DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pendampingan Partisipatori dalam meningkatkan Kemandirian Komunitas Tunagrahita Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo

Kapit Tatak Aprianto

Abstrak


RINGKASAN

Kapit tatak aprianto, 2019. Pendampingan Partisipatori dalam meningkatkan

Kemandirian Komunitas Tunagrahita Kecamatan Balong Kabupaten

Ponorogo. Tesis Program Studi Pendidikan Luar Sekolah,

Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Pembimbig:

(1) Dr. Ach. Rasyad, M.Pd,

(2) Dr Zulkarnain, M. Pd, M. Si

 

Kata Kunci : Pendampingan, Partisipatori, Kemandirian, Tunagrahita

Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan satu dengan yang lainya. Setiap apa yang dilakukan oleh manusia selalu berhubungan dengan yang lainya. Hal itu juga terjadi dalam mencampai sebuah kesejahteraan hidup. Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo adalah desa yang penduduknya banyak mengalami keterbelakangan mental, atau tunagrahita berdasarkan studi pendahuluan bahwa dari jumlah penduduk 5746 jiwa di Desa Karangpatiahan terdapat 98 warga yang mengalami keterbelakangan mental atau tunagrahita, kini Desa Karangpatihan diberikan sebutan dengan “Kampung Tunagrahita”. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai pendampingan partisipatori masyarakat untuk komunitas tunagrahita yang dilakukan oleh lembaga pokmas karanpatihan bangkit. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, studi kasus. Sumber datanya adalah pengurus pokmas karangpatihan bangkit dan tokoh masyarakat desa karangpatihan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan analisis interactive model yang terdiri dari data collection,data reduction, conclusion drawing and verifying. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan dengan triangulasi data.

Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh simpulan hasil temuan penelitian yaitu;

(1) komunitas tunagrahita merupakan masyarakat yang memiliki keterbelakangan daya piker yang lemah sehingga diperlukan bantuan untuk mencarikan donatur sehingga masyarakat bisa berproses untuk memenuhi kebutuhan pribadi secara mandiri.Pendampingan partisipatori tidak terlepas dari partisipasi masyarakat, partisipasi masyarakat sendiri yaitu suatu sikap keikutsertaan masyarakat dalam proses pembangunan atau program yang ingin dijalankan.

(2) keterbatasan pendidikan pendamping dalam melakukan pendampingan dengan modal kemampuan yang dimiliki memberikan pendampingan berternak ayam, kambing, budidaya lele dan pelatihan keterampilan keset (pengesat kaki) dan batik ciprat. Pendamping mengklasifikasikan atau mengkelompokan komunitas tunagrahita menjadi tiga yaitu ringan, sedang, dan berat. Pendampingan yang dilakukan oleh pokmas karangpatihan bangkit menggunakan tiga pendekatan yaitu, pendekatan, pemahaman, dan penekanan dalam mendampingi komunitas tunagrahita.

(3) Upaya-upaya yang dilakukan oleh pokmas karangpatian bangkit merupakan bentuk usaha untuk meningkatkan kualitas hidup komunitas tunagrahita dengan memberikan pelatihan-pelatihan kerajinan yang hasilnya berupa kerajina keset (pengesat kaki), dan kerajinan batik ciprat sehingga masyarakat ekonomi masyarakat meningkat dan mampu memenuhi kebutuhan pribadi masyarakat tunagrhita. Pendampingan pada komunitas tunagrahita mempunyai hasil yaitu  perubahan interaksi pada komunitas tunagrahita yang dulunya tertutup dan tidak mau berkomunikasi sekarang sudah lebih terbuka. Dampak pendampingan pada bidang ekonomi tersebut dirasakan oleh komunitas tunagrahita dengan adanya kesempatan komunitas tunagrahita dalam memenuhi kebutuhan seperti pupuk tanaman, dan kebutuhan pokok komunitas tunagrahita. Dampak pendampingan lain yang dirasakan oleh komunitas tunagrahita dengan terpenuhinya asupan gizi pada komunitas tunagrahita sehingga mampu mengurangi masyarakat yang mengalami tunagrahita.

Saran bagi Pengelola lembaga pokmas karangpatihan bangkit disarankan untuk meningkatkan sumberdaya pendamping sehingga pendamping mampu memfasilitasi sesuai dengan kebutuhan komunitas tunagrahita. Pendamping Lembaga POKMAS Karangpatihan Bangkit disarankan agar dapat menerapkan pengelompokan komunitas tunagrahita berdasarkan IQ masing-masing tunagrahita sehingga pendampingan yang dijalankan mudah diterima oleh komunitas tunagrahita. Pengelola dan pendamping disaranka agar dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk pengembangan pendampingan pada komunitas tunagrahita yang dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan dan perencanaan pengembangan program pendampingan khususnya pada pendampingan pada komunitas tunagrahita. Bagi peneliti selanjutnya disarankan meneliti secara mendalam tentang pengelolaan lembaga, dan pengorganisian yang dilakukan lembaga pokmas karangpatihan bangkit dalam mendampingi komunitas tunagrahita.

 

SUMMARY

Kapit tatak aprianto, 2019. Participatory Accompaniment in Increasing the

Independency of Mentally Disable Community in Balong, Ponorogo.

Thesis. Special Education program. postgraduate study od Universitas

Negeri Malang.

Advisor :

(1) Dr. Ach. Rasyad, M.Pd,

(2) Dr Zulkarnain, M.

Pd, M. Si

 

Keywords: accompaniment, participatory, independent, mental disability

As a social being human needs each other and everything that the human do related to each other, this also happen in conveying a welfare of life. Karang Patihan village in Balong, Ponorogo is a village that most of its residents suffered from mental disability. according to a research, 98 out of 5746 residences on this village are suffering from mental disability. Now, Karang patihan village is also known as  Kampung Tunagrahita‖ (Mental disability village). this research aims to describe about the participatory accompaniment for mental disability community that is conducted by pokmas karang patihan bangkit institution. This research use a qualitative approach, case study. the source of data of this research is the staff of pokmas karang patihan bangkit and some important figures in Karang Patihan villag. the data collection in this research is conducted by doing interview, observation, and documentation. This research use interactive model analysis that consists of data collection, data reduction, conclusion drawing and verifying. To maintain the validity of the data, the data triangulation is conducted on this research.

According to the data analysis, it can be conclude that:

(1) the mental disability community is a people with weak mental consciousness so a donation is really needed to fulfill their personal needs independently. this participatory accompaniment is conducted by POKMAS, a local group of people that support the participatory accompaniment.

(2) the participatory accompaniment partner will help the mental disability community to be educated on a particular tasks to supported their daily needs such as chickens, goats, and catfish farming, and some skills in creating Batik Ciprat and a mat. the mental disability community can be divided into light, medium, and heavy. the participatory accompaniment can be conducted on three approaches: approaching, understanding, and emphasizing in assisting the mental disability community. Those three approaches are conducted to give a new knowledge by lecture with cues, repeated training.

(3). the efforts that is conduct by the pokmas karangpatian bangkit is a form of effort to improve the quality of life of mental disability community by providing craft training to make a mat and Batik ciprat. the training also change the community economy and its interaction with the locals within the area. the economy of the community is supported by their craft selling profit and the farming results while the interaction of the mental disability people in the community is more open compared to the previous interaction.

The staffs of pokmas karang patihan bangkit is suggested to increase their intensity in participatory accompaniment to accommodate the mental disability community needs, the POKMA is also suggested to grouped the mental disability people on the community according to their IQ so that the participatory accompaniment can be conducted easily. the staffs and the partner are suggested  to use the result of this research to accommodate their participatory accompaniment on the community. For the next researcher, it is suggested to research more on the management of pokmas karang patihan bangkit institution in conducting the participatory accompaniment on the community.