DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penalaran Matematis Siswa SMA dalam Menyelesaikan Soal Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel

Nisa', Fahrun.

Abstrak


RINGKASAN

Nisa’, Fahrun. 2019. Penalaran Matematis Siswa SMA dalam Menyelesaikan Soal Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel. Tesis. Jurusan Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pebimbing:

(I).Dr. rer nat I Made Sulandra, M.Si.,

(II) Dr. Abadyo, M.Si.

 

Kata Kunci : Penalaran Matematis, Indikator Penalaran Matematis, Sistem  persamaan Linear Tiga Variabel

Penalaran matematis merupakan suatu proses berpikir abstrak. Oleh karena itu perlu adanya indikator yang menunjukkan siswa dikatakan melakukan penalaran matematis. TIMSS dalam Gunham menyatakan bahwa indikator yang harus dimiliki siswa adalah analisis, sintesis, generalisasi, justifikasi dan pemecahan masalah non-routine.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penalaran matematis siswa SMA dalam menyelesaikan soal sistem persamaan linear tiga variabel. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan kepada  siswa kelas 10 MIPA 2 SMA Laboratorium UM. Penelitian dimulai dengan memberi soal test penalaran matematis kepada 33 siswa, dan diperoleh 11 siswa yang memberikan jawaban tuntas dan benar. Dari 11 siswa, didapatkan 7 siswa yang memiliki kemampuan matematika tinggi dan komunikasi yang baik berdasarkan rekomendasi guru. Kemudian dilakukan proses wawancara dan didapatkan 2 siswa yang memunculkan kelima indikator matematis berdasarkan hasil tes dan wawancara.

Hasil dari penelitian ini yaitu penalaran matematis siswa dalam menyelesaikan soal sistem persamaan linear tiga variabel terjadi ketika siswa mampu melakukan analisis, sintesis, generalisasi, justifikasi dan pemecahan masalah non-routine. Hanya saja dalam proses analisis, terdapat perbedaan dalam melakukan analisis, yaitu dalam hal menyimbolkan variabel dan mendeskripsikan variabel. Selain itu, perbedaan juga terjadi dalam penggunaan strategi penyelesaian, tetapi hasil yang diberikan tetap berilai benar. Untuk justifikasi, siswa tidak mampu memberikan alasan kontekstual untuk strategi penyelesaiannya, hanya sebatas memberikan alasan yang berdasarkan pengalaman belajarnya.