DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Gricean Maxims in Collection of Children Literature: Conversational Implicature in My Giant Treasury of Stories and Rhymes. (Thesis)

Widya Hanum Sari Pertiwi

Abstrak


In the area of English teaching and learning most attention is given to the teaching and learning of four language skills; on the other hand, culture learning is more or less ignored. In fact, to be bilingual means to be bicultural. Culture learning can be gained from research studies which investigate intersection between pragmatics and literature (as part of a culture). Pragmatics as one of linguistic disciplines has potential application to all fields with a stake in "how utterances are understood" or literature. The present study tries to find out the flouting of Gricean maxims and the functions of the flouting in the tales which are included in collection of children literature entitled My Giant Treasury of Stories and Rhymes. The objective of the study is generally to identify the violation of maxims of quantity, quality, relevance, and manner in the data sources and also to analyze the use of the flouting in the tales which are included in the book.

This study was qualitatively approached. The qualitative approach was used to examine the utterances that become the data. The sources of data in this study were 75 tales included in the book and the data were all the utterances which are flouted Gricean maxims. Qualitative design using categorizing strategies, specifically coding strategy, was applied. Thus, the researcher as the instrument in this investigation was selecting the tales, reading them, and gathering every item which reflects the violation of Gricean maxims based on some conditions of flouting maxims. Qualitative design using coding strategy was applied because after selecting the data, the writer then implemented coding strategy so that she could analyze the data.

On the basis of the data analysis, it was found that the some utterances in the tales, both narration and conversation, flouting the four maxims of conversation, namely maxim of quality, maxim of quantity, maxim of relevance, and maxim of manner. The flouting of maxim of quality was classified in to two conditions, fallacious statement and information with lack of evidence. Meanwhile, information or statement which was not as required and which was much more than required were the two conditions of flouting maxim of quantity. Maxim of relevance is flouted whenever there was irrelevant information/statement. Last, flouting of maxim of manner occurred when there was obscure statement or ambiguous information.

The researcher has also found that the flouting of maxims has one basic function that is to encourage the readers' imagination toward the tales. This one basic function is developed by six others functions: (1) generating specific situation, (2) developing the plot, (3) enlivening the characters' utterance, (4) implicating message, (5) indirectly characterizing characters, and (6) creating ambiguous setting.

In relation with the research findings of this study, it is expected that the research findings can be applied, followed up by the English language teachers and the next researchers so that the conversational implicature and cooperative principle can be further developed. In addition, it is suggested that the intersectional teaching method which involves linguistics and literature should be paid more attention in order to achieve the success of the teaching-learning process.

 

Abstrak:

Kata kunci: sastra anak, dongeng, permainan maksim.

Dalam bidang belajar mengajar bahasa Inggris sebagian besar perhatian diberikan kepada belajar-mengajar empat ketrampilan berbahasa; dengan kata lain, pembelajaran budaya sedikit banyak terabaikan. Padahal faktanya, memahami dua bahasa berarti memahami dua budaya. Memahami budaya dapat diperoleh melalui penelitian yang mempelajari persinggungan antara pragmatik dan karya sastra (sebagai bagian dari budaya). Pragmatik sebagai salah satu disiplin ilmu linguistik memiliki potensi untuk diaplikasikan pada semua bidang yang berkaitan dengan "bagaimana tuturan dipahami" atau karya sastra. Penelitian ini mencoba untuk menemukan permainan maksim tutur dan fungsi dari permainan maksim tutur yang termasuk dalam koleksi karya sastra anak dalam buku yang berjudul My Giant Treasury of Stories and Rhymes. Tujuan dari penelitian ini pada umumnya adalah untuk mengidentifikasi permainan maksim kuantitas, kualitas, hubungan, dan tata cara pada sumber data dan juga untuk menganalisa fungsi permainan maksim tutur dalam dongeng yang termasuk didalam buku tersebut.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini digunakan khususnya untuk meneliti tuturan yang menjadi data. Sumber data penelitian ini adalah 75 dongeng yang terdapat di dalam buku tersebut dan datanya adalah setiap tuturan yang mempermainkan maksim tutur. Dalam penelitian ini diaplikasikan pendekatan kualitatif yang menggunakan strategi pengkategorian, khususnya strategi pengkodean. Oleh karena itu, penulis sebagai instrumen dalam penelitian ini memilih dongeng yang ada, membacanya, dan mengumpulkan setiap bagian yang menunjukkan gejala permainan maksim tutur berdasarkan beberapa kondisi permainan maksim. Desain kualitatif dengan menggunakan strategi pengkodean diaplikasikan sebab setelah menyeleksi data yang ada, penulis akan mengkodekan data sehingga penulis dapat menganalisanya.

Berdasarkan analisa data, ditemukan bahwa beberapa tuturan dalam dongeng, baik narasi maupun percakapan, melanggar empat maksim tutur, yakni maksim kualitas, maksim kuantitas, maksim hubungan, dan maksim tata cara. Permainan maksim kualitas diklasifikasikan menjadi dua kondisi, yakni pernyataan yang tidak benar dan informasi yang tidak memiliki cukup bukti. Sedangkan informasi atau pernyataan yang kurang dan lebih dari yang dibutuhkan adalah dua kondisi permainan maksim kuantitas. Maksim hubungan dipermainkan ketika suatu tuturan mengandung informasi yang tidak relevan. Dan permainan maksim tata cara terdapat pada pernyataan yang tidak jelas atau informasi yang ambigu.

Penulis juga telah menemukan bahwa permainan maksim tersebut memiliki satu fungsi utama yakni untuk mengembangkan imajinasi pembaca terhadap dongeng yang ada. Fungsi utama ini dibangun berdasarkan enam fungsi yang lain yakni: (1) menciptakan situasi yang spesifik, (2) mengembangkan alur plot, (3) menghidupkan ujaran tokoh cerita, (4) menyamarkan pesan, (5) menyampaikan karakter secara tidak langsung, dan (6) menciptakan setting yang ambigu.

 Sehubungan dengan hasil penelitian ini, penulis mengharapkan agar hasil penelitian ini dapat diaplikasikan dan ditindaklanjuti oleh guru bahasa Inggris dan para peneliti selanjutnya sehingga implikatur percakapan dan prinsip kerjasama dapat dikembangkan lebih lanjut. Selain itu, disarankan agar metode mengajar yang menghubungkan linguistik dan sastra lebih diperhatikan untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar-mengajar.