DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kekerasan Simbolik dalam Novel Indonesia Mutakhir

Yula ika

Abstrak


Kekerasan simbolik dimanifestasikan dalam bentuk perbuatan menyakiti orang lain yang tidak terlihat secara kasat mata atau fisik, artinya dapat berupa legitimasi kekuasaan dan bahasa atau wacana. Korban tidak merasa mendapatkan kekerasan dan tidak merasa didominasi. Keresan yang bersifat simbolik dimanifestasikan dalam novel Indonesia mutakhir sebagai bentuk kritik sosial terhadap kondisi zaman.

Ada pun tujuan penelitian ini, yakni

(1) merepresentasikan bukti adanya kekerasan simbolik yang terjadi di berbagai arena,

(2) menginterpretasikan nilai-nilai didaktif dalam novel di samping sebagai media hiburan sebab fenomena dalam novel merupakan refleksi kehidupan nyata masyarakat Indonesia, dan

(3) mengetahui fenomena sosial yang terjadi di Indonesia yang masih berlangsung hingga saat ini, dan

(4) menyampaikan pesan tersirat mengenai keadaan atau tradisi suatu suku, agama, dan bangsa, khususnya di Aceh, Banten, dan Madura. Untuk memahami wujud kekerasan simbolik dalam novel Indonesia mutakhir digunakan teori sosiologi Pierre Borudieu. Para agen dalam novel melakukan strategi dengan menampilkan instrumen kekerasan simbolik, sumber kekerasan, dan bentuk kekerasan simbolik.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Teori yang digunakan ialah sosiologi Pierre Bourdieu dengan pendekatan hermeneutik. Data dalam penelitian ini berupa unit-unit verbal tulis yang berisi kekerasan simbolik dalam novel-novel Indonesia mutakhir dengan menggunakan pendekatan hermeneutika.

Paparan tersebut berupa

(1) paparan naratif,

(2) kalimat percakapan monolog atau dialog, dan

(3) paparan deskriptif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini ialah novel Surat dari Bapak karya Gol A Gong (cetakan kedua, tahun 2017), Tanah Surga Merah karya Arafat Nur (cetakan pertama, tahun 2016), dan Tanjung Kemarau karya Royyan Julian (cetakan pertama, tahun 2017).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima instrumen kekerasan simbolik dalam novel Indonesia mutakhir, yaitu

(1) habitus,

(2) modal,

(3) kelas,

(4) arena, dan

(5) bahasa. Kelima instrumen itu memiliki peran dalam melakukan praktik kekerasan simbolik di masyarakat. Pihak yang melakukan kekerasan simbolik ialah agen yang memiliki  habitus yang mendominasi, modal-modal yang cukup, kelas yang terpandang, dan bahasa yang berkekuatan di sebuah arena kontestasi.

Terdapat empat sumber kekerasan simbolik dalam ketiga novel yang telah dipilih, yaitu

(1) dominasi kelompok elite,

(2) dominasi obsesi,

(3) dominasi gender, dan

(4) dominasi tradisi. Keempatnya ada di sekitar masyarakat, bahkan sudah dilegitimasi secara paten dan berlaku turun-temurun sehingga tanpa sadar para pelaku telah melakukan kekerasan simbolik terhadap pihak yang dikuasai. Lalu, pihak yang dikuasi menerima secara ikhlas tanpa adanya perlawanan.  Selanjutnya, ditemukan empat kekerasan simbolik dalam penelitian ini yang meliputi

(1) kekerasan simbolik gender berupa sikap menyakiti secara tidak sadar oleh lali-laki terhaap perempuan atau sebaliknya,

(2) kekerasan simbolik orang tua terhadap anak berupa sikap memaksa, melarang, atau membatasi ruang gerak anak yang dilakukan demi kepentingan orang tua,

(3) kekerasan simbolik atasan terhadap bawahan berupa kesemena-menaan pemiliki modal atau usaha melakukan subordinasi atau melegalkan aturan demi memenuhi keinginan pribadi, dan

(4) kekerasan simbolik penguasa (pemerintah) terhadap rakyat berupa sikap otoritas pemerintah membuat, mengesahkan, dan menjalankan aturan yang sebenarnya membebani rakyat. Keempat kekerasan simbolik tersebut tanpa disadari telah merugikan berbagai pihak yang tersubordinasi karena dianggap tidak memiliki kekuatan.

 

Berdasarkan hasil penelitian, novel Indonesia mutakhir berfungsi sebagai salah satu media kritik alternatif terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat desa atau urban, masyarakat tradisional atau modern yang sudah progresif. Fenomena itu berupa praktik kekerasan simbolik yang sudah terjadi sejak lama, bahkan menjadi tradisi yang dilegitimasi hingga saat ini sehingga sulit diubah. Kekerasan simbolik tersebut berupa mekanisme yang disamarkan lewat bahasa, sifat, dan perbuatan para agen yang merasa memiliki kuasa atau kekuatan terhadap pihak bawahan. Diharapkan penelitian ini memberikan kontribusi terhadap empat elemen, yakni, pertama, laki-laki atau perempuan agar tidak saling menyakiti dengan menggunakan bahasa untuk menunjukkan keotoritasnnya dalam suatu hubungan; kedua, orang tua agar tidak berlaku semena-mena terhadap anak yang dianggap sebagai agen yang dikuasai, anak juga memiliki ruang gerak untuk bereksplorasi selama berada dalam koridor yang baik dan benar; ketiga, atasan agar tidak melakukan regulasi yang memberatkan para pekerja sebab para pekerja juga berkontribusi memajukan suatu usaha; dan keempat, penguasa agar tidak membuat kebijakan secara sepihak yang belum tentu sesuai dengan masyarakat, apalagi jika kondisinya di bawah garis kemiskinan sehingga aturan atau kebijakan yang akan dilegitimasi, perlu ditinjau ulang sebelum dilegitimasi dan dijalankan oleh masyarakat. Dengan demikian, kekerasan yang sifatnya simbolik tidak lagi terjadi di masyarakat, khususnya di Indonesia.