturan yang berlaku, serta berusaha untuk menghindari segala bentuk perbuatan yang dapat menyebabkan pelanggaran disiplin di sekolah dan di mana pun berada. Kelima, bagi peneliti lain, penelitian ini dapat dipakai sebagai referensi dan informasi tambahan untuk menambah wawasan juga dapat dijadikan sebagai alat pembanding saat melakukan penelitian lanjutan antara sekolah berbasis agama, sekolah-sekolah negeri, dan sekolah swasta lainnya.

 

DAFTAR RUJUKAN

Fajerin, M. 2013. Strategi Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Kedisiplinan Siswa di MTSN Jatimulyo Kulon Progo. Skripsi. UIN Sunan

Kalijaga. (http://digilib.uin-suka.ac.id/9157/), diakses tanggal 28 Februari 2109.

Fitria, R.N. 2017. Strategi Kepala Sekolah dalam Membangun Budaya Disiplin Siswa Berbasis Militer: Tesis. Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Gunawan. 2010. Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis Tentang Berbagai Problem Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Hurlock. 2002. Perkembangan Anak. Jilid II Alih Bahasa Maistasari Tjandra. Jakarta: PT. Erlangga.

Kagoiya, P. & Kagema, N. 2018. Examining Factors Contributing to Indisciline in Primary Schools in Nyeri Central Sub-Country, Kenya.

(https://www.pedagogicalresearch.com/article/examining-factors-contributing-to-indiscipline-in-primary-schools-in-nyeri-central-subcounty-kenya), diakses tanggal 24 Maret 2019.

Marijan. 2012. Metode Pendidikan Anak Membangun Karakter Anak yang Berbudi Mulia, Cerdas dan Berprestasi. Yogyakarta: Tim Sabda Media.

8 Jurnal Pendidikan, Vol , No , Bln , Thn , Hal

Marjiyanti. 2013. Penegakan Kedisiplinan Siswa Sebagai Upaya Mewujudkan Akhlaq Al Karimah di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah

Karanganyar. Surakarta: Institut Agama Islam Negeri Surakarta. (http://eprints.iain-surakarta.ac.id/73/1/2014TS0012.pdf), diakses tanggal 24 Maret 2019.

Mulyasa, H. E. 2011. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara.

Mustari, M. 2011. Nilai Karakter Refleksi untuk Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Bang Presindo.

Nawawi, I. 2015. Budaya Organisasi, Kepemimpinan dan Kinerja,Edisi Pertama. Bandung: Alfabeta Bandung.

Omote, J. M., et all. 2015. A Critical Analysis of Acts of Student Indiscipline and Management Strategies Employed by School Authorities in

Public High Schools in Kenya. (Internasional Journal Of Education and Research Vol. 3 No. 12).

(http://www.ijern.com/journal/2015/December-2015/01.pdf), diakses tanggal 19 Maret 2019.

Pratama, A.H. & Suwanda, I. M.2013. Strategi Pembentukan Disiplin Siswa Melalui Pelaksanaan Tata Tertib di SMA Negeri 1 Krian

Sidoarjo. Surabaya: Unnesa. (https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-pendidikan-kewarganegaraa/article/view.pdf ),

diakses tangal 29 November 2018.

Semiawan, C.R. 2010. Peran Pendidikan dalam Pembangunan Karakter Bangsa. Conference Preceeding. Malang: Program Studi Psikologi FIP UM.

Temitayo, O., Nayaya, M.A., & Lukman, A.A. 2013. Management Of Disciplinary Problems in Secondary Schools: Jalingo Metropolis in

Focus. Global Journal of Human Social Science Research. (USA) Volume 13 No. 14-G.

(https://globaljournals.org/GJHSS_Volume13/2-Management-of-Disciplinary-Problems.pdf), diakses tanggal 29 November 2018.