DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaruh Ekstrak Kasar Daun Tapak Dara (Catharanthus roseus) terhadap Proses Pembelahan Sel Spermatosit Primer Belalang sebagai Bahan Ajar Matakuliah Biologi Sel. (Tesis)

Kamalia Fikri

Abstrak


Catharanthus roseus yang lebih dikenal dengan tanaman tapak dara, merupakan salah satu tanaman yang banyak digunakan sebagai obat di Indonesia. Tanaman tapak dara menghasilkan 130 Terpenoid Indole Alkaloid (TIAs) yang lazim disebut vinkaalkaloid. Daun tapak dara mengandung alkaloid bisindole spesifik yakni vinblastin dan vinkristin yang berpotensi sebagai antikanker. Pengembangan vinblastin dan vinkristin sebagai obat antikanker menemui beberapa kendala, oleh karenanya dikembangkan obat herbal sebagai pengobatan alternatif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi dunia pendidikan yakni sebagai bahan ajar matakuliah biologi sel.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak kasar daun tapak dara terhadap lama waktu anafase, perubahan panjang sel serta kecepatan pergerakan kromosom selama anafase, dan kegagalan pembelahan pada proses pembelahan sel spermatosit primer belalang. Selain itu penelitian ini juga ingin mengetahui bagaimana implikasi hasil penelitian sebagai bahan ajar matakuliah biologi sel.

Pengamatan mengenai lama waktu anafase, perubahan panjang sel serta kecepatan pergerakan kromosom dilakukan pada akhir metafase hingga awal telofase. Sedangkan pengamatan mengenai kegagalan pembelahan dilakukan hingga tahap sitokinesis. Perlakuan konsentrasi ekstrak kasar daun tapak dara di dalam larutan Carlson terdiri atas 5 level konsentrasi yaitu 0.1%, 0.3%, 0.5%, 0.7% dan 0.9%, sedangkan perlakuan kontrol menggunakan medium larutan Carlson. Data dianalisis menggunakan anova dan dilanjutkan dengan uji LSD. Penyusunan bahan ajar dilakukan dengan 3 tahap yaitu tahap pendefinisian, perancangan, dan pengembangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kasar daun tapak dara secara signifikan memperpanjang lama waktu anafase, memperkecil perubahan panjang sel serta memperlambat kecepatan pergerakan kromosom selama anafase. Pengaruh paling besar terdapat pada konsentrasi 0,9%. Selain itu, terjadi kegagalan pembelahan yang mulai muncul pada konsentrasi 0,3% dan terus meningkat hingga konsentrasi 0,9%. Berdasarkan hasil validasi, maka bahan ajar berupa hand out dan penuntun praktikum dapat digunakan dalam kegiatan belajar matakuliah biologi sel.

Bertitik tolak pada penelitian ini, disarankan dilakukan penelitian lanjutan berupa pewarnaan tubulin dengan teknik imunohistokimia untuk mengamati secara langsung dinamika kerangka sel dalam keadaan sel hidup dan membelah, serta perlu dilakukan uji pengaruh ekstrak kasar daun tapak dara terhadap organ tubuh yang lain untuk mengetahui sejauh mana efek samping yang ditimbulkan.

 

Abstract:

Keywords: Catharanthus roseus, crude extract, cell division, primer spermatocyte, teaching materials

Catharanthus roseus known as tapak dara plant is one of medical plants in Indonesia. Tapak dara plant generates 130 Terpenoid Indole Alkaloid (TIAs) commonly called as vinkaalkaloid. Tapak dara leaves contain specific bisindole alkaloids, namely vinblastin and vinkristin which are potentially used as anticancer. However, the development of vinblastin and vinkristin find some obstacles. Thus, herbal medicines are expanded as alternative medication. The result of this study is expected to give contribution to education field as teaching material of biology cell course.

This study is aimed to find out the effect of crude extract of tapak dara leaves on anaphase duration, the change of cell length and chromosome movement rate during anaphase, and the failure of cell division in the process of grasshopper's primer spermathocyte cell division. Besides, this study also wants to know the implication of the result of this study as teaching material of biology cell course.

The observation of anaphase duration, the change of cell length and the rate of chromosome was carried out in the end of metaphase up to early telophase. Meanwhile, the failure of cell division was examined from late metaphase to early telophase. The treatment of concentration of tapak dara plant's crude extract in Carlson's solution consisted of five concentration levels: 0.1%, 0.3%, 0.5%, 0.7% dan 0.9%. Carlson's solution was utilized as the control. The data were analyzed by using anova and followed by LSD test. The making of teaching material was conducted in three steps, namely definition, designation, and development.

The result of this study revealed that tapak dara leaves' crude extract significantly elongated the duration of anaphase, and shortened the cell length and the rate of chromosome movement during anaphase. The most significant effect was found in concentration 0.9%. Moreover, there was a failure of division which emerged in concentration 0.3% and kept increasing until concentration 0.9%. Based on validation result, the teaching material which is in form of hand out and practicum guide can be used in learning activity of biology cell course.

Based on this study, future research is suggested to be directed to study tubulin colouring by using imunohistochemical technique in order to observe the dynamics of cell skeleton in living and dividing cell. In addition, the test of the effect of tapak dara leaves' crude extract on the other parts of body is needed to obtain information of side effects that can be resulted from tapak dara leaves' crude extract.